
"Mmmmphhh..." lenguh Arumi ketika benda kenyal menempel di bibirnya. Tak hanya menempel namun juga menyesap bibir mungil Arumi.
"Ughhh...mmmmmph..." lagi Arumi melenguh ketika sebuah tangan kekar meremas salah satu bukitnya secara bergantian.
Arumi membuka matanya memastikan dirinya jika yang sedang menyentuhnya ini adalah suaminya. Di pandanginya wajah Barra yang berada tepat diatas wajahnya. Ia tengah memejamkan matanya, seakan sedang meresapi ciuman mereka.
Arumi berusaha melepaskan tautan bibir Barra, namun Barra seakan tak memberi celah untuk berhenti menyerang bibirnya. Sekuat tenaga ia melepaskan tautan bibir Barra dan mendorong tubuh suaminya yang terlalu beringas menyerang bibirnya.
"Mmmm... lepas! Malu nanti ada suster datang!" Ucap Arumi saat ia sudah berhasil melepaskan dirinya dari Barra.
Barra tersenyum mendengar ocehan istrinya. "Tak akan ada suster perawat yang datang ke kamar kita, Arumi." Ucap Barra.
Arumi bingung dengan maksud ucapan suaminya itu. "Kamar kita?" Tanya Arumi yang malah mendorong kembali tubuh Barra yang masih mengungkung dirinya.
Pandangan Arumi mengedar kesekeliling ruangan dimana dirinya berada saat ini, Barra menjatuhkan tubuhnya di samping Arumi, dan menatap dengan senyum gelinya melihat kebingungan yang terpancar di wajah istrinya. Arumi mengenali dengan jelas ruangan dimana ia berada saat ini. Kamar Barra.
"Kamu terkejut, bagaimana kamu sudah ada di sini?" Tanya Barra saat melihat wajah Arumi yang penuh kebingungan.
"Pak Barra, bagaimana bisa saya sudah ada di sini?" Tanya Arumi pada Barra.
Barra tertawa geli saat mendengar pertanyaan Arumi yang sudah ia duga. "Saya menculik kamu, membawa kamu mengendap-ngendap sampai ke sini." Jawab Barra berbohong. Ia kembali mendekati tubuh Arumi yang nampak masih terlihat bingung.
"Hah, benarkah saya diculik dari rumah sakit?" Tanya Arumi yang dengan mudahnya mempercayai ucapan Barra dan Barra pun melanjutkan kebohongannya.
"Tentu saja benar, saya menculik kamu, agar saya bisa tidur dengan tenang memeluk dirimu, tanpa diketahui oleh Kevin atau pun Indri." Jawab Barra yang melanjutkan kebohongannya.
Padahal tak hanya Kevin dan Indri yang menjadi satu alasannya membawa Arumi pulang, tapi juga karena kehadiran Alex yang menganggu pikirannya. Ia tak akan merelakan wanita yang sudah menjadi istrinya itu di dekati oleh pria lain apalagi, ia sudah mendengar niat Alex pada Arumi dari Kevin.
"Ishhh.... egois! Saya masih harus menerima perawatan dari Dokter Pak!" Cetus Arumi yang membuat senyum Barra pudar.
"Menerima perawatan dari Dokter kata mu? Apa maksudmu, menerima perawatan dari Dokter Alex yang sudah memberikan sebuket bunga mawar putih untuk mu itu, hum?" Tanya Barra yang malah naik ke atas tubuh Arumi. Mengungkung tubuh mungil itu dan menguncinya.
"Ishhh... tidak seperti itu, saya kan baru saja sadar, setelah satu bulan lamanya dalam keadaan tak sadarkan diri." Jawab Arumi yang mulai takut dengan tatapan Barra yang menyeramkan.
"Lantas, kamu mau berlama-lama di rumah sakit agar dekat dengan Dokter itu hum?" Tanya Barra sembari menempelkan hidung dan keningnya pada hidunh dan kening Arumi.
"Ti-tidak juga," jawab Arumi yang tergagap.
"Tidak juga berarti iya. Jangan coba-coba bermain api di belakang saya, Arumi. Ingat kamu itu istri saya." Cetus Barra yang kembali menyerang bibir Arumi.
Arumi tak membalas serangan bibir Barra. Dia terus menolak dan melepaskan tautan bibir Barra pada bibirnya.
"Itu hukuman untuk mu yang sudah coba-coba berdekatan dengan pria lain." Pungkas Barra yang kemudian beranjak dari ranjang tidurnya. Ia mengangkat tubuh Arumi masuk ke dalam kamar mandi.
"Bapak mau apa? Lepas! Turunkan saya!" Pinta Arumi yang memukul dada bidang suaminya.
"Memandikan mu, mau apa lagi. Kamu sudah tidak mandi dengam benar selama sebulan ini." Sahut Barra yang meletakkan Arumi ke dalam bathtub yang sudah berisi air panas yang sudah mulai menghangat.
Barra membantu membersihkan tubuh Arumi dengan telaten, ia bersihkan seluruh bagian tubuh Arumi tanpa terkecuali. Meskipun Arumi terus menolak, Barra tak perduli, ia terus membersihkan tubuh indah istrinya yang sempat di kagumi oleh asistennya Kevin.
"Arumi, kamu itu istri saya dan tubuh mu ini adalah milik saya. Tak boleh ada satu pun pria lain yang boleh menyentuh tubuh ini selain saya. Kamu mengerti?" Ucap Barra ketika ia sedang menyabuni tubuh indah Arumi.
Arumi tak menjawab dengan bibirnya, ia hanya menganggukan kepalanya untuk menjawab pernyataan Barra yang telah mengclaim dirinya.
"Dia itu egois sekali, tidak mencintai tapi tidak mau memilikiku sepenuhnya. Sungguh sangat menyebalkan." Rutuk Arumi di dalam hatinya.
"Jangan kotori hati mu dengan merutuki suamimu sendiri!" Ucap Barra yang seakan mengerti isi dari pikiran Arumi.
Arumi menoleh ke arah Barra yang tengah asyik menyabuni bagian bukit Arumi sejak tadi dan tak berpindah-pindah, tetap di sana sejak tadi.
Saat tatapan keduanya saling bertemu, Barra malah memajukan wajahnya pada wajah Arumi dan berbisik. "Saya menginginkan mu sekarang," segera Arumi menolak keinginan Barra itu, dengan menangkupkan wajah suami menyebalkannya itu dengan kedua tangannya dan menghempaskan tangannya begitu saja dan kemudia berkata.
"Bapak ingin saya cepat mati ya? Saya baru saja sembuh, nanti saja, tidak selarang! Lagi pula saya sudah lapar dan harus minum obat." Cetus Arumi yang segera memalingkan wajahnya.
Namun Barra seperti orang yang tak mau menerima penolakan Arumi. Sekarang malah sebaliknya, Barra meraih wajah Arumi dengan kedua tangannya dan menangkupkan wajah itu, mendekatkan wajah Arumi dengan wajahnya.
"Saya mau sekarang, bukan nanti. Kamu tak akan mati hanya karena menjalankan kewajiban mu sebagai seorang istri. Saya akan melakukannya dengan lembut, saya janji." Ucap Barra yang kemudian mendaratkan kembali ciuman yang lembut di bibir Arumi.
Barra berusaha membuat Arumi terbuai dengan sentuhannya, hingga akhirnya Arumi terpancing dan lebih agresif membalas kecupannya. Pagi hari ini, sepasang suami istri ini akhirnya kembali melakukan penyatuannya untuk kedua kalinya.
Tak terlihat lagi kondisi lemah Arumi yang ada adalah kondisi Arumi yang begitu bersemangat menari-nari di atas milik Barra yang begitu panjang, besar dan keras. Entah kemana rasa lemah lunglai yang dirasakan Arumi sebelumnya itu. Kabut gairahnya pada Barra seakan membuang semua rasa lemah lunglai, bahkan rasa lapar yang sempat Arumi rasakan hilang begitu saja.
"Bergeraklah lebih cepat Arumi, ummmmppphhh..." pinta Barra yang terus meminta Arumi terus bergerak naik dan turun.
"Ahhh... saya sudah hampir Ahhhh." Ucap Arumi.
"Pak Barra ahhh..." pekik Arumi saat ia mendapatkan pelepasannya. Barra mencium punggung Arumi yang jatuh di atas pelukkannya.
Tanpa mereka sadari ada sebuah nyawa di dalam rahim Arumi yang ikut tergoncang dengan permainan keduanya. Sebuah nyawa yang hidup di rahim Arumi sejak penyatuan pertama mereka lakukan.
Akan kah kehadiran seorang anak di rahim Arumi akan membuat Barra melupakan seorang Pinkan dan mencoba mencintai Arumi, seperti Arumi yang terlanjur mencintai Barra semenjak ia menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, meski selalu mendapatkan perlakuan dan kata-kata dari Barra yang melukai hatinya?