
"Tutup mulutmu!" Bentak Barra dengan suara yang cukup menggema pada Septi yang tak berhenti mencaci Arumi.
Sebagai suami Barra berkewajiban menjadi pelindung bagi istrinya, dan saat ini adalah saatnya dimana dia harus melaksanakan kewajibannya itu.
"Aku tak akan pernah mau menutup mulutku. Seharusnya kau sadar dan berterima kasih padaku. Aku sudah membuka tabir keburukan wanita yang kau nikahi ini. Dia itu tak lebih baik dari ku. Lihat saja tampangnya saja pas-pasan, jauh dari kata cantik. Mau memakai pakaian mahal sekalipun dia tak akan pernah terlihat pantas, karena dia itu cuma wanita murahan yang tak bermoral. Wanita murahan yang sengaja menjebakmu untuk menikahinya, agar dia bisa merubah nasibnya dan keluarganya yang miskin itu." Cerca Septi yang masih saja menghina Arumi.
"Kurang ajar!" Geram Arumi yang tak terima keluarganya kembali di hina.
Arumi mengurai pelukan Barra dan kembali berjalan penuh emosi kembali menghampiri Septi yang sejak tadi tak melepaskan tatapan tajamnya pada Arumi dan juga Barra. Manik mata Septi terus saja mengikuti langkah Arumi yang datang menghampirinya.
"Kau boleh menghina ku tapi tidak dengan keluarga ku. Kau sungguh keterpaluan Septi. Apa salah ku hingga kau membenciku seperti ini?" Ucap Arumi sambil menunjuk-nunjuk dirinya dan juga Septi.
Septi menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis dan mengejek pada Arumi.
"Kau tanya apa salah mu? Tentunya salah mu sangat banyak pada ku. Karena dirimu hidup ku menderita." Jawab Septi sembari mencengkram kedua lengan Arumi dengan kuat.
Arumi menahan rasa sakitnya, ia hanya melirik tangan Septi yang mencekram kedua lengannya dengan kuat itu.
Melihat apa yang dilakukan Septi, Barra melangkahkan kakinya mendekati keduanya.
"Singkirkan tangan kotormu di tubuh istri ku!" Perintah Barra degan tangannya yang mengepal sempurna hingga telapak tangannya terlihat memucat, tulang rahang tegasnya pun terlihat mengeras. Bertanda jika saat ini ia sudah benar-benar marah pada Septi.
Jika saja Septi bukanlah seorang wanita, mungkin sudah sejak tadi Barra sudah memberi bogem mentah padanya, agar mantan kakak iparnya itu menutup mulut kotornya yang sangat menyebalkan.
"Lihatlah! Entah guna-guna apa yang telah kau berikan pada mantan bos mu ini, hingga ia masih saja membela mu." Ucap Septi masih saja menuduh Arumi dengan tuduhan yang tidak-tidak.
Jujur saja Septi terus berkata-kata buruk pada Arumi, karena Septi merasa iri dengan nasib Arumi yang sangat beruntung mendapatkan Barra. Tidak seperti dirinya, di saat Alex tak lagi nenolak kehadirannya, ia harus dihadapkan dengan penolakan kedu orang tua Alex. Orang tua Alex tidak hanya menolak dirinya tapi juga menolak kehadiran Rizki sebagai cucu mereka.
Septi yang dikuasai oleh rasa iri dan dengki, kemudian mendorong tubuh Arumi hingga hampir terjatuh. Untung saja Barra ada di belakang tubuh Arumi. Hingga ia bisa mencegah hal buruk terjadi pada istrinya.
"Mami baik-baik saja?" Tanya Barra saat ia menangkap tubuh Arumi yang hampir terjatuh.
Arumi menganggukan kepalanya, sembari mengelus dadanya. Ia terkejut dengan Septi yang mendorong tubuhnya. Jika saja ia terjatuh, ia tidak tahu bagaimana mana dengan kondisi kehamilannya nanti.
"Ayo kita pulang! Abaikan saja dia yang tidak penting untuk Mami layani. Mungkin dia sudah mulai terganggu jiwanya." Ucap Barra yang berhasil menguasai emosinya saat ini.
Barra langsung saja merangkul istrinya pergi, namun baru beberapa langkah kalinya oergi dari Septi. Mulut kotor Septi kembali bersuara.
"Hai Barra,mau kemana kau? Kenapa kamu bodoh sekali masih mau membela perempuan murahan itu hah? Kau akan menyesal mempertahankan wanita murahan itu untuk tetap menjadi istrimu. Dia dan keluarganya hanya memanfaatkan kekayaan mu. Kau tahu saat dia baru menjadi istri mu dan kau memberikan kartu kredit padanya. Dia ingin melarikan diri dari mu dengan menguras seluruh uang mu. Dia berniat melarikan diri bersama Alex. Pria yang menjadi rebutan Arumi dan Anaya." Pekik Septi yang kembali menuduh Arumi.
Namun mendengar pekikan suara Septi. Barra dan Arumi sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya untuk meninggalkan perempuan tidak waras itu.
"Mami sepertinya kamu harus menjelaskan sesuatu pada ku sekarang. Temui, Papi di ruang kerja, setelah makan malam nanti." Ucap Barra yang kembali bersikap dingin pada Arumi.
Rupanya Barra kembali melanjutkan kemarahannya. Saat pintu lift terbuka, Barra kembali meninggalkan Arumi, ia berjalan mendahului istrinya.
Usai makan malam dan menidurkan Nathan. Arumi mendatangi Barra di ruang kerjanya.
Tok... tok...tok
Arumi mengetuk pintu ruang kerja suaminya yang tidak biasanya tertutup rapat seperti ini. Alasan takut mengganggulah yang membuat Arumi mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk!" Perintah Barra yang mengizinkan istrinya untuk masuk.
Ceklek
Pintu ruang kerja Barra terbuka. Arumi muncul dari balik pintu dengan membawa secangkir kopi untuk suami tercintanya.
"Papi, Mami bawakan kopi untuk menemani mu, lembur malam ini." Ucap Arumi yang meletakkan kopi di meja sofa yang ada di dekat meja kerja Barra.
"Terima kasih," jawab Barra singkat dengan wajah datarnya yang sama sekali tak berniat melihat'istrinya.
Arumi merengutkan wajahnya, merasa sedih dengan sikap dingin suaminya. Sadar dan merasa bersalah atas kesalahannya. Arumi duduk di sofa panjang yang ada di ruang kerja suaminya itu. Ia terus menatap suaminya yang tengah sibuk dengan istri keduanya, yaitu sebuah laptop yang terus Barra pandangi.
"Papi, maafkan Mami. Mami sadar Mami sudah salah dan berbuat salah sama Papi, saat kita dalam perjalanan pulang tadi. Apa Papi mau memaafkan kesalahan Mami?" Ucap Arumi dengan mata yang berkaca-kaca, karena Barra sama sekali tak menghiraukan permintaan maafnya.
Alih-alih menjawab Barra tetap fokus pada pekerjaannya di laptop.
"Sepertinya Papi sedang sibuk dan kehadiran Mami di sini sangat menggangu Papi. Mami pergi dulu. Jangan lupa di minum kopinya, ya!" Ucap Arumi lagi yang kembali di acuhkan oleh Barra.
Tak tahan diacuhkan oleh Barra. Arumi beranjak dari duduknya. Ia ingin keluar dari ruang kerja suaminya itu.
Brakk!!
Suara pintu yang Arumi buka kembali tertutup. Sebuah tangan kekar mendorong pintu itu dengan kuat.
"Jangan pergi sebelum menjelaskan semua perkataan Septi pada Papi tadi!" Ucap Barra dengan nada bicara yang tak biasa dan tatapannya yang tajam pada istrinya.
"Yang dikatakan Septi, memang ada benarnya Pih. Mami memang berencana akan pergi melarikan diri dengan Alex. Mami berencana tinggal di apartemennya yang ada di New York. Tapi Mami tidak hanya akan tinggal berdua dengan Alex, tapi juga dengan Anaya. Alasan Mami dan Anaya akan tinggal di sana karena Anaya dulu ingin menjadi seorang Dokter seperti Alex. Mami memang mengeruk uang Papi demi masa depan keluarga Mami. Tapi itu Mami lakukan karena Papi sudah melukai hati Mami." Ucap Arumi sembari menatap manik mata suaminya yang terus saja menatapnya dengan tajam.
"Lanjutkan!" Ucap Barra yang masih tak puas dengan penjelasan istrinya.