My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Kedatangan Alex



Di saat Barra sedang menikmati makan bersama dengan bapak-bapak satu kampung di tenda pernikahan Anaya dan Steve dengan suka cita, ada seorang pria yang tengah bersedih di dalam mobilnya. Ya sosok pria itu adalah Alex, Dokter Alex.


Ia memandangi tenda pernikahan Anaya dan Steve dengan tatapan getir. Salahnya menyadari perasaannya pada Anaya di saat Anaya telah berpaling darinya. Terlambat. Itulah yang kini Alex rasakan. Secepat itu dua wanita yang mengisi relung hatinya di renggut pria lain dalam kurun waktu yang sangat cepat.


"Kenapa, kamu tidak memberikan aku waktu dan kesempatan Anaya? Tak mudah bagiku meyakinkan hatiku dengan perasaan yang kurasakan pada mu. Apakah secapat ini wanita berpaling dari seorang pria?" Ucap Alex yang bermonolog seorang diri.


Seusai menghabiskan makanannya dan membayar semua dagangan pedagang yang ia panggil, Barra izin pulang sebentar, karena ingin menengok anaknya rewel dan terus menangis. Ia mengetahuinya karena Arumi menelepon Barra, meminta dirinya untuk pulang sebentar. Saat ia keluar dari tenda, Barra melihat mobil yang tak ia kenali. Ia pun bertanya pada Akri yang akan mengantarnya pulang.


"Mobil siapa ini Krie?" Tanya Barra pada Akri yang berjalan dibelakangnya.


"Kurang tahu, Tuan. Sejak saya pulang membeli rokok sudah ada di sini." Jawab Akri yang juga tidak mengetahui bahwa mobil itu adalah mobil milik Alex.


Kaca film yang digunakan mobil Alex, membuat orang diluar sana tak bisa melihat langsung bagian dalam mobilnya. Hingga baik Barra dan Akri tak mengetahui jika ada dia di dalam mobil itu. Sekepergian Barra, Alex turun dari mobil. Ia masuk ke dalam tenda pernikahan yang begitu besar dan luas.


Hatinya menangis melihat kursi pelaminan yang sudah tertata rapih di sana. Alex menarik senyum tipis di wajahnya sendunya.


"Kenapa aku selalu harus merasakan rasa sakitnya ditinggalkan orang yang aku cintai Tuhan? Kau seperti tak pernah menyediakan kesempatan kedua untuk ku." Gumam Alex di dalam hatinya.


Keesokkan harinya. Barra yang semalam melanjutkan rondanya setelah menidurkan Nathan dan juga Arumi pun baru pulang dari rondanya. Ia pulang tepat pukul delapan pagi. Ia ketiduran di Mesjid bersama Taslim usai sholat subuh berjamah. Ia terbangun karena perutnya keroncongan.


"Hadduh lapar sekali, mau jajan pasti nanti dimarahin Nyonya-nyonya di rumah," gerutu Barra yang mulutnya terus komat-kamit berkata lapar.


Sebenarnya banyak yang menawarinya sarapan, bahkan sudah ada yang membawakan dia gorengan, teh ataupun kopi di teras Mesjid. Bukannya ia tak menghargai pemberian orang lain. Tapi ia sangat takut mendapatkan tuduhan Arumi yang tidak-tidak padanya. Dengan sopan Barra menjelaskan lebih baik di bungkus saja, supaya istrinya tak salah paham dengannya.


Dengan berjalan kaki Barra menuju pondok mertua permai. Saat langkah kakinya memasuki halaman depan rumah Arumi yang terbuka dan luas. Ia dikejutkan dengan keberadaan mobil yang sama seperti yang semalam ia lihat.


Merasa penasaran dengan mobil itu, akhirmya Barra memutuskan untuk mengetuk kaca mobil tersebut.


Tok...tok...tok [Suara ketukan kaca pintu mobil Alex].


Alex yang sedang tertidur di dalam mobil pun akhirnya terbangun dari tidurnya karena suata ketukan Barra.


Alex segera keluar dari mobilnya dengan wajah bantalnya. Dia terlihat baru terbangun dari tidurnya yang singkat.


"Kau?" Tanya Barra dengan wajah terkejutnya.


"Untuk apa kau menemui adik iparku?" Tanya Barra dengan menarik alisnya. Ia merasa heran dengan Alex yang ingin bertemu dengan Anaya sepagi ini.


"Bukan urusan mu," jawab Alex yang tak ingin dicampuri urusan pribadinya dengan Barra.


"Baiklah kalau kau tak ingin memberitahukan maksud dan tujuan mu mendatangi adik iparku. Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang! Adik iparku sedang melaksanakan tradisi pingitan. Kau tak akan bisa menemuinya." Tukas Barra yang langsung mengusir keberadaan Alex dari kediaman mertuanya.


"Kau bukan siapa-siapa di rumah ini. Tak berhak bagi mu mengusir diriku." Tolak Alex dengan tatapan tajamnya.


"Bukan siapa-siapa kata mu, aku ini menantu di keluarga Abimanyu. Aku berhak mengusir mu, karena ini adalah rumah ku." Sarkas Barra dengan nada tinggi, ia sangat tersinggung dengan ucapan Alex yang mengatakan dirinya bukan siapa-siapa.


Di dalam rumah. Arumi yang mendengar suara suaminya segera keluar sembari menggendong Nathan. "Sayang, sepertinya Papi sudah pulang. Ayo kita sambut Papi pulang yuk sayangnya Mami." Ucap Arumi sembari berjalan keluar rumah.


Arumi membuka pintu rumahnya, ia terkejut dengan sosok Alex yang tengah berada bersama Barra.


"Alex," cicit Arumi saat ia melihat Alex.


"Arumi," cicit Alex yang melihat Arumi sedang menggendong seorang anak laki-laki yang ia ketahui itu adalah putra dari Arumi dan juga Barra.


"Jaga pandangan mu! Kau dilarang menatap berlebihan wanita bersuami di sini!" Tegur Barra pada Alex yang terus menatapi wajah Arumi.


"Pih, kenapa baru pulang? Ketiduran lagi ya?" Pekik Arumi dari depan pintu rumahnya. Ia enggan menghampiri suaminya karena keberadaan Alex.


"Iya maaf, penyakit aku denger cermah subuh kaya di nina boboin." Sahut Barra yang meninggalkan keberadaan Alex begitu saja. Ia menghampiri sang istri dan anaknya yang sudah tersenyum senang melihat dirinya.


"Upsss... Nathan kangen Papi? Sudah sarapan belum jagoan Papi hum? Papi belum nih, lapar sekali." Ucap Barra pada Nathan yang seakan memberitahukan Arumi jika suaminya belum sarapan pagi.


Keduanya masuk ke dalam rumah mengabaikan keberadaan Alex yang sebelumnya sudah diminta pergi oleh Barra. Dari dalam rumah, Anaya yang kamarnya ada di bagian paling depan rumah, dapat melihat kehadiran Alex sejak semalam.


Keputusannya yang sudah bulat untuk membangun bahtera rumah tangga dengan Steve membuatnya tak ingin bertemu ataupun bicara lagi dengan Alex. Bagi Anaya, Steve adalah pria terbaik yang dikirimkan Tuhan untuknya. Tak ingin ia menoleh kemasa lalunya yang akan membuat Steve sakit hati. Meski masih ada secuil rasa cinta Anaya untuk Alex.


"Kau menatap dalam manik mata Kakak ku, tapi kau bilang cinta padaku. Kau ini pria yang tidak konsisten Kak. Seandainya tak ada Om Steve mungkin aku akan mudah kau bodohi dengan cinta palsu mu itu. Ya, cinta palsu yang akan kau sugguhkan untukku. Kau mendekatiku hanya ingin dekat dengan Kakak ku, bukan! Hati mu bukan untukku dan aku sadar itu." Ucap Anaya saat melihat Alex masih berdiri menatap jendela kamar Anaya yang tertutup tirai putih tipis.


Alex yakin Anaya tengah menatap dirinya dari balik tirai jendela saat ini. Ingin ia menghampiri jendela kamar Anaya untuk bicara dengan Anaya walau beberapa detik saja tentang perasaan hatinya . Namun belum semoat niatnya ia jalankan seorang pria menepuk bahunya.