My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Mengetahui Arumi hamil



"Kamu sedang tidak bercandakan Indri? Saya tahu dengan jelas istri saya sudah berangkat kerja hari ini," ucap Barra yang masih tak percaya Arumi sudah berhenti bekerja.


"Sa-saya tidak bercanda Tuan. Arumi memang sudah berhenti bekerja, dia memang hari ini berangkat tapi bukan berangkat bekerja tapi berangkat ke luar negeri bersama Tuan dan Nyonya besar." Ungkap Indri yang akhirnya memberitahukan kebenarannya pada Barra.


"APA?" Barra terkejut dan hampir saja terjatuh karena rasa terkejutnya.


Mengetahui Arumi dibawa pergi kedua orang tuanya pergi keluar negeri, membuat dunia Barra terasa runtuh. Ia berteriak sekuat tenaga, menyadari kebodohannya. Pantas saja mansion terlihat sepi tanpa satu pun Algojo milik aki-aki tua bangka itu berlalu lalang seperti lalat, dan pantas saja ia dibuatkan sarapan pagi, padahal dirinya dilarang masuk ke mansion itu. Betapa bodohnya ia tak menyadari akan hal itu.


Barra menghancurkan segala benda yang ada di atas mejanya. Ia meninju meja kerja yang berlapis kaca cukup tebal itu hingga pecah. Darah segar mengalir deras dari buku-buku tangannya. Indri terus menjerit hingga beberapa karyawan meringsek masuk ke dalam ruang kerja Barra. Beberapa karyawan pun segera membantu menghentikan darah yang mengalir deras dari tangan Barra.


Untuk pertama kalinya di dalam hidup Barra, ia menitikan air mata di hadapan banyak orang, tak perduli dengan mereka yang merupakan bawahannya. Dulu saat ditinggalkan Pinkan ia tak serapuh ini, tapi sekarang saat ditinggalkan istri yang tak pernah ia cintai, ia merasa begitu kehilangan dan terlihat hancur.


Barra sangat yakin, Aki-aki tua bangka itu sudah menyembunyikan istrinya, dan tak akan membiarkan dirinya menemui istrinya lagi.


Dua minggu sudah Barra mengurung dirinya di dalam mansion. Dua minggu pula jarum infus menancap di salah satu tangannya. Ya Barra terbaring lemah di mansion kedua orang tuanya, semenjak kepergian Arumi. Barra mengalami penurunan kesehatan secara drastis.


Makanan apapun yang ia masukan kedalam tubuhnya, selalu saja tak bisa diterima oleh tubuhnya. Ia terus memuntahkan makanan yang ia makan. Ditambah lagi penyakit insomnia yang dideritanya makin bertambah parah. Dalam sehari ia hanya bisa tidur tiga puluh menit saja. Sungguh ini semua sangat menyiksa Barra.


Kedua orang tua Barra yang diberita tahukan tentang kondisi Barra malah terlihat santai dan berkata yamg cukup mencengangkan untuk Steve dan juga Kevin yang mendengarnya.


"Kabari kami, ketika Bocah tengik itu sudah tak bernyawa lagi." Ucap Tuan Brandon yang sudah tidak memperdulikan lagi kondisi putranya.


Kevin yang merasa kasihan pada Barra pun menghampiri Barra yang terkulai lemah di atas ranjangnya.


"Tuan Barra," panggil Kevin yang duduk di tepi ranjang.


"Hemmm," sahut Barra yang menatap kosong langit-langit kamarnya.


"Boleh aku tidak bicara formal pada mu, kita ini teman SMA, masalah yang kau hadapi dan ingin ku bahas bukan tentang pekerjaan tapi tentang masalah pribadi mu."


"Hemm... bicaralah! Kau ingin mengatakan apa?"


"Kali ini aku bicara sebagai teman, bukan sebagai asisten mu. Istri mu pergi dengan kedua orang tuamu, bukan tanpa alasan. Kedua orang tua mu ingin menyelamatkan calon anakmu dari penolakan mu. Mereka tak perduli kondisimu saat ini, jika kau tidak mencintai istri dan calon buah hati mu, teruslah seperti ini, tak perlu cepat pulih dan bangkit untuk mencari mereka yang sudah disembunyikan di lubang semut oleh kedua orang tua mu." Terang Kevin.


Setelah menyelesaikan ucapannya Kevin segera beranjak pergi meninggalkan Barra, namun belum sempat Kevin melangkahkan kakinya. Barra menarik tangan Kevin agar kembali duduk di tepi ranjangnya.


"Apa maksud mu Arumi sedang hamil?" Tanya Barra yang menatap serius Kevin.


Kevin menjawab dengan menganggukkan kepalanya,


"Istriku yang memberitahukannya, dan Arumi pun mengakui dengan jelas jika dirinya tengah mengandung, dia menyembunyikan karena kamu menolak memiliki anak dari rahimnya. Tapi orang tuamu tidak menolaknya. Mereka menginginkan anak di dalam rahim istri mu. Mungkin usia kandungan istrimu sekarang lebih dari dua bulan, masih ada waktu kurang dari tujuh bulan untukmu bertemu dengan Arumi sebelum anak yang tak kau inginkan itu lahir ke dunia ini," terang Kevin yang membuat Barra menitikan air matanya.


Kevin menatap manik mata Barra yang menitikan air mata, air mata penyesalannya yang telah menyakiti perasaan sang istri hingga membuatnya pergi dari sisinya.


"Apa kau mencintainya Barra? Sadar jika sudah mencintai dan menyia-nyiakannya? Menjadi orang yang tak diinginkan sangat tidak menyenangkan, apalagi bagian dari dirinya tak kau inginkan, itu sangat menyakitkan Barra. Terlebih yang tak kau inginkan adalah darah dagingmu sendiri. Mungkin jika aku jadi dirinya, sejak awal aku sudah meninggalkan mu, dia terlalu sabar dan terlalu baik untuk dirimu yang hanya seorang pecundang." Ungkap Kevin yang kemudian pergi meninggalkan Barra. Kalimat yang diucapkan Kevin cukup menohok diri Barra.


Sekepergian Kevin, Barra mengamuk sejadi-jadinya. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Barra bangkit dari ranjang tidurnya. Tak puas menghancurkan barang-barang di kamarnya. Ia juga menghancurkan barang-barang di lantai dasar.


"Panggil assisten Steve ke sini Panca!" Perintah Barra pada kepala pelayan yang irit bicara itu.


Barra duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Ia langsung memaksa mulutnya melahap makanannya yang membuat perutnya terasa mual. Meski begitu, dia tetap memaksa untuk memakan makanannya, mengunyah dan menelannya sekuat tenaga.


"Baik," jawab Panca menunduk patuh dengan perintah Barra.


Panca segera membalikkan tubuhnya dan berkata pada Steve yang sudah ada di belakangnya.


"Asisten Steve, Anda di panggil Tuan muda." Ucap Panca sesuai perintah Barra, padahal keberadaan Steve ada didekatnya, bahkan Steve ada di belakangnya.


Sontak saja ucapan Panca yang begitu dekat membuat Barra menoleh ke belakang dimana Panca dan Steve berada.


"Argh... Panca. Kau ini...." pekik Barra yang kesal dengan tingkah kaku kepala pelayannya.


"Steve, dimana Aki-aki tua bangka itu menyembunyikan istri dan calon anakku?" Tanya Barra langsung pada intinya pada Steve sembari mengunyah makanannya dengan susah payah sembari mengelus perutnya yang mulai mual.


"Saya tidak tahu," jawab Steve berbohong dan Barra mengetahui itu.


"JANGAN BERBOHONG PADAKU! DIMANA ISTRIKU!" Pekik Barra yang sudah menancapkan garpu pada salah satu makanannya yang ada di dalam piringnya.


"Benar Tuan, saya tidak tahu." Jawab Steve yang kembali berbohong.


"Hubungi Aki-aki tua itu sekarang! Cepat! Aku ingin bicara dengannya." Perintah Barra pada Steve yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Steve.


"Maaf Tuan, saya tidak diizinkan menghubungi beliau jika itu atas perintah Anda."


"Setia sekali kau dengan Aki-aki tua bangka itu? Kevin saja tak sesetia dirimu." Ucap Barra yang melirik Steve dengan tatapan yang tak bersahabat.


"Anda mau melakukan apa pada saya,Tuan Barra?" Tanya Steve yang mulai bersiap menyelamatkan diri, karena sepertinya dirinya akan mendapatkan serangan dari Barra. Si Tuan Muda pemaksa.