My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Kembali bersatu



Saat Barra dan Adnan sudah berdiri di lorong IGD. Barra dan Adnan dikejutkan dengan sosok yang mereka ingin jemput pagi hari ini.


Deg! [Kali ini suara jantung Barra yang terasa ingin berhenti berdetak].


Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, istri yang selama ini ia cari keberadaannya ada dihadapan dirinya.


"Arumi..." panggil Barra dan Adnan bersamaan.


"Arumi istriku," panggil Barra lagi.


"Arumi adikku," panggil Adnan lagi.


"Ah, si4l gue gak di panggil." Cicit Anaya yang di dengar oleh Steve. Hatinya terasa tercubit ketika Adnan tak memanggil namanya.


"Anaya, calon istriku," bisik Steve yang menggoda calon istrinya itu. Steve tahu, Anaya pun haus akan kasih sayang dari Adnan, kakak laki-lakinya.


"Ishh... jangan menggoda aku, Om." Balas Anaya yang mencubit lengan Steve.


Keduanya tersenyum riang yang membuat hati Adnan terasa panas melihatnya. Ya tawa mereka mencuri perhatian Adnan. Tatapan Adnan teralih pada keduanya begitu saja, dan tiba-tiba dendam kusumat pada Steve muncul di diri Adnan.


"Hei kalian, jangan mesra-mesraan! Kalian belom sah!" Pekik Adnan dipenuhi rasa cemburu marah dan kesal pada Steve. Ia segara berjalan melangkah ingin menghampiri Anaya namun langkahnya terhenti karena dihadang oleh tangan Arabella.


"Jangan hampiri mereka! Mereka semua menyebalkan dan jahat pada kita." Ucap Arabella yang sedang mode merajuk dengan kedua putri dan juga suaminya.


"Tapi Bu---" ucap Adnan dan Barra bersamaan.


"Kalian berdua sayang Ibu tidak?" Tanya Arabella memotong.


"Sayang," jawab keduanya melemas dan terlihat pasrah. Tuan Brandon dan istrinya hanya bisa menahan tawa dan melirik satu sama lain saat melihat kedua pria tegap bertubuh kekar sangat patuh pada apa yang dikatakan Arabella.


"Ayo pulang! Kita tak perlu terbang jauh-jauh ke negeri orang, ternyata yang mau di jemput sudah pulang sendiri. Tuhan begitu baik pada mu Nak. Sang pencipta saja tak mau berlama-lama menghukum dirimu, tapi mereka masih berniat melama-lamakan hukuman mu." Ucap Arabella yang segera menggandeng kedua pria dewasa itu layaknya menggandeng anak kecil, dan anehnya kedua pria dewasa ini menurut saja.


Namun baru berapa langkah kaki mereka melangkah, tubuh Barra ambruk seketika, dia jatuh pingsan. Darah yang mengucur deras itu membuatnya kehilangan kesadaran. Suasana pun kembali mencekam. Adnan dan Steve segera mengangkat tubuh Barra kembali ke brankar rumah sakit.


"Dasar adik ipar merepotkan! Badan segede babon, tapi lemah." Umpat Adnan saat menggendong Barra naik ke atas brangkar. Steve hanya diam tak berani menanggapi ucapan Adnan, karena sejak awal kehadirannya Adnan terlihat tak bersahabat dengannya.


Barra dan Arumi pun mendapatkan perawatan di rumah sakit yang sama. Barra harus mendapatkan transfusi darah untuk mengembalikan standar normal Hemoglobin yang ada di dalam tubuhnya. Sedangkan Arumi hanya butuh recovery pasca melahirkan seorang putra dari pernikahannya bersama Barra.


Keduanya di rawat di dalam satu ruang rawat yang sama, atas permintaan Arabella. Tak ada yang bisa melawan seorang wanita yang tengah merajuk dan marah. Wanita yang sudah menjadi seorang ibu adalah manusia terkuat di muka bumi ini. Tak ada yang berani melawan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Atau semua akan menjadi bala bencana jika ada sedikit saja perlawanan.


Arabella yang begitu sangat menyayangi menantunya itu. Tak ingin ketika Barra sadar, Arumi kembali meninggalkannya. Sudah berapa kali Arumi mendapatkan cubitan di pahanya dari sang ibu. Karena telah berani-beraninya meninggalkan suami dan juga dirinya tanpa kabar. Arumi yang dicubiti sang ibu bukannya menangis tapi ia malah tertawa bahagia. Karena ia tahu betapa Arabella selalu menyayangi dirinya dibalik sikapnya yang suka marah-marah. Disaat Arabella pamit pulang, tak lama kemudian Barra mulai bangun dan sadar.


"Aaa...pusing sekali..." rintih Barra yang baru saja sadar, ia memegangi kepalanya yang terasa cenat-cenut. Tidur terlalu lama membuatnya merasa pusing.


"Apanya yang pusing Pak? Kepalanya ya?" Tanya Arumi yang tengah berbaring menghadap dirinya sembari menyusui putranya.


"Pak-Pak... aku ini suami mu, bukan bapak mu, berhentilah memanggil ku Pak-Pak." Jawab Barra ketus.


"Kalau gak mau dipanggil Bapak, dipanggil apa dong? Om. Mau dipanggil Om sama saya Pak?" Balas Arumi yang seakan meledek Barra.


"Arghhh... kapan aku menikah dengan tante mu hah? Bisakah tidak bertingkah menyebalkan dulu, kepala ku sedang pusing dan bertambah pusing saat melihat mu memberikan milikku pada anak kita." Sahut Barra yang membuat Arumi tertawa renyah. Ia senang mendengar Barra mengakui anaknya sebagi anak kita.


"Ini sudah jadi milik putra kita selama dua tahun ke depan. Berpuasalah selama itu ya? Bisakan?" Balas Arumi sembari tersenyum meledek Barra. Sejenak Barra membuang pandangannya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Menunjukkan betapa frustrasi dirinya saat ini. Baru bertemu dan harus berpuasa.


"Bagaimana rasanya menyusui dia? Apa sama rasanya saat menyusui ku?" Tanya Barra dengan rasa ingin tahunya yang begitu besar.


"Berarti saat aku tak menghisapnya selama ini kamu juga merasa sakit hum? Kalau begitu, aku mau menggantikannya sekali saja. Bolehkan? Sini mendekatlah pada ku. Pasti kau merindukan hisapanku kan istriku?" Pinta Barra yang langsung mendapatkan lemparan bantal sofa dari Adnan yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka. Lemparan bantal Adnan tepat mengenai wajah Barra, hingga membuatnya mengaduh.


"Aduh...Kak Adnan." Barra mengaduh dengan suara tertahan. Ingin sekali ia meneriaki kakak iparnya yang menyebalkan. Ia menebak dengan pasti perbuatan siapa yang melempar dirinya dengan bantal sofa.


Adnan yang dengan setia menunggu keduanya sejak kemarin sengaja tak menghampiri Barra saat Barra mengeluh pusing, karena Arumi sedang memberi asi pada putranya. Namun ia merasa begitu geli ketika Barra bicara akan menggantikan putranya menyesap asi milik Arumi yang diperuntukkan untuk sang putra.


"Bos tengil, ternyata kau mesum juga ya. Hahaha... rupanya kau sudah tak sabar buka puasa ya... apa anu mu sudah berkarat hingga membuat mu ingin segera mengasahnya. Ingat dia masih di segel selama empat puluh hari ke depan hahahahaha..." ucap Adnan tanpa mengecilkan volume suaranya, hingga membuat anak mereka terbangun dan menangis.


"KAK ADNAN!" Pekik keduanya dengan kompak. Barra mengumpulkan tenaganya dan membalas Adnan dengan melempar bantal sofa yang dilemparkan Adnan tadi padanya. Naluri seorang Ayah begitu hidup saat ini di diri Barra. Meski setelah itu, kepalanya benar-benar terasa berkunang-kunang.


"Arhgg... pusing sekali. Kenapa ada manusia menyebalkan seperti mu Kak?" Keluh Barra sembari memegangi kepalanya dan Arumi tak bisa berbuat apa-apa karena ia sedang berusaha mendiamkan tangis sang putra.


Tiga hari berlalu. Barra dan Arumi sudah diperbolehkan pulang. Mereka pulang bukan ke apartemen atau pun mansion. Mereka pulang ke rumah kedua orang tua Arumi. Barra menolak pulang ke mansion. Dia sudah terlanjur nyaman tinggal di rumah kedua orang tua Arumi. Meski dengan kesederhanaan, tidak ada Ac atau pun shower. Meski pun masih ada enaknya, karena ada kamar mandi sendiri yang ada di setiap kamar di kediaman kedua orang tua Arumi.


Dalam sekejap kamar Arumi sudah penuh dengan perlengkapan bayi yang di sediakan oleh Tuan Brandon untuk cucu pertamanya itu. Kehidupan Arumi nampak begitu bahagia dengan perubahan drastis yang ada di dalam diri Barra saat ini. Walaupun Arumi sering dilanda kecemburuan dengan kedekatan Barra pada sang ibu.


"Mas,," panggil Arumi pada Barra yang sedang bekerja dengan laptopnya di atas ranjang.


"Hemmm...." sahut Barra yang masih nampak serius dengan laptopnya.


"Mas..." panggil Arumi yang masih tak puas dengan sahutan Barra.


"Hemmm...." sahut Barra lagi yang masih tak peka dengan panggilan Arumi.


"Hamhem-hamhem nyebelin." Ucap Arumi kesal. Ia yang merasa terabaikan memilih masuk ke dalam selimut.


"Ngambek?" Tanya Barra singkat sembari mematikan laptopnya.


"Udah tahu nanya." Sahut Arumi di dalam selimut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya hingga ke atas kepala.


"Ngambek kenapa sih? Aku salah apa lagi? Kamu kayanya sering marah-marah sekarang sama aku." Ucap Barra yang ikut masuk ke dalam selimut. Ia memeluk tubuh Arumi dari belakang, karena posisi Arumi tidur membelakangi dirinya.


"Kamu tuh ngeselin. Giliran sama ibu aja, kamu cepet banget tanggapnya, tapi kalau sama aku kamu tuh lama. Hamhemhum aja." Keluh Arumi yang membuat Barra menarik sentum di bibirnya.


"Aku kalau gak nanggapi ibu dengan cepat, aku bisa diusir dari rumah ini. Ibu kamu suka ngancam aku semenjak aku tinggal di sini. Aku juga takut dengan panci terbang yang bisa-bisa bersarang di kepala aku, seperti yang kamu lihat panci-panci itu sering bersarang di kepala Kak Adnan dan Steve." Tutur Barra yang membuat mereka tertawa renyah berdua.


"Jadi karena itu?"


"Huum, karena itu. Memangnya kamu pikir karena apa hum? Jangan bilang kamu cemburu sama ibu kamu sendiri. Ohh astaga kamu benar-benar ya Arumi." Tanya Barra dengan tebakannya yang tepat.


"Ya, gitu. Habisnya kamu dekat banget Mas sama Ibu."


"Oh, Arumi, istriku. Cemburu mu sungguh kelewatan. Tidak mungkin aku macam-macam dengan ibu mu. Bisa-bisa Ayah mengerjaiku atau menenggelamkan diri ku bersama rakyat-rakyat ku."


"Rakyat?" Tanya Arumi keheranan.


"Iya, ikan-ikan di empang itu rakyatku." Jawab Barra yang membuat Arumi terkikik geli mendengarnya.


To be continued...


Nantikan kisah My Stupid Boss season 2 ya..