
Entah ini sebuah kebetulan atau bagaimana. Alex bertemu dengan Anaya, Arumi dan juga Zeline di rumah sakit tempat di mana dirinya praktek. Kebetulan sekali ketiga wanita itu datang tanpa ketiga suami mereka.
Alex datang menghampiri ketiganya, ia menyapa satu persatu di antara mereka.
"Senang bertemu dengan kalian di sini, sepertinya kalian sudah selesai melakukan pemeriksaan kandungan ya," ucap Alex dengan senyum getir yang menghiasi wajah tampannya.
"Iya Alex, kami memang baru selesai melakukan pemeriksaan kandungan. Kebetulan kami bertiga hamil diwaktu bersamaan." Jawab Arumi dengan senyum ramah pada Alex.
Arumi berusaha menutupi rasa bencinya kepada pria yang pernah ia cintai itu.
"Wah beruntung sekali bapak Abimanyu, akan bertambah cucu tiga sekaligus. Oh iya kalau boleh, aku ingin meminta waktu kalian sebentar, hanya sebentar saja untuk membicarakan sesuatu yang ingin aku bicarakan." Pinta Alex dengan wajah memohon kepada ketiganya.
Anaya menyenggol tubuh Sang kakak, menandakan jika dirinya tidak ingin berlama-lama terus sama dengan Alex. Namun Arumi memiliki pemikiran lain. Permasalahan di antara Anaya dan Alex harus segera diselesaikan. Tidak dibiarkan seperti ini terus menerus.
"Baiklah, kami bersedia tapi tidak lama ya, karena kami harus kembali ke perusahaan." Jawab Arumi yang menerima tawaran Alex.
Sontak saja apa yang dilakukan Arumi membuat Zeline dan Anaya terkejut. Namun keduanya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan Arumi tidak menginginkannya.
Ini ketiga ibu hamil ini berada di sebuah kantin khusus para dokter. Alex memesankan minuman yang menjadi favorit Anaya dan juga Arumi lemon tea untuk ketiganya.
"Langsung saja Alex, apa yang ingin kau bicarakan waktu kami tidak lama," ucap Arumi yang minta Alex untuk langsung mengutarakan apa yang ingin Ia bicarakan pada mereka.
"Maaf telah mengganggu waktu kalian yang super sibuk. Aku hanya ingin minta maaf pada Anaya, atas kesalahanku padanya. Aku akui kata-kata yang pernah aku ucapkan padanya pada waktu itu sangat menyakitkan hatinya." Ucap Alex pada Arumi namun matanya tertuju pada Anaya yang terus menunduk sejak tadi.
"Oh kau ingin minta maaf pada Anaya adikku." Ucap Arumi sembari menatap wajah adiknya yang memang enggan bertemu pandang dengan Alex.
"Anaya dia minta maaf padamu apa kau memaafkannya." Arumi berusaha menjadi penengah di antara mereka berdua.
"Aku sudah memaafkannya, tapi untuk mengenalnya lagi aku tidak ingin. Luka yang ia torehkan begitu menyakitkan hati dan jiwa ku." Jawab Anaya masih dengan menundukkan pandangannya.
"Kau dengar Alex, adikku sudah memaafkanmu. Tolong jangan ganggu kehidupan adikku lagi." Ucap Arumi pada Alex.
"Terima kasih sudah memaafkanku Anaya." Ujar Alex yang masih ingin terus menatap wajah cantik wanita yang terus saja menundukkan pandangannya.
Kini tatapan Alex berpindah pada Arumi yang duduk tepat di hadapannya.
"Aku juga ingin minta maaf padamu, selama ini akulah yang menjadi sumber penderitaanmu. Aku juga minta maaf pada Kak Adnan, karena kesalahanku, dia juga harus menanggung penderitaan yang sengaja Septi berikan padanya. Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Alex yang terlihat menyesali semua yang telah terjadi.
"Aku sudah memaafkanmu Alex, aku rasa Kak Adnan pun juga sudah memaafkanmu. Bukan begitu Zeline?"
"Ya, suamiku memang sudah memaafkanmu. Tapi untuk bersikap biasa saja denganmu mungkin itu tidak bisa. Karena penderitaan yang ia rasakan karena ulahmu sudah melukai jiwanya dan harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Perlu kau pahami itu. Jika niatmu bicara pada kami hanya untuk meminta maaf. Aku rasa ini sudah cukup. Kami harus kembali dan adik iparku sangat tidak nyaman berada dekat denganmu." Ucap Zeline yang bicara dengan tegas dan lugas. Sebagai kakak ipar ia berusaha mengerti apa yang kini dirasakan oleh adik kita, Anaya.
Melihat Zeline berdiri Anaya pun ikut berdiri.
"Arumi kau masih mau di sini?" Tanya Zeline yang sudah menggandeng tangan Anaya.
"Tidak. Aku akan pergi bersama kalian." Ucap Arumi yang segera beranjak dari kursinya.
Ketiganya pun undur diri dari hadapan Alex. Akri sopir pribadi Barra terlebih dahulu mengantarkan Arumi kembali ke perusahaan Barra, setelah itu mengantarkan Zeline dan juga Anaya keperusahaan Tuan Antoni, orang tua Zeline.
Arumi membiarkan Zeline tak kembali ke perusahaan suaminya, karena kakak iparnya itu, tak sabar ingin memberikan hasil pemeriksaan kehamilannya pada sang suami.
Saat Arumi kembali ke perusahaan Barra. Arumi di kejutkan dengan kemarahan Indri pada Karin. Penampilan Karin sudah tak berbentuk lagi, karena habis di aniaya oleh Indri.
Ditengah keributan itu, Arumi mencari keberadaan sang suami yang tak terlihat batang hidungnya. Kebetulan keributan itu ada di lantai dimana ruangan kerja sang suami berada.
Arumi segera bergegas berlari mencari keberadaan suaminya ini di ruang kerja sang suami. Namun nihil. Barra tak terlihat batang hidungnya, baik di kamar mandi maupun di dalam kamar tersembunyi yang berada di dalam ruangan kerja suaminya itu. Ruangan yang hanya dapat di akses masuk hanya dengan dirinya dan juga suaminya tentuannya.
Arumi kembali berlari keluar dari ruangan kerja suaminya itu. Terlihat Indri tengah di tenangkan oleh karyawati lainnya dan Karin dibawa oleh pihak keamanan yang terlambat datang.
Arumi langsung saja mendekati Indri dan mengelus perut buncit Indri.
"Tenanglah Kak Indri, rilekskan diri mu sejenak." Ucap Arumi dengan tangannya yang tak berhenti mengusap perut Indri yang terus berdenyut.
Arumi tidak mungkin langsung menanyakan apa yang terjadi pada Indri, yang nafasnya saja masih terlihat terengah-engah karena perkelahian dirinya dengan Karin.
"Minum! Tolong ambilkan minum!" Perintah Arumi saat melihat bibir Indri terlihat kering.
Seorang karyawati entah dari bagian deputi mana, segera berlari ke pantry untuk mengambil segela air mineral untuk Indri.
Indri menengguk habis segelas air mineral yang diberikan karyawati itu pada dirinya.
"Apa perlu aku panggilkan dokter Kak Indri," tawar Arumi saat melihat Indri sedikit meringis.
"Tidak, aku hanya perlu meluruskan tubuhku yang terasa remuk." Tolak Indri yang segera bangkit dari posisi duduknya.
Ia berjalan dengan si papah oleh dua karyawati lainnya, untuk masuk ke ruangan kerja Barra, sesuai dengan permintaan Arumi.
Dengan dibantu kedua karyawati itu, Indri dibaringkan di atas sofa panjang yang ada di ruang kerja Barra. Arumi membiarkan Indri beristirahat di ruang kerja suaminya, sementara itu, ia berusaha mencari keberadaan suaminya dan juga Kevin, yang menghilang seperti di telan bumi.