
"Arumi... Arumi...Arumi..." Pekik Barra memanggil Arumi, tapi Arumi tak menghiraukan panggilannya. Suara teriakan Barra yang cukup keras ini, berhasil menjadikan dirinya pusat perhatian pengunjung Mall lainnya.
Malu, itulah yang kini seorang Barra rasakan. Ditinggal sendirian di dalam mobil ketika ia tertidur oleh istrinya dan saat menyusul sang istri, istri yang di panggil malah pura-pura tak mendengar. Istrinya itu malah tetap berjalan melenggang di depannya, dengan diikuti oleh Caisar sang Bodyguard yang setia mengikuti Arumi kemana pun istrinya itu pergi.
"Ah...Si4l," umpat Barra frustasi diacuhkan oleh Arumi dan menahan malu menjadi perhatian orang banyak.
"Arumi istriku, tunggu suami mu ini sayang!" Pekik Barra sembari melangkan kakinya dengan cepat. Pekikan terakhir Barra ini akhirnya berhasil menghentikan langkah kaki Arumi.
"Tadi dia bilang apa Bang Caisar?" Tanya Arumi pada Caisar yang ada di belakangnya. Ia mencoba memastikan apa yang ia dengar tadi tidak salah.
"Arumi istriku, Nona." Jawab Caisar dengan wajah datarnya.
"Heh, dia kesambet apa? Bicara seperti itu?" Tanya Arumi keheranan. Ia masih tak percaya jika suaminya ini mengakui dirinya di muka umum.
Hos...hossss...hosss [Suara nafas Barra yang terengah-engah di depan Arumi].
"Kamu kok tega ninggalin suami kamu sendiri sih Arumi, jahat kamu!" Ucap Barra pada Arumi yang terlihat cuek, tak mau membalas ucapannya atau pun memperhatikan dirinya yang bercucuran keringat karena mengejarnya.
"Kamu gak mau ngusapin keringat saya? Saya keringatan nih, gara-gara ngejar kamu?" Tanya Barra pada Arumi yang biasanya selalu mengusap keringat yang membasahi wajah Barra.
"Maaf saya buka baby sister Bapak dan saya gak ada waktu untuk itu." Ucap Arumi yang membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan menuju counter penjualan ponsel.
"Apa? Sombong sekali dia sekarang! Pasti ini ajaran Aki-aki tua bangka itu." Umpat Barra kesal.
Barra mengusap kasar keringat yang membasahi wajahnya. Ia buka jas kerjanya yang membuatnya berkeringat. Ia banting jas itu ke lantai, saking ia kesalnya dengan sikap Arumi yang berubah seratus delapan puluh derajat. Ia berlari kembali mengejar Arumi.
"Caisar, ambil jas ku itu!" Perintah Barra pada Caisar dan Caisar pun menunduk patuh mengambilnya.
Sedang Barra yang berhasil menyusul langkah Arumi langsung saja merangkul dan mencium pipi Arumi.
"Apa seorang istri kalau sedang marah seperti ini hum? Istriku, Arumi." Tanya Barra yang terus menatap Arumi saat berjalan bersama sang istri ke counter ponsel.
Barra berniat merayu Arumi agar tak mengikuti semua perkataan sang Daddy yang akan merugikan dirinya nantinya. Namun sayang, rayuan yang belum ada apa-apanya ini belum ditanggapi oleh istrinya yang terlihat dingin tak sehangat dulu.
"Aish... Kacang mahal ughhh..." Umpat Barra lagi saat lagi-lagi ia di acuhkan oleh istrinya.
Sesampainya di counter ponsel, kedatangan mereka langsung di sambut oleh sales promosi baik wanita maupun pria. Dan Arumi tertarik mengikuti seorang sales pria yang terlihat tampan dan berpostur tubuh proposional yang akan membantu dirinya memilih ponsel yang akan ia beli.
Jangan tanya bagaimana reaksi Barra. Dia langsung marah dan minta di ganti oleh wanita saja.
"Tolong saya tidak mau di bantu oleh dia, apa tidak ada sales promosion----- girl saja." Ucap Barra yang mendapat tatapan tajam dari Arumi, suaranya pun berangsur-angsur memelan karena tatapan sang istri.
"Aku tidak mau dibantu oleh dia sayang, sama yang lain saja ya," bujuk Barra yang tak membuat Arumi melepaskan tatapan tajamnya terhadap Barra.
Barra terdiam dan menunduk kepalanya, seperti anak kecil yang di marahi oleh ibunya. Kali ini Arumi benar-benar berubah, bukan Arumi yang selalu menjadi istri penurut lagi.
"Tadi sampai dimana Mas?" Tanya Arumi pada salesman yang tampan itu, dan salesman itu pun menjelaskan ponsel-ponsel yang ia tawarkan pada Arumi.
"Kalau begitu saya mau ponsel yang ini saja," tunjuk Arumi pada salah satu ponsel yang ditawarkan oleh Salesman itu.
"Baik, kalau begitu saya siapkan dulu barangnya, mohon di tunggu sebentar. Ngomong-ngomong suaminya tidak sekalian dibelikan Nona?" Sahut Salesman itu yang mengambil kesempatan untuk dapat menjual lebih dari satu unit.
Arumi terdiam sejenak, ia berpikir ponsel Barra pun sama rusaknya sepertinya dirinya. Meski suaminya itu pasti dapat membelinya sendiri, namun hatinya yang begitu baik dan perhatian pada suami jahatnya ini pun akhirnya membelikannya juga.
"Ya, boleh Mas, tapi warna hitam ya, jangan yang warna gold." Jawab Arumi.
Mendengar jawaban Arumi. Salesman ini tersenyum senang pada Arumi karena dapat menjual ponsel termahal di toko ini dua unit sekaligus dalam sehari. Barra yang melihat salesman tersenyum senang pada Arumi, kembali terbakar api cemburu.
"Kondisikan mata mu, dia itu istriku!" Ucap Barra yang menganggap Salesman di depannya itu tersenyum dengan tatapan terpesona pada istrinya.
"Maaf Tuan, istri Anda sangat baik hati dan cantik, hingga membuat saya terpesona, andai saya memiliki istri seperti istri Tuan, pasti saya tidak akan membiarkannya pergi kemana-mana tanpa saya," jawab Salesman itu dengan beraninya memuji Arumi di depan Barra.
Sontak saja emosi Barra tersulut. Ia berdiri dan ingin meninju salesman itu, namun belum sempat melakukannya. Arumi menarik paksa tangan Barra hingga kembali duduk di sampingnya.
"Jangan bikin malu! Di sini itu counter ponsel bukan ring tinju! Saya kesini untuk beli ponsel bukan mau lihat Bapak duel sok jagoan sama dia." Ucap Arumi dengan suara berbisik.
Barra tak berkutik karena Arumi meremas kuat paha Barra, hingga wajah Barra terlihat meringis kesakitan.
"Nona, silahkan lakukan pembayaran dulu." Ucap Salesman itu yang sudah membawa dua ponsel pesanan Arumi.
Arumi pun berjalan ke arah meja kasir, di ikuti oleh Barra dan juga Caisar sang Bodyguard.
Arumi mengambil dompet di saku blazersnya. Ia mengeluarkan satu kartu Blackcard dari dompetnya, yang Barra kenali jelas, kartu itu bukanlah kartu pemberian dari dirinya.
"Apa kartu itu Daddy yang memberikannya pada mu?" Tanya Barra saat Arumi sudah memberikan kartu tersebut pada seorang kasir.
"Bukan Daddy, tapi Mommy." Jawab Arumi apa adanya.
"Kenapa tidak gunakan kartu yang saya berikan?" Tanya Barra yang menarik lengan Arumi agar Arumi menatapnya.
"Kartu Blackcard Bapak sudah diambil sama Daddy. Daddy bilang, saya tidak perlu lagi kartu itu. Selagi saya tidak dianggap istri oleh Pak Barra, Pak Barra tidak berkewajiban menafkahi saya. Daddy bilang, dia dan Mommy masih sanggup menafkahi saya, dan membelikan apa saja yang saya mau." Jawab Arumi membuat Barra seketika memegangi kepalanya yang mulai pusing kembali.
Bagaimana tidak pusing. Sekarang kedua orang tuanya benar-benar sudah terlalu ikut campur dengan rumah tangganya dengan Arumi. Kedua orang tuanya ini berhasil mencuci pikiran Arumi dan juga berhasil membuat istrinya berubah drastis terhadap dirinya. Hanya satu hari di mansion sudah seperti ini apalagi berhari-hari.