My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
meeting bersama mantan



Barra menyunggingkan senyumnya saat Adnan berulang kali tak bisa mengumpatinya. Karena setiap kali ingin mengumpat rasa mual itu datang.


"Sudah terima saja Memes, jadi seminggu ini kita akan selalu bersama." Saran Zeline yang terus memijat tengkuk suaminya.


"Iya," jawab Adnan singkat, karena sudah tak tahan dengan siksaan alami yang sedang ia rasakan.


Pagi ini, Adnan tak datang keperusahaan mertuanya. Ia sudah izin tidak masuk untuk satu minggu ini. Seluruh pekerjaannya langsung di handle oleh Steve.


Bukannya pulang untuk beristirahat, Adnan malah membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang kerja adik iparnya. Barra membiarkan Adnan beristirahat di ruang kerjanya. Ia dapat memahami apa yang kini Adnan rasakan. Pasalnya dulu, ia pernah merasakannya.


Tempat pukul 10.00 pagi, Tuan Sasono datang memenuhi undangan meeting lanjutan yang sudah dijanjikan seja kemarin. Dia datang kembali bersama Bowo.


Keduanya sudah berada di ruang meeting dengan staf Barra lainnya, mereka tengah menunggu kedatangan Barra, Arumi dan juga Zeline. Hari ini Kevin dan Indri, izin tidak masuk kerja karena kejadian kemarin.


Ketiga sedikit terlambat datang keruang meeting karena Zeline memperdebatkan Adnan yang akan di tinggal sendirian, jika mereka semua datang ke ruang meeting. Faktor kehamilan membuat Zeline terlalu paranoid dengan Adnan.


"Kak, apa dia akan baik-baik saja , jika ditinggal sendirian?" Tanya Zeline pada kakak sepupunya.


"Tidak. Dia akan di makan Gozila, saat kita tinggal sendirian." Jawab Barra yang malah meledek adik sepupunya itu.


"Ishhh Kak Barra, aku khawatir malah diledekin." Zeline mencebik bibirnya saat mendapati Barra meledeknya.


"Oh ayolah Zeline, suami mu ini bukan seorang bayi, bahkan dia ini sudah bisa menghasilkan calon bayi di perut mu, dia tidak akan terjatuh dan menangis, saat kita meninggalkannya tidur di atas sofa sendirian." Balas Barra yang berhasil membuat Arumi menahan tawanya.


"Kak Barra ihh..." Gerutu Zeline yang kembali mencebik bibirnya.


"Arghh.... Sudahlah, jika suami kesayangan mu ini menangis aku akan membelikannya balon." Ucap Barra lagi.


Arumi mereeemas lengan suaminya cukup keras, karena kembali harus menahan tawanya dengan ucapan suaminya ini.


"Au...kenapa mereeeemas lenganku sekeras itu Mih? Sakit tahu." Rintih Barra sembari mengusap lengannya.


"Tidak apa, Mami hanya gemas." Jawab Arumi dengan seulas senyumnya.


Akhirnya Zeline dengan berat hati meninggalkan Adnan yang baru bisa tertidur dengan pulas dan tenang sekarang. Setelah semalam berjuang dengan rasa mual yang mendera dirinya.


"Maaf telah membuat kalian menunggu, saya ada urusan penting sedikit tadi" ucap Barra saat memasuki ruangan meeting.


Mata Barra terus fokus pada Bowo yang duduk tepat di samping Tuan Sasono.


"Tidak apa Tuan Barra, toh kami belum lama menunggu Anda, jadi tidak perlu minta maaf," sahut Tuan Sasono.


Barra tersenyum tipis, kemudian duduk di kursi kebesarannya yang ada di ruang meeting.


Meeting pun dimulai, Arumi masih belum menyadari jika ada pria di masa lalunya, yang berada di ruangan meeting bersama dengannya.


Seperti yang diketahui, Arumi jika sedang bekerja sama sekali tidak fokus dengan orang di sekelilingnya. Ia hanya akan fokus dengan pekerjaannya.


Arumi terus sibuk mencatat materi meeting, sementara itu, Barra sama sekali tidak fokus dengan apa yang dibahas dalam meeting ini, ia hanya fokus menatap Arumi dan Bowo secara bergantian. Pasalnya Bowo terus menatap istrinya dengan tatapan kagum dan penuh kerinduan.


"Arumi. Kau semakin cantik sekarang dan kau masih seperti yang dulu. Sangat fokus saat bekerja, hingga tak menyadari keberadaan ku sama sekali. Aku ada di sini Arumi. Lihatlah aku!" Gumam Bowo dengan mata yang terfokus pada Arumi.


Setelah pihak perusahaan Barra selesai bicara, kini giliran pihak perusahaan Sasono yang diwakilkan oleh Bowo angkat bicara.


Bowo memulai membahas poin-poin penting yang perusahaannya ajukan pada perusahaan Barra.


Arumi sejenak menghentikan pergerakan tangannya dan hal itu di lihat oleh mata Barra yang kini terus menatapnya.


Ya. Arumi berhenti menukis karena sedikit terkejut mendengar suara pria yang sangat ia kenali.


Pria pengecut yang tak bisa melakukan apapun, saat Arumi malu dipermalukan oleh ibunya. Meninggalkan Arumi begitu saja, tanpa sedikitpun memberikan kabar ataupun penjelasan.


"Menyebalkan sekali harus bertemu dengan manusia pengecut itu lagi." Umpat Arumi saat ia berhenti mencatat.


Awalnya Barra tersenyum sinis melihat respon Arumi saat menghentikan aktivitasnya.


Namun tatapannya yang tak terlepas sedikitpun dari istrinya, kemudian sedikit terperangah dengan apa yang ditulis istrinya di buku notelen rapat.


Apa yang dibicarakan sipengecut itu hanyalah bualan suamiku. Dia tidak akan bertanggung jawab dengan apa yang ia bicarakan hari ini di kemudian hari nanti. Tulis Arumi sebelum mencatat poin-poin penting yang dibahas oleh Bowo.


Saat Bowo sudah selesai menyampaikan Materi. Tiba-tiba pintu ruangan meeting terbuka. Adnan muncul dari balik pintu dengan wajah pucat dan tubuh lemasnya.


Rupanya ditinggalkan Barra, Adnan kembali merasakan mual muntah yang sangat menyiksa dirinya.


Adnan masuk ke dalam ruang meeting, menarik sebuah kursi, dan menggeser kursinyanh di duduki Zeline, demi untuk duduk diantara Zeline dan juga Barra.


Sontak apa yang dilakukan Adnan menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata yang ada di ruang meeting.


Mata Arumi membola, ketika Adnan menyadarkan kepalanya di bahu Barra. Begitupun dengan Barra yang sedikit terkejut dengan tingkah kakak iparnya.


"Apa yang kau lakukan Kak Adnan?" Tegur Arumi dengan tatapan tajamnya.


Arumi seakan tak perduli dengan keberadaan semua orang di ruangan meeting. Ia menarik kuat tubuh Barra dengan posesif nya, berusaha menjauhkan Barra dari Adnan.


Adnan terhuyung hampir terjatuh saking lemahnya.


"Arumi!! Pekik Adnan dan Zeline bersamaan.


"Apa!" Sahut Arumi yang membulatkan matanya, seakan menantang keduanya.


"Hanya pinjam bahu suamimu saja kau pelit sekali. Astaga!" Ucap Adnan saat melihat Arumi memeluk lengan Barra dengan posesif.


"Suamiku adalah milikku. Tak boleh di pinjam, dia bukan barang." Balas Arumi yang berhasil membuat Barra tersenyum senang dan Bowo tertusuk ribuan pisau belati di hatinya.


Bagaimana tak merasa senang, Arumi mengklaim dirinya dengan refleks di depan banyak pasang mata dan juga sepasang mata pria di masa lalu istrinya.


Sedangkan Bowo, kata-kata Arumi yang mengklaim suaminya hanya miliknya, membuatnya merasakan sakit hati teramat dalam. Karena ia dapat memahami rasa cinta Arumi pada pria yang kini sudah menjadi suami dari wanita yang masih sangat ia cintai.


"Kau sudah melupakan ku, melupakan cinta kita dan cintamu sudah benar-benar untuknya. Ini sangat menyakitkan Rumi." Gumam Bowo di dalam hatinya.