My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Formasi lengkap



"Apa kau sudah membaca isi surat perjanjian yang kau tanda tangani itu dengan baik Adnan?" tanya Tuan Antoni yang kini duduk di ruang keluarga mention barunya.


"Sudah Dad," jawab Adnan singkat dengan suaranya yang tegas.


"Apa ada yang ingin kau katakan mengenai surat perjanjian itu? Apa ada isi surat itu yang membuatmu keberatan, Adnan?" Tanya Tuan Antoni. Ia terus menatap wajah Adnan yang terlihat tegang saat bicara dengannya.


"Tidak ada yang membuat saya keberatan dengan isi surat itu Dad. Saya menikahi Zeline bukan karena harta yang Daddy miliki. Saya menikahi Zeline sebagai bentuk tanggung jawab saya yang telah berbuat salah pada Zeline." Jawab Adnan. Ia menjelaskan niatnya menikahi Zeline dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa.


Jujur saja, di dalam ruangan keluarga ini Adnan berbicara hanya berdua dengan Tuan Antoni tapi Tuan Antoni tidak sendirian. Di atas pangkuannya ada seekor harimau besar yang tengah menjadikan paha Tuan Antoni sebagai tumpuan kepala hewan buas itu, dan tangan Tuan Antoni tak berhenti mengusap-usap kepala hewan buas itu yang matanya tengah terpejam, namun saat Adnan bicara mata hewan buas itu terbuka, seakan ikut mendengarkan.


"Owhh... bagus kalau begitu. Saya menunggu pembuktian dari setiap ucapanmu itu Adnan. Sekarang kau boleh pergi dan bawalah Zeline bersama mu. Dan ingat Adnan, pastikan tak ada satu pun yang boleh tahu tentang pernikahan kalian selain tamu undangan dan sanak-saudaramu." Ucap Tuan Antoni yang membuat sang peliharaan membuka mulutnya. Seakan ingin menunjukkan taring tajamnya pada Adnan.


"Baik Dad, aku paham." Jawab Adnan yang menundukkan tubuhnya berpamitan pada Tuan Antoni. Ia enggan menghampiri ayah mertuanya yang sedang bersama hewan buas kesayangannya itu.


Di ruang tamu, Zeline tengah menunggu Adnan dengan sebuah koper besar di hadapannya.


"Kau bawa apa dengan koper sebesar itu? Apa kau bawa baju kekurangan bahan mu di sana? Jika iya, tinggalkan saja. Kau akan tinggal bersama ku diperkampungan bukan di perumahan ataupun apartemen mewah." Tanya Adnan dengan wajah juteknya. Sikapnya belum berubah sama sekali pada Zeline, meski mereka sudah menikah.


"Tidak Pak, saya hanya bawa barang-barang penting dan beberapa baju saja." Jawab Zeline sembari menundukan kepalanya.


Keduanya pun pergi meninggalkan mansion Tuan Antoni dengan mobil milik Adnan. Sesampainya di kediaman Abimanyu. Dikala semua orang berada di tempat pesta pernikahan Anaya dan Steve. Zeline malah disibukkan dengam merapikan barang-barang bawaannya seorang diri. Ya. Dia ditinggal Adnan seorang diri di rumah untuk merapikan barang-barangnya. Sang suami yang baru menikahinya malah pergi meninggalkannya untuk bergabung di tempat pesta pernikahan sang adik.


Ceklek... oekk... oekkk...[Suara pintu terbuka diiringi suara tangis seorang bayi].


Arumi pulang karena Nathan mengantuk dan lapar, ia minta jatah asinya sampai menangis dan mengamuk.


Saat mendengar suara orang masuk ke dalam rumah dan tangis bayi yang ia yakini adalah Arumi. Zeline segera keluar dari kamar Adnan, meski ia belum selesai merapikan barang-barangnya.


"Arumi." Panggil Zeline yang mengenali Arumi.


"Zeline," sahut Arumi yang sama-sama memanggil Zeline.


Zeline memghampiri Arumi, ingin ia memeluk Arumi namun Nathan sudah ngamuk, menangis hingga seluruh wajahnya memerah.


"Zeline, Sorry aku tidak bisa memeluk mu. Ikutlah ke kamarku, ceritakan pada ku bagaimana bisa kau menikah dengan kakakku?" Ucap Arumi yang mengajak Zeline masuk ke dalam kamarnya.


Kini keduanya berada di atas ranjang Arumi, berbaring bersama seperti zaman kuliah dulu, hanya bedanya saat ini Arumi berbaring sembari mengeluarkan pabrik susunya. Ya. Zeline adalah teman baik Arumi saat kuliah dulu. Ia tak menyangka, teman baiknya kini menjadi kakak iparnya.


Baik Zeline dan Arumi sama-sama menatap Nathan yang begitu bersemangat menyedot asi dari sumbernya. Bayi yang lima menit lalu menangis sekencang-kecangnya ini, sekarang begitu tenang dalam tidurnya.


"Dia haus dan lapar sekali ya ternyata." Ucap Zeline sembari mengelus pipi Nathan yang begitu lembut.


"Iya, dia kalau haus dan lapar, seperti orang yang digebukin warga. Meraung-raung bikin heboh." Jawab Arumi yang mulai menyimpan pabrik susunya yang sudah di lepas Nathan.


Melihat kondisi Nathan sudah kondusif, Zeline pun mulai buka suara.


"Arumi, aku sudah lama mencari keberadaanmu. Kenapa kamu menghilang seperti ditelan bumi hah? Saat aku kembali ke kota ini orang yang pertama aku cari adalah dirimu. Tapi kau sangat sulit sekali di temukan. Kau tahu saat aku dapat informasi kau bekerja di perusahaan sepupuku. Aku langsung melamar di sana. Dengan bantuan Kevin aku bisa masuk ke perusahaan itu. Tapi sayangnya saat aku bekerja di sana kau tak ada dan malah ku dengar kau sudah menikah dengan sepupuku. Jujur aku tak percaya. Pasalnya aku tahu betul Kakak sepupu ku itu cinta mati dengan mantan kekasihnya." Ucap Zeline panjang lebar.


"Kau tahu Zeline, aku sangat terkejut mengetahui suamiku adalah kakak sepupu mu dan aku juga terkejut mengetahui Kak Adnan berjodoh dengan mu. Aku menikah dengan sepupu mu karena kepergok tinggal bersamanya. Ah jika aku ceritakan tak cukup satu hari satu malam untuk menceritakan kisah perjalanan cintaku dengan sepupu mu itu." Sahut Arumi yang enggan menceritakan masa lalunya yang terlalu kelam.


"Hahahaha..." keduanya kemudian tertawa, menertawai keterkejutan mereka masing-masing.


"Sempit sekali dunia ini." Seloroh Zeline yang diangguki oleh Zeline.


"Ya, kau betul Zeline. Tapi setidaknya saat ini aku merasa bersyukur, karena sekarang aku memiliki teman ngobrol di rumah ini. Adikku Anaya sibuk dengan dunianya sendiri. Ibuku, lebih dekat demgan suamiku daripada diriku. Kami jarang mengobrol."


"Ah benarkah Kak Barra bisa dekat dengan ibu mu?" Tanya Zeline tak percaya.


"Kau lihat saja besok Zeline."


Waktu pun berlalu dengan cepat, acara pernikahan Steve dan Anaya telah selesai di gelar. Seluruh anggota keluarga Abimanyu telah pulang ke rumah. Hari ini rumah kecil Abimanyu terlihat sangat ramai dengan bertambahnya dua anggota keluarga sekaligus.


Saat makan malam, meja makan terasa sangat penuh dengan formasi lengkap. Meskipun lelah, Arabella masih menyempatkan diri untuk memasak. Meski lauk pauknya sangat-sangat sederhana. Sangat berbanding terbalik dengan makanan mewah yang sangat laris manis di acara pernikahan Anaya dan Steve. Ya lauk makan malam mereka adalah oseng teri medan dengan cabai hijau, sambal dan tempe goreng.


Zeline menatap aneh dengan Barra dan Steve yang terlihat santai dan begitu lahap menyantap menu masakan sang ibu mertua.


"Pasti kamu gak suka kan? Bukan level kamu makan lauk seperti ini kan?" Cerca Adnan yang melirik tajam wajah sang istri yang duduk di sampingnya.


"Kata siapa? Saya doyan kok menu masakan seperti ini, karena waktu kuliah Arumi selalu memasakkan saya dengan menu favorit saya ini. Saya hanya heran dengan Kak Barra dan Steve bisa makan menu masakan yang seperti ini." Jawab Zeline yang sudah mendapat tatapan tajam dari Ibu mertuanya.


"Zeline, Adnan. Kalian tahu peraturan ibu?" Tanya Arabella dengan tatapan tajam dan kepalanya yang seakan sudah mengeluarkan tanduknya.


"Makan tidak boleh bicara dan bersuara Bu." Jawab Adnan yang langsung di tanggapi Barra dan Steve dengan kompak. "Betul itu!"


"Steve Barra, siapa suruh kalian bersuara?"


"Kak Adnan bu," jawab keduanya dengan kompak.


"Apa kalian bilang? Aku tak menyuruh kalian. Kalian jangan mengarah bebas ya!" Geram Steve yang menatap tajam kedua adik iparnya.


"ADNAN!!" pekik Arabella.


Hanya demgam memangil nama putranya. Mau tak mau putranya harus diam dan melahap makan malamnya dengan rasa dongkol.


"Papi selalu mulai deh," tegur Arumi hampir tak bersuara.


"Arumi!!" Pekik Arabella lagi yang balik menegur Arumi.


"Diamlah Kak! Disini ini kita anak berasa menantu." Cetus Anaya menyindir Arabella.


"Anaya!" Pekik Arabella lagi.


Hemmmm.... hemmmm... [Anaya merapatkan mulutnya dan menunjukkan pada Arabella].


Zeline terkekeh di dalam hatinya, akhirnya ia merasakan kehangatan yang ia dambakan selama ini dari kedua orang tuanya yang terlalu sibuk dengan bisnis.