
"Tutup mulut mu, Zeline! Mulut mu semakin ngaco dalam bicara." Pekik Adnan saat hatinya merasa tercubit berkali-kali dengan perubahan diri Zeline.
"Baik." Jawab Zeline singkat dan tetap berdiri di hadapan Adnan dengan menundukkan pandangannya.
"Kamu bawa baju ganti?" Tanya Adnan yang memperhatikan sebagian baju Zeline yang basah.
"Tidak Pak," jawab Zeline yang tak kembali batuk-batuk saat dibentak Adnan untuk ke sekian kalinya untuk hari ini.
"Pulanglah dan istirahatlah dirumah! Dan pegang ini sebagai kewajibanku menafkahi mu. Pinnya adalah ulang tahun putraku, jika kamu tidak mengetahuinya tanyalah pada adik-adikku!" Perintah Adnan sembari menyodorkan kartu ATM pada Zeline.
"Baik Pak. Terima kasih." Jawab Zeline singakt demgan tangannya yang bergetar ia menerima kartu ATM yang di sodorkan Adnan.
Setelah menerimanya, Zeline membungkukan tubuhnya dan meninggalkan ruangan kerja Adnan. Ia segera mengambil tasnya dan pergi meninggalkan perusahaan dengan mobil pribadinya
Sesampainya di kediaman mertuanya. Zeline menatap keharmonisan Arumi dan sepupunya Barra yang membuat hatinya merasa iri.
"Papi tangkap yang itu ihh... yang itu..." pekik Arumi yang meminta Barra menangkap ikan nila untuk dibakar oleh Arabella untuk menu makan malam nanti.
"Nathan," panggil Zeline pada putra Arumi yang terus saja tertawa melihat sang Papi terus dikerjai Maminya untuk menangkap ikan.
Zeline mengambil Nathan dari gendongan Arumi dan duduk di sebuag balai panjang tepat di bawah pohon dimana Arabella tengah duduk bersama Anaya tengah mengupas bumbu.
"Kok sudah pulang?" Tanya Arabella pada Zeline yang baru saja mencium punggung tangannya.
"Sudah, tadi suruh pulang sama Pak Adnan." Jawab Zeline jujur.
"Pak? Kok manggil Pak sih Kak? Sayang atau Honey dong ke Kak Adnan." Protes Anaya sembari mengupas bawang yang menguras air matanya.
"Aku mau panggil dia dengan sebutan itu, tapi apa dia sudi dipanggil seperti itu dengan ku?" Jawab Zeline yang hanya bisa ia katakan di dalam hatinya saja.
"Kayanya mulut aku masih kaku untuk panggil itu Nay." Jawab Zeline yang keluar dari mulutnya.
"Sama kaya kamu Nay, kamu saja sampai sekarang manggil suami sendiri dengan sebutan Om." Timpal Arabella dengan senyum renyahnya.
"Zeline ganti baju dulu gih sana, nanti bantu ibu masak menu kesukaan Adnan, ikan bakar." Perintah Arabella pada menantunya dengan ramah.
"Iya bu, Zeline kasih Nathan dulu sama Arumi." Jawab Zeline yang beranjak dari balai itu. Ia memberikan kembali Nathan pada Arumi dan masuk ke kamarnya.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Zeline segera membantu Arabelle memasak. Zeline yang terbiasa hidup mandiri tentunya sudah bisa memasak dan mengenal bumbu. Sangat berbeda dengan Septi.
Pukul 17.00, makanan pun sudah siap dihadangkan di atas meja. Semua wanita di rumah ini kembali membersihkan diri mereka setelah begulat di dapur bersama dengan alat-alat masak. Saat Zeline tengah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Adnan yang sudah pulang masuk ke dalam kamar.
Zeline segera menghentikan aktifitasnya, ia segera menyiapkan pakaian ganti untuk Adnan seperti apa yang dipesankan Arabella saat memasak tadi. Setelah itu Zeline menghampiri Adnan ingin membantunya membuka pakaian kotornya, namun diartikan berbeda oleh Adnan.
"Maaf, saya hanya mau bantu melepas pakaian kotor Bapak. Tadi kata ibu saya harus melakukan kewajiban saya----" ucapan Zeline terpotong.
"Tidak perlu." Sambung Adnan ketus.
"Baiklah. Maaf karena sudah lancang." Zeline mundur dan pergi keluar dari kamarnya dengan luka hatinya yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Di dalam ruangan keluarga, tengah berkumpul anggota keluarga Abimanyu. Suasan begitu hangat ketika Anaya terus berdebat dengan Barra. Apalagi jika Barra merasa kesal dengan Anaya. Ia tak segan-segan menghukum Steve tanpa perlawanan dari Steve. Steve selalu bersikap pasrah yang membuat istrinya kesal.
"Om lawan dong ah, cemen banget sih ahh..." pinta Anaya sambil memukul-mukul dada bidang Steve.
Zeline terus menyaksikan dengan tersenyum iri melihat keharmonisan sepasang pengantin baru yang ada di depannya. Untuk mengusir kesedihan dan kepedihan hatinya Zeline memilih menggoda dan menciumi putra Arumi dan Barra.
"Nathan, ganteng banget sih sayang. Unyu-unyu." Ucap Zeline yang terus menciumi pipi tembeb putih milik Nathan.
"Zeline, kalau mau cium Adnan jangan anak Kakak yang jadi pelampiasannya." Goda Barra yang mendapat cubitan di pahanya dari Arumi.
"Aduh sakit Mih," rintih Barra menatap Arumi dengan ekspresi kesakitannya.
"Jangan suka godain pengantin baru Pih!" Ujar Arumi dengan matanya yang membola. Menandakan jika dirinya marah.
Zeline tertawa renyah melihat sang kakak sepupunya terlihat menurut dan bucin pada sahabat baiknya. Tawa renyah itu luntur ketika melihat Adnan keluar tak mengenakan pakaian yang telah ia siapkan di atas ranjang tadi. Iseng-iseng dia kembali ke kamar untuk melihat dimana pakaian yang ia siapkan untuk suaminya itu. Ternyata sudah ada di keranjang baju kotor.
"Baiklah, aku tak akan menyentuh barang-barang mu, Pak." Ucap Zeline dengan rasa sesak di dada.
Pukul 19.15, setelah mereka melaksanakan sholat isya. Keluarga Abimanyu mulai menyantap makan malamnya. Zeline pura-pura sakit perut saat makan malam akan di mulai, setelah ia memgintip Adnan sudah menyendok makanannya sendiri, barulah Zeline menghampiri meja makan dan ikut makan bersama dengan yang lainnya.
Usai makan, Barra, Adnan dan Steve kembali terlibat pembicaraan serius memgenai jalannya perusahaan. Sedangkan Zeline sengaja menyibukkan dirinya dengan membantu Arabella mencuci piring. Ketika selesai mencuci piring. Zeline bergabung untuk menonton televisi bersama Arabella dan Anaya, sedang Arumi sudah masuk kamar menyusui Nathan.
Ketika Arabella sudah masuk ke kamarnya, Zeline pun pamit pada Anaya yang masih betah di depan televisi untuk ke kamar terlebih dahulu. Zeline mengeluarkan airphone dan menonton drama korea kesukaaannya sembari berbaring memghadap tembok hingga akhirnya di tertidur.
Tak lama dari Zeline tertidur, Adnan datang. Setelah mencuci kakinya, Adnan pun mulai membaringkan tubuhnya di ranjang yang sama dengan Zeline. Pergerakkan ranjang tidur yang ia tempatinya, membuat Zeline terbangun kembali dan mencabut airphone di telinganya dan menyimpan ponselnya di bawah bantal.
Ia merasa Adnan meletakkan sebuah guling di belakang punggungnya. Sebagai pembatas agar Zeline tak mendekatinya. Zeline hanya diam dan mengabaikan apa yang dilakukan Adnan. Dia memilih tidur agar dia tak kesiangan untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan.
Pagi harinya usai sarapan, Zeline berangkat lebih dahulu dari yang lain. Dia beralasan dia bukan seorang atasan yang berhak datang telat, dia hanya seorang bawahan. Padahal niatnya berangkat terlebih dahulu hanya ingin menghindari Adnan dan mencegah Barra ataupun kedua mertuanya yang akan memintanya untuk satu mobil dengan Adnan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mampir ke novel ini juga ya...