My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season2 Arabella mencari Adnan



Entah sudah berapa ronde Adnan dan Zeline menghabiskan sesi waktu bercinta mereka malam ini. Yang pasti tepat pukul satu dini hari mereka sudah terlelap dalam satu selimut bersama. Dan tiba pada waktu 04.30 dini hari. Dimana Arabella selalu membangunkan seluruh anak dan menantu tanpa terkecuali.


Di kediaman Abimanyu pun akhirnya terjadi kehebohan dengan ketidak adaan Adnan di kamarnya.


Bukannya teriak memanggil sang suami, Arabella malah teriak memanggil Barra, menantunya yag ia anggap sebagai biang keladi tak adanya sosok Adnan di kamarnya. Suara teriakan Arabella sontak membangunkan Nathan yang masih terlelap dalam tidur indahnya.


"BARRAAAAAAA!!!" Pekik Arabella dengan suara menggelegar, mungkin kondisi seisi rumah bergetar karena suaranya teriakan Arabella saat ini.


"Ooooooeeekkk.... Oekk," suara tangis Nathan yang menyahuti pekikan suara neneknya.


Barra dan Arumi yang sudah terbangun pun bertanya-tanya kenapa Arabella memanggil Barra dengan suara yang begitu keras hingga membuat Nathan terbangun. Jika bukan sesuatu hal yang penting dan genting tidak mungkin Arabella berbuat onar di pagi hari buta seperti ini.


"Susui putra kita, aku keluar lihat ibu lebih dulu ya!" Ucap Barra sembari menepuk-nepuk bahu Arumi dengan lembut.


"Iya Pih, Mami akan susui Nathan hingga ia tertidur kembali." jawab Arumi.


Barra segera turun dari ranjang tidurnya, ia segera mengenakan baju, ia tidur dalam keadaan telanjang dada, karena tidak menggunakan pendingin udara di kediaman Arumi hingga membuatnya terbiasa tertidur tanpa mengenakan baju, meski baling-baling kipas di atas langit-langit kamarnya berputar sepanjang malam.


Barra pun keluar dan menghampiri Arabella yang terduduk lemas di ranjang tidur Adnan, ibu tiga anak ini terlihat khawatir pada putra sulungnya yang harusnya sudah tak pantas lagi untuk dikhawatirkan karena usianya yang sudah sangat dewasa. Sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Bahkan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.


Terlihat sekali oleh mata kepala Barra jika Anaya dan Abimanyu sudah berdiri di depan Arabella. Mereka pun tengah menatap bingung dengan penyebab mengapa Arabella berteriak memanggil Barra, tanpa menyadari tidak adanya Adnan di kamarnya sendiri.


Saat Barra masuk sudah berdiri di ambang pintu kamar itu, ia dapati tatapan kemarahan dari sang ibu mertua.


"Ada apa Bu? Kenapa melihat ku seperti itu?" Tanya Barra yang semakin mengikis jarak dengan ibu mertuanya.


"Kamu beri tugas apa Kakak mu hingga tidak pulang ke rumah? Kamu tahu kan hari ini pernikahan adik ipar mu?" Tanya Arabella dengan gerakan jarinya yang dengan cepat mencapit hidung mancung Barra, yang selalu mendapatkan bulan-bulanan dari ibu mertuanya.


"Aku tidak beri tugas apa-apa padanya Bu. Ibu tahu sendiri setiap hari yang aku hadapi istri, anakku dan para rakyat-rakyat ku. Tidak ada yang lain. Aku tidak pernah mencampuri urusan kantor." Jawab Barra dengan jujur sembari memegangi hidungnya yang nampak bergaris merah, saking kencangnya Arabella mencapit hidung Barra.


"Aishhh... Tidak mungkin kamu tidak tahu kegiatan apa yang dilakukan Kakakmu di perusahaan mu itu kemarin, Barra. Ibu sangat mengenal kalian berdua. Adnan selalu menceritakan apapun pada mu. Bahkan celana jeroan salah satu sekertarisnya yang bergambar Dora saja jadi bahan candaan kalian." Ucap Arabella yang tak percaya dengan jawabn Barra. Ia terlihat bertambah geram dengan menantu kesayangannya itu.


"Ohhhh kegiatan Kak Adnan kemarin itu Bu, owh tidak___" Timpal Barra yang seketika terdiam dan malah memerintah Anaya untuk mengambil ponselnya di kamarnya.


"Nay, ambil ponsel kakak di kamar sekarang!" Perintah Barra pada adik iparnya, Anaya segera mengambil ponsel Barra dengan mempercepat langkahnya dengan berlari kecil.


"Hubungi dia saja Bu? Tanyakan langsung padanya dia ada dimana? Aku takut jawabku akan menjadi fitnah dan praduga tak bersalah." Saran Barra yang membuat semua orang menyernyitkan kedua alis mereka. Tentu saja mereka bertingkah demikian, karena mereka sama sekali tak mengerti dengan arah pembicaraan Barra.


Cukup lama nada dering tersambung namun tak diangkat oleh Adnan. Tak cukup satu kali Arabella menghubungi putranya yang tengah terlelap sambil memeluk tubuh Zeline.


"Arghh... siapa yang menghubungi ku malam-malam begini?" Gerutu Adnan yang belum menyadari jika sekarang sudah pagi, tepatnya pagi-pagi buta. Adnan segera meraih ponsel yang ada di atas nakas.


"Barra," cicit Adnan dengan wajah kesal saat melihat nama Barra tertera di layar panggilan ponselnya.


Ia pun segera mengangkat panggilan Barra dengan menggeser tanda hijau di layar ponselnya.


"Hei, kenapa menghubungi ku malam-malam seperti ini? Apa kau kurang kerjaan atau kurang teman? Pergilah ronda dan bermainlah engkle dengan para Bapak-bapak setengah abad yang kau racuni dengan rokok gratis mu itu. Aku jamin mereka akan encok semua dan bersiaplah di serang barisan manusia terkuat di bumi ini karena membuat pinggang dan kaki Arjuna mereka cidera. Hahahaha..." Sapa Adnan panjang kali lebar kali tinggi.


Adnan tengah tak sadar jika dirinya dalam masalah besar dan masih sempat-sempatnya tertawa dan meledek Barra. Ia juga tak menyadari jika suaranya tengah di dengar seluruh anggota keluarganya. Arumi dan Abimanyu terlihat menggelengkan kepalanya Mendengarkan ocehan absurd sang kakak pada Barra.


"Beginikah pergaulan mu sekarang dengan Kak Adnan? Kenapa aku merasa kalian seperti kembar tak beres." Gumam Arumi di dalam hatinya sembari menatap Barra yang berjongkok di depan Arabella.


Sedangkan Arabella terlihat menarik nafas panjangnya sebelum kembali berbicara dengan putra sulungnya dengan suara yang kembali mengusik gendang telinga keluarganya.


"ADNAN DIMANA KAMU HAH? BAGUS YA! BERANI-BERANINYA KAMU TIDAK PULANG KE RUMAH. APA KAMU TIDAK TAHU JALAN PULANG? SUDAH LUPA INGATAN RUPANYA KAMU HAH? Omel Arabella dengan suara yang kembali menggelegar. Kali ini suara pekikan Arabella tak lagi mengusik tidur Nathan, karena Arumi sudah menggunakan bandana peredam suara.


"I-ibu. Aa-ku----" Panggil Adnan tergagap. Kesadaran dan matanya sekarang benar-benar on seratus persen, tak berani lagi ia hicara sembarangan ketika menyadari lawan bicaranya bukanlah Barra, melainkan Arabella


"IYA INI IBU. APA KAU TERKEJUT? APA KAU SEKARANG SUDAH KENA SERANGAN JANTUNG ANAK NAKAL? SEKARANG KATAKAN PADA IBU! KAMU ADA DIMANA? JAWAB DENGAN JUJUR ATAU IBU CINCANG KAMU HIDUP-HIDUP!!" Pekik Arabella yang masih tak bisa mengontrol emosinya.


Arabella begitu mengkhawatirkan Adnan, hingga ia tak sadar memperlakukan putranya yang sudah dewasa itu seperti anak kecil.


"Adnan ada di hotel Bu, Adnan kecapean dan kekenyangan semalam Bu. Ibu tahu sendiri bukan, jika Adnan selalu ngantuk, ketika perutku ini terasa kekenyangan. Bukankah sangat bahaya jika Adnan menyetir dalam keadaan mengantuk?" Jawab Adnan yang berhasil membuat Arabella tenang seketika itu juga.


Namun membuat Zeline yang juga ikut terbangun, namun masih pura-pura tidur dan mengintip tersenyum geli melihat ekspresi Adnan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Ternyata kelemahan mu ada di Ibu mu, Pak Duda hehehe..." Gumam Zeline di dalam hatinya.