
Seminggu sudah dari kepulangan Arumi dari rumah sakit, Barra tidak muncul batang hidungnya di perusahaan. Membuat semua pekerjaan terbengkalai. Ia juga mematikan ponselnya, seakan tidak mau diganggu. Kevin dan Indri yang baru masuk, langsung dibuat pusing dan sibuk dengan tingkah Barra yang lepas tanggung jawab begitu saja dengan pekerjaannya.
Namun berkat Barra bertingkah seperti ini, Kevin dan Indri pun dapat melupakan kesedihan mereka. Kesibukan mereka membuat mereka cepat menata kehidupan mereka kembali, walaupun beberapa waktu Indri kadang sering menangis mengingat kehamilannya.
"Pak... Pak Barra!" Panggil Arumi pada Barra yang suka sekali menjadikan kedua pahanya menjadi bantalan tidurnya di sofa.
"Hemm..." Sahut Barra yang malah mengusel di perut Arumi yang kini menjadi spot ternyaman dirinya.
"Besok saya mau masuk kerja," kata Arumi pada Barra yang urung membuka matanya.
"Ok, kamu masuklah terlebih dahulu, baru setelah itu saya," ucap Barra yang makin menekan wajahnya di perut Arumi.
Barra membiarkan Arumi kembali bekerja lebih dahulu, agar tak mengundang kecurigaan karyawannya di perusahaan. Meskipun Arumi sering merasa sakit hati jika Barra masih saja ingin menyembunyikan status pernikahannya.
Namun Arumi masih tetap saja bersikap baik dan terus berusaha menjadi istri yang baik untuk Barra. Ia berusaha berdamai dengan hati, perasaan bahkan dirinya sendiri. Untuk selalu menerima jalan takdir hidupnya yang memang sudah digariskan seperti ini. Nelangsa.
"Ihhh... Jangan diginiin terus! Geli!" Tolak Arumi yg mendorong kepala Barra, agar menjauh dari perutnya.
"Hemmm, jangan menolaknya Arumi! Saya sangat menyukainya." Jawab Barra yang memang seperti terkena magnet perut Arumi yang menggoda dirinya untuk selalu mendekatinya.
Jelas saja Barra ingin selalu mendekat di perut Arumi yang masih terlihat datar, karena calon anaknya itu tanpa disadari oleh dirinya, telah mengirim signal keberadaannya pada sang Ayah,Barra. Sang Ayah yang hatinya masih dibutakan dengan perasaan cinta yang salah.
Jika sang cabang bayi bisa bicara mungkin dia akan berkata, "Tolong cintai Ibu ku Ayah, jangan cintai orang lain! Bukalah hatimu untuk ibuku, Ayah, jangan biarkan Ibu merasa kesepian lagi!"
Namun sayangnya sang cabang Bayi tak dapat bicara seperti itu, ia hanya bisa berupaya mengirim signal keberadaannya pada sang Ayah, dengan cara seperti ini.
Keesokkan harinya, Arumi bangun seperti biasanya. Ia menyiapkan keperluan Barra dari pagi hingga petang, dan menemani Barra menikmati sarapan paginya yang mengikuti jam pagi Arumi, 05:30 pagi Barra sudah sarapan pagi dan mandi.
Sebelum Arumi berangkat bekerja Barra menyerahkan ponsel, kunci mobil dan juga kartu Blackcard sebagai nafkah yang wajib ia berikan pada Arumi. Meski sempat menolak kartu Sultan itu. Akhirnya Arumi menerimanya dengan terpaksa, setelah Barra terus saja memaksa dirinya, jika saja tidak melihat jam yang terus berdetak maju, mungkin dia akan berdebat dengan suami menyebalkannya itu. Dan Arumi pamit bekerja pada suaminya ini, Barra malah kembali menarik selimut tebalnya di atas ranjang dan menggibaskan tangannya agar Arumi segera keluar dari kamarnya.
Di perusahaan, Arumi merasakan keram perut. Entah mengapa, sejak ia berjalan menjauh dari Barra, perutnya mulai terasa tidak beres.
"Apa aku salah makan ya? Tapi tadi cuma makan nasi goreng saja kok," gumam Arumi yang mulai membungkuk merasakan nyeri pada bagian perut bawahnya.
Indri yang melihat Arumi kesakitan segera menghampiri Arumi. "Kamu kenapa Arumi? Masih sakit? Kalau masih sakit jangan memaksakan diri untuk bekerja, lagi pula Pak Barra masih tidak masuk, entah sampai kapan dia akan masuk lagi ke Perusahaan ini." Tanya Indri panjang lebar, dengan wajah kesalnya.
Alih-alih memberi minuman hangat untuk Arumi, Indri malah membantu membereskan barang-barangnya Arumi. Ia memasukan barang-barang pribadi Arumi, mulai dari dompet, ponsel dan lain-lainnya, yang tergeletak di meja kerja Arumi. Ia memberikan pada Arumi dengan setengah melemparkan tas itu.
"...dan jaga kandunganmu baik-baik," lanjut Indri yang hanya bisa ia ucapkan di dalam hatinya.
Ia tahu betul Arumi tengah mengandung, ia melihat betuk tubuh Arumi yang banyak berubah, terutama di bagian dada dan bokongnya. Bibirnya pun terlihat sedikit menebal karena hormon kehamilannya.
Dari awal kedatangan Arumi, Indri sudah sangat menarih curiga dan kecurigaannya makin bertambah saat ia merasakan keram perut saat ia berjauhan dengan Barra. Hal serupa yang pernah ia rasakan pada kehamilannya saat itu.
"Kak Indri..."
"Pulanglah Arumi! Aku yakin saat kamu pulang, kondisimu akan baik-baik saja." Usir Indri lagi yang mendorong tubuh Arumi hingga ke depan pintu lift.
Dan saat di depan pintu lift, Indri yang sudah menekan tombol pun bicara mengenai nomor ponsel Arumi yang sudah berubah dan membuat Indri tak mengenali panggilan telepon Arumi tadi pagi.
"Arumi, apa kamu ganti nomor ponsel?" Tanya Indri yang sedikit membuat Arumi terkejut.
"Tidak." Jawab Arumi yang tidak menyadari nomornya telah diganti oleh Barra.
Ya. Memang Barra segaja menggantinya, agar Arumi tidak bisa dihubungi oleh Alex yang tak berhenti menghubungi Arumi pagi, siang dan malam. Dokter tampan itu terus saja mencari keberadaan wanita yang dicintainya, yang telah dibawa pergi oleh Barra, suami dari wanita yang dicintainya.
"Oh, benarkah?" Tanya Indri tak percaya. Otak cerdasnya langsung menyimpulkan, jika Barra telah menggantinya tanpa sepengetahuan Arumi.
"Kamu beruntung Arumi, mendapati raganya dan juga hatinya, meskipun mulut dan pikirannya masih sulit mengartikan perasaannya sendiri pada dirimu." Ucap Indri di dalam hatinya.
"Iya Kak Indri, memangnya ada yang berbeda dengan nomor ponselku?" Tanya Arumi yang kini terlihat bingung.
"Coba cek sendiri, Arumi, apakah nomor sim card yang ada di dalam ponsel mu itu, nomot ku atau bukan?" Ucap Indri yang kemudian membuat Arumi segera mengambil ponselnya dan langsung mencoba menghubungi nomor Indri.
Tara!!! [Mata Arumi membulat sempurna saat nomor asing tampil dilayar ponsel Indri. Berkali-kali Arumi coba menghubungi nomor Indri dan hasilnya tetap sama, nomor asing yag muncul di layar ponsel Indri.
"Ini bukan nomor ku, Kak! Apa ada yang sengaja mengganti nomor aku ya, Kak?" Ucap Arumi yang dibalas Indri dengan menaikkan kedua bahunya, sebuah tanda jika ia tak mengetahui apa-apa. Padahal Indri hanya pura-pura berbohong tidak tahu apa-apa.
"Sepertinya kamu memang harus pulang, dan bertemu dengan orang rumah, agar kamu tahu siapa yang sudah menukar atau pun mengganti nomor ponsel mu, Arumi." Ucap Indri yang penuh dengan makna yang tersirat.
Ting [Suara pintu lift terbuka].
Indri segera meminta Arumi masuk ke dalam lift dan melambaikan tangannya pada Arumi dan pintu lift pun tertutup.