My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Menjaga jarak



"Saya gak berani keruangannya Pak Kevin, Pak. Saya takut sama Bu Indri." Jawab Zeline dengan menundukkan kepalanya.


"Apa takut? Kamu kira Indri itu kuntilanak yang harus kamu takuti hah? Heran saya sama kamu, kamu bisa punya rasa takut sama Indri tapi kamu gak punya rasa takut sedikit pun sama saya. Padahal saya ini atasan kamu!" Adnan bicara dengan nada membentak.


Adnan benar-benar tak percaya, marah dan kesal dengan jawaban yang Zeline berikan padanya. Hanya karena rasa takut Zeline pada Indri membuat Zeline bekerja tidak profesional.


Mendengar bentakan Adnan Zeline terdiam, dia tak berani menatap sosok Adnan yang kini nampak menyeramkan di matanya saat ini. Sedang Adnan yang melihat Zeline hanya terdiam makin bertambah kesal.


"Makanya kamu itu kalau pakai pakaian yang benar, yang sopan. Orang itu akan menilai kamu dari cara berpakaian kamu. Tolong besakan ini perusahaan bukan tenpat hiburan malam. Pantas saja Steve menolak mu menjadi sekertarisnya ternyata kamu itu seperti ini, wanita penggoda. Saya tidak janji setelah tiga bulan nanti akan melanjutkan kontrak kerja mu, karena kamu memang tidak bisa bekerja." Seru Adnan menasehati dan sekaligus menyakiti hati Zeline.


"Apa?? Pak Adnan bilang aku wanita penggoda? Ya Tuhan. Aku tak pernah menggoda pria lain selain dirinya. Apakah ingin memiliki mu adalah hal yang salah Pak? Serendah itu aku dimata mu? Gumam Zeline di dalam hatinya.


Adnan mengangkat gagang telepon yang ada di meja kerjanya. Ia segera menghubungi Karin, sekertaris Adnan yang sedang serius membuat laporan meeting mingguan yang baru saja Adnan hadiri hari ini.


"Karin, tolong keruangan saya!" Perintah Adnan dengan mata yang terus menatapi wajah Zeline yang terus menundukan pandangannya.


Kini Zeline tengah menangis dalam diam. Ia menyembunyikan tangisnya, sungguh saat ini ia sangat bersedih. Tak menyangka Adnan yang selalu bersikap manis dan bertutur kata lembut dengannya, gari ini begitu tega, berbicara sefrontal demikian padanya. Padahal Zeline selama ini selalu menganggap Adnan adalah malaikat penolongnya, hingga akhirnya membuat dirinya jatuh cinta pada sosok Adnan.


Tak lama berselang, Karin pun datang. Ia mengetuk pintu dan membukanya ketika sudah mendapat izin dari Adnan. Karin berdiri di samping Zeline. Ia melirik Zeline yang terus menundukkan pandangannya.


"Kenapa Zeline? Kok wajahnya dia sembunyikan? Apa terjadi sesuatu?" Gumam Karin di dalam hatinya.


Tak hanya Zeline yang memiliki hati dengan Adnan, Karin pun sama memiliki hati dengan Adnan. Jika Zeline berusaha terang-terangan untuk mendapatkan hati Adnan. Berbeda dengan Karin yang sudah membuat strategi untuk menjaring hati pria pujaan hatinya itu. Dan malam ini akan menjadi malam yang dinanti-nantikan oleh Karin.


"Karin! Saya memanggil kamu ke sini bukan untuk memperhatikan Zeline." Tegur Adnan pada Karin yang terus memperhatikan Rivalnya.


"Owh,, maaf Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Taya Karin yang kini menatap Adnan.


"Tentu ada, makanya kamu saya panggil ke sini." Jawab Adnan ketus.


Sungguh menghadapai dua sekertarisnya ini Adnan harus memasang kesabaran yang cukup ekstra.


"Ya Pak. Saya bisa bantu apa?" Tanya Karin dengan memasang senyum yang begitu ramah, meski wajah Adnan sudah nampak menyebalkan saat ini.


"Ambilkan file perusahaan Dorabe pada Asisten Kevin sekarang!" Perintah Adnan yang segera dikerjakan oleh Karin.


"Kamu ngapain masih di sini?" Tanya Adnan lagi-lagi membentak pada Seline yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Sa-saya nunggu perintah Bapak selanjutnya." Jawab Zeline yang kali ini tergagap karena terkejut mendapatkan bentakan disaat ia sedang menangis dalam diam.


"Saya sudah tidak memerlukan kamu! Sekarang keluar dari ruangan saya! Saya tidak mau tahu, nanti saat kamu ikut meeting dengan perusahaan Dorabe kamu tidak lagi pakai pakaian kurang bahan mu itu." Seru Adnan yang secara tidak langsung meminta Zeline mengganti pakaiannya.


Tanpa memgucapkan kata pamit dan hanya sedikit membungkukkan tubuhnya sembari memegangi bagian dadanya yang Adnan tak ingin melihatnya. Zeline meninggalkan ruang kerja Adnan dengan dada yang sesak.


Keluar dari ruang kerja Adnan, zeline berlari ke toilet setelah sebelumnya ia mengambil paper bag yang ada di bawah kolong meja kerjanya. Ia menumpahkan seluruh sesak di dadanya dengan menangis di dalam toilet. Setelah puas menumpahkan tangisnya, zeline membersihkan wajahnya dan mengganti pakaian yang memang ia bawa sebagai pakaian ganti. Ia hanya mengenakan pakaian seksi ini di dalam perusahaan, tidak saat di dalam perjalanan berangkat ke kantor atau pun pulang ke rumahnya.


Waktu pun berjalan dengan begitu cepatnya. Kini mereka tengah bersiap untuk menghadiri undangan meeting bersama perusahaan Dorabe disebuah hotel bintang lima. Undangan meeting kali ini sungguh berbeda. Perusahaan Dorabe mengundang meeting di jam makan malam, bukan di jam kerja seperti biasanya. Hal inilah yang memberi kesempatan pada Karin untuk melancarkan aksinya malam ini.


Saat mereka ada di lobby perusahaan, Adnan yang mengendarai mobilnya sendiri, usai mobilnya di ambilkan oleh Rio, sekertaris asistennya Steve. Mempersilahkan kedua sekertarisnya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Karin yang terbiasa duduk dibelakang kali ini diminta Adnan untuk duduk di sampingnya, sedang Zeline yang terbiasa menyelong masuk untuk duduk di samping Adnan pun hanya tersenyum miring, merasa Adnan benar-benar menghindarinya setelah tahu jika ia ingin membuat Adnan tertarik padanya.


Sebuah kesalahan yang fatal ia lakukan. Tak selama kejujuran membuahkan kebaikan. Dengan hati yang sedikit tercabik Zeline duduk di kursi belakang seorang diri. Di sepanjang perjalanan Zeline yang terbiasa banyak bicara pun berubah menjadi pendiam. Dia hanya menikmati suasana macet ibu kota dari balik jendela mobil. Sesekali ia menitikan air mata penyesalannya.


Sesampainya di hotel, Zeline memgambil jarak yang cukup jauh dengan Adnan, ia berjalan di paling belakang. Tepatnya dibelakang Rio, sekertaris Steve yang mewakili kehadiran Steve yang tidak dapat hadir karena Steve tengah cuti mempersiapkan hari pernikahannya yang akan dilangsungkan esok hari.


Adnan merasa ada sesuatu yang aneh ketika Zeline mejauhkan diri dari dirinya. Pasalnya tak hanya saat berjalan saja Zeline menghindar tapi juga saat ia duduk. Untuk pertama kalinya. Zeline tidak duduk disamping Adnan. Ia malah duduk di tempat yang begitu jauh. Ya. Zeline memilih duduk diantara sekertaris Tuan Frans dan juga Rio yang duduk tepat di samping Karin. Padahal seharusnya Zeline duduk di samping kanan Adnan seperti biasanya.


"Sepertinya dia sadar diri dan menjauhiku, baguslah." Gumam Adnan di dalam hatinya sembari memandangi senyum Zeline yang terlihat terpaksa pada rekan bisnis mereka.


Usai beramah tamah dan membahas kerja sama mereka. Makan malam pun berlangsung. Disaat itulah Karin melancarkan aksinya disaat semuanya lengah, Karin memasukkan obat perangsang di dalam minuman milik Adnan.


Namun sungguh di sayangkan, setelah selesai memberikan obat perangsang pada Adnan. Tiba-tiba ponsel Karin berdering. Salah satu keluarganya menghubungi dirinya, memberitahukan padanya jika putrinya saat ini mengalami demam tinggi. Ia pun harus segera pergi meninggalkan sesi makan malam yang belum selesai.


Perlu diketahui, Karin adalah seorang janda satu anak yang telah bercerai dengan suaminya. Kesulitan ekonomi yang dialami oleh keluarga kecilnya selama ia menjalin bahtera rumah tangga dengan suaminya. Membuatnya tidak tahan dan memutuskan untuk berpisah.


Lalu jika Karin pergi, bagaimana dengan nasib Adnan yang sudah menenggak minuman yang di campur Karin dengan obat perasang?