My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Mendengar suara Arumi



Sejenak Barra terdiam memandangi flashdisk yang diberikan Kevin pada dirinya. Ia tak habis pikir pada Indri yang begitu tega padanya. Bukankah ia tahu betul jika Barra sangat menderita dengan kepergian Arumi. Tapi kenapa dia malah ikut menyembunyikan Arumi seperti kedua orang tuanya.


"Si4l, ternyata dia menggunakan cara ini untuk membalas perlakuan acuhku terdahulu pada dirinya. Kenapa semua orang sekarang terlihat jahat dimata ku? Arghh... terserahlah, aku hanya ingin istriku kembali. Aku tak ingin anakku lahir tanpa diriku. Dasar wanita bodoh, bukannya memberitahuku tapi malah pergi meninggalkan ku membawa calon anak kita lagi ughhh.. Arumi, aku mencintai mu sayang, bisakah kamu cepat kembali dan memaafkan segala kesalahanku." Gumam Barra sembari menyalakan laptop dan memasukan Flashdisk ke dalam laptop miliknya.


Barra segera membuka file yang hanya ada satu di dalam flash disk itu. Terdengar langsung suara yang sangat ia kenali dan rindukan. Suara siapa lagi jika bukan suara sang istri, Arumi.


Arumi : Hallo bisa saya bicara dengan Indrian Astuti, sekertaris dari Tuan Barra.


Operator telepon : Maaf, dengan siapa saya bicara?


Arumi : Saya Fransiska, dari perusahaan Indogram.


"Heh, dia berbohong, pandai sekali dia berbohong, aku akan menghukum mu atas kebohongan mu nanti, lihat saja," komentar Barra saat mendengar Arumi mengaku dorinya sebagai Fransiska.


Operator Telepon: Baik, mohon di tunggu.


Indri : Hallo, Arumi,


Arumi : Ya, Kak Indri.


Hehehe... [Tawa keduanya bersamaan].


Indri : Bagaimana kabar mu hari ini, apa jagoanmu mulai aktif bermain bola di dalam sana?


Tanya Indri yang sudah mengetahui jenis kelamin calon anak Barra dan Arumi. Saat ini usia kehamilan Arumi sudah menginjak tujuh bulan.


Arumi : Semalam aku tak bisa tidur, karena dia terus menendang perutku. Aku baru bisa tertidur saat kedua mertuaku mengelus perutku. Sepertinya dia merindukan Ayahnya.


Arumi menjawab dengan suara lirihnya, tak hanya Arumi yang bersedih, Barra pun menitikan air matanya, ketika ia mengetahui ia akan segera memiliki seorang putra dari pernikahannya dengan Arumi. Ia begitu terharu hingga menitikan air matanya. Air matanya makin membanjiri rahang tegasnya, ketika ia mendengar calon putranya yang masih ada di dalam kandungan istrinya, merindukan kehadiran sosok dirinya.


Indri : Jangan bersedih Arumi! Berusahalah untuk kuat, dia sedang membuktikan rasa cintanya pada mu, agar Mertuamu yang sudah keras hatinya membawa mu kembali ke sini. Bersabarlah.


Arumi : Iya kak Indri, hari ini kenapa dia tidak bekerja lagi? Apa dia sakit?


Tanya Arumi yang masih begitu perduli dan mengkhawatirkan kondisi suaminya.


Indri : Tidak, dia sedang memanen ikan milik ayah mu. Hahahaha... dia sangat takut pada ayahmu, dia tidak pernah berani berkata tidak pada Ayahmu. Kau tahu Arumi, pernah sekali waktu Ayah mu datang dan marah-marah ketika suami mu lupa memindahkan anak-anak ikan yang baru di tetaskan, hingga ikan-ikan itu akhirnya dimakan oleh ikan-ikan lain. Ekspresi wajah suami mu saat itu sangat lucu. Lucu sekali, aku tak pernah melihat tampang bodoh dan takutnya itu meski ia dimarahi oleh mertua mu.


"Sialan dia menertawai dan menyebut wajah tampan ku ini bodoh. Dasar sekertaris tak ada akhlak." Umpat Barra yang tak terima Indri menertawakannya.


Arumi : Hahaha.... benarkah? Aku jadi merindukannya.


"Sama sayang, aku pun juga merindukan mu." Balas Barra yang tak mungkin di dengar oleh Arumi.


Indri mencoba mengalihkan pembicaraan agar Arumi tidak kembali bersedih, bukankah seorang ibu hamil dilarang untuk terus bersedih.


Arumi : kuliahnya lancar, sangat lancar karena ada asistem Steve di sini. Mereka sangat romantis sekali membuatku iri. Kemana-mana selalu berdua, aku susah dijadikan obat nyamuk oleh mereka. Menyebalkan sekali.


"Makanya, cepatlah kembali sayang, kita akan membalas mereka dengan melakukan hal yang lebih romantis lagi dari mereka." Gumam Barra dengan senyumannya yang penuh arti.


Saat ini ia kembali membayangkan permainan ranjang yang pernah ia lakukan dengan Arumi. Seketika saja juniornya menegang sempurna, saat ia ingin bermain solo tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkan dirinya. Segera ia matikan dan tutup laptopnya dan ia memasukkan kembali burung perkututnya kedalam sangkarnya.


"Masuk!" Barra mempersilahkan seorang diluar sana untuk masuk.


"Tuan ini ada undangan pernikahan dari Pinkan, dia sendiri yang mengantarkannya, tadinya ia ingin bertemu dengan Anda, sesuai perintah Anda, kami tidak memperbolehkan dirinya untuk masuk." Ucap Indri sembari memberikan surat undangan itu pada Barra.


"Buang saja surat undangan itu ke tong sampah. Aku tak akan datang ke acara penikahannya. Pria bodoh mana lagi yang ia tipu mentah-mentah." Tolak Barra dengan gerakan tangannya yang kembali membuat Indri kesal.


Barra tak hanya menyuruh Indri membuang surat undang itu, Barra langsung saja mengusir Indri untuk pergi dari ruangannya. Bukannya pergi Indri malah menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.


"Sana pergi! Mau apa kau tetap di sini. Kau ini sekertaris yang menyebalkan sekali." Ucap Barra dengan wajah kesalnya pada Indri.


"Urghhh.... Anda juga menyebalkan!" Pekik Indri sebelum meninggalkan ruangan Barra.


"Kenapa dia? Aneh, disuruh pergi malah marah-marah." Gumam Barra yang merapikan dirinya dan mencabut flashdisk dari laptopnya.


Barra segera bergegas pulang ke rumah kedua mertuanya, ia ingin memberi kabar baik pada ibu mertuanya. Ya. Kabar baik jika mereka akan mendapatkan cucu laki-laki dari dirinya. Ia yakin ibu mertuanya itu tidak tahu apa tentang Arumi. Karena ayah mertuanya sangat tertutup pada ibu mertuanya dan juga dirinya. Sesampainya di rumah, Barra berteriak memanggil ibu mertuanya.


"Bu... ibu... ibu ada dimana?" Pekik Barra dari luar rumah sampai ke dalam rumah.


Bukannya di sambut oleh ibu mertuanya. Ia malah di sambut oleh Adnan yang selalu mengajaknya berkelahi.


"Kau pikir rumah ini lapangan bola, berisik sekali suara mu ini." Sarkas Adnan yang sedang memakan ikan bakar sembari menonton televisi.


"Hei, Kakak ipar, apa kau memakan jatah makan malam ku? Ini ikan bakar pesanan ku. Aku yang menangkapnya kenapa kau main makan saja. Arghh menyebalkan sekali." Omel Barra yang hapal betul dengan ukuran ikan yang tinggal tersisa duri-duri itu.


"Pelit sekali, tinggal tangkap lagi saja kok repot." Sahut Adnan yang malah terlihat cuek dan melanjutkan memakan ikan bakar milik Barra.


"Argh... menyebalkan sekali kau. Jika kalau bukan karena Ayah melarangku memukuli mu, sudah ku buat kau masuk rumah sakit kembali." Geram Barra pada tingkah Adnan yang suka semenang-menang.


"Lakukanlah! Ini aku persilahkan." Ledek Adnan pada Barra.


Barra segera melepas jasnya dan menggulung kemeja kerjanya bukannya bersiap untuk memukul Adnan, ia malah pergi ke empang belakang rumah mertuanya, ia ingin kembali mengambil ikan nila yang akan di masak ibu mertuanya nanti.


"Arghhh... ibu kemana lagi? Tak ada di rumah. Ikan bakar ku jadi korban kemarukan Kak Adnan. Ughhh...menyebalkan." gerutu Barra saat ia mencoba menangkap ikan dengan saringan yang ia bawa.