
Sejak tadi bara tidak bisa fokus mengerjakan setumpuk pekerjaan yang memang sengaja dia bawa pulang. Kopi yang sudah dibuatkan oleh Bi Ipah sudah tanda sejak 5 menit yang lalu.
Mungkin karena suasana hatinya yang sedang sangat buruk sehingga mempengaruhi kinerja otaknya yang jadi lemot.
Bertengkar dengan Arumi dan tidak mendapatkan kata maaf dari istrinya ini adalah satu alasan yang membuat suasana hatinya memburuk hari ini.
Bara mendengus dengan keras kemudian membanting file yang ada di tangannya dengan penuh rasa emosional.
Brakk!!
File-file pun berhamburan di atas lantai.
Tidak ada satupun pekerjaan yang bisa dikerjakannya dengan benar malam ini. Ini membuatnya sangat kesal dan sangat frustrasi.
Sebenarnya Barra benar-benar butuh teman bicara saat ini. Namun sejak tadi dia belum menemukan teman yang cocok untuknya bertukar pikiran mendengar keluh kesahnya mengenai sikap Arumi yang tak mau memaafkannya.
Jika ia ceritakan hal ini pada Adnan, pasti kakak iparnya ini akan meledeknya habis-habisan. Tidak ada pilihan lain mungkin sesekali ia perlu bertukar pikiran pada Steve mantan asisten Daddynya yang saat ini sudah menjadi adik iparnya.
Ya. Mungkin bercerita dengan Steve lebih baik daripada ia bercerita dan bertukar pikiran dengan Adnan. Karena Steve jauh lebih dewasa daripada Adnan.
Setelah mendapatkan solusi untuk bercerita dan bertukar pikiran dengan Steve, Barra pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya.
Baru tiga langkah kakinya keluar dari ruang kerjanya. Langkah Barra terhenti. Iya sangat kaget mendapati pemandangan memilukan di dapur. Di mana istrinya sedang telungkup sambil menangis.
Sontak hari ini membuat Barra sangat merasa bersalah. Dengan perlahan dan hati-hati bara melangkah mendekati Arumi. Iya merengkuh tubuh Arumi yang bergetar kemudian memeluknya.
Tapi reaksi istrinya istri justru membuatnya kaget. Arumi langsung berdiri dan berlari menuju wastafel dan muntah-muntah. Barra mulai memahami situasi yang dialami oleh istrinya.
"Kamu mual sayang?" Tanya Barra yang terlihat khawatir.
Tanpa mengeluarkan suara Arumi menganggukkan kepalanya kemudian menangis lagi.
Barra yang pernah mengalami mual muntah, segera membuatkan segelas teh hangat untuk istrinya. Seperti yang dilakukan Arabella kala ia mengalami mual muntah dahulu.
Barra kembali mendekati Arumi yang terisak sembari memberikan segelas teh hangat.
"Minumlah sayang, teh hangat ini akan meredakan rasa mual muntah mu." Ucap Barra saat menyodorkan segelas teh hangat pada istrinya.
Arumi menerimanya dan langsung menyeruputnya.
"Papi maafkan Mami," cicit Arumi yang kemudian menangis kembali.
Barra segera merengkuh tubuh istrinya yang kembali menangis pilu.
"Hei, Mami kenapa Mami yang minta maaf? Bukankah Papi yang salah."
"Tidak. Mami yang salah. Tolong jangan jauh-jauh dari Mami. Karena saat Papi menjauh karena kita bertengkar. Tubuh Mami mual dan ingin muntah." Balas Arumi.
Senyum bahagia terbit di wajah muram Barra.
"Hahaha, bagus Nak, buatlah Mami mu tak bisa jauh dari Papi. Untung belum kemana-mana dan belum jadi objek tertawaan para iparku itu." Gumam Barra penuh kemenangan.
"Ya, Mami, Papi selalu memaafkan Mami kok, lagi pula Papi tidak pernah marah sedikit pun sama Mami. Kalau begitu kita tidur yuk. Papi gak jadi kerja. Pikiran Papi gak bisa fokus dari tadi." Ucap Barra yang mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.
"Mau sampai kapan kamu lihatin muka aku kayak gini?" Tanya Barra yang tiba-tiba merasa canggung dengan cara menatap Arumi padanya.
"Muka papi itu sebenarnya nggak ganteng banget loh Pih, tapi kenapa ibu-ibu banyak yang suka sama Papi apalagi si mantan kamu itu." Jawab Arumi.
"Gak ganteng gimana? Papi ini ganteng Mih, ya ampun penghinaan ini. Coba Mami lihat Nathan, Nathan tuh ganteng banget loh Mih, walaupun masi kecil, karena dia itu hasil dari bibit ungul Papi yang Papi salurkan ke Mami." Protes Barra yang langsung saja bangun dari tidurnya.
Kini ia berjalan ke meja rias Arumi, berkaca di pantulan cermin mengamati wajah tampannya yang dikatakan oleh istrinya tidak tampan itu.
"Tampan gini kok dibilang nggak tampan," ucap Barra sembari mengaca di pantulan cermin.
Puas setelah bercermin cukup lama, Barra pun kembali naik ke atas ranjang. Ia kembali memeluk istrinya dengan erat.
Barr mengecup cepat bibir mungil istrinya yang selalu menjadi favoritnya itu, bibir yang baru saja mengjina dirinya tidak tampan.
"Nakal! Ini hukuman untuk Mami yang sudah menghina Papi." Ucap Barra setelah mengecup lembut bibir istrinya.
"Papi gak minta jatahkan?" Tanya Arumi yang takut suaminya minta jatah malam ini.
"Tidak. Aku tahu kamu sedang mual, tapi tidak tahu jika nanti pagi, mungkin jika kamu sudah lebih baik, aku akan memintanya." Jawab Barra yang kemudian memejamkan matanya.
Berdekatan dengan Arumi saat ini, Barra kembali merasakan kantuk luar biasa.
"Kamu kenapa sih sayang? Pasti ada yang kamu pikirkan sehingga nggak bisa tidur seperti ini." Tanya Steve yang sudah sangat mengantuk, setelah beberapa ronde telah ia lalui.
"Aku nggak mikirin apa-apa Om cuma perasaan aku nggak enak aja, kayak akan ada terjadi sesuatu gitu." Jawab Anaya yang memang merasa gelisah.
"Coba untuk tenangkan diri dan jangan terus dipikirkan. Sekarang coba pejamkan matamu. Ingat Kamu sekarang sedang berbadan dua kamu harus memaksakan dirimu untuk beristirahat yang cukup." Saran Steve yang selalu sabar menghadapi Anaya.
"Aku mau tidur di rumah Ayah sama Ibu aja yuk Om!" Ajakan Anaya sembari menarik tangan suaminya.
Dengan berat hati Steve yang sudah sangat mengantuk pun mengikuti mau istrinya tersebut.
Anaya dan Steve masuk ke dalam rumah Arabella dan Abimanyu melalui pintu rahasia yang menghubungkan rumah mereka. Letak pintu itu ada di kamar pribadi Anaya yang ada di rumah kedua orang tuanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Steve pada Anaya yang malah keluar kamar.
"Ke kemar ibu, Om tidur sini aja." Steve yang sudah sangat mengantuk akhirnya mengangguk, mengiyakan apa kata istrinya.
Tak lama berselang ketika Anaya pergi ke kamar kedua orang tuanya, Anaya kembali lagi dengan menggendong Sultan dan meletakkannya di samping suaminya.
"Om jagain, ya." Anaya kembali membangunkan suaminya menunjukkan jika Nathan tertidur pulas di samping dirinya.
Setiap yang sudah sangat mengantuk kembali menganggukkan kepala mengiyakan semua perintah istrinya.
Anaya kembali keluar kamar dan kembali ke kamar kedua orang tuanya. Ia berbaring tepat di antara Arabella dan Abimanyu, ia menggantikan posisi Sultan sebelumnya.
Tak berapa lama ia pun akhirnya bisa tertidur pulas dengan nyenyak. Hingga pagi menjelang tepatnya pukul 04.00 pagi di mana Arabella dan Abimanyu biasa sudah terbangun.
Keduanya terkejut karena sosok Nathan bisa berubah menjadi Sosok Anaya, balita tua yang ingin tidur dengan ibu dan ayahnya.
"Sepertinya Putri kita tidak bisa tidur semalam, bu. Tolong jangan dibangunkan dulu berikan dia dispensasi." Ucapan Abimanyu, saat melihat arabella ingin membangunkan putrinya.
Arabella yang mendengarkan Abimanyu bicara terlihat keberatan. Namun Abimanyu tetap meminta pengertian dari istrinya.
"Ingatlah, putri kita ini sedang hamil di usia mudanya. Tolong jangan terlalu keras!"
"Ok baiklah, ayo kita sholat di mesjid Ayah setelah itu kita olahraga pagi. Pasti Nathan sudah dikembalikan pada kedua orang tuanya oleh Putri kita." Ajak arabella pada suaminya.
Arabella menyangka jika Anaya sudah mengembalikan Nathan pada Arumi dan juga Barra. Padahal sebenarnya Nathan berada di dalam kamar Anaya bersama dengan Steve yang juga masih tertidur karena masih mengantuk.
Annabelle dan Abimanyu pun akhirnya pergi meninggalkan rumah menuju masjid yang letaknya cukup jauh dari kediaman mereka dengan berjalan kaki.
Sepasang suami istri ini tengah menikmati masa tua mereka dengan begitu bahagia. Usai menjalani salat subuh berjamaah dan juga kuliah subuh bersama warga sekitar. Kini arabella dan Abimanyu berniat untuk berjalan pagi bersama sembari mencari sarapan pagi di pinggir pertokoan yang ada di depan gang rumah mereka.
Suasana pagi ini masih cukup sepi jalanan pun masih lengang, Namun demikian tukang jajanan sudah membuka lapak dagangannya.
Sepasang suami istri ini sepakat untuk sarapan pagi dengan menu nasi pecel Madiun. Keduanya menikmati sarapan pagi mereka sambil bercengkrama. Sesekali Arabella tertawa ketika Abimanyu berusaha melucu namun tidak lucu.
Keduanya sama sekali tidak menyadari jika keberadaan mereka sedang diintai oleh sepasang mata yang menaruh dendam pada kebahagiaan mereka berdua.
Ya sepasang mata itu adalah milik Tati, sudah beberapa hari ini ia terus mempelajari kebiasaan sepasang suami istri ini. Entah apa yang akan dilakukan Tati dalam beberapa menit ke depan, yang pasti di dalam mobilnya, ia sudah bersiap untuk melakukan sesuatu yang pastinya akan mencelakai salah satu diantara Arabella dan Abimanyu.
Setelah melihat arah Bella dan Abimanyu menjauh dari kedai pecel Madiun, tadi sudah bersiap dengan menyalakan mesin mobilnya. Pagi ini dia tidak mengendarai mobil yang biasa ia gunakan.
Ya. Tati sudah merencanakan semua ini dengan matang hingga ia menyewa sebuah mobil untuk melakukan aksi kejahatannya kali ini.
Ketika sudah memastikan jalanan dan tidak ada yang memperhatikan mereka, Tati langsung saja menekan pedal gas mobil yang ia kendarai.
Suara gerungan mesin mobil Tati ternyata menyadarkan arabella tentang bahaya yang mengancam suaminya.
Arabella sempat menoleh ke belakang dan melihat mobil yang dikendarai Tati melaju dengan cepat dengan sigap arabella menarik tubuh Abimanyu yang ingin ditabrak oleh mobil Tati.
Brughh!!!
Arabella dan Abimanyu terjatuh terperosok ke dalam got.
Kepala Abimanyu terbentur dinding got hingga mengeluarkan cukup banyak darah. Abimanyu merintih kesakitan Namun demikian Arabella masih merasa bersyukur. Karena terselamatkan dari hantaman mobil Tati yang melaju sangat kencang itu.
"Luar biasa jahatnya manusia itu." Decak Arabella yang tak lagi melihat mobil yang dikendarai Tati.
Beruntungnya got tempat Tati dan Abimanyu terjatuh tidak basah, hingga tidak ada satupun pakaian mereka yang kotor.
Beberapa warga yang melihat kejadian tersebut langsung menolong Abimanyu. Salah seorang warga menghentikan mobil yang melintas untuk membantu membawa Abimanyu segera ke rumah sakit karena darah terus saja mengucur dari kening Abimanyu saat ini.
Arabella dan Abimanyu yang tidak membawa ponsel membuat mereka bingung untuk menghubungi anak-anak mereka di rumah, ditambah lagi orang-orang yang menolong mereka tidak mengenal siapa Abimanyu dan juga Arabella yang memang jarang keluar dari rumah mereka.