My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Meminta bantuan Tuan Brandon



1"Ada apa Pih? Apa ada suatu masalah yang besar hingga membuat wajah Papi jadi seperti ini? tanya Arumi pada suaminya, namun Barta tak menggubris ataupun menjawab pertanyaan istrinya yang tengah mengkhawatirkan dirinya.


Bukan menjawab pertanyaan Arumi terlebih dahulu, Barra malah keluar dari kamar mereka dengan sesegera mungkin. Bukan maksudnya untuk mengacuhkan istrinya, ia tak dapat menjawab pertanyaan istrinya karena ada orang lain di dalam kamarnya, yang tengah merias rambut istrinya. Namun saat Bara berdiri di ambang pintu, Barra pun menoleh ke arah istrinya, ia takut istrinya marah ataupun merajuk karena diacuhkan oleh dirinya.


"Papi ke empang dulu ya ,Mi. Papi sedikit stress butuh tempat yang sedikit sepi untuk menenangkan diri," ucap Bara yang meminta izin dari istrinya, Arumi pun menganggukkan kepalanya seraya mengizinkan kepergian suaminya, meski ia menyimpan pertanyaan mengapa suaminya bisa stress setelah menerima panggilan dari asisten Kevin.


Sesampainya di empang tempat di mana rakyat rakyat Barra berada. Ia segera menghubungi sang Daddy, Tuan Brandon.


"Halo Dad, apa Daddy sudah berjalan menuju ke sini?" Tanya Barra saat ponselnya terhubung dengan ponsel sang Daddy.


"Tumben sekali, sepertinya kamu tidak sabar untuk bertemu dengan Daddy ya? Sekarang Daddy berada dalam perjalanan menuju kediaman mertua mu."


"Masih jauhkah Daddy?" Tanya Barra lagi. Tuan Brandon menyernyitkan kedua alisnya, ia merasa aneh dengan sikap.sang putra saat ini.


"Ada apa dengan mu Barra? Apa kamu sedang mengalami gangguan kejiwaan di sana? Kibarkan bendera putih jika kau sudah tak sanggup melawan adik iparmu yang kejam karena ulahmu terdahulu." Tanya Tuan Brandon dengan tebakannya yang salah.


"Apa? Ganguan kejiwaaan? Tega sekali Daddy berkata seperti ini pada ku." Cerca Barra dengan suara sedihnya.


"Hahahaha... jangan marah putra ku, Daddy hanya bercanda, kau ini kenapa sih? Sepagi ini sudah tegang sekali, bukankah hidup mu sudah lebih santai dan rileks sekarang hum?"


"Bagaimana hidupku mau santai jika Kakak iparku sedang berbuat masalah dengan Uncle Antoni dia sudah meniduri Zeline tadi malam, usai ia meeting bersama klien kita," ungkap Barra yang membuat Tuan Brandon tersentak kaget.


"APA??" Sahut Tuan Brandon yang tak kalah terkejutnya seperti Barra sang putra sebelumnya.


"Ah, jangan buat drama terkejut, Dad! Dan tolong untuk tidak merespon dengan terus bicara apa dan apa Dad! Sekarang tugas mu adalah bantu aku. Tolong bantu aku untuk menyelesaikan masalah ini. Aku tak mau menjadi santapan hewan buas peliharaan Uncle Antoni. Oh my God. Aku baru saja merasakan hidup bahagia bersama anak dan juga istriku." Keluh Barra pada sang Daddy.


"Hahahaha....Kenapa jadi kau yang akan menjadi santapan hewan buasnya, Son? Pastinya Adnan yang akan menjadi santapan hewan buas peliharaan Uncle mu itu. Karena dia-lah yang telah menodai putri tunggal kesayangannya." Sahut Tuan Brandon pada keluhan sang putra tanpa mengertahui jika Zeline selama ini bekerja di perusahaannya.


"Tentu saja tak hanya aku yang akan jadi santapan hewan buas kesayangan Uncle Antoni. Tapi kami bertiga yang akan mati di dalam terkaman hewan kesayangan Uncle Antoni." Terang Barra, yang masih membuat Tuan Brandon tak paham tapi malah membuat ia terkikik geli.


"Hahahaha... kenapa jadi kalian bertiga? Siapa satu lagi yang akan jadi santapan hewan buasnya itu hum?" Tanya Tuan Brandon di sela tawanya.


"Berhentilah bersenang-senang di atas ketakutan ku Dad! Rupanya kau senang sekali mendengarku menderita seperti ini? Tak puaskah berbulan-bulan kau siksa aku selama ini?"


"Cih, pintar sekali Daddy berkelit. Apa yang harus dibingungkan. Adnan yang melakukannya pasti dia lebih dulu di eksekusi oleh Uncle dan selanjutnya aku dan Kevin, karena kami adalah orang yang diberi bertanggung jawab dan dititipkan Zeline oleh Uncle Antoni, saat dia tahu putrinya melamar kerja di perusahaan kita." Terang Barra yang kembali membuat Tuan Barra terbelalak.


"Anak bodoh! Kenapa kau mau dan tidak kompromikan terlebih dahulu pada Daddy? Pantas saja tidak ada angin dan hujan, dia mengajak perusahaan kita bekerja sama dan tiba-tiba pindah kantor pusat perusahaannya ke kota Jakarta. Bahkan kini mereka tengah membangun sebuah mansion. Arghhh...sekarang karena kebodohan mu Daddy kena getahnya. Kenapa aku jadi memiliki dua putra yang kelakuannya sangat menjengkelkan?" Umpat dan keluh Tuan Brandon pada sang putra.


Barra diam tak menanggapi ucapan sang Daddy karena merasa bersalah. Barra memang seperti itu, jika bersalah ia akan diam dan tak berkelit. Ia akui ia telah salah memberikan keputusan menerima Zeline di perusahaannya tanpa kompromi pada sang Daddy. Tak berpikir memasukkan Zeline di perusahaan sama saja memasukkan buah simalakama.


"Dan kau kena batunya bukan, sekarang? Jadikan ini pelajaran berharga untuk mu Barra. Jika kau ingin memberikan keputusan berkompromi dengan Daddy terlebih dahulu,Barra." Sambung Tuan Brandon lagi saat tak mendapati respon dari sang putra.


"Baik Dad. Aku tak akan mengulanginya dan akan terus berkompromi dengan mu mulai saat ini." Sahut Barra dengan rasa sesalnya.


"Tunnggu Barra! Apa kau tak curiga bagaimana bisa Adnan melakukan hal yang tidak senonoh itu? Apa kau sudah menyelidikinya? Pasalnya Daddy saat mengenal anak itu? Dia tak akan mungkin berbuat sesuatu perbuatan yang tercela di luar batasan."


"Belum. Aku belum menyelidikinya, Dad. Pastinya tanpa aku perintahkan Kevin akan segera menyelidiki hal ini, tapi untuk saat ini hal yang terpenting dan harus di dahulukan adalah bagaimana berbicara dengan Uncle Antoni tentang kejadian ini. Karena Kevin bilang padaku sebelum Anya dan Steve melangsungkan pernikahan Adnan ingin menemui orang tua Zeline untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sungguh Dad, aku tak punya nyali untuk bicara dengan Uncle."


"Jadi kalian melimpahkan masalah ini pada Daddy, sebelum Adnan menemui Uncle mu hari ini? Begitu?" Tanya Tuan Brandon memastikan.


"Ya. Tentu saja. Hanya Daddy yang tak mungkin dijadikan santapan hewan buas oleh Uncle. Selain Daddy adalah kakak sepupunya. Juga karena daging Daddy sudah alot karena terlalu tua." Jawab Barra dengan penghinaannya.


"Dasar anak kurang ajar, bisa-bisanya mulut mu itu minta tolong, tapi sampai hati kau menghina Daddy mu sendiri." Umpat Tamuan Brandon yang kesal pada putranya.


Tak.mau mendengar umpatan dan amarah sang Daddy yang akan berlanjut dan panjang lebar. Barra oun menyudahi sambungan panggilan teleponnya dengan menjadikan putranya sebagai alasan.


"Daddy. Sudah dulu ya! Aku harus menjaga Nathan, tolong selesaikan masalah ini demi kebahagiaan cucu mu. Sungguh kepalaku saat ini sangat terasa pusing dan stres. Karena aku memikirkan bagaimana jika nanti ibu mertuaku dan ayah Mertuaku tahu mengenai hal ini. Aku tidak mau Nathan kehilangan kedua sosok Kakek dan Neneknya. Aku khawatir mereka akan kena serangan jantung karena mengetahui sengan apa yang dilakukan kakak iparku semalam dengan adik sepupuku." Ucap Bara yang membuat Tuan Brandan terdiam dan berpikir, dan akhirnya mau tak mau Tuan Brandon pun bersedia membantu untuk memecahkan permasalahan ini.


Usai bicara dengan sang putra. Di perjalanan menuju ke kediaman Arumi, Tuan Brandon menyempatkan diri menghubungi sepupunya Tuan Antoni.


"Hallo Antoni, Apa kau sedang sibuk sekarang?" Sapa Tuan Brandon pada adik sepupunya.


"Tidak. Aku sedang tidak sibuk. Aku hanya tengah bersiap untuk menghadiri pernikahan putri dari besan mu dan mantan Asistenmu Kevin." Jawab Tuan Antoni dengan santai.


"Antoni, aku menghubungimu sepagi ini karena ada yang harus kita bicarakan, dan yang ingin aku bicarakan ini adalah hal penting menyangkut putri kesayangan mu." ucap Tuan Brandon mengawali pembicaraan penting mereka.