
Setelah selesai meeting dengan Tuan Marco. Barra Langsung kembali ke perusahaan. Barra terlibat pembicaraan penting empat mata antara dirinya dan Kevin. Keduanya membicarakan rencana keberangkatan Barra untuk menjemput Arumi kembali ke Indonesia sesegera mungkin. Ia berencana pergi dengan seluruh anggota keluarga Arumi.
Setelah susunan rencana keberangkatan Barra telah lengkap, Kevin segera mengurus paspor dan Visa untuk anggota keluarga Arumi. Kesibukan sang suami yang sudah mengetahui keberadaan Arumi, membuat Indri hanya tersenyum cengengesan melihatnya.
"Teruslah jadi pahlawan kesiangan suamiku tercinta. Kamu akan membuang waktu mu dengan percuma. Tak mungkin Tuan Brandon semudah itu membiarkan Putra menyebalkannya, dengan mudah membawa menantu kesayangannya yang pernah dia sia-siakan oleh putranya itu. Aku berani taruhan rencana kalian tak akan berhasil membawa Arumi kembali. Kamu akan dijadikan Sad Boy oleh Daddy mu sendiri Tuan Barra Berre." gumam Indri saat menatap punggung suaminya yang makin lama makin menghilang dari pandangan matanya.
Tak lama dari kepergian Kevin, Barra pun keluar dari ruang kerjanya. Ia memperhatikan cara Indri menatap suaminya sendiri dengan senyum sinis yang mengejek. Karena malas berurusan dengan Indri yang ia anggap sebagai Sekertaris pengkhianat, Barra pun berlalu pergi.
Ia memilih segera pulang untuk membantu ibu mertuanya memberikan makan ikan-ikan peliharaan Ayah mertuanya. Sebelum pulang ia memutuskan membeli makan malam spesial di restoran yang cukup mewah, untuk ia bawa pulang.
Sesampainya di rumah, ia segera masuk dan meletakkan menu makanan yang ia bawa di meja makan. Tak hanya meletakkan begitu saja. Barra bahkan menata makanan yang ia bawa dengan begitu rapi di meja makan. Setelah selesai ia menghampiri ibu mertuanya yang sedang sibuk memberi makan ikan seperti dugaannya.
"Bu. Barra bawa kabar bahagia untuk ibu," ucap Barra yang sudah memeluknibu mertuanya dari belakang.
"Kabar bahagia apa? Apa ini tentang Arumi?" Tanya Arabella sembari memukul tangan Barra yang melingkar di perutnya. Pasalnya, saking bahagianya Barra sampai terlalu kuat memeluk ibu mertuanya.
"Iya Bu. Aku sudah tahu dimana Arumi berada. Malam ini jangan tidur terlalu malam, ya Bu. Karena besok Ibu akan ikut dengan ku menjemput Arumi. Tak hanya Ibu. Tapi Kak Adnan dan Ayah pun akan ikut menjemput Arumi. Ibu tak perlu mengkhawatirkan semuanya. Aku sudah urus semua dengan baik.l, termasuk rakyat-rakyat perikanan ku ini." Jawab Barra panjang lebar.
Barra bicara tanpa melepaskan senyum di wajah tampannya. Hari ini dia begitu bahagia sudah mengetahui dimana keradaan istri yang selama ini ia cari-cari.
"Ayah mu tak akan ikut, dia sudah pergi siang tadi ke Surabaya untuk mengikuti seminar. Entah seminar apa, dadakan sekali. Buat Ibu curiga saja. Mana lama sekali sampai satu minggu. Biasanya juga cuma satu atau dua hari, jika ayah mu ikut seminar." Arabella menanggapi jawaban Barra dengan kegalauan hatinya pada sang suami.
"Eeehhh... jangan bilang pada ku, jika Ibu sedang cemburu dengan Ayah ya?" Ledek Barra sembari menggoyangkan tubuh Ibu mertuanya yang masih ia peluk.
Spontan saja Arabella langsungkan memukul dan mencubit tangan menantunya yang berani-beraninya meledek dirinya.
"Isss... kamu ini. Ibu bukan sedang cemburu tapi curiga. Sepertinya ada yang disembunyikan Ayahmu. Ayahmu sudah tidak beres kalau seperti ini. Ibu harus segera bertindak." Ucap Arabella, yang dengan segera melepaskan pelukan Barra dan berjalan masuk ke dalam rumah, guna mengambil ponselnya. Ia ingin segera menghubungi Abimanyu dan memintanya untuk pulang dan menjelaskan padanya tentang ketidak beresan Abimanyu yang ia rasakan.
Namun belum sempat kaki Arabella melangkah, Barra menarik tangan Arabella. "Bu, jangan urus Ayah dulu! Bolehkah kali ini istriku menjadi prioritas mu, bu? Bolehkah?" Tanya Barra dengan wajah memohon.
Arabella menatap tatapan Barra yang memohon padanya, lagi-lagi Arabella terbayang-bayang rasa bersalahnya pada putrinya. Ya. Putri yang selalu ia paksa untuk mengalah demi kedamaian keluarga ini, dan demi kebahagiaan keluarga kecil Adnan bersama Septi, yang nyatanya kini harus berakhir.
"Ya, nak. Ibu akan prioritaskan istrimu mulai hari ini." Jawab Arabella dengan mata yang berkaca-kaca.
Barra segera memeluk tubuh tua Arabella yang berkaca-kaca menahan tangisnya. Ia tahu betul ibu mertuanya ini juga memiliki rasa bersalah pada istrinya. Barra membiarkan Arabella menangis di dalam pelukannya.
"Menangislah Bu. Semua orang pernah melakukan kesalahan dan berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya. Aku yakin istriku adalah orang yang sangat baik, dia akan memaafkan kesalahan ibu dan juga aku. Karena aku dengar sendiri bagaimana ia begitu mudahnya memaafkan Kak Adnan yang sudah membuat jiwanya tersakiti." Ucap Barra yang langsung mendapatkan pukulan dari Arabella di dadanya.
"Auuu-auuu.... sakit Bu. Kenapa memukul ku? Apa aku salah bicara?" Tanya Barra sembari mengusap dada bidangnya yang sakit.
"Ya. Kamu salah bicara. Tentu saja Arumi mudah memaafkan Adnan, karena Adnan adalah kakak kandungnya sendiri, begitu pula dengan Ibu. Tapi jangan samakan kesalahan kami dengan kesalahan mu. Kesalahan mu itu lebih menyakiti jiwa Arumi. Apa perlu ibu jabarkan kesalahan mu satu persatu?" Omel Arabella yang malah membuat Barra tersenyum.
"Maaf bu. Jangan marah! Ibu kalau marah tambah cantik deh, pantas saja Ayah cinta sama Ibu." Rayu Barra yang malah mendapat hadiah kentungan dari Adnan yang baru pulang kerja.
"Jangan merayu Ibu ku! Apa selera mu sudah berubah semenjak jadi curagan empang ini hum?" Ucap Adnan sembari mengunyah chiken katsu yang Barra beli tadi.
"Apa sih kau ini? Datang-datang main pukul kepala orang saja." Gerutu Barra sembari mengelus kepalanya.
"Kau itu pantas untuk dipukul, karena kelakuan mu semakin aneh curagan empang hahahaha..." ledek Adnan sembari merangkul leher Barra.
"Sakit, kau mencekik ku, Kak! Sepertinya kau mau adikmu cepat-cepat jadi janda ya." Keluh Barra sembari menepak lengan Adnan.
"Hahaha... adikku tak akan lama menjanda jika kau koit, dia akan cepat-cepat dinikahi oleh Dokter Alex yang tampan itu." Ledek Adnan lagi.
Hati Barra seketika memanas, ia sudah memasang tanduknya dan kedua tangannya sudah mengepal sempurna. Ia sudah siap untuk meninju kakak iparnya yang terus saja menggoda dirinya.
Saat tangan Barra sudah melayang ke udara. Secepat kilat Arabella berteriak dengan suara toanya.
"BARRA, ADNAN TERUSIN. KALIAN MEMANG MENGINGINKAN IBU CEPAT-CEPAT MATI KARENA KERIBUTAN KALIAN YANG TERUS KALIAN LAKUKAN YA!"
"Gak Bu. Adnan cuma bercanda. Barra tuh." Kilah Adnan seperti biasanya. Cuci tangan adalah keahliannya. Tapi anehnya dia tak pernah cuci tangan sebelum makan.
"Bu. Kak Adnan terus meledekku, dia bilanga Arumi akan dinikahi oleh Dokter menyebalkan itu." Adu Barra yang segera menghampiri Arabella.
"Jangan percaya omongannya! Menantu ibu hanya kamu dan Steve, tidak ada yang lain." Jawab Arabella sembari menepuk lembut pipi Barra.
"Asisten jongos itu baru calon bu, belum jadi menantu." Sahut Adnan yang tak suka kusumat dengan Steve.
"Ya bu, benar kata Kak Adnan, dia masih calon. Hanya aku menantu ibu yang ibu miliki." Tambah Barra yang mengacungkan jempol pada Adnan.
"Terserah apa kata kalian. Cepat atau lambat dia akan menjadi menantu ibu." Balas Arabella yang memilih meninggal keduanya yang masih berdiri di halaman belakang.
Tinggal bersama dengan Barra dan Adnan, pria dewasa yang tingkahnya seperti anak kecil. Sangat membutuhkan kesabaran ekstra. Arabella bukanlah ibu yang dulu Adnan kenali lagi. Arabella sudah menjadi sosok ibu yang berbeda setelah menghadapi dirinya dan adik iparnya yang sama-sama ditinggalkan istri dengan kasus yang berbeda.