
"Asisten Aki-aki tua bangka Si4lan," umpat Barra saat melihat unggahan status foto Steve yang sedang berada di meja makan bersama keluarganya dan juga istrinya.
Pantas saja ia ingin sekali memainkan ponselnya, ternyata karena dia ingin melihat bukti kecurigaannya terhadap Steve. Steve benar-benar mengantarkan Anaya pada Arumi dan kedua orang tuanya.
"Aku datang sayang sekarang juga, tak akan aku biarkan Aki-aki tua bangka itu terus menyembunyikan mu dari ku." Tekat Barra begitu membara.
Tidak melihat sudah jam berapa sekarang ini. Ia segera bergegas menuju bandara, sembari menghubungi seorang pilot yang biasa mengendarai pesawat jet pribadinya.
"Sekarang Tuan?"
"Gak, tahun depan." Sahut Barra yang kesal karena sang pilot yang bernama Ramos tidak nyambung sejak tadi diajak ngobrol dengannya. Terang saja tidak nyambung karena Ramos baru terbangun dari tidurnya nyenyaknya karena ponselnya berdering tiada henti.
"Serius Tuan, jadi tahun depan bukan sekarang?" Tanya Ramos lagi untuk meyakinkan dirinya yang mulai terkoneksi.
"Arghh... Tentu saja sekarang. Kalau tahun depan buat apa saya repot-repot menghubungi mu sekarang?" Jawab Barra dengan dengan nada kesalnya.
"Perasaan Tuan Muda kerjaannya marah-marah terus, dulu di tinggal Pinkan gak suka marah-marah kaya gini. Biasa aja cuma banyak diamnya. Apa ini bawaan cabang bayinya ya?" Gumam Akri yang tengah mengemudikan mobil Barra.
Pukul enam pagi, Barra telah tiba di Singapura, kedatangannya langsung disambut oleh beberapa staf cabang perusahaannya yang ada di negara itu. Rasa kantuk mulai melanda dirinya. Entah mengapa melihat foto terbaru Arumi membuatnya mengantuk hingga akhirnya ia tertidur di dalam mobil karyawannya itu.
Pukul dua belas siang, Barra baru bangun dari tidurnya. Ia terbangun dan menyadari sudah berada di dalam sebuah kamar town house milik keluarganya di Singapura. Ia segera bergegas membersihkan dirinya dan keluar dari kamarnya.
Seorang wanita yang cukup berumur tengah menyiapkan makan siang untuknya. Ia tersenyum penuh arti saat melihat Barra yang dulu ia gendong-gendong saat kecil sudah terlihat dewasa.
"Tuan muda, dimakan dulu makan siangnya, Makci susah masakan nasi lemak dan ayam goreng kesukaan Tuan muda."
"Iya Makci,"Barra tak kuasa menolak, ia begitu menghargai Makci Sari yang sudah susah payah memasakkan untuknya. Mengingat usianya yang tak lagi muda. Makci tinggal di town house ini bersama dengan keluarganya yang juga bekerja di perusahaan milik keluarga Barra cabang Singapura.
Saat Barra menikmati makanannya, Makci dengan sopan meminta izin pada Barra untuk duduk di samping Barra dan Barra pun mempersilahkannya.
"Tuan muda, hendak apa datang tiba-tiba ke sini? Jika mencari seseorang di sini, tak ada guna. Orang yang Tuan cari tak ada di sini." Tanya Makci Sari seperti seorang Cenayang yang dapat menebak dengan pasti tujuan kedatangan Barra.
"Makci tahu darimana Barra sedang cari seseorang?"
"Dari hati Tuan Muda yang tersirat, jujur Makci katakan dia tak ada di sini. Dia berada jauh di negara lain. Seseorang yang utama Tuan cari tengah mengandung ya?" Jawab Makci lagi dengan penerawangannya.
"Iya Makci."
"Makci bisa bicara seperti ini apa atas perintah Daddy?" Tanya Barra yang curiga dengan semua perkataan Makci Sari yang seakan tahu segalanya.
"Tak ada perintah dari Tuan besar. Makci saja terkejut dengan berita kedatangan Tuan Muda. Pantas saja rumah ini banyak berdatangan kupu-kupu kemarin, ternyata pemiliknya baru menyambangi lagi rumah ini setelah sekian lama tak datang. Makci bisa melihat masa depan sikit-sikit sajalah." Jawab Makci jujur.
"Kalau Tuan muda tak percaya dengan cakap Makci ini. Tuan muda bisa buktikan sendiri, jika Tuan muda pergi sekarang mencari seseorang yang berkaitan dengan istri Tuan, tak akan pula bertemu, yang ada Tuan hanya bertemu dengan orang di masa lalu istri Tuan. Kalian berdua sama-sama sedang mencari orang dalam penyesalan kalian masing-masing. Dia sudah terlambat, jika Tuan nak, Tuan sudah diselamatkan dengan Tuan besar. Jadilah anak penurut sekali saja Tuan." Ucap Makci meyakinkan.
Setelah itu ia pergi meninggalkan Barra yang terdiam berpikir dengan ucapan Makci Sari. Untuk membuktikan semua ucapan Makci Sari. Barra tetap pergi ke asrama kampus dimana Anaya di terima beasiswa di sana, dan benar saja. Anaya sudah melakukan pembatalan beasiswa sejak ia mendapatkan beasiswa itu.
"Si4l, Anaya kamu benar-benar adik ipar yang menguji kesabaran ku." Umpat Barra yang sudah mengeratkan gigi-giginya karena kesal.
Tak lama berselang ia keluar dari pusat informasi kemahasiswaan, ternyata ia bertemu dengan Alex.
"Mau apa kau ke sini? Mau cari adik iparku untuk mencari informasi tentang istri ku iyabkan?" Tanya Barra dengan tuduhannya.
"Istrimu tidak penting lagi bagi ku, aku ke sini pure mencari Anaya." Jawab Alex yang membuat Barra seketika tertawa.
"Hahahaha... Kau mencarinya setelah adik ipar ku itu bertunangan dengan asisten Daddy ku. Telat sekali kau." Ledek Barra yang terlihat senang dengan ekspresi terkejut Alex.
"Apa? Apa kau bilang dia sudah bertunangan?" Tanya Alex penuh rasa emosi. Ia menarik kerah baju yang dikenakan oleh Barra.
Jujur ia tak mengetahui tentang pertunangan antara Anaya dan juga Steve. Setelah perdebatan pertama dan keduanya dengan Anaya. Alex tak bertemu untuk mengobrol lagi dengan Anaya.
Meski mereka sering bertemu namun mereka bersikap saling tak mengenal satu sama lain. Anaya membangun dinding pemisah antara dirinya dan Alex, pernah dalam satu kesempatan Anaya terkesan menghindar dari Alex. Apalagi saat pesta kelulusan.
Alex yang diundang khusus oleh kepala sekolah saat itu, ingin sekali mengucapkan selamat pada Anaya yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Singapura. Namun tak diberi kesempatan oleh Anaya. Anaya malah turun dari panggung setelah berjabatan tangan dengan kepala sekolah dan dewan guru. Sebuah sikap ketegasan yang membuat Alex menyesal dan berpikir ulang tentang perasaan Anaya padanya.
Bodohnya Alex, ia baru menyadari ketertarikan pada sosok Anaya ketika Anaya sudah menarik diri dari dirinya. Terlambat dan menyesal itulah yang saat ini Alex rasakan.
"Singkirkan tangan mu! Kenapa kau semarah ini padaku? Bukannya berterima kasih kau malah ingin mengasari ku. Dasar Dokter sakit." Gerutu Barra, ketika Alex melepaskan cengkramannya.
"Apa benar dia sudah bertunangan?" Tanya Aex sekali lagi. Ia bertanya pada Barra dengan kepala yang tertunduk. Jujur ia merasa terpukul dengan penuturan Barra tentang Anaya yang telah bertunangan.
"Tentu benar, aku menghadiri pertunangannya, karena aku ini kakak iparnya dan sekaligus bos dari tunangannya." Jawab Barra dengan sombongnya. Ia bicara seakan memberi tahukan dengan jelas posisi dirinya.
"Anaya, kenapa cepat sekali kau berpaling dari ku. Kenapa aku selalu mengalami kisah cinta seperti ini? Kenapa?" Pekik Alex dengan penyesalan terdalamnya.