
Ketiga ibu hamil ini berjalan tergesa-gesa menuju ruangan rawat Abimanyu. Sampai-sampai Mbak Lala yang menggendong Nathan tidak kuat untuk mengikuti langkah ketiga ibu hamil tersebut.
"Haduh, cepat sekali jalannya, Mami mu itu Nathan. Mbak Lala gak kuat. Kita jalan saja ya, tunggu Pak Akri." Keluh Mbak Lala yang merasa keberatan menggendong Nathan yang bobot tubuhnya cukup berat.
Saat ketiga ibu hamil ini ingin menaiki sebuah lift, tanpa diduga mereka kembali bertemu dengan sosok Alex, Dokter tampan yang sedang mengunjungi cabang rumah sakit tempatnya bekerja.
"Kalian?!" Cicit Alex saat melihat ketiga ibu hamil ini berjalan mendekat ke arah pintu lift dimana dirinya dan beberapa tim Dokter juga tengah berdiri menunggu pintu lift terbuka.
Ketiganya cuek tak menanggapi keterkejutan Alex akan kehadiran mereka bertiga di sini. Alex sejenak terdiam memikirkan untuk apa mereka berada di sini, apalagi penampilan raut wajah mereka terlihat begitu khawatir. Alex menduga telah terjadi sesuatu pada anggota keluarga mereka.
Ting!
Suara lift berbunyi. Mereka pun masuk ke dalam lift yang sama. Suatu kebetulan Alex pun menuju lantai yang sama dengan tujuan lantai ketiga ibu hamil ini.
Tepat di lantai dua puluh tujuh, lift pun berhenti. Ketiga ibu hamil ini keluar terlebih dahulu, karena mereka tepat berada di depan para tim Dokter yang bersama dengan Alex.
Saat keluar dari pintu lift, ternyata para suami mereka sudah menunggu di depan pintu. Ketiganya berhamburan ke dalam pelukan para suami-suami mereka.
Alex tersenyum kecut ketika hatinya kembali teriris, melihat betapa menyakitkan, melihat dua wanita yang pernah ada di hatinya. Memeluk pasangan mereka masing-masing dengan penuh cinta.
Ketiga para suami terlihat terkejut dengan kehadiran Alex yang datang bersama dengan para istri mereka. Namun mereka bersikap biasa saja setelah mengetahui jika kedatangan Alex dan istri mereka hanya sebuah kebetulan saja.
POV Alex.
Kak aku sangka, aku kembali melihat kedua wanita yang pernah mengisi relung hatiku. Keduanya terlihat cemas, entah apa yang telah terjadi.
Jujur saja kecemasan mereka membuatku ikut mengkhawatirkan mereka. Sejenak aku berpikir mungkinkah terjadi sesuatu yang buruk terhadap salah satu suami mereka. Mungkin jika itu terjadi Tuhan sedang mengarahkan salah satu diantara mereka untuk menjadi milikku.
Terlalu naif memang. Namun mau bagaimana lagi, Aku masih sangat mencintai mereka, terlebih perasaanku pada Anaya.
Gadis muda yang mampu selalu membuatku merasa cemburu, jika ia sedang bersama suami tercintanya.
Aku sudah berusaha menutup hatiku untuk melupakan tentang kalian, yang pernah membuat hati ini bergetar merasakan cinta. Namun melupakan kalian aku belum menemukan titik sanggup ku.
Maafkan aku yang masih selalu berharap dan masih selalu menginginkan salah satu dari kalian kembali menjadi bagian dari hidupku. Mungkin ini hanya sebuah lelucon dan khayalan belaka. Tapi jujur aku masih selalu memohon pada Tuhan, agar Tuhan berbaik hati memberikan kesempatan untuk menggenggam tangan salah satu di antara kalian di sebagai teman hidupku.
Pov Author.
Sudah puas berpelukan dengan para suami mereka ketiganya lantas menanyakan bagaimana kabar Arabella dan Abimanyu.
"Ibu baik-baik saja, hanya Ayah yang saat ini belum sadar." Jawab Adnan mewakili Barra dan Steve.
Mereka pun kini berjalan bersama menuju ruangan rawat Abimanyu. Dimana Arabella yang kelelahan ternyata sudah tertidur di sebuah ranjang yang memang disiapkan untuk keluarga yang menunggu pasien.
Di tempat yang berbeda tepatnya di kediaman Tati. Sekumpulan polisi datang dengan membawa surat penangkapan untuk Tati yang sedang beristirahat di dalam kamarnya.
Septi yang kebetulan membukakan pintu untuk para polisi yang datang bertamu, terlihat begitu terkejut.
"Selamat siang Mbak, Apa benar ini kediaman dari Nyonya Tati Hartati?" Tanya salah satu polisi pada Septi.
Alih-alih menjawab pertanyaan dari Septi, polisi tersebut malah kembali menanyakan tentang Tati.
"Apa Nyonya Tati Hartati-nya ada di dalam? Bisa kami bertemu dengan Nyonya Tati?" Tanya polisi itu kembali.
"Ada, tapi Mommy sedang istirahat Pak,"
"Tolong bisa dipanggilkan Mba! Kami ada keperluan sangat penting dengan Nyonya Tati." Pintar salah satu polisi tersebut.
Septi pun masuk ke dalam menemui Bowo yang tengah duduk di ruang televisi bersama dengan Riski.
"Mas, ada polisi di depan cari mommy,"
"Panggilkan saja Mommy di kamarnya!" Sahut Bowo yang terlihat tak perduli dengan polisi yang datang mencari mommy nya.
Septi kemudian masuk ke dalam kamar pribadi mertuanya membangunkan mertuanya yang tengah tertidur.
"Mommy maaf, Septi lancang membangunkan Mommy, karena ada tamu yang mencari Mommy di depan." Ucap Septi yang tak enak hati telah membangunkan Ibu mertuanya.
"Siapa?" Tanya tadi yang sudah bangun dengan menampilkan mata merahnya, bertanda jika tidur nyenyaknya benar-benar terganggu.
"Beberapa polisi Mom," jawab Septi santai.
Jawaban santai safety ini berhasil membuat kedua manik mata Tati membulat sempurna.
"Si4lan, bagaimana bisa apa yang aku lakukan tadi pagi dengan secepat ini diketahui. Padahal aku sudah menyewa mobil dengan tanda pengenal palsu segala, agar tidak diketahui." Batin Tati.
Dengan berani dan tidak merasa bersalah sedikitpun, Tati menemui para polisi yang berdiri di depan rumahnya.
"Selamat sore Nyonya Tati, kedatangan kami kemarin untuk memberikan surat penangkapan atas nama Nyonya Tati Hartati yang telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Tuan Abimanyu dan juga Nyonya Arabella." Ucap Polisi tersebut sembari memberikan surat penangkapan tersebut pada Tati.
Tati membaca isi surat tersebut dan tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun. Kendati demikian sikap Tati cukup kooperatif, ia mempersilahkan pihak berwajib yang menyambangi rumahnya untuk membawa dirinya ke kantor polisi. Baginya tak mengapa ia dipenjara asalkan Abimanyu dan Arabella telah enyah dari muka bumi ini.
Tepat saat Tati ingin dibawa ke kantor polisi, Pinkan datang. Ia tak berani menampakkan batang hidungnya di hadapan para polisi tersebut.
Pinkan menyangka, Tati ditangkap karena ketahuan telah membantu dirinya menghabisi Ingo.
"Si4lan, Tante di tangkap. Apa yang harus aku lakukan, sebaiknya aku kabur, sebelum aku ikut-ikutan di tangkap. Aku tidak mau hidup mendekam dan membusuk di dalam penjara." Ucap Pinkan.
Seluruh warga sekitar menyaksikan bagaimana Tati di bawa masuk ke dalam mobil polisi, sebagai seorang tersangka.
Tati langsung menjadi buah bibir dan tranding topik pembicaraan di lingkungan perkampungan tersebut.
Sedangkan Bowo, putra semata wang Tati hanya menatap datar kepergian ibunya yang dibawa oleh pihak berwajib.
"Mas, bagaimana ini? Mommy di tangkap?" Tanya Septi pada Bowo yang diam saja, seolah tak perduli dengan apa yang menimpa sang Ibu.
"Memangnya menurut mu aku harus bagaimana? Sudah ikuti saja prosesnya. Lagi pula ini adalah buah apa yang ia tanam selama ini. Jika kamu masih mengikutinya, silahkan saja. Pasti sebentar lagi kamu akan menyusul Mommy mendekam dipenjara." Jawab Bowo yang kali ini tak irit bicara seperti biasanya.