
Dengan pakaian basah kuyup Barra naik ke lantai dua, dimana kamar dirinya dan Arumi berada. Jangan tanyakan dimana keberadaan putra mereka. Tentu saja putra mereka ada bersama kedua orang tua Barra, yang masih sedang senang-senangnya menimang cucu pertama bagi mereka.
"Mas, kok basah kuyup kaya gini? Habis ngapain?" Tanya Arumi yang seketika itu langsung menghampiri Barra.
"Diceburin sama adik tercinta kamu." Jawab Barra dengan suara lemasnya.
"Diceburin? Pasti kamu udah isengin Kak Steve ya?" Tanya Arumi dengan tebakannya yang tepat.
"Kalau iya kenapa? Kamu mau belain mereka hum? Mau marah sama aku gitu?" Tanya Barra yang sudah menekuk sempurna wajahnya.
"Duhh, kok kamu jadi sewot banget si Mas sama aku, aku kan cuma nanya aja. Jangan mulai ya Mas, aku kalau kamu jahatin lagi bakal pergi dan gak akan kembali lagi." Ancam Arumi yang seketika membuat Barra memeluk Arumi dengan posesif.
"Jangan dong sayang! Aku gak bisa hidup tanpa kamu." Ucap Barra saat ia memeluk erat istrinya.
"Ihhh... Mas, baju aku jadi basahkan ini." Rintih Arumi yang berusaha melepaskan pelukan Barra.
"Biarin saja, nanti kita tidur juga gak perlu pakai baju. Ingat janji kamu kan sayang! Aku mau buka puasa sekarang boleh." Sahut Barra dengan tatapan penuh gairah.
"Boleh, tapi pelan-pelan ya." Jawab Arumi dengan wajah bersemu merah karena malu.
Ini untuk pertama kalinya Barra meminta izin untuk menyentuh dirinya, dulu saat awal pernikahan mereka, Barra tak pernah meminta izin terlebih dahulu ketika ia ingin mencumbui Arumi.
"Tentu saja, aku akan bermain selembut mungkin yang penting kamu senang dan puas," seru Barra yang nakin membuat wajah Arumi bersemu merah seperti buah tomat.
Demi menutupi rasa malunya, Arumi menundukan pandangannya. Dan Barra yang mengetahui Arumi tengah di kuasai rasa malu langsung saja menarik dagu Arumi agar tetap memandang wajahnya.
"Sayang, sebelum aku menyentuh mu. Katakanlah jika kamu memang benar-benar mencintai ku, seperti aku yang sangat mencintai mu." Pinta Barra dengan ungkapan hati terdalamnya.
Sebelum menjawab permintaan Barra, Arumi tersenyum mendengar ungkapan perasaan Barra yang sering ia dengar sebelum tidur itu. Sembari membelai wajah tampan suaminya, dan menarik tengkuk Barra agar sedikit menunduk. Arumi menjawab tepat di depan bibir Barra yang hendak ia kecup.
"Aku sangat mencintaimu, menyayangi mu, bahkan aku tak akan bisa hidup tanpa mu Pak Barra ku." Ucap Arumi yang kemudian makin menarik tengkuk Barra hingga bibir mereka menyatu.
"Mmmmphhh..." lenguh Arumi ketika Barra terus mengimbangi permainan bibir dan lidah Arumi yang saling membelit dan menari-nari.
Barra dan Arumi sama-sama saling membantu membuka pakaian mereka satu sama lain. Ketika pakaian mereka telah tanggal. Barra membawa Arumi ke atas ranjang.
Barra terus membuat Arumi melenguh dengan keaktifannya malam ini.
"Ahhh... Mas Barra..." lenguh Arumi yang makin membuat Barra bersemangat menjelajahi bagian tubuh Arumi.
"Kamu suka sayang?" Tanya Barra sembari memandangi wajah Arumi yang dipenuhi gairah bersamanya.
"I-ya aku menyukainya." Jawab Arumi yang langsung saja menyambar bibir Barra tanpa rasa malu dan canggung lagi.
"Kamu sudah siap sayang, aku akan mencetak Barra dan Arumi junior lagi untuk melengkapi kebahagiaan kita?"
"Aku siap Mas," jawab Arumi yang kembali aktif menyambar bibir Barra.
Keduanya kembali melanjutkan permainan, Arumi dibuat terbang ke langit ketujuh ketika Barra memainkan kedua bukit kembarnya dengan kedua tangan dan lidahnya yang terus menari-nari di sana.
"Ughhh mmmmmmphhh Mas..." lenguh Arumi yang malah makin menekan kepala Barra di bagian bukit kembarnya. Ia terus semakin menginginkan Barra lebih dalam menyentuh miliknya.
"Mas... ughhh sudah... aku sudah tidak tahan," lenguh Arumi lagi ketika lembahnya dijelajahi Barra menggunakan lidahnya yang begitu lincah menari-nari di sana.
Barra menghentikan permainan lidahnya ketika Arumi mengeluarkan cairan yang dinanti-nantikan oleh Barra sejak tadi. Dada Arumi naik turun, nafasnya terlihat tersengal-sengal karena telah mencampai puncak kenikmatannya untuk pertama kalinya dengan lidah Barra.
Barra kembali mengungkung tubuh Arumi, ia belai wajah cantik istrinya dengan satu tangannya, sedang junior Barra telah mencari jalannya sendiri untuk masuk kebagian inti sang istri.
"Arghh... sakit," rintih Barra saat ingin menembus dinding pertahan Arumi.
"Hah, kenapa Mas? Apanya yang sakit?" Tanya Arumi dengan wajah khawatirnya. Hilang sudah kabut gairah keduanya karena Barra merintih kesakitan.
Barra menjatuhkan tubuhnya berbaring tepat di samping Arumi. Ia memejamkan matanya yang pusing sekaligus sakit dibagian juniornya.
"Anaya awas kau ya," umpat Barra yang makin membuat Arumi bingung dan khawatir.
"Mas apanya yang sakit? Mas kenapa ihhh?" Tanya Arumi yang bingung.
"Junior ku, sayang. Lihat junior ku! Adik mu menendang junior ku tadi. Arghhh... sepertinya kita tidak jadi bertempur malam ini. Maafkan aku sayang. Ini semua karena adikmu." Jawab Barra yang membuat Arumi terkejut.
Arumi segera melihat kondisi junior Barra hingga ia mengerang kesakitan. Betapa kejutnya Arumi melihat junior Barra terlihat memerah, bukan hanya merah tapi sangat merah. Bertanda jika tendangan yang diberikan sang adik tidak main-main.
Arumi mengusap aset berharga milik sang suami, Barra tak henti-hentinya merintih padahal rasa sakitnya sudah reda. Ia sengaja memainkan emosional Arumi, agar bisa membalas perlakuan kejam adik iparnya terhadap dirinya.
"Sayang bagaimana ini? Apa kita akan lanjut puasa terus kalau juniorku sakit seperti ini?" Tanya Barra dengan memasang wajah pura-pura sedihnya yang berhasil membangkitkan amarah Arumo pada Anaya.
"Kamu tunggu di sini dulu Mas! Aku mau cari es batu untuk mengkompres junior mu dan sekalian memberi pelajaran pada adikku." Jawab Arumi yang membuat Barra tersenyum senang di dalam hatinya.
Ia mengangguk patuh dengan apa yang di katakan Arumi padanya. Arumi segera menyelimuti tubuh Barra yang tak mengenakan sehelai benang pun. Barra tertawa bahagia saat Arumi meninggalkan dirinya dengan rasa emosi yang meledak-ledak. Pasalnya ia lihat betul bagaimana emosinya sang istri saat kembali menggunakan pakaiannya yang berceceran di lantai.
"Rasakan kau Anaya, hahaha... permainan ku lebih cantik bukan hahaha... makanya jangan main-main dengan ku!" Gumam Barra dengan tawa renyahnya.
Sementara itu, Arumi dengan penuh rasa penuh emosi menghampiri Anaya yang tengah menyantap jagung bakar bersama dengan Adnan dan juga calon suaminya. Melihat kedatangan Arumi dengan ekspresi wajah tak bersahabatnya. Anaya sudah memutar bola matanya malas.
"Apa lagi yang dilakukan Kakak ipar stupid ku itu? Pasti dia sudah berhasil mengadu domba diriku dan Kak Arumi." Cicit Anaya sembari menyantap jagung bakar yang tak lagi terasa nikmat satelah melihat tampang wajah Arumi yang berjalan penuh emosi menghampirinya.