
"Kak Barra i-itu suami ku..."
Zeline menghentikan ucapannya bukan karena Barra memotong perkataannya, namun karena tak enak untuk menjawabnya.
Apalagi suaminya menatap tajam dirinya, seakan memberi isyarat untuk tidak mengatakan apa yang telah mereka perbuat tadi di kantor.
"Suami mu kenapa Zeline, apa yang dilakukan suamimu?" Tanya Barra yang kini sudah berkacak pinggang ke arah Zeline, sesekali ia melihat ke arah Adnan yang tersenyum kaku pada adik iparnya.
"Jangan katakan jika kalian ketahuan bercinta di kantor dengan Daddy mu, Zeline." Tebak Barra sembari memincingkan matanya.
Zeline hanya bisa diam membisu, tak berani mengiyakan tebakan Barra yang sudah tepat itu. Ia menenundukkan pandangannya, merasa malu dengan apa yang telah dirinya dan Adnan lakukan.
"Hei, Zeline. Kenapa menunduk hah? Apa benar tebakanku, kau ketahuan bercinta dengan suamimu di kantor?" Tanya Barra kembali. Menyudutkan Zeline.
Zeline menghela nafas panjangnya. Ia merasa terus disudutkan oleh pertanyaan Kakak sepupunya. Mau tidak mau dia harus menjawab pertanyaan Kakak sepupunya ini dan mengabaikan larangan suaminya untuk menjawab pertanyaan Barra.
Namun saat ia ingin menjawab tiba-tiba suara tepuk tangan dari seseorang yang baru saja tiba mengalihkan perhatian mereka.
Prok...prok...prok
Ternyata yang datang adalah Tuan Antoni dengan beberapa orang yang sudah siap dengan sebuah tong besar. Tak hanya satu tapi lebih dari tiga tong besar yang ia bawa.
"Kau ada di sini Bar? Om senang sekali bisa bertemu dengan mu di sini." Ucap Antoni saat ia sudah berdiri di depan keponakannya.
"Sayangnya aku tidak senang sekali bertemu dengan Om. Untuk apa Om datang ke sini dengan membawa tong sebesar ini?" Tanya Barra sembari menunjuk beberapa tong yang Tuan Antoni bawa.
"Meminta ikan pada besan Om, apalagi-lah." Jawab Tuan Antoni berhasil membuat kedua bola mata Barra hampir keluar dari cangkangnya.
"Apa minta ikan pada besan Om? Apa Om tidak lihat Empang milik mertuaku sudah rata dengan tanah?" Tanya Barra sembari menunjuk empang-empang milik mertuanya yang memang sudah rata dengan tanah.
"Ini masih ada, hanya beberapa saja yang sudah tidak ada masih ada delapan kolam lagi bukan?" Balas Tuan Antoni sembari menunjuk beberapa empang yang ada di dekat dirinya.
"Iya memang masih tersisa, tapi ini bukan Empang milik mertuaku Om, ini Empang milikku. Om tidak bisa meminta dan mengambil ikan-ikan ku sesuka hati." Sahut Barra berusaha menahan rasa kesalnya.
Tuan Antoni mengerutkan dahinya. Ia tak tahu jika Empang yang tersisa itu adalah milik keponakannya, Barra.
"Jadi?" Tanya Tuan Antoni pada Barra.
"Jadi Om harus membelinya, tidak ada yang gratis. Dan tangkap sendiri. Aku tidak ada waktu untuk menangkapnya." Jawab Barra kesal. Kemudian pergi dengan menarik lengan istrinya.
Tuan Antoni sedikit menarik senyum tipisnya. Melihat emosi Barra yang tak pernah ia lihat ataupun dapati sebelumnya.
Baginya Barra sudah berubah, entah dapat bisikan dari mana ia berani berkata demikian dengam Omnya yang selalu tampil menyerankan dan menakutkan itu.
"Daddy, turunlah bantu aku menangkap rakyat-rakyat Barra ini! Hiraukan saja sikapnya. Maklum bawaan bayi." Panggil Adnan yang rupanya mengajak Ayah mertuanya itu untuk bergabung bersamanya menangkap ikan di dalam empang dengan sebuah jaring.
Antoni mengangguk dan tersenyum pada menantunya. Kemudian ia mulai melepaskan sepatu mewahnya yang berharga puluhan juta. Ia juga melepaskan jas kerjanya yang ia berikan pada sang putri, Zeline.
Zeline terperangah melihat Daddy-nya mau berkotor-kotoran menangkap ikan bersama suaminya di dalam empang.
Zeline mengulas senyum bahagia, melihat Daddy-nya yang kaku dan tak pernah ada waktu untuknya selama ini telah berubah.
Di sisi lain. Barra yang dalam perjalanan kembali ke apartemen terus saja mengoceh tak ada habisnya, hingga Arumi bosan dan memilih untuk tidur. Arumi menganggap ocehan suaminya itu adalah lagu Nina Bobo, lagu pengantar tidur untuk dirinya.
"Mami ya ampun, malah tidur. Aku ngomong nggak didengerin. Kamu anggap aku sedang mendongeng ya?" Omel Barra pada istrinya, hingga Arumi terbangun karena terkejut.
"Kamu kenapa sih, ngomel-ngomel terus? Aku bosen dengar omelan kamu." Balas Arumi dengan nada bicara sedikit tinggi, yang membuat dirinya sedikit pusing karena di bangunkan Barra dengan cara di guncangkan sekuat tenaga.
"Kamu bosen, sama aku oke Fine, Mami," sahut Barra yang mulai dengan ke sensitifnya. Barra kemudian bungkam diam seribu bahasa sepanjang perjalanan menuju apartemen mereka.
Sesampainya di apartemen, Barra langsung saja turun dari mobil tanpa menunggu Arumi turun seperti biasanya. Sikapnya mulai seperti dahulu dingin dan menyebalkan.
Saat berjalan menuju unit apartemennya. Barra tidak berjalan di samping Arumi ataupun berjalan di belakang Arumi. Ia berjalan di depan Arumi tanpa ingin menunggu Arumi sedikitpun.
Beberapa kali Arumi memanggil Barra, agar berjalan sekit melambat, agar ia tak kelelahan menyeimbangkan langkahnya. Namun Barra yang dalam mode merajuk terus saja mengabaikannya.
Barra lebih dahulu sampai di unit apartemen. Kedatangannya di sambut dengan kehadiran Nathan yang baru saja di pulangkan oleh ibu mertuanya, dalam kondisi yang terlihat sangat segar, karena baru selesai mandi. Barra sejenak main bersama dengan putranya. Sembari menunggu Arumi sampai ke unit apartemen mereka.
Namun sudah lebih dari tiga puluh menit menit, Arumi tidak juga sampai ke unit apartemen mereka. Barra terlihat khawatir dan cemas. Ia mulai merutuki dirinya sendiri yang sudah merajuk pada istrinya.
Sembari menggendong Nathan, Barra menghampiri Bi Ipah yang sedang sibuk di dapur. Ya Bi Ipah sedang sibuk menghangatkan makanan untuk kedua majikannya.
"Bi, bisa tolong bantu saya jaga Nathan dulu. Arumi belum juga sampai, saya mau cek ke bawah." Ucap Barra sembari memberikan Nathan pada Bi Ipah.
"Baik Tuan." Jawab Bi Ipah yang sudah menggendong Nathan yang mulai menangis karena di tinggal Papinya.
Dengan langkah cepat Barra kembali turun ke lantai dasar. Hatinya tiba-tiba merasa resah. Dan benar saja sesampainya di lantai dasar. Sudah ada beberapa orang berkerumun, mengerubungi dua wanita yang tengah berdebat.
Barra mempercepat langkah kakinya menghampiri orang yang berkerumun itu. Betapa terkejutnya Barra. Melihat Arumi tengah beradu mulut dengan Septi. Dengan pakaian yang sudah cukup berantakan.
"Mami, hai... Apa yang terjadi hah?" Tanya Barra yang langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Dan melirik tajam lawan debat istrinya yang ternyata adalah Septi.
Ya. Arumi tengah berdebat dengan mantan kakak iparnya yang sudah membuat hubungan keluarganya retak selama beberapa tahun ini.
Mendapati lirikan tajam dari Barra, Septi tak menyurutkan dirinya untuk terus menjatuhkan Arumi, yang sudah menjadi sosok wanita yang ia benci.