My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Septi dan Alex



Tok...tok .. tok ... [Kaca mobil Septi diketuk oleh salah satu bapak-bapak yang tengah melakukan ronda.]


"Iya Pak." Sapa Septi.


"Oh, Mbak Septi toh. Mau cari Mas Adnan kah?" Tanya Pak Dewo yang kali ini bertugas ronda.


"Iya Pak. Kok rumahnya sepi?" Jawab Septi.


"Sudah pindah, baru pindah hari ini. Katanya rumahnya mau direnovasi." Balas Pak Dewo yang membuat Septi manggut-manggut.


"Pindah kemana Pak? Kalau boleh saya tahu?" Tanya Septi yang mencoba menggali informasi.


"Ke apartemen, tapi apartemen mana saya ndak tahu Mbak." Jawab Pak Dewo.


Setelah mendapatkan informasi yang cukup Septi pun mengucapkan terima kasih pada Pak Dewo dan pamit pergi dari sana.


"Dimana aku harus menemui mu, Mas? Aku terlambat datang untuk menemui mu," Gumam Septi begitu lirih dan merasa frustrasi dengan kehidupannya saat ini.


Septi baru sadar, ketika sudah bercerai dengan Adnan hidupnya bukannya lebih membaik, tapi malah lebih memburuk. Dia terlalu sombong saat itu. Menerima begitu saja gugatan cerai yang dilayangkan Adnan padanya, dan tak mau menerima nafkah untuk putranya, Riski yang kini sangat memerlukan biaya.


Ia tak menyangka jika kehidupan keluarga mantan suaminya ini bisa berubah semaju dan sepesat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ada rasa sesal di hati Septi saat ini. Mengapa keluarga mantan suaminya ini maju saat ia tak lagi jadi bagian keluarga suaminya, tidak saat ia masih jadi bagian dari mereka saja. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalannya kini tak akan membuay dirinya kembali pada Adnan. Karena Adnan sudah memiliki pengganti dirinya.


Septi yang tengah frustrasi kini, bukannya kembali ke rumah setelah dari kediaman Abimanyu. Ia malah kembali melajukan kendaraannya menuju sebuah klub malam yang sering ia datangi dahulu, di zaman ia kuliah.


Suara iringan musik yang keras dan lampu yang bergemerlap menyambut kedatangan Septi yang datang seorang diri. Ia berjalan menuju sebuah kursi bartender. Seseorang karyawan club yang sudah lama bekerja di klub tersebut masih mengenali Septi yang tidak mengalami banyak perubahan dari wajahnya maupun tubuhnya.


"Hai Sep, Dari mana aja baru kelihatan lagi? Long time no see loh Sep. " Sapa Jojo begitu ramah pada Septi yang tengah di landa frustrasi.


"Gue nggak kelihatan karena gue udah nikah dan gue baru kelihatan karena pernikahan gue sudah kandas."


"Lo jendesss sekarang? Nikah sama siapa lo? Pengusaha mana yang nikahin lo? Apa lo jadi nikah sama dokter muda itu hum?" Tanya Jojo yang mengetahui tentang malam kelam yang pernah dilalui Septi dan Alex.


Tentu saja Jojo mengetahui akan kejadian itu, karena Septi pada waktu itu membuat keributan besar di club malam ini, hanya demi mendapatkan pertanggung jawaban dari Alex. Sedangkan Alex sendiri, dalam keadaan tak baik-baik saja, karena perasaan cintanya pada Arumi ditentang keluarganya yang menginginkan pasangan Alex harus sama-sama berprofesi sebagai Dokter.


Alex menolak bertanggung jawab dan meminta Septi menggugurkan kandungannya. Ia tak mau karirnya sebagai dokter muda hancur dan namanya dicoret dari daftar keluarganya, karena kesalahan fatal yang ia lakukan.


"Nggak Jo, dia menolak untuk tanggung jawab. Pria itu pria brengsek, egois. Gue nggak suka sama dia, gue benci sama dia. Kalau gue bisa, gue mau bunuh dia." Jawab Septi sembari menengguk minuman keras di tangannya, yang baru saja diberikan Jojo pada dirinya.


"Terus lo nikahnya sama siapa? Siapa yang lu paksa untuk tanggung jawab anak dari si dokter muda itu?" Tanya Jojo yang begitu penasaran dengan kisah hidup Septi.


"Hah gila loh, terus si dokter muda itu jadi nggak nikah sama cewek itu? Terus gimana dengan rencana lo? Apa lo dicerein gara-gara rencana lo ketahuan?" Tanya Jojo lebih dalam lagi, selain penasaran, ia juga tak menyangka dengan apa yang dilakukan Septi.


"Sayangnya dia nggak jodoh sama cewek itu dan gue gagal membuat hidup dia hancur berantakan, tapi setidaknya gue udah bisa nyakitin hidup cewek itu selamague jadi istri kakaknya. Anggaplah itu embalasan kecil dari gue." Jawab Septi yang kembali meminta segelas miras pada Jojo.


"Kasihan cewek itu Sep, gak tahu apa-apa tapi kena getahnya. Pantesan aja dia masih suka mabuk-mabukan di sini, tapi ya nggak setiap hari sih, paling malam minggu dia lebih sering datang ke sini, kayaknya hidup dia udah hancur, tanpa lo hancurin deh Sep. Gimana kabar anak lo sama dia, berapa usianya sekarang?" Balas Jojo yang membuat Septi tertawa. Ia senang mendengar jika hidup Alex tak kalah hancur dengan dirinya.


Entah takdir ataupun kebetulan, saat Septi benar-benar sudah sangat mabuk dan berbuat onar, tiba-tiba saja Alex tiba di club malam itu.


Alex terkejut saat melihat keberadaan Septi yang tengah mabuk berat dan dikerumuni banyak orang. Merasa kasihan Ia pun menolong Septi.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Alex pada Septi yang mabuk.


Akhirnya Alex membawa Septi keluar dari club. Saat ia sudah memasukkan Septi ke dalam mobil. Tiba-tiba Jojo datang menghampiri dirinya dengan mengetuknkaca pintu mobilnya. Ia memberikan tas dan kunci mobil milik Septi pada Alex.


Usai berterima kasih pada Jojo. Alex menghubungi seseorang temannya bernama Mario.


"Mar, lo ada dimana?"


"Di rumah sakit mau pulang," jawab Mario, teman satu profesi dengannya.


"Bisa gue minta tolong sama supir lo? Ibu dari anak gue mabuk dan sekarang gue ada di club malam yang biasa gue datangi."


"Lo mau minta tolong supir gue buat bawa mobil punya ibu dari anak lo itu kemana?" Mario malah balik bertanya pada Alex.


"Ke apartemen gue. Gue gak mungkin bawa dia pulang kerumahnya, karena rumahnya di perkampungan Bro. Bisa di keroyok warga gue bawa anak orang dalam keadaan mabuk kaya gini."


"Hahaha... Lo bukan maling Lex, kenapa harus takut hah? Bilang saja lo gak mau belang lo ketahuan sama keluarga Arumi dan Anaya." Tebak Mario yang selalu menertawakan kepengecutan sikap sahabatnya ini.


"Terserah apa kata lo. Sekarang tolong bantu gue."


"Ok. Tunggu gue di sana. Dalam waktu lima belas menit, gue sudah ada di sana." Tukas Mario yang kemudian menutup sambungan panggilan telepon dari Alex.


Belum sampai lima belas menit, Mario dan supirnya datang. Alex segera menyerahkan kunci mobil Septi pada supir Mario.


"Kenapa dia bisa mabuk-mabukan begini? Kayanya dia banyak masalah Lex. Lo gak kasihan sama dia?" Tanya Mario pada Alex yang hanya menatap wajah sahabatnya dalam diam.