My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Anaya pergi



Hari Minggu pagi yang ditunggu-tunggu oleh Steve dan juga Anaya pun datang. Sepasang suami istri ini ternyata sudah mengemas barang-barang mereka satu hari sebelumnya tepatnya di hari Sabtu.


Dengan mata yang berkaca-kaca Anaya berpamitan pada sang bunda dan ayah dan juga kepada kedua Kakak dan kedua kakak iparnya.


"Jangan kangen ya sama Anaya,"ucapkan Anaya saat berpamitan pada Adnan dan juga Barra.


"Akhirnya tercipta juga kedamaian setelah si biang rusuh pergi," sahut Barra meledek, yang langsung dapat toyoran kepala dari Steve.


Untuk pertama kalinya Adnan membela Anaya, saat Barra meledeknya.


"Kak Adnan apa yang kau lakukan?" Protes Barra sembari memegangi kepalanya yang di toyor oleh Adnan cukup kencang hingg tubuhnya sedikit terhuyung.


"Jangan bercanda lagi serius!" Jawab Adnan dengan ekspresi sedihnya.


Adnan segera memeluk adiknya, dengan mata yang berkaca-kaca. Rupanya hatinya begitu bersedih ditinggal oleh sang adik bungsu untuk hidup lebih mandiri tanpa mereka.


"Kak, sudah! Kita hanya berpisah tiga bulan. Imi tidak lama. Jangan sedih!" Ucap Anaya.


Iya berusaha menenangkan sang kakak yang tengah menangis di dalam pelukannya. Bertahun-tahun berpisah dengan keluarganya dan baru kembali beberapa waktu. Membuat seorang Adnan tak sanggup untuk kembali kehilangan.


"Tiga bulan itu lama sekali," jawab Adnan dengan suara seraknya karena ia masih saja menangis.


"Memes sudahlah! Kamu kan bisa menemui Anaya saat di kantor. Dia tidak pergi sejauh yang kau pikirkan." Ucap Zeline.


Ia berusaha menarik tubuh suaminya dari Anaya. Pasalnya ia sedikit malu, karena suaminya jadi perhatian banyak orang di lobby.


"Kak Steve, bantu aku melepaskan mereka!" Pinta Zeline pada suami Anaya itu.


"Biarkan, mereka sedang romantis. Jarangkan melihat mereka akur. Ini langka Zeline, kita harus abadikan." Tolak Steve.


Rupanya ucapan Steve ini sependapat dengan kedua mertuanya dan kakak iparnya Arumi. Arumi segera mengambil ponselnya dan mengabadikan sikap manis Adnan kepada adiknya. Saat Arumi Tengah merekam Adnan dan juga Anaya.


Zeline nampak menahan kesal karena tak ada yang berpihak padaya. Barra yang melihat adik sepupunya bersedih langsung saja memiliki ide yang cukup brilian.


Barra ikut-ikutan memeluk mereka dengan pura-pura menangis histeris, dan Barra dengan sengaja menangis histeris di dekat telinga keduanya. Sontak saja keduanya mengurai pelukan mereka. Karena merasa gendang telinga mereka sakit dengan apa yang di perbuat Barra.


"Apa-apaan kau Barra hah! Tangis mu itu membuat telinga ku sakit!" Protes Adnan sembari mengusap daun telinganya berkali-kali.


Zeline merangkul Barra sejenak karena berhasil melepaskan pelukan suaminya dari Anaya.


"Tentu saja. Aku tak mau adikku bersedih. Hanya kau adik yag ku punya." Jawab Barra yang mengecup kilas kening Zeline.


Rupanya bukan karena malu melihat Suaminya menjadi pusat perhatian semua oaang mata yang ada di lobby apartemen. Tapi ternyata ada rasa cemburu pada diri Zeline ketika Adnan memeluk wanita lain, meskipun itu adalah adiknya sendiri. Barra memahami itu, karena Zeline tengah hamil muda. Mood seorang wanita hamil itu tak bisa di tebak-tebak dengan mudah.


Usai drama pamit di lobby apartemen. Steve dan Anaya pun pergi meninggalkan apartemen. Sepasang mata yang sejak tadi bersembunyi menatap sedih ke pergian Anaya dan Steve dari apartemen ini.


"Kau benar-benar menghindari ku, Anaya. Sebenci itukah kau padaku. Tidak bisakah kau memaafkan ku?" Cicit Alex yang begitu sedih melihat Anaya.


*******


Dentuman musik yang terdengar keras membuat gendang telinga orang yang tak biasa masuk ke dalam klub malam terasa sakit. Ya. Kini Alex kembali mengunjungi klub malam. Hanya dengan bermabuk-mabukan dan menikmati musik yang dimainkan seorang DJ.


"Kau tampak tak baik-baik saja Lex," ujar Stella pada Alex. Wanita yang selama ini selalu menemani Alex menghabiskan waktu di club malam.


"Jika aku baik-baik saja, aku tak akan datang ke sini Stella." Balas Alex yang menyandarkan diri di sofa dengan mata yang terpejam.


"Ada apa lagi dengan mu? Lupakanlah mereka yang tak akan jadi milik mu, Lex. Jika kau seperti ini terus hidup mu dan karir mu akan hancur." Stella wanita yang merupakan teman dekat Alex berusaha menasehati Alex yang masih menatap kosong langit-langit club malam yang dipenuhi dengan cahaya lampu yang menyilaukan.


"Hidupku yang mana, yang belum hancur Stella?" Balas Alex, yang mulai menitikan air mata.


"Kau merasa hidupmu telah hancur, karena tak mendapat salah satu diantara mereka bukan? Tapi ku rasa hidup mu belum hancur Lex. Tuhan tidak mentakdirkan salah satu diantara mereka untuk menjadi bagian hidup mu, bukan karena Tuhan kejam, tak mengerti perasaan mu. Tapi Tuhan begitu baik padamu, memberikan kesempatan untuk mu menebus dosa mu, pada wanita yang telah kau nodai dan kau tinggal begitu saja. Kau memiliki Anak dari wanita itu. Seharusnya kau berjuang untuk kebahagiaan putra mu, bukan untuk mereka yang sudah memiliki kebahagiaan sendiri." Ucap Stella yang terus memandangi wajah Alex.


"Di antara kami hanya ada anak dan tidak ada cinta, Stella."


"Kata siapa? Dia mencintaimu dan aku tahu itu. Sejak lama dia mencintaimu, bahkan mengagumi mu. Jika dia tak mencintaimu, buat apa dia mempertahankan benihmu yang dikandung olehnya? Kau pikir mengandung dan melahirkan adalah hal yag mudah. Tidak Alex. Itu sangat melelahkan dan menyakitkan. Sekarang kau tinggal bersamanya, dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan, seharusnya kau menikahinya demi putra mu. Bersikaplah sebagai seorang pria gentle." Sanggah Stella panjang lebar.


Stella adalah teman Alex sejak kecil, ia begitu dekat dengan Alex. Bahkan kedua orang tua mereka hampir saja menjodohkan mereka berdua. Namun Stella menolak, begitu pula dengan Alex. Jika Alex menolak karena tidak mencintai Stella. Berbeda dengan Stella yang menolak dijodohkan oleh Alex karena dia mengetahui kejadian di mana Alex melakukan one night stand bersama dengan Septi. Dia juga mengetahui bagaimana Alex dengan kejamnya meminta Septi untuk menggugurkan kandungannya.


Jangan bilang jika Stella tidak memiliki rasa cinta pada Alex. Tentu saja dia mempunyai rasa itu pada Alex. Hanya saja akal sehatnya berfungsi dengan baik, dia tak mau memiliki teman hidup yang tak punya hati dan kejam seperti Alex.


Dia hanya menganggap Alex sebagai teman baiknya dan tidak berniat untuk menjadikan Alex teman hidupnya sekarang atau nanti.


"Kau ingin aku menikahi Septi? Apa kau sudah memaksaku untuk menikahinya? Bagaimana bisa aku menikahi seorang wanita tanpa rasa cinta?" Alex mencecar Stella dengan pertanyaannya seputar Septi.


"Bukan karena keinginanku, tapi cobalah berpikir untuk tidak egois Alex. Kau masih memikirkan cinta, sedangkan putramu membutuhkan sosok dirimu dan juga Septi. Pikirkan bagaimana perasaannya, jangan hanya memikirkan bagaimana perasaanmu. Pulanglah putramu pasti sekarang sedang menunggumu." Jawab Stella yang segera pergi berlalu begitu saja tanpa menunggu Alex kembali membalas kata-katanya.