
"Dengar," sahut Arumi sembari mengaduk masakannya, tumis kangkungnya.
"Kalau kamu dengar, kenapa diam saja?" Tanya Barra yang akhirnya menghampiri Arumi di dapur.
"Memangnya saya harus apa? Bukankah saya harus menyiapkan sarapan untuk Bapak pagi ini?" Tanya Arumi yang masih sibuk memasak, mengabaikan kehadiran Barra di dapur.
"Ishh, kamu ini masih tanya, temani saya tidur lagi, cepat! Masaknya bisa nanti saja." Jawab Barra sembari menarik tangan Arumi.
"Ihhh...lepas! Saya lagi masak, jangan ganggu dulu!" Tolak Arumi yang menghempas tangan Barra dengan kasar.
Barra merengutkan wajahnya, mendapati penolakan dari Arumi. Ia terus memandangi wajah Arumi yang terlihat begitu cuek padanya. Baru kali ini ia mendapati penolakan dan merasa terabaikan dari seorang wanita.
Dulu saat Pinkan belum meninggalkannya, tak pernah sedikit pun Pinkan menolak dirinya atau pun mengabaikan dirinya, tapi ini Arumi berani menolak keinginannya. Padahal keinginannya hanya sesuatu yang sangat mudah dilakukan Arumi, yaitu menemani suaminya tidur kembali.
"Arumi, bukankah kamu bilang akan menjalankan semua kewajiban kamu sebagai seorang istri? Kenapa sekarang kamu malah menolak saya?" Tanya Barra sembari mencondongkan wajahnya ke wajah Arumi.
"Awas minggir! Jangan menghalangi langkah saya! Saya mau angkat tumis kangkung ini." Arumi mendorong dan mengusir Barra dengan sikut tangannya.
Tubuh Barra terdorong ke belakang, ia tercengang dengan sikap kasar yang kedua kali Arumi lakukan padanya.
"Arggghh... beraninya dia berlaku kasar pada ku!" Geram Barra yang sudah berkacak pinggang di belakang tubuh Arumi.
Arumi mengetahui pasti, jika suaminya yang berdiri tepat di belakangnya itu sedang kesal padanya, tapi ia tak perduli. Baginya menyelesaikan masakannya untuk sarapan berat mereka kali ini lebih penting, sebelum ia menjalankan tugas-tugas lain yang juga tengah menanti dirinya.
Arumi memindahkan masakan keduanya yaitu tumis kangkung ke atas meja makan, setelah sebelumnya ia memasak cumi lada hitam terlebih dahulu. Barra terus saja mengekori kemana pun Arumi pergi.
Saat Arumi meletakkan masakan keduanya. Barra dibuat tercengang dengan menu sarapan yang menurutnya cocok untuk dijadikan menu makan malam.
"Arumi, kamu tidak salah memasak menu sarapan pagi ini hah? Ini terlalu berat untuk saya makan sepagi ini." Ucap Barra sembari menunjuk kedua masakan Arumi.
"Saya terbiasa sarapan pagi dengan menu berat, supaya tidak cepat lapar dan banyak jajan di luar rumah nanti. Jadi mulai sekarang Bapak harus menyesuaikan keadaan perut saya." Tukas Arumi yang malah melenggang pergi ke kamarnya.
"Apa? Kenapa aku yang harus menyesuaikan perutku dengan kondisi perutnya? Seharusnya dia yang menyesuaikan kondisi perutku, Bisa-bisa aku sakit perut nanti," gumam Barra saat melihat Arumi berjalan masuk ke kamarnya.
Brak!!
"Kenapa saya harus menyesuaikan keadan perut kamu, seharusnya kamu yang menyesuaikan keadaan perut saya, Arumi? Kamu mau saya sakit perut hah?" Tanya Barra dengan berapi-api yang kemudian terdiam karena ia terpana dengan Arumi yang mulai melepaskan seluruh pakaiannya.
Tubuh indah Arumi terpampang jelas di kelopak mata Barra. Alih-alih malu dan menutupi tubuhnya yang terlihat putih mulus, Arumi malah terlihat cuek tanpa busana di hadapan Barra. Ia bersikap cuek seperti itu, karena dia tahu, Barra tak akan sudi menyentuh dirinya, meskipun dirinya adalah istri sah Barra sendiri.
"Kenapa harus? Tentu saja harus, jika Bapak tak bisa menyesuaikan kondisi hati dan perasaan saya, Bapak cuma cukup menyesuaikan kondisi perut saya. Saya perlu tenaga yang cukup besar untuk menelan pil pahit dari pernikahan kita ini." Jawab Arumi yang kembali mencubit hati Barra.
Barra terdiam, ia menatap wajah datar Arumi yang menyembunyikan segala luka hatinya seorang diri. Manik mata mereka saling bertemu. Sejenak mereka saling menatap satu sama lain, mereka menatap dalam diamnya mulut mereka masing-masing. Barra tak dapat membaca arti tatapan yang Arumi berikan padanya. Tatapan mata yang selalu menjadi peneduh hatinya baru-baru ini.
Semula Barra ingin protes dan marah dengan Arumi, namun saat pandangan mata mereka bertemu. Barra malah tidak bisa melanjutkan rasa marahnya pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Tak ingin terlalu lama menatap mata Barra yang akan membuatnya terpesona nantinya. Arumi akhirnya memutuskan tatapan matanya itu dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia akan bersiap-siap untuk berangkat bekerja bersama Barra hari ini.
Melihat Arumi pergi ke kamar mandi dan mendengar suara gemericik air yang menandakan, jika Arumi sedang melakukan ritual paginya, yaitu membersihkan diri di dalam kamar mandi, Barra pun kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang Arumi, cukup lama Arumi menghabiskan waktu di kamar mandi dan Barra menunggu dengan sabar hingga Arumi menyelesaikan ritual mandi paginya dengan berbaring di atas ranjang.
Saat Arumi keluar dari kamar mandi, tercium wangi sampo dan sabun yang begitu wangi semerbak di indra penciuman Barra. Barra menoleh ke arah sumber wangi yang mengusik indra penciumannya itu. Ia dapati Arumi yang sedang mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk di muka pintu kamar mandi.
Saat ini Arumi belum menyadari, jika apa yang ia lakukan tengah diperhatikan oleh suaminya yang berbaring di atas ranjangnya. Ia mengira Barra sudah pergi dari kamarnya ketika ia masuk ke kamar mandi tadi. Karena ia mendengar suara pintu yang tertutup.
Ya, memang Barra yang menutup pintu itu, ia sengaja menutup pintu agar Bi Ijah yang menurutnya belum bangun mengira mereka masih terlelap dalam tidurnya. Padahal sejak tadi Bi ijah sudah bangun, ia menguping dan mengintip apa yang dilakukan dan diributkan pasangan pengantin baru itu.
"Tubuh mu ini sungguh menggoda keimanan ku Arumi, Aku tak mungkin tak menyentuh tubuh mu yang begitu indah ini," gumam Barra di hatinya.
Saat ini ia baru menyadari jika tubuh sang istri nampak begitu indah dipandangan matanya. Bahkan tubuh istrinya ini lebih indah dari tubuh Pinkan yang mendapati keperjakaannya kala itu.
Arumi terkejut ketika Barra sudah berdiri di depannya, menatap dirinya dengan tatapan memangsa. Alih-alih menghindar, Arumi malah terlihat cuek, ia melewati Barra yang terus saja memandang dirinya, ia membuka lemari pakaiannya lalu mengambil pakaian kerjanya dan juga pakaian dalamnya.
Tanpa menunggu Barra pergi dari kamarnya, Arumi membuka handuk yang ia kenakan. Kini tak ada sehelai benang pun yang menutupi bagian tubuh Arumi yang terlihat begitu putih, mulus, wangi dan segar itu. Apa yang dilakukan Arumi, membuat Barra makin menginginkan tubuhnya.
Barra mendekati Arumi yang terlihat cuek menggunakan pakaian dalamnya di depan Barra. Ia melakukannya tanpa rasa malu, karena menurutnya, Barra berhak melihat seluruh bagian tubuhnya tanpa terkecuali. Ia juga berani bersikap cuek karena kembali Arumi beranggapan Barra tak akan menyentuh tubuhnya. karena ia tak akan sudi menyentuh dirinya yang sama sekali tak dicintai oleh suaminya itu.