My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Curahan hati



"Saya bukannya jijik padamu, Pak. Tapi saya sedang melindungi hati dan jiwa saya ini. Saya ini dinikahi bukan untuk Bapak sakiti. Baru beberapa hari saya menikah dengan Pak Adnan. Bapak selalu menorehkan luka di hati saya. Entah dengan kata-kata ataupun sikap kasar Bapak. Jika hanya karena sebuah tanggung jawab saya dinikahi. Lebih baik kemarin Bapak tidak perlu menikahi saya. Dari pada pernikahan yang Bapak suguhkan ini, hanya akan merusak hati jiwa dan juga pikiran saya. Jawab Zeline tegas dengan matanya yang berkaca-kaca.


Penjelasan panjang lebar dari Zeline. Menampar diri Adnan, ia sadar dengan sikapnya yang buruk terhadap Zeline. Dengan tanpa ragu Adnan melangkahkan kakinya menghampiri Zeline yang sedang mengusap air mata yang jatuh ke pipi putih mulusnya.


"Jangan sentuh saya! Saya tak ingin dikasihani. Sudah cukup! Jangan paksakan hatimu untuk berbuat baik pada saya lagi, Pak!" Tolak Zeline, ketika tangan Adnan ingin ikut menghapus air matanya yang terus saja menetes dari kelopak mata indahnya.


Meski tangan Adnan terus ditepis oleh Zeline. Adnan tak berhenti berusaha untuk mengusap air mata Zeline yang jatuh terus menerus membasahi pipinya.


"Jangan tolak sentuhanku! Aku ini suamimu. Aku minta maaf jika aku selama ini berbuat kasar padamu. Tolong pahami rasa ketakutan terbesarku sedikit saja. Aku takut, sungguh aku sangat takut dengan dirimu dan juga keluargamu, Zeline. Aku ini punya trauma mendalam, dan trauma ku belum saja hilang tapi kau sudah datang lebih dahulu di dalam hidupku." Pinta Adnan yang malah menarik tangan Zelinemasuk ke dalam pelukannya.


Zeline terdiam, mendapatkan pelukan pertama kalinya dari Adnan, tanpa pengaruh obat ataupun karena gerakan tal sadar sewaktu tidurny. Kini Zeline merasakan detak jantungnya berdetak begitu tak menentu, debaran rasa cintanya pada Adnan begitu menggelora di dadanya.


"Ya. Tuhan mengapa setiap dekat dengan tubuh ini, jantungku selalu saja berdetak tak menentu seperti ini. Apakah ini karena getaran cintaku padanya, Tuhan? Jika memang iya ini adalah getaran cintaku, aku mau dia merasakan hal yang sama. Aku ingin dia. Berikanlah hatinya sebagai kado ulang tahun terbaikku dari dirimu." Gumam Zeline di dalam hatinya.


Zeline terdiam menikmati pelukan Adnan yang masih menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Ia ciumi aroma maskulin dari sabun mandi yang digunakan Adnan sewaktu mandi tadi. Sementara Zeline menikmati pelukkan Adnan. Adnan terus saja mengutarakan isi hatinya.


"Aku akui aku ini adalah pria penakut Zeline. Aku takut Zelin, aku ini pengecut. Aku takut dengan wanita yang agresif. Aku takut dengan wanita yang lebih mencintaiku daripada diriku, aku takut dengan wanita yang lebih dahulu mencintaiku daripada aku, aku takut dengan wanita yang lebih kaya dariku, aku ini pernah hidup terhina, aku pernah direndahkan, aku pernah meninggalkan orang tuaku, adik-adikku, bahkan aku pernah menyakiti hati adikku dan membuat hidupnya menderita hanya karena membalas cinta wanita sepertimu yang tak tulus mencintaiku. Jika kau mau tahu mengapa pernikahan pertamaku gagal, itu karena aku memilih keluargaku, keluarga yang menerima baik-buruknya diriku, keluarga yang membesarkanku bukan keluarga yang menjadikanku sebagai sapi perah mereka. Terang Adnan yang juga menitikan air matanya.


Untuk pertama kalinya bersama Zeline, Adnan mengeluarkan sisi lemahnya. Zeline memilih terus diam dan menjadi pendengar yang baik untuk suaminya. Adnan yang tengah menangis makin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Zeline.


"Awalnya aku ingin menjauhkan diriku dari mu. Karena aku tahu wanita kaya seperti mu tak akan kuat untuk tinggal di rumah sederhana seperti ini, apalagi untuk sudi membantu ibuku di dapur. Ditambah Daddy mu ingin kita berpisah, jika kamu tidak mengandung benih ku." Sambung Adnan yang membuat Zeline terkejut.


"Inilah mengapa, Deddy ingin pernikahan ku dan Adnan di sembunyikan? Pantas saja, semudah itu dia menyetujui aku menikah dengan pria yang berasal dari keluarga biasa. Ternyata dia hanya takut aku hamil tanpa suami." Gumam Zeline seorang diri di dalam hatinya.


Zeline berusaha mengurai pelukan Adnan namun Adnan tak mengizinkan Zeline keluar dari pelukkannya.


"Lepaskan saya, Pak! Nafas saya terasa tercekat, Bapak terlalu erat memeluk saya." Keluh Zeline berharap Adnan mau melepaskan pelukkannya.


"Tidak. Aku tak akan melepaskan mu. Kau milikku. Aku tak mau kau pergi meninggalkan ku. Jangan pergi dariku, Zeline! Kau ini istriku."


"Memangnya saya mau pergi kemana, hari ini hari sabtu." Jawab Zeline masih berusaha melepas pelukkan Adnan.


"Tuh kan kasar!" Keluh Zeline yang melirik kedua tangan Adnan yang sedang mencengkram lengannya.


"Kamu mau mengkhianati ku!" Tuduh Adnan lagi.


"Apa sih? Gak jelas. Siapa juga yang mau pergi dan siapa juga yang mau mengkhianati Bapak. Jangan bilang Bapak seperti ini lagi cemburu sama saya." Zeline menatap manik mata Adnan yang membola sempurna menatap dirinya.


"Kalau aku cemburu kenapa? Masalah buat kamu hah?" Balas Adnan yang masih membulatkan matanya menatap Zeline.


Zeline menyunggingkan senyum tipisnya saat mendengar balasan suaminya. Hatinya yang beberapa menit lalu tersakiti, kini tengah berbunga-bunga.


"Kenapa kamu tersenyum, apa ada yang lucu heh?" Tanya Adnan yang masih saja membulatkan matanya menatap Zeline.


"Sudah jangan dibahas dan menatap saya seperti ini! Tolong lepaskan cengkraman tangan Bapak! Saya juga mau ganti pakaian, pakaian saya ini bau asap masakan. Sebaiknya Bapak lekas pakai pakaian terlebih dahulu, nanti bisa masuk angin." Jawab Zeline yang berharap bisa keluar dulu dari kamar ini. Membiarkan Adnan mengenakan pakaian dan barulah dia berganti baju.


"Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku dan malah menyuruhku mengenakan pakaian. Ok baiklah, jika begitu pakaikan saya!" Perintah Adnan yang berjalan ke ranjang tidur mereka.


Adnan mengambil pakaiannya dan memberikanya pada Zeline. Zeline menerimanya, namun ia malah berdiri mematung menatap suaminya.


"Apa-apaan suami ku ini? Dia minta aku pakaikan dia pakaiannya. Huftt... aku akan kembali melihat rudalnya." Gumam Zeline yang kini merasa kesulitan untuk menelan salivanya.


"Cepat pakaikan!" Perintah Adnan sembari membuka handuk yang memilit di pinggangnya.


Refleks Zeline menutup kedua matanya dengan kedua telapak tanganya, ia belum siap berjumpa kembali dengan rudal yang telah mengoyak-ngoyak miliknya kala itu. Dengan mata yang setengah terpejam, Zeline mengikuti perintah Adnan untuk memakaikan suaminya itu pakaian.


Setelah sudah selesai memakaikan Adnan pakaian. Adnan menarik tubuh Zeline kembali dalam dekapannya.


"Selamat ulang tahun, maafkan aku yang tak tahu apapun tentang dirimu. Zeline." Ucap Adnan berbisik tepat di telinga Zeline. Tak hanya berbisik Adnan juga memberikan kecupan dan gigitan pada daun telinga Zeline hingga Zeline berdesir dibuatnya.


"Ahhh sudah Pak, jangan!"