
Pagi hari di kediaman Abimanyu. Semua rencana Tuan Brandon yang masih ingin memisahkan Barra dan Arumi sudah hancur berantakan karena kepergok Arabella, di rumah sakit saat Arumi melahirkan.
Kini keluarga Abimanyu telah berkumpul kembali. Meski status Adnan kini menjadi seorang Duda. Proses perceraian Adnan berjalan dengan lancar, tak terkendala apapun. Adnan membiarkan Septi merasa menang dengan apa yang ia inginkan.
Adnan sama sekali tak memperebutkan hak asuh atas putranya. Entah mengapa hatinya menolak untuk berjuang. Apalagi sejak dulu, Adnan seakan dijauhkan oleh sang putra. Dia hanya di tuntut untuk selalu bekerja dan bekerja saja sepanjang waktu oleh Septi dan juga kedua orang tuanya.
Abimanyu yang sudah menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu, menatapi wajah anggota keluarganya satu persatu dari mulai sang istri hingga ke anak bungsunya Anaya. Pandangannya kembali menatapi sang putra yang begitu lahap memakan sarapannya dengan tingkahnya yang tak bisa berhenti mengusili adik iparnya, Barra.
"Adnan. Berhentilah mengusili Barra. Jangan jatuhkan harga dirinya di depan istrinya!" Tegur Abimanyu pada putranya.
Barra tersenyum senang mendapatkan pembelaan pertama kalinya dari sang ayah mertua.
"Cih, dibelain dikit udah seneng. Jangan gede kepala deh jadi orang." Gumam Anaya yang tak suka melihat Barra tersenyum senang.
Barra yang dan mendengar ucapan tak suka dan juga tatapan yang tak bersahabat dari Anaya pun hanya bisa senyum-senyum saja. Ia memang tak berani membalas semua perlakuan buruk Anaya padanya, tapi ia berani membalas perlakuan buruk Anaya pada Steve, calon suami Anaya yang merupakan asisten sang Daddy.
"Romannya kamu gak suka banget sama kakak iparmu itu humm." Seru Adnan yang duduk di samping sang adik. Ia menyenggol lengan Anaya agar berhenti menatap Barra dengan tatapan yang tak bersahabat itu.
"Banget. Nay gak suka banget sama dia, si manusia nyebelin dan kejam yang pernah Nay lihat." Jawab Anaya yang masih menatap Barra dengan tatapan tak suka, sementara Barra yang di tatap memasang wajah stay cool.
"Heleh, itu dulu bukan sekarang. Sekarang dia itu asyik dan menyenangkan. Berdamailah sama dia kalau Om Steve mu mau aman." Balas Adnan yang membuat Anaya membulatkan matanya.
"Ishh... Kak Adnan dari dulu gak berubah, selalu jadi cowok komersil. Pasti Kakak sudah dibeli dengan uangnya kan? Berapa uang yang sudah dia berikan ke kakak hah? Kalian berdua itu kenapa selalu memusuhi Om Steve. Menyebalkan sekali." Omel Anaya dengan suara yang cukup lantang. Ia langsung saja mendapat tatapan tajam dari Abimanyu dan Arabella.
"Anaya! Jaga bicara mu!" Seru Arabella dengan matanya yang membulat sempurna.
"Tapi Bu, mereka berdua itu selalu membully Om Steve ku."
"Kalau mereka yang membully Steve, memangnya kenapa? Steve kan laki-laki, sudah seharusnya dia melawan untuk membela dirinya sendiri. Kenapa kamu yang jadi repot membela dia?" Balas Arabella yang memang ada di kubu Barra dan Adnan.
"Bu, kok Ibu bicara begitu sih? Ibu seperti sedang membela kelakuan buruk anak dan menantu kesayangan Ibu itu?" Protes Abimanyu pada sang istri.
"Kalau iya, kenapa? Ayah mau marah? Kalian bertiga sudah membodohi kami. Oh tidak bukan hanya kalian bertiga, tapi kalian berempat dengan Steve sudah membodohi kami. Jika saja Barra tidak kesakitan di atas pesawat waktu itu. Mungkin kami saat ini masih berada di negeri orang seperti orang hilang. Mencari-cari orang yang tahu-tahunya sudah kembali diam-diam ke negaranya tanpa memganggap jika dia itu punya seorang ibu yang merindukannya, yang selalu mengkhawatirkan kondisinya setiap malam. Ughhh menyebalkan sekali kalian." Omel Arabella yang membuat Abimanyu, Anaya dan Arumi menunduk merasa bersalah.
"Maafkan aku Bu," ucap Arumi dengan lirih. Barra yang mendengar suara lirih istrinya, segera merangkul dan mengusap-usap punggungnya.
"Sudah sayang, jangan menangis! Ibu tidak marah pada mu, hanya mengungkapkan uneg-uneg yang ia rasakan saja." Ucap Barra pada Arumi yang mulai menitikan air mata penyesalannya.
"Kata siapa ibu tidak marah? Ibu masih marah." Tukas Arabella yang membuat Barra, Adnan dan Abimanyu garuk-garuk kepala seketika itu juga.
Ketiga pria dewasa yang ada di meja makan itu kompak melihat Anaya dengan tatapan penuh arti. Abimanyu meminta Anaya dengan tatapan matanya untuk memohon maaf pada sang Ibu yang masih berusaha menghabiskan sarapannya, meski nafsu makannya sudah hilang entah kemana.
Anaya mau tidak mau menghampiri Arabella. Ia memeluk Arabella dari belakang dan berbisik memohon maaf pada sang ibu. Arabella diam tak bergeming, meski Anaya sudah menciumi pipi Arabella tiada henti.
"Tak segampang itu." Jawab Arabella dengan singkatnya.
Anaya menghela nafas panjangnya, ia tak menyangka jika sang ibu adalah orang yang amat sangat pendendam.
"Nay. Cuci semua piring kotor ini, ibu mau pergi ke tukang sayur. Ibu pulang semua harus sudah rapih." Perintah Arabella yang meninggalkan meja makan begitu saja.
"Arumi, baju kotor Nathan jangan direndam terlalu lama. Nanti anak mu bisa flu." Perintah Arabella saat berjalan melewati Arumi.
"Iya bu, setelah ini Rumi langsung cuci." Jawab Arumi masih dengan suara sedihnya.
"Barra, ibu bosan makan ikan, ibu mau makan daging." Ucap Arabella sembari memegangi bahu Barra.
"Iya bu, aku pun bosan makan ikan terus setiap hari, kali-kali makan daging atau telur lah, biar lidah ini gak monoton terus." Sambar Adnan yang sependapat dengan sang Ibu.
"Cih, gak bersyukur. Kalau gak mau monoton. Jangan makan daging sapi. Makan daging manusia sekalian." Timpal Anaya yang lagi-lagi memancing keributan.
Bagaikan bensin yang di sambar api, Adnan langsung saja menanggapi ocehan adiknya.
"Ide bagus, nanti Kak Adnan dan kamu akan makan daging manusia. Kamu tenang saja Barra akan siap membuat Steve jadi Steve guling. Ya kan Bar? Kita akan test keriuk sama-sama."
"Hahahaha...." tawa Barra dan Adnan bersamaan saat melihat ekpresi kesal Anaya pada mereka berdua.
"Sudah jangan tertawa terus kalian! Barra kamu jangan nangkap ikan hari ini ya?" Pinta Arabella sembari menengadahkan tangannya meminta uang belanja pada menantunya.
Ya, semenjak ia perang dingin dengan suaminya. Arabella meminta uang belanja dari Barra dan juga Adnan. Arabella meminta pada mereka berdua secara bergantian. Padahal Abimanyu sudah memberikan uang belanja pada Arabella seperti biasanya, meletakkannya di dalam laci nakas. Namun Arabella yang masih dalam mode marah tak mau menyentuh uang pemberian dari suaminya.
"Iya bu, Barra tidak akan menangkap ikan hari ini." Balas Barra yang segera berdiri dan mengambil uang di dalam dompet untuk ibu mertuanya belanja.
"Makasih Barra, ibu pergi dulu ya." Seru Arabella ketika sudah mendapati lima lembar uang pecahan seratus ribu dari menantunya. Jumlah uang belanja yang ia dapat dari Barra adalah sepuluh kali lipat yang diberikan Abimanyu pada dirinya. Ya uang belanja sayuran Arabella sehari hanya lima puluh ribu rupiah dari Abimanyu.
Barra hanya mengangguk menanggapi ucapan ibu mertunya yang hanya pamit padanya, tidak pamit dengan ayah mertuanya yang hanya bisa diam mengamati Arabella dari kursi duduknya.
"Adnan ayo antar ibu belanja," pinta Arabella pada putranya.
"Baik bu," jawab Adnan yang segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan menghampiri Arabella sembari melayangkan senyum mengejek pada Anaya dan juga Abimanyu.
"Kakak gak ada akhlak, awas saja. Tunggu pembalasanku." Gerutu Anaya di dalam hatinya, ia tak terima dengan senyum mengejek Adnan yang dilayangkan pada dirinya dan juga Abimanyu.
"Anak sontoloyo, bisa-bisanya berbahagia di atas penderitaan Ayahnya sendiri." Gerutu Abimanyu sembari mengusah dadanya. Ia berusaha bersabar dengan segala konsekuensi yang harus ia terima karena kesalahannya main rahasia-rahasiaan dengan sang istri.