
Setelah melakukan perjalanan panjang Anaya dan Steve akhirnya tiba di Mansion Tuan Brandon di Meadow Lane.
"Ini rumah apa istana?" Tanya Anaya yang terlihat takjub melihat kemewahan mansion Tuan Brandon.
"Mansion," jawab Steve sembari tersenyum pada tunangannya itu.
"Pertanyaannya itu rumah atau istana, bukan mansion Om." Protes Anaya pada Steve yang tak bisa melunturkan senyum di wajahnya.
"Kamu tahu artinya mansion-kan sayang?" Tanya Steve pada Anaya.
"Aku tahunya tempe orek dan jengkol balado, mansion mana ku tahu Om." Jawab Anaya yang membuat Steve memeluk gemas calon istrinya itu.
"Mau aku beritahu?" Tanya Steve saat ia memeluk tubuh Anaya. Ia menatap Ananya dengan tatapan penuh cinta. Tatapan yang membuat hati Anaya luluh.
"Dari pada memberi tahukan tentang hal itu, lebih baik Om beri tahu berapa pin ATM milik Om, di sini aku butuh uang. Tidak mungkin aku minta uang terus sama Kak Arumi, sedang aku punya calon suami." Jawab Anaya yang malah membuat Steve tertawa.
"Ulang tahun mu, semua pin ATM ku adalah ulang tahun mu. Sudah puas Nyonya Steve?" Jawab Steve yang mendapatkan ancungan jempol dari Anaya.
"Bekerjalah lebih keras lagi Pak suami, karena calon istri mu ini hobby shopping dan makan," ucap Anaya yang kemudian mencium pipi Steve.
Apa yang dilakukan Anaya membuat hati Steve berbunga-bunga. Pipi Steve memerah seperti tomat.
"Om, apa kau sedang tersipu malu sekarang? Om senang ya aku cium? Ini baru di pipi loh Om, belum di bibir. Aku yakin Om akan kejang-kejang jika aku cium di bibir hahahaha...." Ledek Anaya sembari menepuk pipi Steve yang bersemu merah.
Ledekan Anaya pada Steve sebenarnya hanya sebuah kamuflase dimana ia sedang menutupi detak jantungnya yang sedang bergemuruh. Anaya melepaskan pelukan Steve, dan berusaha untuk meninggalkan Steve.
Namun Steve tak membiarkan Anaya pergi. Ia menarik tangan Anaya hingga Anaya kembali masuk kedalam pelukannya.
"Katakan pada ku, apa kamu pernah mencium pria lain?" Tanya Steve yang menatap wajah Anaya dengan tatapan yang serius.
"Ishhh.... Jangan bilang kau sedang mencurigaiku. Pegang ini." Jawab Anaya yang menempelkan tangan kanan Steve di dadanya.
Dug..dug..dug [Suara detak jantung Anaya yang begitu bergemuruh].
"Aku deg-degan habis nyium Om tadi. Apa orang yang sering ciuman akan merasakan apa yang aku rasakan seperti ini Om? Sebanyak apapun aku punya mantan, mereka hanya orang-orang pintar yang ku pinta mengajariku pelajaran yang tidak aku mengerti, aku tidak punya cukup uang untuk ikut pelajaran tambahan." Terang Anaya yang berujung meninju perut Steve hingga membuatnya mengerang kesakitan.
"Aaa...sakit sekali. Anaya tega sekali kau..." Rintih Steve sembari memegangi perutnya, tubuh terlihat membungkuk kesakitan.
"Jangan lebay Om, itu baru sikutan kecilku. Makanya jangan berpikir untuk menuduhku macam-macam lagi.
Alih-alih memperhatikan Steve, Anaya malah tetap meninggalkan Steve, ia melenggang masuk mansion mencari keberadaan kakaknya, Arumi. Ia meninggalkan Steve seorang sendiri yang semakin mengerang kesakitan. Tapi itu hanya pura-pura, berharap Anaya akan memperhatikannya.
"Kak Arumi, Kakak bawa apa?" Tanya Anaya saat melihat Kakaknya sedang berjalan membawa segelas susu coklat.
"Bawa secangkir susu," jawab Arumi yang duduk dan segera menengguk susunya.
"Bukan itu, tapi itu," tunjuk Anaya pada perut Arumi yang membuncit.
"Owhh ini. Gendang." Jawab Arumi sembari tertawa.
"Hahaha.... Gendang hasil bercocok tanam ya? Gendang yang gak bisa di tabuh?" Sahut Anaya dengan tawanya.
"Iya, yang semakin lama semakin besar hahaha..." Tambah Arumi yang ikut tertawa.
"Bagaimana keadaan mu sekarang, Kak?" Tanya Anaya yang tiba-tiba menghentikan tawanya begitu saja.
"Baik, dari luar tapi tidak dengan hati mu." Jawab Anaya dengan tebakannya.
"Kemana dulu kamu baru sampai jam segini, harusnya kamu sudah sampai sejak dini hari?" Arumi mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan menanyakan kenapa adiknya baru tiba sekarang.
"Jalan-jalan, menikmati suasana dini hari di negari orang bersama calon suami ku." Jawab Anaya pada Arumi.
"Sombong sekali yang punya calon suami, Anaya apa kamu serius akan menikah dengan asisten Steve? Apa kamu sudah tidak mencintai Alex lagi? Secepat itu kau berubah? Jangan jadikan Steve sebagai pelampiasan dan pelarian mu Nay! Jagan jadi orang jahat dan egois! Kakak tidak suka itu."
"Kakak terlalu banyak memberondong pertanyaan pada ku Kak. Bisakah Kakak bertanya satu-satu dulu. Aku kan jadi bingung jawab yang mana dulu." Protes Anaya yang malah mendapat lirikan tajam dari Arumi.
"Ahhh ... Baiklah. Aku jawab semuanya. Pertama aku sangat serius akan menikah dengan calon suami ku, bagi ku tidak ada pria yang lebih baik dari dirinya. Kedua, aku tidak mencintai lagi teman mu itu yang sudah mematahkan hatiku. Aku bukan seorang pemaksa. Bagiku, ketika aku sudah mengungkapkan perasaan ku padanya yang berujung penolakan, itu adalah akhir dari segala rasaku padanya. Aku bukan wanita pengemis cinta Kak. Ketiga aku tidl secepat itu berubah tiga bulan waktu yang cukup lama untuk ku berpikir dan merubah haluanku pada orang yang terus berjuang mendapatkan perhatian dan cinta ku, dia bukan pelarian ku, dia adalah separuh jiwaku hahaha... Keren kan?" Jawab Anaya yang membuat Arumi terhenyak.
"Keren... Kamu memang selalu keren Nay."
Prok...prok...prok [Arumi bertepuk tangan].
Ia tak menyangka dengan jawaban yang diberikan adiknya. Jika menurut Anaya tiga bulan adalah waktu yang cukup lama, bagaimana dengan dirinya yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk melupakan Alex, bahkan saat berhubungan dengan Bowo pun ia masih terbayang-bayang dengan sosok Alex yang tak bisa ia miliki.
"Kenapa kakak melamun? Apa kakak masih menaruh hati padanya?" Tanya Anaya ketika ia melihat Arumi melamun
"Tidak, sudah tidak ada sisa rasa di hatiku untuknya. Aku hanya kagum dengan mu. Tapi aku juga kesal dengan mu, tega sekali kamu memasukkan suamiku berkali-kali ker rumah sakit. Kamu tidak membuat giginya rontokkan. Kasihan sekali anakku jika melihat Ayahnya giginya raip karena ulah Tantenya." Jawab Arumi yang malah mengomeli Anaya.
Ia memukul bokong Anaya dengan tangannya berkali-kali, sebagai balasan karena telah memukuli suaminya.
"Rasakan ini, ini balasan sudah memukuli suamiku hum. Kamu benar-benar harus diberi pelajaran, dasar adik nakal." Omel Arumi sembari terus memukuli bolong Anaya.
"Aduh kak sakit... Om tolong aku," pekik Anaya saat ia melihat Steve menghampiri dirinya bersama Arumi.
Steve ingin meolong namun ia ragu apalagi Arumi sudah menatap tajam dirinya.
"Asisten Steve juga mau saya pukul?" Tanya Arumi.
Steve segera mengelengkan kepalanya dengan cepat. Perutnya sudah sakit di sikut adiknya, sekarang kakaknya malah menawarkan sesuatu yang menyakitkan bokongnya. Tentu saja ia tidak mau.
"Om, tolong aku!" Pekik Anaya tang masih meminta pertolongan dari Steve.
"Boleh nolak gak sayang?" Sahut Steve dengan ragu dan wajah takutnya.
"Arghhh... Cukup Kak, sakit tahu." Bentak Anaya pada Arumi. Ia kecewa dengan jawaban Steve yang menolak menolongnya.
Arumi diam mematung saat Anaya mulai mengeluarkan taringnya. Ia berjalan menghampiri Steve dan Steve mulai berjalan mundur, ia tahu tunangannya dalam mode bertanduk padanya.
"Ampun pelan-pelan saja ya sayang, besok aku harus kembali lagi ke Indonesia." Ucap Steve yang tahu akan diberikan bogem mentah oleh Anaya.
Steve berjalan mundur hingga terjatuh di sebuah sofa panjang, Anaya melirik kebelakang mencari keberadaan Arumi, ternyata kakaknya itu tak mengikuti dirinya.
"Om, aku ngantuk tapi lapar," ungkap Anaya yang sudah memeluk tubuh Steve. Rupanya dia tadi hanya pura-pura marah agar Arumi berhenti memukulinya.
"Kamu gak marah sama aku?"
"Cuma kecewa ajah sih, marahnya dikit, kalau aku gak kaya tadi pasti Kak Arumi kan tetap pukulin bokong aku terus sampai dia puas," jawab Anaya dengan suara manjanya.