My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Ketegasan Adnan



"Tidak ada alasan bagiku untuk menunda membuka tabir kebenaran," balas Adnan dengan wajah datar dan dinginnya.


"Tapi Mas...hiks..." Septi berusaha menyangkal agar Adnan berhenti bicara, ia takut dan khawatir ada orang lain yang akan mendengar apa yang dibicarakan oleh Adnan.


"Tak ada kata tapi, Septi. Sudah cukup kau menyakiti keluargaku. Rizky berhak tahu siapa Ayah biologisnya. Aku tahu kau masih mencoba untuk menemuiku. Entah apa tujuanmu. Jika kau ingin aku bertanggung jawab atas kehidupan Rizki kau salah alamat." Sambung Adnan sembari memberikan tatapan tajam pada Alex.


"Lupakan mimpi-mimpimu untuk menikahi salah satu adikku, selain mereka sudah memiliki keluarga. Kau adalah laki-laki yang tak pantas untuk bersanding dengan salah satu adikku. Tuhan begitu baik tidak membuat salah satu adikku berjodoh dengan pria yang tak bertanggung jawab seperti dirimu." Ucap Adnan pada Alex yang kemudian pergi meninggalkan Alex begitu saja, tanpa menunggu respon ataupun balasan dari kata-katanya yang begitu menyakitkan hati lawan bicaranya.


Usai keluarga Adnan pergi, Alex mengulurkan tangannya pada Septi.


"Bangunlah! Jangan terus bersedih! Semua orang akan pergi, tak akan selamanya terus bersama." Ucap Alex dengan wajah dinginnya.


"Aku bisa sendiri. Kau sebaiknya pergi saja. Aku tak akan memberatkan hidupmu ataupun menjadi beban dalam hidupmu." Ucap Septi dengan air matanya yang terus berlinang.


"Ya, kau memang tak memberatkan hidupku, ataupun menjadi beban di dalam hidupku, tapi kau menjadi beban hidup orang lain, sehingga orang lain yang dibebani olehmu, membenci dirimu sebegitu dalam." Balas Alex.


"Terserah apa katamu, berikan anakku padaku." Ucap Septi yang ingin mengambil putranya di dalam gendongan Alex.


"Dia tak hanya putramu tapi dia juga putraku. Dia akan ikut bersamaku mulai hari ini." Alex berkata sembari menyingkirkan tangan Septi yang ingin mengambil Rizki darinya.


"Kau tak bisa mengambil putraku begitu saja, Alex." Sungut Septi yang masih berusaha ingin mengambil Rizki dari gendongan Alex.


"Tentu saja bisa aku adalah Ayah biologisnya, tak akan aku biarkan putraku hidup dalam kesusahan. Aku sudah tahu kesulitan ekonomi yang keluargamu hadapi, hingga berujung kematian kedua orang tuamu hari ini." Balas Alex yang memilih pergi meninggalkan Septi yang terdiam mematung di sana.


Baru beberapa langkah kaki Alex melangkah. Rasa hati Alex tidak tega meninggalkan Septi sendirian. Alex itu membalikan badannya dan memanggil wanita yang telah melahirkan putranya ke dunia ini.


"Apa kau masih mau di sana, hari semakin gelap cepatlah! Kau tidak memiliki siapapun kecuali kami bukan." Pekik Alex yang menyadarkan Septi dari lamunannya.


Ya. Septi tengah melamunkan nasibnya setelah ini. Keluarga besarnya tidak mungkin akan mengulurkan tangan pada dirinya dan juga putranya. Jika saja keluarga besarnya mengulurkan tangan untuk keluarganya, pastinya kedua orang tua Septi masih hidup hingga saat ini.


Semalam saking depresinya, kedua orang tua Septi nekat mengakhiri hidup mereka dengan meneguk cairan pembersih lantai. Mereka depresi karena terus didatangi oleh pihak bank dan terus menagih hutang tiada henti pada mereka. Mereka sudah mencoba mencari bala bantuan untuk menutupi hutang-hutang mereka, namun tak satupun dari keluarga ataupun kenalan mereka yang mau membantu mereka mengatasi hutang-hutang mereka.


Dengan langkah sempoyongan Septi yang belum makan dari semalam menghampiri tubuh kekar Alex yang tengah menggendong putranya. Sayang saat satu langkah lagi ia mendekat pada Alex dan juga putranya tiba-tiba saja tubuh Septi tumbang.


Melihat song Mommy pingsan, Rizki pun menangis.


"Diamlah Nak, anak laki-laki jangan menangis! Riski bisa jalan sendiri hum?"


Rizky menjawab pertanyaan Alex dengan menganggukkan kepalanya, sembari menangis dengan suara yang tak sekencang pertama kalinya ia melihat sang Mommy terjatuh.


"Good. Kalau Rizki bisa jalan sendiri. Daddy akan gendong Mommy mu ke mobil Daddy. Berjalanlah di belakang Daddy dan perhatiankan langkah kaki mu, ok!" Ucap Alex ketika menurunkan putranya dari gendongannya.


Alex kemudian menggendong Septi dan membawanya menuju mobil. Sesekali ia menengok ke belakang melihat putranya yang berjalan di belakangnya. Butuh perjuangan yang ekstra untuk membawa Septi yang pingsan ke dalam mobil.


Saat sudah berada di dekat mobil. Alex meminta batuan putranya untuk membukakam pintu mobilnya. Rizky yang pintar dan sudah terbiasa dengan kunci mobil pun mengerti perintah yang diberikan Alex.


"Daddy apa Mommy ku akan baik-baik saja?" Tanya Rizky pada Alex yang kini sedang menyalakan mobilnya.


"Rizky percaya Daddy? Daddy ini seorang Dokter, dan Daddy sudah memeriksa keadaan Mommy mu. Mommy mu tidak apa-apa. Dia hanya sedang kelelahan." Jawab Alex yang menstap lengkang wajah sang putra.


Kini Alex merasa sangat bersalah di hatinya. Karena telah menelantarkan putranya selama ini. Dia merasa menjadi manusia paling egois di dunia ini. Di dalam benaknya kini, ia ingin menebus rasa bersalah itu dengan membesarkan Rizki dengan penuh kasih sayang dengan atau tanpa Septi menjadi istrinya kelak.


Alex tak perduli jika kedua orang tuanya akan marah dan menghapus namanya dari daftar keluarga. Karena saat ini putranya sangat membutuhkan dirinya.


Alex membawa Septi dan juga putranya kembali ke apartemennya. Saat sudah sampai di apartemen,Septi belum juga sadarkan diri. Alex meminta Rizky menjaga Septi sebentar, karena ia ingin meninggalkan mereka untuk membeli obat, cairan infus dan juga makanan untuk mereka.


Dengan tergesa-gesa Alex pergi meninggalkan apartemennya, Tak butuh waktu lama untuk membeli semua barang-barang yang ia butuhkan. Alex kembali lagi ke apartemennya.


Hati Alex tersentuh ketika melihat Rizky tertidur saat menjaga Septi yang belum sadarkan diri. Putranya itu tertidur sembari memeluk tubuh Septi yang terbaring lemah.


Segera Alex memasang cairan infusan di tangan Septi.


"Kembalilah pulih dan kembalilah sehat karena putra kita sangat membutuhkanmu." Ucap Alex ketika memasang cairan infusan di tangan Septi.


Sambil menunggu Septi dan juga putranya bangun. Alex menyiapkan hidangan makanan untuk mereka makan bersama nanti.


Satu jam berlalu Septi pun terbangun, ia kembali mengamati sekeliling kamar yang tak asing baginya.


"Aku ada di sini lagi." Cicit Septi saat menyadari dirinya kembali berada di kamar apartemen Alex.


"Kau sudah bangun?" Tanya Alex ketika ia masuk ke dalam kamar.


"Ya, aku sudah bangun. Terima kasih atas bantuanmu." Jawab Septi dengan nada bicara yang lemah.


"Hemmm... Sekarang apa yang kau rasakan. Apa kau pusing?" Tanya Alex seperti seorang dokter pada umumnya, menanyakan kondisi pada pasiennya yang baru saja sadar.


"Tidak aku tidak pusing."


"Tunggu sebentar aku akan mengambil kamu makanan. Aku tahu kau belum makan sejak semalam."ucap Alex yang kemudian kembali keluar dari kamarnya.


"Alex tidak perlu, aku akan makan setelah aku sampai di rumah nanti," Septi yang menolak kebaikan yang diberikan Alex kepadanya.


"Kau tak perlu sungkan dan salah paham. Aku berbuat baik padamu bukan karena aku memiliki rasa padamu. Aku berbuat baik padamu karena kamu adalah ibu dari putraku." Balas Alex ketika langkahnya terhenti di ambang pintu.


Deg! Nyess!


Rasanya kalimat yang didengar Septi dari mulut Alex begitu menyakitkan. Alex dengan terang-terangan mengatakan, jika ia membantunya bukan karena dia ada rasa dengan Septi. Tapi karena Septi adalah ibu dari putranya. Itu artinya Alex tak memiliki rasa apapun terhadap dirinya.