
Di restoran Kim Dom, kini ketiganya duduk. Arumi memainkan ponsel barumya sembari menunggu kehadiran Alex. Jika pinkan danBarra sudah memesan makanan, lain halnya dengan Arumi yang masih setia menunggu kedatangan Alex.
"Maaf sudah membuat mu lama menunggu ku, Arumi." Ucap Alex sembari memberikan sebuket mawar putih untuknya.
"Alex, terima kasih." Jawab Arumi yang tersenyum senang mendapatkan bunga kesukaannya.
Ia menerima dan mencium bunga itu dengan senang hati. Perlakuan manis Alex pada Arumi membuat Pinkan iri dan berhasil membuat hati Barra panas.
"Sama-sama, kenapa duduk di sini? Apa tidak ada meja kosong lain?" Tanya Alex pada Arumi yang malah dijawab oleh Pinkan.
Jujur Alex tahu apa yang dirasakan oleh Arumi saat ini. Tak nyaman. Ya itulah yang dirasakan Arumi saat ini.
"Maaf jika kami ikut makan bersama kalian, jika kamu keberatan kami akan pindah." Ucap Pinkan dengan keramahannya yang berusaha memikat Alex.
"Tidak perlu, jika Arumi beesedia makan bersama kalian, saya hanya akan mengikuti maunya saja." Jawab Alex dengan wajah datarnya.
"Duduk sini Alex!" Pinta Arumi sembari menepuk kursi kosong di sampingnya.
"Sudah pesan makanannya?" Tanya Alex pada Arumi yang masih saja memeluk bunga yang ia berikan.
"Belum, aku tunggu kamu." Jawab Arumi dengan menggelengkan kepalanya.
"Mau aku pesankan semua menu kesukaan mu?" Tanya Alex dengan senyum menawannya pada Arumi.
"Tentu saja Alex," jawab Arumi dengan senyum manis yang mengembang di wajah cantiknya.
"Tunggulah di sini jangan kemana-mana!" Ucap Alex yang kemudian pergi memesan makanan untuk mereka.
Barra terus memperhatikan ekspresi Arumi yang terlihat bahagia bersama Alex. Rasa takut kehilangan Arumi kembali menghantuinya. Apalagi ia sudah mendengar pengakuan Arumi pagi tadi, jika Arumi pernah mencintai Alex dan sangat mudah baginya untuk kembali mencintai Alex.
Tak berapa lama Alex datang membawa seluruh makanan kesukaan Arumi, hingga pelayan restoran membawa makanannya yang banyak itu dengan troli.
"Alex banyak sekali, aku bisa kekenyangan dengan makan sebanyak ini." Ucap Arumi saat melihat makanan yang di bawa oleh seorang pelayan.
"Aku akan membantumu, menghabiskannya." Balas Alex dengan senyum yang begitu menawan. Senyum yang begitu menggoda para kaum hawa termasuk Pinkan yang melihatnya.
Barra makin bertambah kesal, karena berkali-kali Alex menyuapini istrinya di depan dirinya, dan hati Barra bertambah dongkol karena Arumi menerima suapan dari Alex dengan alat makan yang sama digunakan oleh Alex. Itu artinya secara tidak langsung mereka sudah berciuman.
"Makan yang banyak Arumi, tubuhmu butuh asupan yang banyak dan bernutrisi." Ucap Alex yang begitu memperhatikan Arumi.
"Jika dia banyak makan, tubuhnya akan melebar ke samping dan tak menarik lagi." Sahut Barra yang sudah tak tahan dengan sikap keduanya yang sok romantis di depannya.
"Tak apa jika tubuhnya melebar ke samping, asalkan dia sehat dan bahagia, aku akan tetap menyukainya." Balas Alex yang makin membuat Barra emosi.
"Tak apa dia tak bekerja di perusahaan Anda, Tuan. Saya masih mampu untuk memberikannya penghidupan yang layak untuknya." Balas Alex lagi yang akhirnya membuat emosi Barra pecah.
"Apa kau pikir Arumi itu istri mu hah? Dia itu istri ku!" Ucap Barra sembari menarik kerah baju Alex.
"Dia calon istri ku, setelah Anda menceraikannya nanti. Bukankah wanita di samping Anda adalah wanita yang Anda cintai?" Balas Alex yang menyadarkan Barra tentang keberadaan Pinkan.
"Barra, kamu membohongi ku, kamu bilang dia sekertaris mu tapi sekarang kamu bilang dia istri mu, yang mana yang benar sebenarnya?" Tanya Pinkan yang mengeluarkan air mata buayanya.
Dia tak berniat kembali pada Barra sejak awal ia menjalin hubungan dengan Tuan Marco. Namun semua berubah ketika Barra memukuli Tuan Marco hingga babak belur dan masuk rumah sakit, ditambah lagi Tuan Brandon membuka kartu as Pinkan pada Tuan Marco hingga Tuan Marco kini mencampakkan dirinya.
Kedatangannya ke Mall ini tadinya hanya ingin menjual beberapa perhiasan yang pernah diberikan Tuan Marco untuknya, hal ini ia lakukan untuk bertahan hidup dan juga membiayai operasi keperawanan lanjutan saat ia sudah mendapatkan mangsa barunya nanti. Namun siapa sangka ia bertemu dengan Barra dan ia melihat Barra masih mencintainya. Ia merasa dapat mengambil keuntungan dari rasa cinta Barra terhadap dirinya.
"Pinkan, aku bisa menjelaskannya sayang. Aku tidak mencintai dia. Aku dipaksa menikahinya oleh kedua orang tuaku. Aku tak bisa menolak permintaan kedua orang tuaku, karena mereka mempergoki kami saat dia sedag menggodaku." Jawab Barra yang menuduh Arumi menggoda Barra saat itu.
Arumi menggelengkan kepalanya dan menitika air matanya, ia benar-benar kecewa dengan tuduhan Barra terhadap dirinya. Dia sama sekali tak oernah menggoda Barra. Barra yang lebih dahulu menyentuhnya.
"Aku percaya padamu. Jangan menangis Arumi!" Ucap Alex yang kemudian memeluk Arumi.
Sontak Barra tak lagi fokus untuk meyakinkan Pinkan. Pinkan tersenyum melihat tingkah Barra yang dilema antara memillih dirinya atau Arumi, istrinya sendiri.
Arumi menangis tersedu-sedu dipelukan Alex. Tangis yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
"Bawa aku pergi Alex, aku tak mau melihatnya lagi." Pinta Arumi di dalam pelukan Alex.
"Ya aku akan membawamu pergi darinya." Jawab Alex sembari mengusap punggung Arumi.
Barra yang tak tahan melihat istrinya disentuh pria lain, segera menarik tubuh Arumi hingga terlepas dari tubuh Alex. Barra menyeret Arumi pergi dari restauran itu. Ia tak perdulikan bagaimana Pinkan menatap kepergian dirinya.
Namun saat sampai di depan pintu restoran. Barra dihadang para Bodyguard yang seketika merebut Arumi dari tangannya.
"Jangan coba-coba melawan kami Tuan muda! Kami tidak ingin Anda terluka," jawab Caisar yang kemudian pergi membawa Arumi pergi.
"ARGHHHHH....." Pekik Barra yang tak bisa melakukan apa-apa saat para Bodyguard membawa istrinya pergi.
Arumi dibawa kembali oleh para Bodyguard ke mansion utama Tuan Brandon. Guna menjaga perasaan dan hati menantunya. Tuan Brandon memutuskan mempercepat keberangkatan Arumi ke New York.
Rekaman yang disaksikan oleh Tuan Brandon membuatnya murka pada sang putra. Kecewa tentu saja ia kecewa pada putranya yang tega menyakiti hati menantu kesayangannya itu.
Arumi segera memberi tahukan pada adiknya, jika ia akan berangkat terlebih dahulu ke New York bersama kedua mertuanya, dan tiga bukan ke depan adiknya ini akan diantar oleh steve asisten Tuan Brandon untukn menyusul keberadaanya di sana.
Arumi juga meminta pada adiknya ini untuk merahasiakannya keberadaannya nanti dari Alex, sesuai permintaan kedua mertuanya pada dirinya. Anaya yang selalu menjadi adik yang baik untuk Arumi pun mengiyakan semua perkataan sang Kakak.