
Selesai melakukan pembayaran, selesman tampan itu membantu keduanya memasukkan simcard pada ponsel yang baru mereka beli. Di depan salesman itu Barra terus saja mengecup dan memeluk Arumi. Mereka seperti sepasang suami istri yang saling mencintai.
Meski Arumi terus mencubiti paha Barra dan juga menginjak kakinya agar berhenti menciumi dan memeluk tubuhnya, Barra seakan tak perduli. Ia seakan ingin menunjukkan jika Arumi adalah istrinya di depan banyak orang terutama di depan salesman yang sedang membantunya ini.
"Sudah selesai Nona, silahkan diaktifkan ponselnya. Saya akan ambil sovenir terlebih dahulu, jika ada keluhan silahkan utaraka saja jangan sungkan-sungkan." Ucap Salesman itu kemudian pergi meninggalkan keduanya.
"Makasih istriku sayang, sudah belikan suami tercinta mu ini ponsel terbaru. Jadi tambah sayang sama kamu." Ucap Barra dengan suara yang cukup keras, hingga membuat dirinya jadi pusat perhatian orang-orang disekeliling mereka. Tak hanya bicara dengan keras, Barra malah mencium bibir Arumi di depan umum.
"Muachhhhh..." Barra tersenyum senang dan merentangkan tangannya seperti orang tidak waras. Berharap Arumi akan memeluknya namun nyatanya Arumi tak memeluknya, malah menatap dirinya dengan tatapan aneh.
"Kamu tidak mau memeluk suami tampanmu ini sayang?" Tanya Barra yang kembali memanggil nama Arumi dengan panggilan sayang.
"Tidak di sini, jangan mencontohkan yang tidak baik pada generasi muda." Tukas Arumi yang menolak.
"Ahh...jawaban mu terlalu idealis," balas Barra yang kemudian menyalakan ponsel yang baru dibelikan Arumi padanya, begitu pula dengan Arumi.
Ponsel keduanya seketika berbunyi, banyak notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponsel mereka. Arumi segera membaca pesan dari adiknya Anaya yag memberi tahukan keadaan Adnan sang kakak yang baru keluar dari rumah sakit karena di pukuli oleh suaminya.
"Apa yang telah Bapak lakukan pada kakak saya?" Tanya Arumi dengan menatap tajam Barra yang tengah sibuk membaca pesan penting dari Client nya.
"Tunggu sebentar!" Ucap Barra yang memang tengah serius membalas pesan penting dari Clientnya.
Cukup lama Arumi menunggu hingga salesman itu datang dan memberikan sovenir cantik untuk keduanya, dan ketika sudah selesai membalas pesan clientnya, Barra segera menjawab pertanyaan Arumi.
"Saya hanya memberi pelajaran pada kakak mu yang sudah menyakiti hati istriku dan berani-beraninya tak datang diacara pernikahan kita." Jawab Barra santai yang malah dihadiahi sebuah tamparan dari Arumi.
Plak!! [Satu tamparan yang berhasil membuat sudut bibir Barra mengeluarkan darah]
"Anda tidak berhak ikut campur dengan urusan hati saya. Siapa pun yang sudah menyakiti hati saya, apa peduli Anda? Apa hak Anda memukuli Kak Adnan hingga masuk rumah sakit? Jangan bertindak seolah-olah Anda adalah sosok suami yang baik, padahal untuk mengakui pernikahan ini pun Anda enggan dan tak sudi. Pernikahan yang menjijikan dimata mu ini memang tak pantas untuk dihadiri oleh siapapun, termasuk Kak Adnan." Ucap Arumi dengan suara yang cukup keras dan air mata yang membasahi pipinya.
Setelah selesai dengan ucapannya yang kembali mencubit hati Barra. Arumi segera pergi meninggalkan Barra.
"Arumi! Jangan pergi! Arumi istriku! Aku tak bisa hidup tanpa mu Arumi!" Pekik Barra tanpa rasa malu dan mengejar langkah Arumi yang pergi meninggalkan Barra.
Barra yang berhasil mengejar Arumi langsung saja memeluk tubuh Arumi dari belakang.
"Maafkan saya, jangan tinggalkan saya! Saya tidak bisa hidup tanpa kamu, ditinggal berapa jam saja, hidup saya sudah sangat kacau, please! Saya akan mengakui kamu sebagai istri saya di depan semua orang. Saya janji. Asal kamu kembali tinggal bersama saya, Arumi." Ucap Barra saat memeluk tubuh Arumi.
"Arumi Samaira, istriku. Istri dari Barra Adi Wijaya. Tolong jangan pergi lagi. Aku tak bisa hidup tanpa mu." Pekik Barra tanpa rasa malu di muka umum, dan Caisar tak mau kehilangan moment ini. Ia segera mengabadikan moment ini untuk ia laporkan pada Tuan besarnya.
Bahagia, itulah yang kini Arumi rasakan. Akhirnya Barra mengakui pernikahannya. Besar harapannya Barra akan menerima berita tentang kehamilannya, jika nantinya ia akan memberitahukan tentang kehamilannya saat ini pada suami yang sudah mengakui dirinya.
Senyum tak lepas dari keduanya, tak perduli dengan pandangan orang-orang yang menjadikan diri mereka pusat perhatian. Namun senyum mereka memudar ketika seorang wanita cantik datang menghampiri mereka.
"Sepertinya ada yang harus kamu jelaskan pada ku, Barra." Ucap wanita cantik yang membuat Barra seketika melepaskan genggaman tangannya dari Arumi.
"Pinkan. A-aku bisa jelaskan sama kamu, ini tidak seperti yang kamu dengar tadi. Aku hanya sedang belajar acting dengan sekertaris ku. Dia ini sekertarisku, aku belum punya istri, aku hanya akan menikah dengan mu." Ucap Barra yang terbata-bata karena rasa gugupnya.
Arumi tersenyum kecut mendengar ucapan suaminya yang kembali mematahkan hatinya. Kecewa. Tentu saja kecewa, setelah menerbangkan hati Arumi tinggi-tinggi. Barra dengan cepat menjatuhkan hati Arumi hingga hancur berkeping-keping.
"Sekertaris? Bukannya sekertaris kamu Indri?" Tanya Pinkan tak percaya.
"Iya sekertaris aku Indri, tadinya Indri ingin resign dan dia sebagai penggantinya tapi kamu tenang saja. Dia tak akan lama menjadi sekertarisku karena Indri tak jadi resign." Jawab Barra yang terlihat serba salah.
Di waktu bersamaan ponsel Arumi berdering. Alex, si Dokter tampan itu kembali menghubungi Arumi. Arumi segera mengangkat panggilan teleponnya.
"Hallo Alex." Jawab Arumi yang sengaja ia keraskan.
"Arumi kenapa ponselmu mati begitu saja pagi tadi? Membuat ku khawatir saja." Tanya Alex yang memang mengkhawatirkan Arumi.
"Ahh... Kamu manis sekali sudah mengkhawatirkan aku Alex, senang sekali bisa di khawatirkan oleh Dokter tampan seperti mu. Tadi pagi ponsel ku jatuh dan rusak Alex," Arumi sengaja memuji Alex di depan Barra dan Pinkan yang terdiam mendengarkan percakapan dirinya dengan Alex.
"Lalu sekarang apa ponselmu sudah benar? Jika rusak, aku akan membelikannya yang baru untuk mu, kamu tak perlu sungkan." Tanya Alex yang begitu perduli dengan Arumi.
"Tidak perlu, aku sudah membeli ponsel baru. Apa kamu mau makan siang dengan ku. Kebetulan aku berada di Mall yang ada di samping rumah sakit mu. Sepertinya makan masakan korea siang ini sangat mengiurkan." Jawab Arumi yang malah mengajak Alex makan siang bersama.
Sontak saja mendengar ajakan Arumi pada Alex, Barra mengepalkan tangannya. Ia tak terima Arumi akan makan siang dengan Alex. Ingin marah dan melarang Arumi tapi ia tak bisa karena ada Pinkan diantara mereka.
"Kamu ngidam makanan korea?" Tanya Alex yang tersenyum diujung panggilan teleponnya.
"Heem... Sepertinya begitu, cepatlah ke sini, aku akan menunggu mu di restoran Kim dom. Jangan biarkan aku makan sendiri!" Jawab Arumi sebelum menutup panggilan teleponnya.
Usai menutup teleponnya, Arumi berpamitan pada Barra dan Pinkan. Namun Pinkan yang menaruh rasa curiga pada hubungan Barra dan Arumi langsung saja meminta izin pada Arumi, jika ia akan ikut makan bersama Arumi.