My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Pengaruh obat perangsang



Usai melucuti pakaiannya Adnan langsung saja menyambar bibir ranum Zeline yang belum terjamah oleh seorang pria manapun. Ya. Adnan adalah orang yang pertama mendapatkan ciuman pertama Zeline. Seorang gadis rumahan dari keluarga konglomerat.


Sejatinya Zeline, merupakan anak tunggal dari seorang pengusaha yang cukup ternama. Zeline memutuskan hidup mandiri tanpa embel-embel kekuasaan dan kekayaan sang Daddy yang selama ini mengekang ke bebasannya . Ia ingin menunjukkan pada sang Daddy jika ia bisa hidup mandiri di luar sana dengan bermodalkan pendidikan yang ia miliki.


Namun sayang, nasib buruk kini tengah menerpanya. Jatuh hati pada atasannya membuat ia harus menelan pil pahit. Dilecehkan pujaan hatinya yang tengah dalam pengaruh obat perangsang.


"Pak, sudah cukup jangan diteruskan!" Pekik Zeline yang terus meronta di bawah kangkungan Adnan.


"Aku tak bisa menghentikannya Zeline, aku sangat menginginkan tubuh mu. Bukankah kamu selalu menggoda ku dengan menunjukkan tubuh murahan mu ini? Sudah berapa lelaki sebelum diriku yang sudah menjamah tubuh mu ini Zeline?" Sahut Adnan yang malah makin membuat Zeline sakit hati.


"Lepas! Berhenti memghina ku, aku tak sekotor itu!" Pekik Zeline yang tak berhenti berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Adnan.


Namun tubuh Adnan yang lebih besar darinya, membuat perlawanannya tak berarti apa-apa. Dengan sekali tarikan tangan Adnan yang berotot kemeja baju yang dikenakan Zeline pun terlepas. Benda kenyal yang selama ini di pamerkan Zeline padanya terpampang nyata di depan matanya.


"Waw, indahnya pabrik susu milik mu ini Zeline. Aku tak pernah melihat pabrik susu seindah milik mu. Milik mantan istriku saja tak sebesar dan menyembul seperti mu." Puji Adnan sembari menjelajahi bukit kembar Zeline yang ia katakan pabrik susu.


"Jangan!" Pekik Zeline yang terus menepis jemari Adnan yang terus menjelajahi bukit kembar miliknya.


Jujur tak hanya merasa kegelian, aliaran darah Zeline pun mulai berdesir. Sehingga ia terus berusaha menyingkirkan jemari Adnan. Adnan yang merasa kesenangannya terganggu oleh ulah Zeline pun akhirnya mengunci pergerakkan kedua tangan Zeline dengan satu tangan besarnya.


"Diam dan menurutlah! Jangan sampai aku berbuat kasar dengan mu!" Ancam Adnan yang berbisik di telinga Zeline. Kini Adnan sudah nampak seperti penjahat saja.


Bisikan suara Adnan yang terdengar seksi di telinga Zeline, membuat bulu halus di sekitar leher jenjang Zeline meremang.


"Hentikan Pak! Tolong jangan lecehkan saya!" Ucap Zeline sembari menangis dengan suara yang memohon.


"Sudah ku bilang aku tak bisa menghentikannya. Tubuh ku sangat menginginkan mu, Zeline." Sahut Adnan yang kembali menciumi seluruh bagian tubuh Zeline.


"Ahhh... jangan!" Lenguh Zeline saat Adnan mulai menciumi benda kenyal yang selama ini menggoda imannya.


"Teruslah melenguh sayang, suara mu begitu seksi di telinga ku." Balas Adnan yang makin memperdalam sesapannya di area inti benda kenyal itu.


"Ahhh... sudah cukup Pak! Bapak sudah berbuat di luar batas." Lenguh Zeline lagi, saat lidah Adnan menari-nari dengan lincah di sana dan menyesapnya lebih dalam hingga tangan Zeline yang tadinya terus meronta malah menjambak rambut Adnan agar tak melepaskan sesapannya yang membuat dirinya terbang kelangit ketujuh.


"Ahhh Pak Adnan," lenguh Zeline yang mulai mabuk kepayang dengan sentuhan Adnan yang semakin membuatnya gil@. Tak hanya menyesap satu tangannya aktif mer3mas benda kenyal serupa yang sedang ia sesap di sebelahnya.


"Apa kau menyukainya?" Tanya Adnan yang menatap wajah Zeline dengan penuh gairah. Saat Adnan merasa Zeline tak lagi meronta tapi lebih menikmati sentuhan yang diberikan Adnan padanya.


Zeline mengangguk. Adnan tersenyum senang dengan anggukan Zeline. Yang artinya dia menyukai apa yang Adnan lakukan pada tubuh indahnya.


Adnan yang kini dikuasai oleh pengaruh obat perangsang pun mulai bermain dengan membabi buta. Ia tak lagi memperlakukan Zeline dengan lembut. Ketika ia sudah tak tahan dan membutuhkan pelepasan. Adnan membuka bagian bawah tubuhnya yang masih mengenakan celana kerjanya.


Mata Zeline terbelalak saat melihat milik Adnan yang berukuran besar dan sudah menegang itu keluar dari sarangnya. Adnan mengarahkan miliknya ke mulut Zeline dan Zeline pun langsung menggeleng, menolak apa yang Adnan ingin lakukan padanya.


"Tidak mau, itu menjijikan!" Tolak Zeline yang tak diindahkan oleh Adnan yang sudah gelap mata karena obat perangsang.


Adnan memaksa Zeline, meski Zeline terus menolak. Zeline yang mual dan tak terbiasa pun terus memuntahkan benda pusaka Adnan yang ukurannya di luar dugaan Zeline.


Tak puas dengan yang Adnan harapkan dari mulut Zeline. Adnan langsung mengarahkan benda pusakanya ke arah bagian inti milik Zeline.


"Jangan mmmmppphhh sakit sekali!" Pekik Zeline yang sudah mencakar bahu Adnan. Saat Adnan hendak menerobos dinding pertahanan milik Zeline yang masih rapat tersegelel. Miliknya ini belum tersentuh seorang pria manapun. Bukan karena Zeline yang menjaganya tapi sang Daddy-lah yang menjaga Zeline seketat mungkin.


"Apa kamu masih perawan Zeline?" Tanya Adnan saat melihat wajah Zeline merengut kesakitan.


Zeline mengangguk dengan deraian air mata yang mengalir di sudut mata indahnya.


Adnan tersentak mendapati anggukan kepala dari Zeline, ingin ia hentikan aksi bej@tnya ini, namun tubuhnya tak sejalan dengan kata hati dan pikirannya. Sungguh efek obat perangsang itu sudah mengusai tubuhnya.


Blushhh... [Benda pusaka Adnan berhasil menembus dinding pertahanan Zeline dalam satu gerakan yang menggentak tanpa Adnan sadari, ia seperti kerasukan karena obat perangsang itu].


"Aaaaaa..... ini sakit sekali." Pekik Zeline mengerang kesakitan. Ia mencakar bahu Adnan dengan kuku-kuku panjang terawatnya hingga mengeluarkan darah segar dari bahu Adnan.


Tak hanya Zeline yang ikut mengerang, Adnan pun ikut mengerang karna merasakan kuku panjang Zeline menancap di bahunya.


"Aaaa.... kenapa kau cakar aku Zeline, kuku mu itu menyakitiku." pekik Adnan yang juga merasakan sakit di bahunya.


"Rudal mu juga sudah merobek milikku. Kau sudah membuatku tidak perawan lagi Pak!" Sahut Zeline dengan beraninya.


"Aku akan tanggung jawab, tapi selesaikan dulu permainan ini. Tubuhku terasa sangat aneh Zeline, aku tak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. Aku butuh pelepasan, aku tiba-tiba begitu bergairah saat ini dan gairah ini tak bisa ku kendalikan. Maafkan aku." Tutur Adnan dengan sejujur-jujurnya.


Zeline menatap wajah Adnan lebih dalam, ia melihat Adnan tersiksa seperti dirinya saat ini.


"Ada apa dengan mu Pak? Apa ada yang memberikan obat perangsang pada mu? Jika iya, siapa yang telah berani berbuat seperti itu? Tidak mungkin clien kita, kan? Apalagi diriku, aku saja duduk di antara Rio dan sekertaris cantik itu." Cecar Zeline dengan pertanyaannya yang membuat Adnan semakin pusing. Ia sudah melupakan rasa sedihnya dan malah mencemaskan kondisi Adnan saat ini.


"Bisakah kau jangan banyak tanya dulu. Kepalaku makin pusing karena mu. Kau itu bawel sekali." Sahut Adnan yang memang menjadi pusing karena belum mendapatkan pelepasannya.