My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Bermain di kantor



"Bagaimana bisa kau mengatakan suamimu ini tukang tikung dan tukang tuduh? Atas dasar apa kau mengumpat diriku dengan kata-kata ini Zeline?" Tanya Adnan sembari menatap istrinya dengan mata elangnya.


"Atas dasar informasi yang kudapatkan dari Anaya dan juga Arumi." Jawab Zeline yang juga membalas tatapan Adnan.


"Oh rupanya kalian bertiga suka membicarakan diriku di belakangku, dasar perempuan bergosip. Karena mulutmu ini sudah membicarakan diriku di belakangku. Maka mulutmu ini berhak untuk mendapatkan hukuman dariku." Ucap Adnan dengan tatapan mata menyeringai.


"Jangan macam-macam di sini! Dan tolong jangan melihatku seperti itu!" Zeline menjauhkan wajah Adnan yang berusaha mendekati bibirnya, dengan mendorong bibir Adnan dengan tangan kanannya, hingga kepala Adnan menenggak sempurna menatap langit-langit ruangan kerjanya.


"Zeline, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mematahkan kepalaku?" Ucap Adnan dengan susah payah karena mulutnya dibekap oleh telapak tangan Zeline yang mendorong kepalanya agar menjauh dari dirinya.


"Ahhh... Maaf Pak, sakit ya?" Ucap Zeline yang khawatir, seketika itu juga ia tarik tangannya yang mendorong kepala suaminya itu.


Adnan memasang wajah cemberut dengan bibirnya yang sengaja ditekuk. Ia berhasil membuat Zeline merasa bersalah. Berkali-kali Zeline minta maaf namun Adnan diam tak bergeming.


"Baiklah kalau begitu, kalau bapak masih mau marah silakan! Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan aku mau keluar dan kembali bekerja." Ucap Zeline yang berusaha turun dari pangkuan Adnan.


Namun Adnan tak mengizinkan Zeline untuk turun dari pangkuannya.


"Kamu mau aku maafkan?" Tanya Adnan dengan ekspresi wajah datar yang sangat disukai oleh Zeline.


"Iya tentu saja, aku ingin kau maafkan."


"Baiklah kalau kau mau aku maafkan, terimalah apapun hukuman yang aku berikan." Ucapkan.


"Bolehkah hukumannya dilakukan di rumah saja?" Tawar Zeline dengan tatapan memohon.


"Tidak."jawab Adnan singkat.


"Ah... Ok baiklah." Akhirnya Zeline setuju dengan terpaksa.


Ia membiarkan Adnan melucuti pakaiannya satu persatu, hingga tak tersisa satu helai benang pun yang menutupi bagian tubuhnya.


"Jangan lama-lama Pak nanti Karin curiga!" Pinta Zeline saat ia juga membantu Adnan melucuti pakaiannya.


Keduanya pun akhirnya melanjutkan sesi bercinta mereka di ruang kerja Adnan. Meski ruang kerja Adnan dilengkapi dengan fitur peredam suara, namun Zeline yang takut suara lenguhan kenikmatannya diketahui oleh teman kerjanya pun berusaha menahan, dengan terus menggigit bibir bawahnya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, saat Zeline dan Adnan baru menyelesaikan sesi bercinta mereka. Ponsel Adnan berbunyi ternyata Barra menelpon Adnan.


"Hahaha... Waktunya aku pamer pada mu." Guman Adnan di dalam hatinya.


Setelah menekan tombol hijau yang artinya ia menerima panggilan telepon dari adik iparnya itu. Barra pun langsung bicara pada Kakak iparnya mengenai inti maksud dan tujuannya menghubungi Adnan.


"Kak Adnan. Apa kau sibuk hari ini?" Tanya Barra di sambungan panggilan teleponnya bersama dengan Adnan.


"Tidak juga ada apa?" Jawab Adnan yang balik bertanya pada Barra adik iparnya.


"Siapa?" Tanya Adnan yang begitu penasaran dengan tamu penting yang ingin bertemu dengannya.


"Nanti pun kau tahu, sudah dulu ya aku sudah membantu ibu menyiapkan makanan untuk menyambut tamu penting tersebut." Jawab Barra yang tidak mau memberitahukan siapa tamu penting yang datang ingin bertemu dengan Adnan.


"Oh oke baiklah dalam satu jam lagi aku akan sampai di rumah. Barra.. tolong jangan tutup teleponnya dulu ya, aku mau memberitahukan padamu sesuatu yang baru saja aku rasakan. Aku yakin kau tentu belum pernah merasakan apa yang baru saja aku rasakan ini, Bar." Sahut Adnan yang berusaha ingin membuat Barra penasaran.


Namun sayangnya Barra sama sekali tidak penasaran dengan apa yang baru saja Adnan rasakan.


"Cih, sepertinya dia akan bersikap norak seperti biasanya. Bersenang-senanglah sebelum kau bertemu dengan tamu istimewa mu hari ini." Guman Barra yang mengurungkan niatnya untuk memutus sambungan panggilan teleponnya.


"Cepatlah ceritakan apa yang baru saja kau rasakan! Aku tak punya banyak waktu untuk menjadi pendengar setiamu kau tahu kan bagaimana ibu." Ucap Barra yang memaksa Adnan untuk langsung menceritakan apa yang ingin ia ceritakan pada Barra.


"Santai dulu bro, jangan buru-buru. Aku yakin setelah aku menceritakannya pasti kau menginginkannya."


"Kak Adnan yang terhormat, bukannya aku tidak mau menghargaimu dan mendengar ceritamu, tapi sungguh aku sangat takut dengan panci terbang ibu nanti. Lagi pula kau bisa menceritakannya saat di rumah nanti." Tukas Barra yang hendak menutup panggilan teleponnya sesegera mungkin, pasalnya ia hanya izin sebentar dengan ibu mertuanya untuk menghubungi Adnan.


"Hahahaha.... Baiklah aku akan menceritakannya. Hanya untuk dirimu adik iparku yang paling baik."


"Terima kasih atas pujiannya kak Adnan, silakan ceritakan aku beri waktu 5 menit untukmu bercerita sesingkat mungkin."


Dengan menghela nafas yang panjang sembari menahan tawanya, Adnan menceritakan jika dia baru saja menikmati sensasi bercintanya bersama zeline di ruangan kerjanya, ia juga menceritakan bagaimana posisi dan pose gaya mereka saat bercinta di ruang kerjanya.


Awalnya Barra merasa tidak tertarik dengan cerita Adnan, namun nyatanya Barra terus berkata, "Terus... terus dan terus. Apalagi... lanjut."


Rupanya cerita Adnan benar-benar membuatnya begitu penasaran dengan kelanjutan cerita Adnan, mengenai permainannya bersama adik sepupunya di kantor.


"Berapa ronde kau melakukannya? Ahh gila sekali... Kau atasan mesum Kak!"


"Cukup satu ronde untuk awal yang baik bukan. Aku akan membuat adik sepupu mu itu ketagihan dan mendatangiku dikala ia menginginkannya lagi hahahaha...."


"Cih... Percaya diri sekali kau belum tentu dia menginginkannya lagi. Aku rasa Dia sangat menderita karena harus menahan lenguhannya."


"Hahahaha, apa kau tidak tertarik untuk melakukannya setelah mendengar ceritaku."


"Tentu saja aku tertarik tapi aku tidak akan menceritakan apa yang akan aku lakukan pada adikmu, aku tidak seperti dirimu urusan ranjang adalah rahasia dapurku, tak ada satu orang pun yang boleh mengetahuinya," Jawab Barra di dalam hatinya.


"Tertarik atau tidak mungkin aku akan pikir-pikir dulu. Segeralah pulang aku tunggu kau di rumah!" Jawab Barra kemudian menutup panggilan teleponnya.


Zeline yang sudah mengenakan pakaiannya kembali setelah membersihkan diri di toilet yang ada di ruangan kerja Adnan. Tengah berdiri memandang kesal pada suaminya.


"Harus ya cerita sama kak Barra dengan apa yang kita lakukan barusan?" Tanya Zelin dengan wajah ditekuk dan bibirnya yang mengelucut.


"Hei kau marah padaku, humm?" Tanya Adnan yang merentangkan tangannya berharap Zeline kembali duduk di pangkuannya.