
"Papi masih ngantuk?" Tanya Arumi yang mulai menyudahi aktivitasnya karena tak tega demgan wajah bantal suaminya.
Barra mengangguk, mengiyakan jika dirinya masih mengantuk.
"Bu Ipah, maaf. Arumi mau nidurin bayi besar dulu, sebentar ya. Tolong jangan diteruskan!" Ucap Arumi saat ia mencuci tangannya di tempat Bi Ipah tengah mencuci piringnya.
"Iya Nyonya," jawab Bi Ipah.
Bi Ipah akan memanggil Arumi dengan embel-embel Nyonya, jika ada orang lain diantara mereka, namun jika mereka sedang berdua saja, Bi Ipah akan memanggil Arumi tanpa menggunakan embel-embel Nyonya.
Usai mencuci tangannya, Arumi menggandeng tangan suaminya kembali masuk ke dalam kamar. Ia benar-benar menemani Barra hingga kembali tidur.
Dengan perlahan Arumi turun dari ranjang tidurnya untuk kembali meneruskan kegiatannya memasak di dapur.
Masakan Arumi matang bertepatan dengan Adzan subuh yang berkumandang. Ia segera membersihkan diri sebelum menunaikan sholat subuh berjamah bersama dengan suaminya.
Usai sholat subuh, Barra menahan tangan Arumi untuk tetap duduk bersamanya di atas sajadah.
"Mami,"
"Hemmm, kenapa masih ngantuk?" Sahut Arumi yang masih melihat wajah kantuk suaminya.
"Bukan, adakah yang Mami sembunyikan dari Papi?" Tanya Barra yang menatap serius wajah istrinya.
"Apa ya? Kayanya gak ada deh yang di sembunyikan. Semuanya Papi tahu tentang Mami." Jawab Arumi dengan wajahnya yang terus berpikir dan memutar otaknya.
"Benarkah? Sepertinya ada? Semalam Papi habis bicara dengan Kak Adnan dan Steve ternyata kereka sudah tahu----" ucapan Barra terpotong karena Arumi berhasil mengingatnya.
"Oh yang itu ya, hemmm...." Tiba-tiba wajah Arumi berubah masam dan melirik tajam Barra.
"Kamu masih ada rasa gak tuh sama si mantan yang bahenol?" Tanya Arumi dengan tatapannya yang sinis dan tajam.
Perubahan sikap Arumi ini membuat Barra sangat menyesal sudah menanyakan akan hal ini.
"Kenapa diam? Masih suka ya?" Tanya Arumi dengan tuduhannya.
Arumi marah dan memukul suaminya tiada henti hingga terjungkal.
"Aduh... Ampun Mih. Ya Allah. Tolong hamba mu ini!" Rintih Barra yang pasrah dipukuli oleh istrinya.
"Rasain hah, berani ya mau macam-macam! Gak inget udah mau punya anak dua. Masih mau CLBK sama mantan." Omel Arumi yang tiada henti memukuli bokong Barra.
"Ampun Mih, mana berani aku, Mih. Aku saja takut ditinggalin kamu, mana mungkin berani macam-macam." Jawab Barra yang tak juga menghentikan aksi Arumi memukulinya.
Entah apa yang diceritakan Zeline dan Anaya, hingga membuat istrinya semarah ini padanya.
"Zeline, Anaya. Kalian mengibarkan bendera perang dengan ku ya. Hummm liat saja nanti." Gerutu Barra yang masih saja pasrah dipukuli oleh istrinya.
Barra hanya berharap Ibu perinya segera datang membantunya terlepas dari penganiayaan istrinya. Dan benar saja dalam hitungan detik Arabella datang dan mendengar kegaduhan di tempat sholat Barra dan Arumi.
"Arumi! Apa yang kamu lakukan. Ya Allah! Kamu KDRT!" Pekik Arabella yang seketika menghentikan Arumi yang tengah menganiaya Barra.
"Ibu tolong bu, Arumi tuduh aku macam-macam. Berani saja tidak aku bu. Aku hanya tanya apa ada yang disembunyikan dariku pada Arumi? Dan aku juga katakan jika semalam aku habis bicara dengan Kak Adnan dan Steve, tapi tiba-tiba Arumi langsung marah dan mememukuli ku." Adu Barra pada ibu mertuanya.
"Arghh ini pasti ulah Anaya dan Zeline. Entah apa yang dibicarakan padamu. Kamu itu mudah sekali percaya omongan mereka berdua sih, Arumi. Sudah tahu, mereka sedang kesal dengan suamimu yang tak mau membelikan keinginan mereka yang mengada-ngada." Ucap Arabella. Ia mendengus kesal degan kepolosan putrinya.
"Maaf bu,"
"Minta maaf pada suamimu!" Perintah Arabella yang langsung dijalani oleh putrinya.
"Papi maaf," ucap Arumi lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
"Sudah tidak apa-apa Mami, jangan sedih! Papi jadintahu kalau Mami sayang dan cinta sama Papi kalau begini." Ucap Barra yang lantas memeluk istrinya.
"Sudahi kesalahan pahaman kalian ya, jangan dibahas lagi! Nanti biar ibu yang hukum mereka berdua. Sekarang cepat bersiap ganti pakaian kalian. Ayah dan Ibu sudah lapar. Semalam hujan rintik-rintik dan kami menahan lapar sejak semalam karena takut melar." Ucap Arabella yang langsung dituruti oleh keduanya.
"Pih, jadi ini semua gak benar?" Tanya Arumi yang terlihat merasa menyesal, saat neeeka berjalan menuju kamar mereka.
"Nanti kita bicaranya ya. Banyak yang ingin Papi bahas soalnya Mih. Berjanjilah kita bahas dengan kepala dingin." Jawab Barra sambil mengelus bokongnya yag masih terasa sangat sakit.
Usai sarapan bersama. Setelah Abimanyu pergi untuk melihat empang-empang Barra yang kini ia urus itu.
Barra mulai buka suara tentang informasi yang ia dapat dari Kevin. Arabella nampak terkejut, saat mengetahui jika Tati adalah wanita dari masa lalu suaminya.
Pantas saja, ia merasa aneh dengan sikap Tati selama ini pada dirinya.
"Jadi Ibu benar-benar tidak mengetahuinya?" Tanya Barra dan Arabella menganggukan kepalanya.
"Berarti Ayah selama ini tidak pernah menceritakan masa lalunya pada Ibu dan Ibu sama sekali tidak bertanya gitu?" Tanya Arumi pada sang Ibu.
"Hemm iya, Ibu tidak pernah bertanya sama sekali pada Ayah. Menurut ibu ya buat apa. Itukan hanya masa lalu, kalau sekarang yang penting ibu tahu saja dan sekalipun sudah tahu tak akan mengubah yang ada. Tidak juga harus marah pada Ayah. Mungkin Ayah punya alasan sendiri tidak msu menceritakannya pada Ibu. Selagi Ayah selalu ada untuk ibu. Ya sudah itu tak akan jadi masalah." Jawab Arabella santai.
Arumi terperangah dengan jawaban Arabella yang santai, tidak sepeprti dirinya.