
"Ya, aku memang milikmu, Mami. Tapi lihat kita sedang meeting sekarang." Ucap Barra berusaha mengingatkan Arumi, sembari mengarahkan seluruh pasang mata yang tengah menatap mereka dengan tatapan penuh arti.
Seketika wajah Arumi memanas melihat Barra bicara sembari mengulum senyum bahagianya. Arumi kemudian mengikuti arah lirikan mata suaminya, ia tersenyum kaku saat mendapati banyak pasang mata yang tengah menatapnya penuh arti itu.
Namun tatapan mereka tak juga membuat Arumi berkeinginan untuk melepaskan lengan suaminya yang sedang ia peluk dengan erat.
"Lanjutkan meetingnya! Tolong jangan melihat saya seperti itu! Jaga kesopanan kalian. Ingat saya ini adalah Nyonya Barra Wicaksono, Presdir kalian." Ucap Arumi yang mengejutkan semua orang. Baru kali ini Arumi yang berkepribadian low profil mengklaim dirinya sebagai Nyonya Barra.
"Ooowhhh..."
Barra dan Zeline sibuk membulatkan bibirnya, mendengar Arumi mengklaim dirinya sebagai seorang istri Presdir.
Sedang Adnan hanya membuang wajahnya kesembarang arah. Untuk pertama kalinya juga ia dengar adiknya menyombongkan jati dirinya sebagai seorang istri Presdir.
"Baiklah, Nyonya Barra mari kita lanjutkan meeting kita hari ini." Ucap Barra meledek Arumi dengan senyum penuh artinya.
Kali ini Barra harus menahan sabar dan malu, karena kelakuan kakak beradik yang terus memperebutkan dirinya tanpa memperdulikan keberadaan mereka di ruang meeting.
Sampai meeting selesai Adnan dan Arumi masih memperebutkan dirinya, dan terhenti karena Barra menjauh dari keduanya. Dan alhasil Adnan kembali merasakan mual muntah. Adnan segera dibawa Zeline dan Arumi ke toilet yang ada di ruang kerja Barra.
"Tuan Sasono, mohon maaf atas ketidak nyamanannya dimeeting kita kali ini." Ucap Barra yang tidak enak hati pada patner bisnisnya ini.
"Tidak apa Tuan Barra, saya bisa memakluminya. Selamat untuk kehamilan anak kedua Anda, semoga ibu dan calon bayinya sehat selalu ya." Balas Tuan Sasono dengan senyum ramahnya.
"Terima kasih atas doanya Tuan," balas Barra lagi sedikit menundukkan tubuhnya.
Di ruang kerja Barra.
"Udah kita bawa ke rumah sakit aja Line, kali aja kak Adnan keracunan. Takutnya kalau kita biarkan akan bertambah parah." Saran Arumi yang sudah berpeluh keringat, karena membantu memapah tubuh Adnan yang lebih besar daripada dirinya.
"Gak usah ngomong. Gue udah sempat bawa dia ke IGD bareng Daddy. Kata Dokter dia baik-baik aja. Jadi percuma kalau sekarang dibawa ke Rumah sakit lagi" Sahut Zeline yang juga sudah terlihat lelah.
"Ihhh... Kak Adnan kenapa nyusahin gini sih. Makanya jangan suka rese sikapnya tuh sama suami aku, 'kan sekarang jadi kaya gini. Mana berat banget." Rutuk Arumi sembari menghela nafasnya dalam-dalam.
"Gak niat nyusahin. Ini karena suami kamu gak ikhlas ikannya Kakak ambil."
"Ya makanya, kalau minta tuh jangan ngerampok Kak. Siapa pun gak akan ikhlas kalau ada yang minta gak nanggung-nanggung kaya gitu."
"Bukan aku, tapi mertua aku tuh,"
"Kok kamu jadi nyalahin Daddy aku sih Memes!" Protes Zeline ditengah perdebatan kakak beradik.
"Nah memang iya. Coba Daddy kamu gak minta ikan, aku gak akan begini."
"Aku gak suka nih kamu nyalahin Daddy aku. Aku bakal aduin kamu liat aja nanti." Ancam Zeline.
"Aduin aja, berarti kamu udah siap jadi janda. Aku pastikan kamu akan jadi janda viral di negri ini. Seorang wanita menjadi janda setelah mengadukan suaminya pada orang tuanya, yang berujung suaminya menjadi santapan hewan buas peliharaan orang tuanya. Gitu, berita yang akan muat kamu di media online atau cetak." Balas Adnan.
"Ishh... Apa sih? Suka gak jelas kamu tuh." Sahut Zeline.
"Apanya yang gak jelas. Aku ini jelas. Nyata. Kamu tuh suka ngatain aku lemes mulutnya. Kamu aja gimana coba." Balas Adnan.
Tatapan tajam dari Arumi mereka dapatkan. Mereka yang sadar diri pun terdiam.
Saat mereka terdiam dan menciptakan keheningan di ruang kerja Barra. Tiba-tiba pintu ruang kerja Barra terbuka.
Ceklek! [Pintu ruang kerja Barra terbuka].
Barra muncul dari balik pintu, ia berjalan sembari tersenyum pada kedua wanita hamil yang masih menormalkan nafasnya, karena beratnya membopong Adnan.
"Bagaimana? Apa dia sudah lebih baik?" Tanya Barra, ia berjalan menghampiri ketiganya yang berada di sofa panjang.
Belum sempat Arumi dan Zeline menjawab. Adnan mengusir Arumi menjauh dengan mendorong sekuat tenaga yang ada hingga Arumi terjungkal ke sisi sofa lain.
Dengan gerakan cepat Adnan menarik tangan Barra agar duduk di sampingnya. Dan benar saja Barra jatuh terduduk di sofa, tepat di samping Adnan.
Adnan langsung saja menjadikan bahu Barra sandaran kepalanya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh adik iparnya. Menghirup aroma tubuh Barra membuat Adnan jauh lebih tenang dan sirna sudah mual muntah yang ia rasakan.
Melihat hal itu, wajah Arumi memanas. Mungkinnkarena hirman kehamilannya. Arumi jadi lebih posesif dari biasanya.
"Ihhh.... Ini suami Rumi, Kak Adnan." Arumi menarik tubuh Barra, hingga kepala Adnan jatuh ke atas sofa.
"Ampun Rumi pelit banget ya Tuhan. Pinjam dulu... U-uekkk...." Adnan kembali ingin memuntahkan sesuatu, namun perutnya yang sudah kosong tak bisa mengeluarkan apa-apa. Terkecuali air mata dan keringat dingin yang bercucuran keluar dari tubuhnya.
"Arumi pinjem Kak Barra dulu dong, kasian suami gue." Omel Zeline sembari membantu meringankan mual muntah suaminya dengan memijat tengkuk Adnan.
Keduanya memandang horor Arumi yang terus menggelengkan kepalanya dan memeluk erat suaminya. Bertanda jika ia tak mau sama sekali meminjamkan suaminya.
Adnan mengedipkan matanya pada Zeline. Memberi kode untuk mengambil Barra untuknya.
Zeline yang penurut dan Adnan yang pemaksa. Akhirnya mendekat dan menarik Barra dari sisi Arumi. Rebutan Barra pun terjadi. Arumi kalah tenaga. Dia kehilangan suaminya yang langsung dikuasai oleh Adnan dan Zeline.
"Huaaaaa.... Hiks..." Pekik Arumi sebelum tangisnya pecah.
Arumi menangis seperti anak kecil yang kehilangan boneka kesayangannya.
"Papi sini!" Pinta Arumi pada Barra dengan wajah sedih dan memohonnya.
Barra yang ingin menghampiri Arumi dihadang dan dicekal oleh Zeline dan Adnan.
"Kak Adnan, Zeline! Istriku sudah menangis, berhentilah bermain-main." Ucap Barra sembari melepaskan dirinya dari Zeline dan Adnan.
"Kami sedang tidak main-main Kak, Suami aku akan tersiksa kalau Kak Barra jauh-jauh darinya." Sahut Zeline yang masih tak mengizinkan Barra menjauh dari Adnan.
"Tapi tidak begini Zeline. Menjauhlah, yang butuh diriku suamimu bukan dirimu bukan?" Usir Barra dan Zeline pun menyingkir.
"Sini Mami! Jangan nangis lagi!" Panggil Barra pada istrinya.
Arumi mendekati suaminya dengan wajah sedihnya dan jatuh ke dalam dada bidang Barra.
"Mereka jahat!" Adu Arumi sembari menunjukkan pergelangan tangannya yang memerah, karena mempertahankan suaminya tadi.