My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Akhirnya sadar dan ketahuan



Kini Adnan berada di dalam kamar Arumi, ia tatap kamar yang sudah kosong itu dengan tatapan nanar. Tak ada satu pun foto Arumi yang tersisa di dinding kamar itu. Pintu lemari Arumi nampak terbuka tanpa ada sehelai baju pun yang ada di dalamnya, meja belajar pun terlihat kosong tak ia lihat lagi buku-buku bertumpuk di sana.


Baru saja kemarin ia masuk ke dalam kamar adiknya ini, melihat semuanya masih ada, dan kini tak ada satu pun yang tersisa. Kamar ini alasan kuat yang membuat istrinya uring-uringan terhadap dirinya sejak kemarin hingga kini. Cemburu, itulah yang jelas tergambar didiri sang istri ketika mengetahui suaminya masuk ke kamar adiknya hanya untuk menghilangkan kerinduannya pada sang adik.


Adnan membaringkan tubuhnya di ranjang yang masih menggunakan kain seprai yang sama ketika ia datang ke kamar Arumi kemarin. Wangi tubuh sang adik masih tercium dibantal guling yang ia gunakan saat ini. Adnan tiba-tiba saja menitikan air matanya.


"Rumi, dimana pun kamu berada, Kakak selalu akan mendoakan untuk kebahagiaan mu. Semoga kamu baik-baik saja di sana adikku. Maafkan atas ketidak berdayaan kakak mu ini." Ucap Adnan yang menangis memeluk guling yang biasa Arumi peluk.


Arabella yang melihat Adnan berbaring sembari memeluk guling Arumi tak kuasa menahan air matanya.


"Ya, Tuhan. Tolong persatukan kembali keluarga hamba, tanpa ada lagi dinding pemisah." Ucap Arabella yang memanjatkan doa.


Kembali ke rumah sakit, Arumi sudah berhasil di selamatkan oleh Dokter Alex. Kini ia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Barra sudah mengurus semua administrasi yang diperlukan untuk perawat Arumi selama di rumah sakit. Betapa terbelalaknya Kevin, ketika mengetahui Barra menempatkan Arumi di ruang rawat presiden suite di rumah sakit terbaik di kota itu.


Di ruang rawat Arumi, keduanya memperhatikan Arumi yang masih memejamkan matanya dengan wajah yang masih terlihat pucat.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita hubungi keluarganya, memberitahukan keadaannya," saran Kevin pada Barra yang langsu di tolak Barra dengan cepat.


"Tidak perlu." Jawab Barra singkat dan padat.


Untuk apa memberi tahukan keluarganya, jika yang bertanggung jawab atas diri Arumi adalah dirinya sendiri, suami yang sah dimata hukum dan juga agama. Ia juga tak ingin membuat keluarga Arumi berpikiran buruk terhadap dirinya atas kejadian yang menimpa Arumi karena kesalahan fatal dirinya.


"Tapi Tuan." Sanggah Kevin yang merasa keluarga Arumi harus tahu keadaan Arumi yang masih belum sadarkan diri meski, kondisinya mulai stabil.


"Kevin, apa kau sudah bosan bekerja dengan saya?" Tanya Barra yang membuat Kevin terdiam dan merasa aneh dengan sikap Tuan mudanya ini terhadap Arumi.


"Baik Tuan, maaf." Ucap Kevin yang tak lagi menyinggung masalah ini.


"Sebaiknya kau tingggalkan saja saya dan Arumi di sini, dan tolong handle pekerjaan saya sementara waktu." Perintah Barra yang mengusir keberadaan Kevin di sana.


Kevin makin bertambah curiga, dengan kepedulian berlebihan Barra terhadap Arumi. Meskipun awalnya ia berpikiran sang Tuan muda melakukan hal ini karena merasa bersalah pada Arumi.


"Baik Tuan, kalau begitu saya pamit undur diri." Ucap Kevin yang merunduk tumbuhnya dan kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Arumi.


Sepeninggal kevin, Barra mendekat ke ranjang pembaringan Arumi. Ia menciumi tangan Arumi dan meminta Arumi untuk segera terbangun.


"Bangunlah Arumi, jangan tidur terlalu lama seperti ini! Maafkan aku yang sudah menyakiti perasaan mu, aku menyesal. Aku berjanji memperbolehkan diri mu menghukum diriku, jika kamu sudah bangun nanti." Ucap Barra yang didengar oleh Kevin yang belum benar-benar meninggalkan ruang rawat Arumi. Kevin seperti sedang mencari tahu akan rasa penasaran yang hinggap di dalam dirinya saat ini.


Satu bulan lamanya Arumi tak sadarkan diri, satu bulan lamanya pula Barra dan Bi Ijah merawat Arumi di rumah sakit, mereka berdua bergantian berjaga, jika Bi Ijah akan menjaga Arumi dari pagi hingga petang, begitu pula dengan Barra yang akan berjaga dari petang hingga pagi datang, saat Bi Ijah sudah membawakan pakaian ganti kerjanya.


Malam itu, Barra seperti biasanya membaringkan dirinya di atas ranjang bersama Arumi. Ia mengecup bibir Arumi yang kering dan memutih karena sudah tak minum selama satu bulan lamanya. Tubuh Arumi terlihat kurus karena tidak ada asupan makanan di dalam tibuhnya selain cairan infus.


"Bangunlah Arumi! Betah sekali kamu menjadi putri tidur seperti ini hum. Membiarkan suami mu berbagi ranjang sempit ini dengan mu yang sangat asyik di dunia bawah sadar mu." Ucap Barra yang berbisik di telinga Arumi untuk kesekian kalinya saat ia berada di ruang rawat istrinya itu. Ia menghabiskan malam menemani Arumi di rumah sakit, dengan rasa bersalah yang belum hilang di benaknya hingga saat ini.


Malam ini, Kevin pun melarikan sang istri ke rumah sakit, Indri yang mengalami pendarahan karena ia terjatuh di kamar mandi saat mereka sedang melakuan mandi bersama.


Keguguran. Itulah kenyataan pahit yang harus Indri dan Kevin telan malam ini. Sebuah kebetulan sekali, ruang rawat Indri bersebelahan dengan ruang rawat Arumi. Di saat mereka berdua sedang larut dalam kesedihan, suara riuh ramai dari tim medis membuat mereka terdiam untuk mendengarkan dengan jelas apa yang terjadi di luar sana.


"Dokter tolong! Lihatlah istri saya sudah sadar!" Pekik Barra yang memanggil tim medis untuk melihat kondisi Arumi yang sudah membuka matanya dan berkata.


"Haus... saya mau minum," ucapnya begitu lirih dengan suaranya yang begitu parau, saat Barra sudah mulai memejamkan matanya.


Di ruang rawat Indri, keduanya saling bertukar pandangan. Mereka yang sedang menangis tiba-tiba tercengang ketika menyadari pekikan suara yang mereka kenali.


"Honey, bukankah itu suara Tuan Barra?" Tanya Indri pada suaminya.


"Ya kamu benar Baby. Di samping ruang rawatmu adalah ruang rawat Arumi." Jawab Kevin yang memberi tahukan istrinya.


"Whats???" Indri terkejut.


"Apa??" Kevin pun terkejut.


"Dia tadi bilang istri saya sudah sadar? Jadi? Apa mereka sudah menikah?" Tanya Indri pada suaminya yang juga tidak tahu. Ia mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan istrinya yang tidak ia ketahui jawabannya.


"Honey, coba lihatlah! Aku sungguh penasaran, pantas saja wajahnya murung semenjak Arumi tak masuk kerja sejak kejadian itu. Ternyata mereka punya hubungan." Perintah Indri pada suaminya. Ia terus berspekulasi dengan pemikirannya sendiri.


Kevin pun keluar meninggalkan sang istri seorang diri, dengan hati-hati ia mencari tahu apa yang membuat dirinya dan sang istri penasaran. Diintipnya ruang rawat Arumi.


Seorang Dokter jaga terus memeriksa kondisi Arumi yang jauh lebih baik. Sekepergian Dokter, Kevin melihat dengan mata kepalanya sendiri Barra naik ke atas ranjang tidur Arumi, setelah memberikan Arumi minum dengan sendok dengan penuh ketelatenan. Ia kemudian memeluk tubuh Arumi dan naik ke atas ranjang tidur Arumi yang sempit itu, kemudian berbaring bersama di ranjang itu dan Arumi membelai mesra kepala Barra agar tertidur di dekatnya.


"Jangan tidur lagi terlalu lama, kamu sudah menyiksa suami mu ini selama sebulan lamanya." Ucap Barra sebelum ia memejamkan matanya. Ucapan Barra ini begitu jelas di telinga Kevin.


"Suami??? Jadi benar mereka ada hubungan? Pantas saja, rasa khawatirnya sangat berlebihan pada Arumi, ternyata Arumi adalah istrinya. Apa dia sudah bisa melupakan perempuan ja.lang itu dan membuka hatinya untuk Arumi?" Gumam Kevin yang berdiri di balik pintu.