My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Akhir dari segalanya



Pinkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali ke tempat tinggalnya. Sesampainya di kediaman mewahnya, hasil dari peninggalan Ingo. Ia tergesa-gesa memasukkan barang-barang berharga ke dalam kopernya.


Setelah itu ia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada para pekerja di kediamannya, apalagi pada anggota keluarga Ingo yang memang masih tinggal di sana, deni menyelidiki kematian Ingo yang menurut mereka tidak wajar.


"Lihat wanita j4l4ng itu pergi tergesa-gesa, pasti ada sesuatu yang terjadi pada dirinya atau Tantenya. Wanita itu memang sangat mencurigakan." Ucap Kinanti yang merupakan adik bungsu dari mending Ingo pada Ranti sang Kakak.


"Ya, kita lihat saja. Sepandai-pandainya dia menyembunyikan bangkai pasti akan ketahuan juga bukan." Balas Ranti dengan senyum tipis di sudut bibirnya.


Pinkan melajukan kendaraannya ke sebuah pelabuhan, dimana ia berniat untuk pergi meninggalkan pulau jawa untuk beberapa waktu dengan sebuah kapal Roro yang dapat mengangkut mobilnya yang sudah berisi harta kekayaannya.


Sementara itu di rumah sakit, Abimanyu sudah mulai membuka matanya. Betapa bahagianya hati Abimanyu, ketika ia membuka matanya ada istri, cucu, anak dan menantunya yang sedang menunggu dirinya.


Ia tersenyum lebar saking merasa bahagianya. Apalagi Nathan langsung ingin minta dipeluk oleh Kakek yang sehari-hari bersama dengan dirinya.


Kebahagiaan keluarga besar ini rupanya tak sengaja dilihat oleh seseorang yang berdiri tepat di muka pintu. Kedatangannya bersama tim medis untuk kembali mengobservasi Abimanyu pun ia urungkan.


"Cari Dokter lain, saya ingin segera kembali pulang." Ucap Alex yang langsung pergi begitu saja.


Ia melangkahkan kakinya dengan kepedihan yang mendalam. Alex benar-benar kembali ke apartemennya.


Tepat pukul 22.00, Alex memutuskan untuk duduk-duduk di balkon. Terlintas kelelahan hatinya saat ini.


"Rasanya begitu sakit melihat kalian bahagia. Kalian terlalu indah untuk aku lupakan dan aku relakan. Kalian memintaku untuk pergi, baiklah aku akan pergi dan menepikan hidupku yang tak lagi berguna untuk kalian." Ucap Alex yang sudah berdiri di ujung pagar balkon.


Alex memejamkan matanya dan menjatuhkan dirinya ke bawah dari lantai empat puluh sembilan. Alex menyambut kematian yang menjadi tujuan akhir dari penderita kisah cintanya dengan senyum getir.


Keputus asaan tiba-tiba hinggap pada diri Dokter tampan itu, ketika kedua orang tuanya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, memutuskan untuk menjodohkan dirinya pada salah satu anak pemilik rumah sakit tempat ia mengabdikan dirinya sebagai seorang Dokter.


Ditambah lagi melihat kebahagiaan Anaya dan Arumi bersama pasangannya saat menyambut bahagia Abimanyu yang telah sadarkan diri.


Sementara itu Pinkan yang sedang antri untuk masuk ke dalam kapal dengan mobilnya, tiba-tiba memiliki perasaan yang tidak enak. Entah mengapa ia jadi ragu untuk menaiki kapal Roro itu.


Kini giliran mobilnya untuk masuk ke dalam kapal. Jantung Pinkan mulai berdegup tak menentu. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Merasa ragu untuk menginjak pedal gas mobilnya. Apalagi jembatan yang menghubungkan daratan dan kapal terus bergoyang lebih kencang, tidak seperti sebelumnya.


Tin....tin...! Suara klakson mobil dari belakag saling bersahutan memekakkan telinga.


"Mbak, jalan Mbak! Jangan berhenti, banyak antrian!" Pekik salah seorang petugas pada Pinkan.


Pinkan akhirnya dengan terpaksa melajukan mobilnya dengan rasa ragu dan takut. Saat mobil Pinkan berada di tengah jembatan. Tiba-tiba ombak laut datang dengan kencangnya.


Pinkan menjerit histeris karena di saat itu pula mesin mobil Pinkan tiba-tiba mati, san sesuatu yang mengerikan pun terjadi. Jembatan itu tiba-tiba terputus dan mengakibatkan mobil Pinkan jatuh ke dalam laut.


Pinkan tak bisa menyelamatkan diri, karena tak bisa membuka pintu mobilnya.


"Tidak, aku tidak mau mati. Tolong! Tolong aku!" Pekik Pinkan dengan suara yang sangat kencang, namun tak ada satupun yang mampu mendengar dan menolongnya.


Pinkan pun akhirnya meregang nyawa di dalam mobil yang berisi harta benda yang selama ini ia dapatkan dari para pria yang pernah menjadi kekasihnya bahkan suaminya.


Berita duka cita tentang kepergian Pinkan dan Alex, sama sekali tak di ketahui oleh salah satu anggota keluarga Abimanyu yang terlalu fokus pada kondisi Abimanyu saat ini.


Sedangkan kabar Tati, sungguh tak dapat di tolong lagi karena Tuan Antoni sudah ikut campur dalam menangani apa yang terjadi pada besannya ini. Sudah dapat dipastikan ia tak akan lagi menghirup udara bebas di luar sana.


Tamat...


Terima kasih sudah membaca karya aku.


Baca juga karya aku yang ini ya hehe...🥰😍