My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Tak diizinkan masuk



"Arumi... Arumi... ARUMI!" Pekik Barra yang baru saja sadarkan diri, setelah habis-habisan dipukuli sang Daddy.


Bi Ijah yang sejak tadi menunggu Tuan mudanya siuman pun akhirnya menghampiri Barra.


"Tuan muda sudah sadar?" Tanya Bi Ijah pada Barra yang sedang menatap langit-langit kamarnya.


"Dimana istriku Bi? Kenapa dia tidak datang pada ku? Padahal aku sudah memanggil namanya sebanyak tiga kali." Sahut Barra yang masih menanyakan keberadaan istrinya.


Entah dia lupa atau sengaja melupakan, jika istrinya itu dibawa oleh sang Daddy tinggal di mansion utama.


"Apa Tuan muda tidak ingat, jika Nona Arumi dibawa oleh Tuan Brandon ke mansion utama pagi tadi?" Balas Bi Ijah yang mencoba mengingatkan Barra tentang Arumi yang dibawa sang Daddy.


"Si4lan. Berani-beraninya dia mengambil istri ku." Umpat Barra yang kemudian segera mengambil ponselnya di atas nakas.


Barra menghubungi Arumi yang memilih tak bekerja hari ini, ia beristirahat di dalam kamar Barra, setelah sebuah kenyataan yang begitu menyedihkan ia dapati di kamar itu. Kenyataan dimana ia mendapati sebuah catatan harian Barra. Disitu tertulis betapa besar perasaan Barra terhadap kekasihnya yang bernama Pinkan.


Dalam catatan harian yang Arumi baca dengan lancangnya tampa seizin pemiliknya. Arumi mengetahui jika perjalan cinta Barra bersama Pinkan tak pernah berjalan mulus seajak awal mereka menjalin hubungan, hingga Pinkan memberikan keperawanannya sebagai bukti cinta dirinya terhadap Barra. Sebuah pengorbanan yang cukup besar seorang wanita pada seorang pria yang sangat dicintainya, menurut Arumi.


Sebagai seorang wanita yang membaca akan hal ini, Arumi merasa tak enak hati dan sadar diri pada keduanya. Perasaan bersalah pada Pinkan dan Barra menyeruak di dalam hatinya, membuat nafasnya seakan tercekat.


Ia sadari betul, jika ia adalah orang ketiga dihubungi dua orang yang saling mencintai. Pantaslah bila Barra tak ingin memiliki seorang anak dari rahimnya, karena Barra begiti mencintai Pinkan dan begitu pula dengan Pinkan. Meskipun kini Arumi tahu jika Pinkan saat ini menjalan kasih dengan Tian Marco.


"Maafkan aku yang telah lancang masuk ke dalam hidup mu, Pak Barra. Seharusnya aku menuruti apa kata Kak Indri untuk tidak menggunakan perasaan dan juga hati ku, jika aku bekerja dengan mu. Aku yakin cinta dan pejuang besar yang telah kalian lalu, pasti akan tetap menyatukan kalian. Meskipun ada aku yang pernah ada sebagai batu kerikil dikisah cinta kalian. Meskipun aku tak akan pernah ada dihati mu, tapi kamu akan tetap ada dihatiku. Suamiku." Gumam Arumi. Sebelum ia masuk ke alam tidurnya.


Sementara itu Barra terus menghubungi istrinya itu namun tetap tak bisa, ia mengambil kunci mobil dan bergegas pergi menemui sang istri, di mansion utama. Ia yakin aki-aki tua bangka itu pasti tak mengizinkan istrinya itu untuk bekerja, padahal tidak begitu kenyataannya.


Tuan Branron sengaja mengizinkan Arumi bekerja hingga tiga bulan ini, ia seakan masih berbuat baik dengan memberikan kesempatan pada putranya yang bodoh dan tak sadar diri itu. Sebelum ia akan membawa Arumi bersama Anaya pergi dari negara ini, sesuai dengan keinginan sang menantu idamannya itu.


"Arumi kenapa kamu tidak mengangkat panggilan telepon dari ku? Apa yang dilakukan aki-aki tua bangka itu pada mu hah? Hingga kau tak mau mengangkat panggilan dariku. Si4lan." Umpat Barra yang kesal karena panggilannya tak diangkat oleh Arumi.


Mobil yang dikemudikan Barra berhenti tepat di depan pagar mansion utama. Tak satu pun dari Security atau pun bodyguard yang berjaga membukakan pintu untuknya.


Bukannya membukakan pintu, penjaga dan security yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang, malah berbaris di depan pagar, seakan mereka menjadi lapis terakhir dari pagar tersebut.


"Maaf Tuan muda, mulai hari ini Anda tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam mansion ini, sebelum mendapatkan izin dari Tuan Besar atau pun Nyonya besar." Ucap salah satu Security yang mengejutkan Barra.


"Apa? Aku tak boleh masuk ke kediaman ku sendiri? Ini benar-benar keterlaluan. Aku putranya dan Aki-aki tua itu melarang ku untuk masuk. Setelah mencuri dan membawa paksa istri ku kedalam kediaman kebanggaannya dia ini. Cih. Jangan panggil aku Barra, jika tak bisa membawa istriku kembali." Gumam Barra dengan wajah terkejut dan berapi-api.


Barra sungguh marrah degan keputusan Tuan Brandon yanh tak mengizinkan dirinya untuk masuk ke dalam mansion. Merasa tak hilang akal. Barra mendatangi sang Mommy yang tenga bekerja di salah satu boutiquenya.


Kedatangan Barra kali ini, tak disambut hangat oleh sang Mommy, Miranda tetap fokus pada design yang sedang ia buat di meja kerjanya.


"Mom, kenapa kehadiran ku tak kau hiraukan seperti ini? Apa salah ku Mom?" Tanya Barra dehan wajah kusutnya.


"Jika kedatangan mu hanya ingin mengganggu Mommy bekerja, kamu boleh pergi. Pintu keluarnya ada di ujung sana." Ucap Miranda yang mengusir secara langsung putranya.


"Mommy! Teganya kau, mengusir anakmu sendiri." Barra terkejut mendapati dirinya diusir oleh Mommy-nya sendiri.


"Kenapa Mommy harus tidak tega dengan seorang pria yang dengan tega tidak mengakui istrinya sendiri dan melakukan tindakan KDRT pada istrinya? Hum? Katakan!! Kenapa Mommy harus tidak tega dengan anak laki-laki seperti mu ini?" Balas Miranda yang menatap tajam wajah sang putra.


"Kegilaan apalagi yang kamu buat Barra? Tak sadarkah kamu jika kamu menyakiti hati seorang wanita samm saja kamu menyakiti hati Mommy mu sendiri,hah?" Sambung Miranda dengan tetesan air kata yang membasahi pipinya.


Ia merasa sedih dan kecewa dengan sikap sang putra yag tak ia sangka-sangka bisa melakukan tindakan KDRT pada istrinya sendiri. Barra tersenyum kecut saat mendapati perkataan Mommy yang merasa menggelikan di telinganya.


"Kenapa dengan Arumi, Mommy semarah ini pada ku, seakan Arumi adalah seorang putri yang tak boleh terluka sedikit pun? Tapi dengan Pinkan, apa kalian tidak sadar telah menyakiti hati dia, wanita yang sangat aku cintai hingga detik ini?" Sahut Barra yang menatap Miranda dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan samakan Arumi dan Pinkan! Mereka sangat berbeda jauh, bagaikan bumi dan langit, jika kau mau samakan Arumi. Samakan Arumi dengan Indri. Mereka tak berbeda jauh dimata Mommy." Jawab Miranda yang makin membuat Barra tertawa dengan kepedihannya. Hatinya masih tak terima Pinkan selalu dipandang rendah oleh orang tuanya.


"Mommy terlalu bereskpektasi tinggi terhadap dua wanita biasa itu. Wanita yang sama sekali tak bisa membuat ku jatuh cinta. Wanita yang sama sekali tak bernilai dimata ku." Ucap Barra yang terlihat menitikkan air matanya. Air mata kekecewaan dari seorang anak pada orang tuanya.