
"Memangnya Papi mau Mami hamil lagi?" Tanya Arumi yang ikut bergabung, duduk di samping Barra yang terlihat muram.
"Jika kamu bersedia, aku ingin kamu hamil lagi," jawab Barra penuh harap.
"Maafkan Mami ya Pih---" ucapan Arumi terpotong dengan Barra yang jadi sensitif saat ini.
"Sudah Mih, jangan diteruskan Papi gak maksa kok." Sambung Barra yang berusaha tegar walaupun hatinya sedih dan kecewa.
Arumi melihat guratan itu di wajah sang suami.
"Kamu bisa gak sih Pih jadi pendengar yang baik dulu? Mami kan belum selesai bicara."
"Papi males Mih, dengerin kata-kata Mami yang bakalan ngecewain Papi." Seloroh Barra yang ingin beranjak dari sofa.
"Pih, mau kemana?" Tanya Arumi yang menahan langkah kaki suaminya yang ingin pergi meninggalkan istrinya.
"Tidur. Ngantuk." Jawab Barra singkat dengan wajah ditekuk.
"Gak mau nengokin anak kita, katanya mau olahraga malam. Aku sih berharap anak. Kita yang ini perempuan, lengkap sudah kebahagiaan kita kalau sudah punya sepasang anak." Ucap Arumi saat Barra menghempaskan tangannya dan memilih tetap meninggalkan istrinya yang masih duduk di sofa.
Langkah Barra terhenti di ambang pintu kamar tidur mereka.
"Bercandakan? Cuma mau nyenengin doang." Tanya Barra dari ambang pintu.
"Gak lagi bercanda, makanya kalau ada surat di laci di baca, jangan di diemin aja! Kamu tuh terlalu sibuk sama rakyat-rakyatnya kamu, jadi gak perduli sama aku. Ihhhh...!" Arumi jadi mengomel pada Barra karena mengingat sudah seminggu surat dari rumah sakit yang menyatakan dirinya hamil tidak dibaca apalagi dibuka oleh Barra.
Kini malah terbalik Arumi yang marah dan malah ngambek-ambekan dengan dirinya. Arumi beranjak dari sofa, ia berjalan masuk ke kamar dan sengaja menubruk tubuh Barra yang berdiri di ambang pintu kamar mereka.
"Aduh mih," rintih Barra yang tak dihiraukan oleh Arumi.
Arumi langsung saja naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya, dengan posisi menghadap ke tembok, yang artinya iya akan tidur membelakangi tubuh suaminya.
Melihat istrinya merajut Barra segera berjalan mendekati laci nakas yang ada di samping ranjang tidurnya. Ia membuka laci tersebut dan melihat ada sepucuk surat dengan logo rumah sakit ternama di dalam laci tersebut.
Barra pun mengambilnya dan membuka amplop tersebut, dan mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya, Barra membaca dengan seksama isi dalam selembar surat itu sampai berulang-ulang kali. Seulas senyum bahagia terbit di wajah pria tampan ini.
"Hahaha istriku hamil lagi, terima kasih Ya Tuhan." ucapnya dengan rasa haru biru. Matanya berkaca-kaca saking bahagianya.
Ia simpan kembali hasil pemeriksaan sang istri di laci nakas. Ia menyusul keberadaan Arumi di atas ranjang. Ia peluk istrinya itu dari belakang.
"Terima kasih Mami, I love you," bisik Barra di telinga Arumi yang tengah menitikan air mata bahagianya.
Begitu pun dengan Barra. Ia tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Hingga tetesan air matanya ini jatuh di bahu sang istri yang hanya mengenakan daster tidur bertali satu. Ia tahu saat ini betapa bahagianya suaminya mengetahui kehamilan keduanya ini.
"I love you too," jawab Arumi dengan suara seraknya.
"Papi akan menjadi suami yang siaga untukmu sayang, kehamilan mu kali ini akan mendapatkan perhatian yang penuh dari diri Papi. Katakan apa saja keinginan Mami, pasti akan Papi penuhi semuanya." Bisik Barra di telinga Arumi, hingga Arumi merasa kegelian dengan hembusan nafas suaminya.
"Cukup Pih geli! Mami mau tidur." Ucap Arumi ketika Barra memulai aksi menggoda dirinya. Dengan menciumi curug lehernya.
"Papi mau ucapkan selamat datang sama calon anak kita boleh Mih?" Barra kembali berbisik di telinga Arumi. Lagi-lagi ia sengaja menghembuskan nafasnya di telinga Arumi hingga berhasil membuat Arumi berdesir.
"Mami belum jawab, Papi sudah beraksi duluan. Ini namanya nyuri start Pih." Barra terkekeh mendengar jawaban istrinya.
"Mami pasti mau, kan tadi Mami duluan yang nawarin." Balas Barra yang tak henti-hentinya menciumi leher hingga bahu Arumi.
Dengan gerakan cepat, Barra membalik tubuh sang istri, hingga posisi Arumi kini menghadap dirinya yang berada di atas sang istri.
"Mulai sekarang kamu dilarang memimpin permainan, biar Papi saja," ucap Barra sembari melepaskan pakaian yang melekat di tubuh istrinya itu.
"Sudah di pompa asi-nya Mih?" Tanya Barra saat melihat bukit kembar kenyal kesukaannya yang makin padat berisi, meski sering dihisap sang putra.
Arumi mengangguk, Barra tersenyum senang. Ia langsung saja melahap bukit itu dengan liarnya. Menyesap seperti Nathan dan memainkan lidahnya yang menari-nari di pucuk bukit itu. Barra memainkannya secara bergantian. Arumi menahan lenguhannya, dengan menggigit bibir bawahnya.
"Papi ah... Jangan di sini! Mami takut Nathan terbangun." Ajak Arumi, ia sedikit mendorong kepala Barra untuk menghentikan aktivitasnya.
Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas ranjangnya di sofa bad yang ada di ruang telivisi. Tak jauh berbeda dengan Barra, Adnan dan Steve pun tengah melakukan olahraga malam.
Hingga pagi menjelang, terjadi kegaduhan di kediaman Abimanyu. Dimana Arabella berusaha membangunkan anak menantunya yang kesiangan. Tak ada satupun anak maupun menantunya yang muncul batang hidungnya, meski ia sudah selesai memasakkan sarapan untuk mereka.
Beruntungnya Adnan dan Anaya yang masih tinggal satu atap dengan kedua orang tuanya, karena yang membangunkan adalah Abimanyu, sedangkan Barra dan Arumi. Dibangunkan oleh Arabella yang sudah mebawa dua panci yang bentuknya sudah tak beraturan.
Klonteng! Prank! Brukkkk!!
Suara gaduh di depan pintu paviliun mereka, akhirnya membangunkan Arumi dan Barra yang ketiduran di sofa ruang televisi. Arumi segera masuk ke dalam bukannya membuka pintu paviliunnya.
Ia masuk ke dalam karena mendengar sang putra tengah terkekeh geli mendengar suara gaduh yang berasal dari sang nenek. Rupanya Nathan sudah mengetahui dewi penyelamatnya telah datang. Pasalnya ia sudah menangis hingga hampir kehilangan suaranya namun sang Mami dan Papi tak kunjung bangun dan mendatanginya.
Barra yang baru bangun, segera mengenakan celana boxernya dan berlari sempoyongan untuk membuka pintu untuk Arabella.
"Iya bu, tunggu!" Ucap Barra saat berlari membuka pintu.
Barra menelan salivanya sekuat tenaga, karena melihat ibu mertuanya datang bersama dua panci amburadul andalannya.
Pranggg!!! [Dua panci itu diadu di depan muka Barra]
"Jam berapa sekarang? Anak nangis kamu gak bangun-bangun juga. Pasti kalian tidur di ruang telivisi lagikan?" Omel Arabella yang langsung saja masuk ke dalam, untuk melihat keadaan sang cucu. Namun langkahnya sedikit terhenti karena ucapan menantunya yang selalu menyalahkan putrinya jika ditegur.
"I-itu, Arumi yang ngajakin tidur di luar Bu." Jawab Barra dengan tergagap.
"Alasan! Mandi sana! Istri hamil masih digenjot terus." Omel Arabella yang ternyata sudah mengetahui lebih dahulu jika istrinya tengah mengandung anak kedua mereka.
"Jadi ibu sudah tahu?" Tanya Barra yang tak percaya jika ibu mertuanya itu sudah mengetahui kehamilan istrinya.
"Tentu saja. Ibu tahu, lagi pula tak hanya ibu yang sudah tahu, kedua orang tua mu pun sudah tahu. Bahkan mereka yang mengantarkan istri mu periksa kehamilannya." Jawab Arabella yang membuat Barra terkejut.
"Hah, aku sendiri yang telat mengetahuinya." Cicit Barra yang didengar ibu mertuanya.
"Salah mu sendiri, terlalu sibuk dengan para Rakyat-rakyat mu." Timpal sang ibu mertua yang kemudian melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar, guna mengambil Nathan sang cucu, yang selalu mencuri perhatiannya.