
Usai menjelaskan cukup panjang lebar pada Arabella, meski ia sedikit harus berbohong. Adnan memandangi tubuh Zeline yang masih bersembunyi di dalam selimut. Saat itu ia sudah menutup sambungan panggilan teleponnya dengan Arabella.
Kini Adnan terlihat bingung harus bagaimana. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Nampak jelas sekali jika ia sangat menyesali apa yang ia lakukan semalam pada Zeline. Ia sadar telah merusak anak gadis orang saat ini.
Di dalam kekautannya dan diburu oleh waktu untuk menghadiri akad nikah sang adik, Adnan terlihat kembali sibuk dengan ponselnya. Rupanya kini ia tengah sibuk menghubungi Kevin yang tahu pasti tentang sosok Zeline, sang sekertaris yang telah ia gagahi semalam. Ia yakin Kevin bisa membantu menyelesaikan masalah hesar yang kini ia hadapi.
Cukup lama Kevin tak mengangkat panggilan telepon dari Adnan. Pada panggilan keempat Kevin mengangkat panggilan teleponnya sembari melontarkan amarahnya pada Kakak ipar bosnya yang kelakuannya tak jauh beda dengan Barra. Menyusahkan, menyebalkan dan seenaknya. Sebenarnya masih banyak lagi keburukan Adnan yang akan membuat letih jika harus dijabarkan satu persatu.
"Mau apa menghubungi ku sepagi ini?" Tanya Kevin usai marah-marah yang tak ditanggapi sedikit pun oleh Adnan.
"Kau sudah selesai marahnya?" Adnan malah balik bertanya seakan menantang Kevin kembali marah padanya.
"Masih ingin kau mendengar amarahku? Kurangkah?"
"Tidak-tidak. Cukup terima kasih." Jawab Adnan dengan segera.
"Cepat katakan ada apa kau menghubungi ku sepagi ini?" Tanya Kevin sekali lagi dengan rasa maas untuk mendengar dan menunggu jawaban Adnan yang pasti akan menyusahkannya.
"Vin, kamu tahu dimana Zeline tinggal? Apa dia tinggal dikota ini bersama kedua orang tuanya?" Tanya Adnan untuk pertama kalinya bicara dengan nada biara yang begitu serius, tanpa meledek, membual ataupun gaya selengengannya.
"Menghubungi ku hanya karea masalah ini? Oh come on, ini bisa kita bahas nanti di acara pernikahan adikmu Nan." Tanya Kevin yanh merasa oertanyaan yang diajukan Adnan tidak terlalu penting.
"Tidak, aku tak bisa menundanya Vin, sebelum aku pulang untuk menghadiri pernikahan Anaya dan Steve, aku harus menemui kedua orang tuanya. Karena aku telah mengaulinya tanpa sengaja. Aku sadar m gaulinya tapi aku tak bisa menghentikan perbuatan tercela ku. Sepertinya seseorang sudah memberikan ku obat perangsang dengan sengaja, entah dimakanan ataupun minumanku semalam." Jawab Adnan yang membuat Kevin terdiam.
Sungguh saat ini untuk menelan salivanya sendiri Kevin begitu merasa kesulitan. Nafasnya terasa tercekal. Matanya terbelalak sempurna. Jantungnya tiba-tiba ingin berhenti berdetak. Pikirannya melayang entah kemana.
Saat ini kevin tengah membayangkan keluarga Tuan Antoni, adik sepupu Tuan Brandon akan mengamuk dengan apa yang menimpa putri semata wayangnya, yang selama ini ia jaga dengan baik. Tak hanya Kevin yang akan di amuk oleh Tuan Antoni, tapi juga dirinya dan juga Barra yang sudah di wanti-wanti untuk menjaga Zeline.
Mengenai siapa wanita yang ingin di jodohkan oleh Kevin dan Barra bukanlah Zeline, melainkan Karin, seorang janda dengan satu anak yang bekerja menjadi sekertarisnya. Itulah sebab mengapa Karin yang dijadikan sekertaris untuk Adnan dan Zeline yang sengaja dijadikan sekertaris untuk Steve yang dianggap mampu untuk meja Zeline. Semua berantakan karena Steve menolak Zeline menjadi sekertarisnya dan itu semua karena Anaya.
Mendengar Kevin tak merespon dengan suaranya, Adnan berteriak memanggil nama Kevin. "KEVIN! KEVIN APA KAU MASIH DI SANA? KAU MASIH DENGAR AKU BICARA?" Pekik Adnan yang menyadarkan Kevin dari lamunannya.
"A-ku masih di sini. Kita bertiga dalam masalah besar, terutama dirimu, Nan." Jawab Kevin sedikit tergagap.
"Kita bertiga?" Tanya Adnana tak mengerti.
"Ya kita bertiga. Kau tahu PT. Argo Tunggal di Surabaya, yang baru-baru ini bekerja sama dengan kita?"
"Ya aku tahu. Apa kaitannya dengan kita?"
"Pemilik perusahaan raksasa di Surabaya itu yang baru pindah kantor pusatnya di Jakarta adalah orang tua Zeline, dan perlu kau ketahui Zeline adalah adik sepupu Barra." Tukas Kevin yang kini malah membuat Adnan terkejut.
"APA???"
Sungguh saat ini apa yang dirasakan Kevin kini dirasakan oleh Adnan untuk menelan salivanya sendiri Adnan begitu merasa kesulitan. Nafasnya terasa tercekal. Matanya terbelalak sempurna. Jantungnya tiba-tiba ingin berhenti berdetak. Pikirannya melayang entah kemana. Akankah dia di nikahi dengan Zeline atau dikuliti hidup-hidup oleh Tuan Antoni.
"Tak hanya kau, aku dan Barra pun akan mati. Mana istriku baru saja hamil." Sahut Kevin dengan ke frustrasiannya.
"Lalu bagaimana ini Vin? Tolong kirimkan baju untuk kami, sebelum kau pikirkan jalan keluar untuk ku ya. Karena aku sudah mengoyak pakaian Zeline semalam."
"Hah. Kau ini. Enak sekali. Kau yang huat masalah lalu aku yang harus memikirkan jalan keluarnya."
"Tolonglah! Kepalaku masih sedikit pusing efek obat itu."
"Baiklah. Aku akan aku pikirkan jalan keluar masalah mu dan segera aku akan kirimkan orang untuk mengirimkan mu dan Zeline pakaian ganti."
"Ok terima kasih Vin. Kau memang selalu bisa diandalkan." Jawab Adnan yang setelah itu menutup sambungan panggilan teleponnya begitu saja.
Berbeda dengan Adnan yang sudah sedikit tenang kerena telah melimpahkan segalanya pada Kevin. Berbeda dengan Kevin yang kini terlihat frustrasi bagaimana cara ia menjelaskan pada Tuan Antoni. Jika ia bicara langsung dengan Tuan Antoni. Ia seperti menyerahkan nyawanya sendiri. Demi keamanan dan keselamatannya Kevin pun memutuskan melimpahkan masalah ini pada Barra. Segera ia hubungi Bos sekaligus sahabatnya ini.
"Hallo Bar, apa kau sedang sibuk? Menggendong Nathan?" Sapa Kevin disambungan telepon yang terhubung dengan Barra saat ini.
"Iya aku sibuk menjaga putraku, karena istriku tengah di rias. Ada apa memannya" Jawab Barra pada Kevin.
"Ada sesuatu hal yang sangat penting ingin aku bicarakan. Bisakah kau memberikan Nathan pada istrimu dulu?"
"Apa kau sedang memerintahki Vin?" Tanya Barra yang seakan tersinggung dengan apa yg diktakan Kevin. Pada dasarnya seorang Barra adalah orang yang sangat tidak suka di beri perintah.
"Maaf jika aku menyinggung mu, ini sangat penting dan jika kau mengetahuinya. Aku khawatir dengan kondisi Nathan yang ada di dalam gendongan mu." Jawab Kevin dengen penjelasannya yang dapat dimengerti Barra.
"Owh begitu. Baiklah aku akan memberikan putraku pada istriku dulu." Balas Barra yang segera memberikan Nathan pada Arumi.
"Gendong putra kita sebentar sayang, Papi mau terima telepon dari asisten Kevin dulu." Seru Barra saat ia memberikan putranya pada Arumi yang sedang di tata rambut panjangnya.
"Aku sudah memberikan Nathan pada istriku, sekarang katakan berita penting apa yang ingin kau sampaikan." Seru Barra yang ingin Adnan segera mengatakan berita penting yang ingin dia bicarakan.
"Aku harap kau tak terkejut. Mungkin kau sudah tahu jika Adnan kakak iparmu tidak pulang ke rumah tadi malam----" ucapan Kevin terpotong karena Barra menyelanya.
"To the poin saja. Aku tidak suka kau bicara panjang kali lebar Kevin!" Sela Barra dengan tegasnya.
"Ahh... Baiklah kalau itu mau mu. Adnan telah menghabiskan malam dengan mengauli Zeline, anak dari asik sepupu Daddy mu Tuan Antoni." Terang Kevin to the poin.
"APA??? MATI AKU," pekik Barra yang terkejut.
"Dan dia menyerahkan pada kita untuk menyelesaikan masalah ini." Tambah Kevin yang makin membulatkan mata Barra yang hampir keluar dari cangkangnya.
"Kakak ipar si4lan. Berani-beraninya dia cuci tangan setelah enak-enakan." Umpat Barra yang di dengar oleh Arumi dan juga penata rias.
Nathan yang melihat kekalutan diwajah sang Papi, bukannya menangis melainkan malah terkekeh geli bukan main. Sementara Arumi terlihat khawatir dan cemas dengan ekspresi sang suami yang terkejut luar biasa.