
Indri yang baru keluar dari ruang kerja Barra, menatap malas dengan meja kerjanya yang terasa semakin panjang.
"Hal gila macam apa ini. Satu Presdir tapi memiliki empat sekertaris. Hah. Mengundurkan diri tidak boleh, tapi lihatlah rekan kerja ku begitu banyak sekarang. Apa yang bisa aku kerjakan jika mereka yang mengerjakan semuanya nanti?" Gumam Indri yang masih berdiri di muka pintu ruangan kerja Barra, sembari menatap meja kerjanya dan juga rekan kerjanya yang digabung menjadi satu.
Ketidak adaan Adnan di perusahaan Barra, membuat Barra memiliki keputusan untuk menarik seluruh sekretaris yang dimiliki Adnan untuk menjadi sekretarisnya. Hal ini ia putuskan karena melihat kondisi Indri yang tengah hamil muda.
Barra memberikan pengertian kepada Indri untuk tidak terlalu lelah dan terlalu capek agar tidak terjadi keguguran kembali. Namun Indri lebih memilih untuk mengundurkan diri saja, saat Barra mengatakan demikian.
Tapi sayangnya Barra tidak mengizinkan Indri untuk mengundurkan diri dari perusahaannya. Selagi Kevin masih bekerja dengannya, selama itu pula Indri tak boleh mengundurkan diri, terangnya.
Sebenarnya mempertahankan Indri bukanlah kemauannya, tapi kemauan dari kedua orang tuanya yang terlanjur menyayangi Indri. Indri memang tidak jadi menikah dengan Barra. Karena Barra menolak mentah-mentah Indri untuk menjadi istrinya namun Mommy Barra terlanjur menyayangi Indri. Hingga ia tak ingin jauh dari Indri.
Dengan langkah malas dan gontai, Indri berjalan menuju kursi kerjanya. Tak ada senyum yang Indri berikan baik untuk Zeline ataupun Karin. Ia memasang wajah mode jutek pada kedua rekannya itu.
Zeline yang tahu sifat asli Indri terlihat santai mendapatkan sikap jutek dari Indri, namun berbeda dengan Karin. Ia merasa sedikit tertekan bekerja bersama dengan Indri, senior sekretaris yang sudah tak bersahabat sejak awal dengannya ini.
Kini Indri terlihat sibuk memilah berkas-berkas yang ada di meja kerjanya, sedangkan Karin dan juga Zeline, tidak melakukan apa-apa selain duduk diam dan memegangi sebuah pena di tangannya masing-masing.
"Mbak Indri ada yang bisa saya bantu dan kerjakan?" Tanya Karin pada Indri yang tak sedikitpun berniat menanggapi pertanyaan dari Karin.
Merasa diacuhkan, Karin pun memilih diam seperti yang dilakukan Zeline sadari awal. Tiga puluh menit waktu yang cukup lama bagi seseorang yang dibuat sengaja menunggu tanpa diajak bicara ataupun diberikan pekerjaan. Dapat dibayangkan betapa jenuhnya menunggu tanpa melakukan sesuatu apapun, Zeline saja sampai terkantuk-kantuk dibuatnya.
Indri yang sudah melihat kedua rekan kerjanya menopang dagu dengan mata yang sudah lima watt, langsung saja membanting berkas-berkas di atas meja mereka.
Brukk!
Brukk!
"Astaga!! Ya Allah!!" Ucap Zeline yang terkejut, begitu pula dengan Karin yang menarik nafasnya dalam-dalam.
"Pelajari file-file ini selama satu minggu, kalau sudah beritahu aku! Karena masih banyak file yang harus kalian pelajari." Perintah Indri dengan wajah datar dan dinginnya, tak ada senyum sama sekali di wajah cantik ibu hamil ini.
Indri bersikap sangat tidak bersahabat dalam menerima rekan kerja barunya kali ini, berbeda saat ia menerima Arumi sebagai rekan kerjanya kala itu.
"I-iya Mbak Indri." Jawab Karin tergagap. Hilang sudah rasa kantuknya saat ini.
Usai memberikan tugas pada Zeline dan Karin, Indri melenggang pergi dari meja kerjanya, tanpa meninggalkan pesan apapun. Jika Karin tidak mengetahui ke mana Indri pergi, berbeda dengan Zeline yang tahu ke mana tujuan Indri melangkahkan kakinya, tentu saja ke ruangan suami tercintanya Kevin.
Sementara itu Arumi yang tidak keluar-keluar dari ruangan Barra, baru saja terbangun dari tidurnya. Ya. Arumi tertidur di sofa panjang yang ada di ruangan kerja Barra. Rupanya istri presiden ini melanjutkan tidurnya yang terjeda pagi tadi.
"Sudah kenyang tidurnya sayang?" tanya Barra dari balik meja kerjanya.
"Heemmm belum Pih." Jawab Arumi sembari merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku karena tertidur di sofa dengan posisi tubuh yang meringkuk.
"Kalau belum kau sudah bangun, kenapa?" Tanya Barra sembari memandang istrinya dengan penuh cinta.
Mendengar jawaban istrinya, Barra segera membawakan sebuah tas kecil yang berisi alat pompa asi milik arumi. Dengan telaten seperti biasanya, Barra selalu membantu Arumi memompa asinya yang berlimpah ruah.
Tentunya bantuan yang Barra berikan tidaklah gratis, ada udang di balik batu dari bantuan yang diberikan oleh Barra. Apalagi kalau bukan meminta jatah wik-wiknya.
"Jangan minta di sini ah...!" Tolak Arumi saat Barra sudah mulai menciumi bagian dada Arumi yang sudah selesai di pompa.
"Gak kok cium doang," jawab Barra berdalih.
"Ishhh.... Geli, katanya cium doang tapi kok ughhh..." Arumi berusaha menjauhkan kepala Barra dengan mendorongnya.
"Jilat dikit doang Mih," lagi-lagi Barra berdalih.
Mata Barra terus terfokus pada alat pompa Asi elektrik yang hampir selesai memerah Asi sang istri, karena lampu indikator pada alat pompa Asi milik Arumi yang super canggih ini sudah mulai meredup yang artinya Asi arumi sudah tidak lagi mengalir.
"Mih, udah selesai tuh." Ucap Barra dengan gerakan cepat, ia membantu Arumi melepaskan alat pompa Asi itu dari benda kenyal yang sejak tadi menguji kesabarannya.
"Pih. Tolong taroin di kulkas dulu dong, Asi Mami. Mami mau bersihin ini dulu." Ucap Arumi sembari menunjukkan bagian dadanya yang ingin ia bersihkan dengan tisu.
Dengan sigap dan cepat, Barra meletakkan jatah asi untuk putra tercintanya dirumah. Setelah meletakkan stok Asi yag baru diperah ke dalam kulkas. Barra segera kembali demgan cepat ke sofa dimana Arumi masih sibuk membersihkan bagian dadanya.
"Udah Mih, udah bersih banget itu. Eh... Tapi itu... ada apa mih kok merah kaya kebelah gitu." Tunjuk Barra pada put!ng Arumi yang sedang Arumi bersihkan.
"Mana Pih, gak ada ah." Balas Arumi yang sama sekali tak melihat dengan apa yang ditunjukkan Barra padanya.
"Itu Mih, masa gak liat sih." Tunjuk Barra pada tempat yang sama. Namun memag sebenarnya tidak ada apa-apa. Ini hanya akal-akalan Barra saja, untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Mana sih? Gak ada juga."
"Ada. Sini Papi unjukin. Mami nih gimana sih, gak lihat terus." Ucap Barra yang langsung meraih benda kenyal kesukaannya itu, tanpa perlawanan dari Arumi.
Bukannya menunjukkan apa yang ia katakan tadi pada sang istri. Barra malah meraup benda kenyal itu ke dalam mulutnya.
"Papi ahhh.... Modus!" Arumi memukuli pelan punggung Barra.
"Jangan nolak Mih, inget kata Pak Ustadz dosa." Ucap Barra dengan senyum genitnya.
"Iya. Tapi jangan di sini juga." Sahut Arumi yang menatap kesal wajah suaminya.
"Jangan kalah samam Zeline, dia saja sudah merasakan sensasi bercinta di kantor terlebih dahulu masa kita belum." Balas Barra dengan senyum seringai liciknya.
Sedekat apapun wanita, sebaik apapun wanita di perkumpulannya, rasa iri pasti akan selalu ada. Namanya juga wanita.