My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Mencari Arabella dan Abimanyu



Sudah jam 12.00 siang, baik Abimanyu dan Arabella belum juga kembali ke kediaman mereka. Hal ini membuat seluruh anak dan menantunya merasa cemas. Terlebih Anaya yang terus menangis sesenggukan.


Ia merasa kekhawatirnya semalam, yang tidak jelas dan menyebabkan ia tidak bisa tidur, berkaitan dengan hilangnya Arabella dan Abimanyu saat ini.


"Pantas saja aku tidak bisa tidur semalaman Kak. Aku baru bisa tidur ketika aku pindah ke kamar ayah dan ibu. Mereka sebenarnya kemana dan apa yang terjadi dengan mereka? Aku sangat khawatir, sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi pada mereka." Ucap Anaya di sela tangisnya, yang tak kunjung berhenti.


Sebagai kakak Arumi mencoba menenangkan adiknya meskipun hatinya pun sedang khawatir dan gusar.


"Berdoalah tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. Kamu jangan berpikir terlalu jauh. Mereka baik-baik saja dan pasti akan kembali secepatnya."


Sementara itu ketiga para suami tak nggak sibuk mencari keberadaan Abimanyu dan Arabella. Mereka berpencar menyisiri tempat yang biasa didatangi oleh Arabella dan juga Abimanyu.


Sudah dua kali mereka menyisiri dan bertanya pada orang-orang sekitar, namun tak ada yang melihat keduanya. Terang saja karena pedagang yang biasa menjual sarapan sudah tidak lagi menjajakan dagangannya di siang hari.


Barra yang mencari kedua mertuanya dengan mengayuh sepeda yang biasa ia gunakan untuk olahraga pun, akhirnya berhenti persis di dekat got, dimana kedua mertuanya terjatuh di sana demi menyelamatkan diri dari mobil Tati yang melaju dengan kecepatan maksimal itu. Ia kehausan dan ingin membeli sebotol air mineral dingin.


Barra yang memang sudah terkenal dengan ketampanan dan baik hatinya itu pun di sambut hangat oleh ibu penjual warung saat membeli minum.


"Eh, Mas Barra. Mimpi siapa semalam ibu ya didatangi Mas Barra yang tampan siang-siang begini." Saya pasang Ibu warung yang terlihat sangat senang dengan kedatangan Barra.


Bara hanya tersenyum ramah mendengar ucapan sang Ibu warung yang terdengar terlalu berlebihan.


"Bu, ada air mineral dingin? Saya haus." Tanya Barra, saat ia tak melihat di lemari pendingin tak ada satupun botol air mineral yang ingin ia beli.


"Air mineral kemasan botol dan gelasnya kosong Mas Barra, belum diantar sama agennya. Adanya hanya teh dan minuman softdrink. Tapi kalau Mas Barra mau, saya ambilkan air mineral biasa dari kulkas saya yang di dalam." Jawab sang Ibu warung yang kemudian menawarkan air mineral biasa kepada Barra yang sedang kehausan.


Bara pun mengangguk menerima tawaran sang Ibu warung.


"Boleh Bu, jika ibu tidak keberatan." Jawab Barra.


Ibu warung tersenyum senang Barra mau menerima tawarannya, ia segera masuk ke dalam ruko yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya.


Tak berapa lama Ibu warung itu pun keluar dengan membawa sebuah gelas dan juga satu teko air mineral yang cukup dingin dan menyegarkan.


Barra menerimanya dan duduk di kursi kayu panjang yang ada di depan warung, dengan di temani Ibu warung yang terus mengagumi ketampanan Barra yang sangat tersohor itu.


"Ngomong-ngomong Mas Barra dari mana kok siang-siang bersepeda, biasanya juga sore hari?" Tanya Ibu warung saat Barra sedang membaca notifikasi di ponselnya.


Mendengar jawaban Barra, Ibu warung tiba-tiba mengingat sebuah kejadian di mana sepasang suami istri paruh baya, yang jatuh terperosok ke got, setelah menghindari sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang ingin menabrak mereka berdua.


"Mas Barra, punya foto kedua mertua Mas Barra tidak?" Tanya ibu warung yang terlihat begitu penasaran ingin melihat foto kedua mertua Barra.


Ibu warung ingin sekali memastikan, apakah sepasang suami istri paruh baya itu adalah mertua dari pria tampan yang sedang duduk di hadapannya.


"Ada Bu." Jawab Barra yang langsung menunjukkan foto kedua mertuanya yang ada di dalam galeri ponselnya.


Ibu baru nampak terkejut, dan menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.


"Ya Allah Mas, kenapa baru dicari sekarang? Kedua mertua Mas Barra sekarang berada di rumah sakit." Ucap Ibu warung pada Barra yang kini juga ikut terkejut dengan penuturannya.


"Rumah sakit? Apa yang terjadi pada kedua mertua saya Bu?" Tanya Barra yang terkejut.


"Tadi pagi, saya dan suami saya baru saja buka warung, tiba-tiba lihat kedua mertua Mas Batra jatuh ke dalam got, demi menghindari mobil yang melaju sangat kencang. Ayah mertua Mas Barra terluka dibagian kepala, sedangkan ibu mertua Mas Barra hanya sedikit pincang saja. Sepertinya mobil itu sengaja ingin menabrak kedua mertua Mas Barra." Jawab ibu warung yang menceritakan kronologi kejadian.


"Apa??" Barra kembali terkejut dengan jawaban Ibu warung. "Maaf Bu, apa ibu tahu dibawa ke rumah sakit mana kedua mertua saya?" Tanya Barra yang terlihat begitu mengkhawatirkan kedua mertuanya.


"Kedua mertua Mas Barra diantar sama suami saya ke rumah sakit terdekat, sampai saat ini suami saya juga belum kembali, tapi tadi dia sempat menghubungi saya, untuk minta dikirimkan uang ke rekeninnya. Karena kedua mertua Mas Barra tidak membawa dompet ataupun tanda pengenal. Suami saya tadi juga memberitahukan saya kalau dia membawa kedua orang tua mertua Mas ke rumah sakit Bunda." Jawab Ibu warung yang terlihat memang tulus membantu kedua mertuanya.


"Terima kasih Bu saya akan membalas kebaikan ibu terhadap mertua saya." Jawab Barra yang kemudian langsung menghubungi Adnan dan juga Steve.


Barra langsung saja memberitahukan informasi yang ia dapatkan dari ibu warung, dan tak lama kemudian sebuah mobil sedan mewah milik Adnan datang menjemput Barra.


"Bu, saya titip sepeda saya di sini dulu ya, nanti saya ambil ketika saya sudah pulang dari rumah sakit." Ucap Barra sebelum ia naik mobil sedan mewah milik Adnan itu.


"Iya Mas, hati-hati. Semoga kedua mertua Mas baik-baik saja dan lekas sembuh."


Setelah mendengarkan balasan dari ibu warung Barra langsung naik ke mobil Adnan yang sudah ada Adnan dan Steve di dalamnya.


Mobil yang dikendarai oleh Adnan itu pun melaju dengan cepat membelah jalanan kota menuju rumah sakit terdekat yang disebutkan oleh ibu warung.


Di dalam perjalanan menuju rumah Sakit Bunda. Steve yang diperintahkan oleh Barra langsung saja menghubungi seseorang untuk menyelidiki tentang siapa yang coba-coba mencelakai kedua mertua mereka.


"Cek seluruh CCTV di jalanan sekitar kediaman kami! Cari tahu pemilik mobil yang berniat menabrak mertua ku! Sebelum matahari terbenam kau harus sudah memberikan laporan padaku!" Perintah Steve pada kaki tangannya yang dapat diandalkan.