
"Kak Barra seriuskan? Gak lagi bercanda dan menebar fitnah?" Tanya Anaya yang tidak percaya.
"Cih, kalau tidak percaya ya sudah. Suami mu saja tahu akan hal ini. Tak hanya suamimu. Bahkan Ayah dan Ibu pun tahu." Balas Barra yang bedecak sebal, karena tak dipercaya dengan adik iparnya.
"Pih, apa karena ini dia membenci ku, dan tak mau bertemu dengan ku?" Tanya Arumi yang malah menitikan air mata sembari menimang Nathan kembali tertidur.
"Hei, kenapa kamu bersedih, Mih? Kamu kecewa dia memiliki anak dengan mantan kakak ipar mu, hum?" Tanya Barra yang berusaha menghapus aor mata yang membasahi pipi sang istri.
"Tidak Pih, aku bukan kecewa karena dia memiliki anak dengan Kak Septi. Tapi aku merasa seperti orang yang sengaja dibenci atas kesalahan yang tak pernah aku perbuat." Jawab Arumi yang dapat dipahami oleh Barra.
"Jadi kamu merasa, mantan kakak ipar mu membenci mu karena kesalahan Alex begitu?"
"Heemm... Mungkin mereka pernah berhubungan dibelakang ku dan ia tahu aku pernah dekat dengan Alex, padahal aku tak pernah memiliki hubungan apapun dengan Alex kecuali persahabatan kami."
"Sayang, bagiku tak ada persahabatan yang murni antara perempuan dan laki-laki. Terbukti bukan, kamu pernah menyimpan rasa dengannya dan dirinya pun sama seperti dirimu, humm... Bukan begitu?" Ucap Barra yang kembali menghapus air mata di pipi sang istri.
"Kak sudahlah, jangan mengingat kelakuan Kak Septi pada mu dulu! Untung saja Tuhan begitu baik pada kita, diantara kita tak ada yang berjodoh dengan pria itu. Aku tidak tahu jika salah satu diantara kita ada yang berjodoh dengannya. Mau jadi apa keluarga kita ini, aku tak dapat membayangkannya." Anaya berkata sembari memeluk tubuh sang kakak.
"Kak Barra, aku penasaran bagaimana bisa mereka memiliki anak?" Tanya Anaya pada Barra.
"Huumm... Sama. Aku pun begitu, itu sudah menjadi tugas suami mu untuk mencari tahu, aku sudah menyuruhnya. Kita tinggal tunggu saja cerita dari Om suami mu itu." Jawab Barra yang juga tidak mengetahui jalan cerita bagaimana Septi dan Alex bisa memiliki anak.
Hari demi hari pun berlalu, kehidupan mereka berjalan seperti biasanya di apartemen. Hanya saja kehidupan Anaya yang jauh berbeda karena tidak satu atap lagi dengan Arabella. Jika awalnya mereka sering sarapan bersama, dan Arabella masih sibuk memasak di pagi hari dan sore hari dengan dibantu oleh anak dan menantunya. Kini saat mereka tinggal di apartemen Abimanyu mengeluarkan kebijakan lain.
Di mana kebijakan itu mengenai acara makan bersama yang biasanya tiap hari mereka lakukan. Abimanyu meminta Anaya untuk hidup mandiri memasak sendiri untuk suaminya, begitu pula dengan Arumi, Abimanyu juga meminta hal yang sama pada Putrinya ini. Keluarga mereka akan makan bersama hanya di setiap akhir pekan saja.
Kebijakan baru ini membuat Anaya sedikit kerepotan, pasalnya ia tak terbiasa melakukan semuanya sendiri. Namun ia harus. Steve adalah suami yang baik dan selalu mengerti bagaimana kondisi Anaya. Steve selalu membantu istrinya itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah termasuk memasak dan merapikan apartemen yang mereka tempati, apalagi kondisi sang istri sedang hamil muda.
Seperti pagi ini, Steve memasakkan sarapan pagi berupa nasi goreng untuk dirinya dan sang istri. Steve sangat bersyukur Anaya tidak mengalami kerewelan di saat kehamilannya ini. Hanya saja istrinya ini sedikit lebih manja dari biasanya.
"Baby ayo sarapan dulu!" Ajak Steve pada Anaya yang tengah membaringkan tubuhnya di sofa sembari mengusap-ngusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Masak apa om?" Tanya Anaya sembari menciumi punggung tangan Steve.
Kebiasaan baru dalam kehamilan Anaya adalah suka menciumi punggung tangan suaminya.
"Cuma nasi goreng, nanti kalau kurang kenyang dan nggak cocok kita cari sarapan lagi di luar." Jawab Steve yang menggendong istrinya itu menuju kursi meja makan.
Romantis. Seromantis itulah Steve memperlakukan Anaya, istri yang sangat dicintainya.
Pagi itu, adalah pagi yang sangat cerah. Keduanya berangkat ke kantor bersama seperti biasanya. Namun saat mereka berada di lobby Steve merasa ada sesuatu yang tertinggal di unit apartemennya, hingga membuatnya harus kembali lagi ke atas, ke lantai di mana unitnya berada.
"Baby sepertinya aku merasa ada berkas yang tertinggal, aku akan mengambilnya sendiri ke atas Kamu tunggu di sini saja." Ucap Steve yang meminta Anaya untuk menunggunya duduk di lobby apartemen.
Anaya pun menganggukan kepalanya tanda jika ia setuju untuk menunggu suaminya di ruang tunggu lobby apartemen. Sewaktu Anaya menunggu suaminya, tiba-tiba saja ia mendengar suara anak kecil yang sangat ia kenali. Suara anak kecil yang tertawa begitu riang gembira. Anaya membalikan tubuhnya, ke arah sumber suara anak kecil yang masih tertawa dengan riang gembira.
Betapa terkejutnya Anaya melihat Rizki dalam gendongan Alex, pria yang pernah bertahta di hatinya.
"Jadi apa yang dikatakan Kak Barra itu benar. Rizki adalah anaknya Kak Alex." Cicit Anaya di dalam hatinya.
"Mereka benar-benar mirip, kenapa aku tidak menyadarinya? Sedang apa mereka di sini? Apa mereka juga tinggal di sini?" Anaya bermonolog dengan mata terus memandangi mereka berdua, yang tengah berdiri di sebuah gambar seorang wanita yang tengah menggendong seorang anak perempuan.
Alex yang merasa dirinya diperhatikan oleh seseorang, tiba-tiba mengarahkan pandangannya pada Anaya yang memang sedang memperhatikan mereka sejak tadi.
Deg!
Jantung Alex ingin berhenti ketika melihat keberadaan Anaya di hadapannya.
"Anaya," cicit Alex memanggil nama wanita yang kini ia cintai.
Anaya tergugup ketika ia ketahuan memperhatikan pria yang pernah singgah di hatinya, pria yang telah menyia-nyiakan perasaannya. Anaya segera memalingkan wajahnya dan mengambil ponsel di dalam saku blazernya. Ia langsung menghubungi suaminya agar cepat turun ke bawah menghampiri dirinya. Sungguh saat ini ia takut Alex akan menghampirinya dan mengajaknya bicara.
Entah ponsel Steve lupa dinyalakan atau dia sedang berada di dalam lift. Intinya Steve tidak bisa dihubungi oleh Anaya saat ini. Alex mengetahui betul jika Anaya sedang tergugup karena tak sengaja bertemu dengannya. Pasalnya Anaya selama ini selalu menghindari dirinya, dan selalu bersembunyi jika berpapasan dengan Alex.
Kesempatan bertemu dengan Anaya yang tidak disengaja ini, membuat Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan langkah cepat Alex menghampiri Anaya yang tengah duduk di sofa ruang tunggu lobby apartemen.
"Senang bertemu kamu di sini Anaya," tegur Alex yang berdiri tepat di depan Anaya yang sengaja menundukkan pandangannya.
"Heehh...." Anaya menarik senyum tipis di wajah cantiknya, tanpa mau memandang wajah Alex yang tengah menatap wajahnya.
"Tante Anaya," panggil Rizky yang mengenali Anaya. Setelah memandangi wajah Anaya lebih lama.
"Hai Risky," Sapa Anaya dengan wajah kakunya.
"Hai Tante, di mana Om Steve?" Tanya Rizky yang mengenali suami Anaya, Steve. Rupanya ingatan Rizki tentang Steve cukup kuat padahal mereka baru bertemu dua kali,
Pertama di kediaman orang tuanya dan kedua saat di sekolah. Ya, di sekolah. Di mana Anaya diminta oleh Barra yang mendapatkan tugas dari tuan Anthony untuk mengambil sampel darah dan juga rambut Rizki untuk melakukan tes DNA antara Rizki dan juga Adnan.
Belum sempat Anaya menjawab pertanyaan Rizki. Alex sudah melayangkan pertanyaan pada dirinya terlebih dahulu, sepertinya dia tak ingin mendengar jawaban Anaya tentang Steve yang ditanyakan oleh putranya.
"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Alex.
Anaya diam tak bergeming dia mengacuhkan pertanyaan Alex, Anaya lebih memilih membuang pandangannya ke sembarang arah dari pada menjawab pertanyaan Alex.
Berat rasanya bagi Anaya untuk memaafkan Alex yang telah menyakiti perasaannya, dengan kata-kata penolakan cintanya yang begitu menyakitkan pada waktu itu. Padahal sebagai wanita, menyatakan perasaan kepada seorang pria dan mengharapkan perasaannya dibalas oleh pria tersebut dengan memohon, merupakan sebuah tindakan yang sudah merendahkan dirinya sendiri.
"Baby maaf sudah membuatmu menunggu lama, tadi kamu telepon aku ya? Aku ada di lift baby." Ucap Steve yang datang menghampiri Anaya dan juga Alex.
"Om Steve," panggil Rizki dengan suara lucunya.
"Hai son," sahut Steve begitu ramah pada Rizki.
Steve benar-benar dewasa, dia tak membenci ataupun menjauhkan diri dari anak yang tidak berdosa, meskipun orang tuanya memiliki masalah dengan dirinya. Alex dan Steve masih terlibat masalah, di mana Alex masih mengganggu rumah tangga Steve dan juga Anaya.
"Sedang apa kau di sini Son? Apa kau tinggal di sini?" Tanya Steve pada Rizki yang berada di dalam gendongan Alex.