My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Rencana Jahat Tati



Kehidupan harmonis keluarga besar Abimanyu dan Arabella, ternyata membuat seorang wanita paruh baya yang tidak suka terhadap keluarga itu pun menaruh rasa iri dan dengkinya.


Hatinya terus memanas, ketika semua orang membicarakan keharuman nama keluarga Abimanyu dan Arabella. Berbanding terbalik dengan keluarganya dan juga keluarga menantu barunya, Septi.


Merasa tak ingin disaingi oleh keluarga Abimanyu dan Arabella. Tati juga melakukan pembangunan rumah besar-besaran densn waktu yang tepat sangat singkat, wanita paruh baya ini berhasil menggabungkan rumah mewahnya dengan rumah mewah milik Septi, menantunya. Menjadi satu bangunan rumah yang sangat megah.


Biaya pembangunan yang ia gelontorkan sangat tidak tanggung-tanggung, hingga mencapai 1 miliar rupiah. Bangunan kediaman baru Tati, terlalu kontras dengan lingkungan tempat di mana ia tinggal. Kemewahan kediamannya terlihat begitu mencolok.


"Arabella, kau lihat saja nanti, ketika menantu kesayanganmu satu persatu meninggalkan putra dan putrimu. Kau akan kembali ke kehidupan awal mu susah dan melarat." Ucap Tati dengan perasaan dengkinya.


Sementara itu di perusahaan Napoleon milik Barra. Kevin yang sudah menyelidiki motif Tati menikahkan Septi dengan putranya Bowo. Akhirnya mengetahui dengan jelas maksud dan tujuan sebenarnya, yang diinginkan oleh wanita paruh baya ini, yang hidupnya tidak mau sama sekali tersaingi oleh Arabella.


"Jadi Bu Tati itu adalah wanita dari masa lalu Ayah mertuaku?" Tanya Barra, yang terperangah saat Kevin menceritakan bahwa Tati adalah wanita dari masa lalu Ayah mertuanya.


Ya. Tati adalah wanita dari masa lalu Abimanyu. Abimanyu di saat muda menjalin kasih dengan Tati. Hubungan mereka kandas karena terhalang oleh restu dari kedua orang tua Abimanyu.


Entah alasan kuat apa yang tak diketahui oleh Abimanyu kala itu. Keluarga Abimanyu begitu sangat menolak kehadiran Tati sebagai pendamping untuk putra mereka, Abimanyu.


Sebagai pria sejati, Abimanyu terus berjuang mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, hingga ia sampai pada titik dimana kedua orang tua Abimanyu menunjukkan jati diri seorang Tati yang sebenarnya pada putra sulungnya itu.


Abimanyu terperangah, ia begitu terkejut saat melihat Tati menjadi seorang wanita simpanan om-om. Hati Abimanyu terasa sakit, tertipu dan terhianati oleh sikap Tati yang selalu baik di depannya.


Abimanyu sangat tidak menyangka, Tati rela menjajakan dirinya pada lelaki yang terpaut jauh usianya, hanya demi uang.


Ketika Abimanyu mengetahui semua hal itu, ia tidak ingin membuat Tati malu di muka umum. Ia simpan rasa sakit hati dan kecewanya seorang diri.


Seorang Abimanyu menepikan hatinya dan meninggalkan Tati begitu saja, tanpa mengungkapkan rasa sakit hati dan kecewanya karena sudah mengetahui siapa sebenarnya Tati.


Tati yang merasa ditinggalkan, sempat berusaha meminta kejelasan dari Abimanyu. Namun Abimanyu yang sudah terlanjur kecewa. Memilih untuk tetap diam dan tak ingin angkat bicara tentang penyebab dirinya mengabaikan dan meninggalkan Tati.


"Ya. begitulah informasi yang aku dapatkan Bar. Dia memiliki dendam tersendiri pada keluarga mertuamu." Jawab Kevin.


"Kevin. Aku tidak pernah melihat suami Bu Tati. Apakah Bowo adalah anak dari hubungan terlarang Bu Tati dengan pria hidung belang itu?" Tanya Barra yang begitu penasaran.


"Berarti maksud dia menikahkan Septi dengan putranya adalah untuk memecah belah keluarga mertuaku begitu? Karena Septi akan membantu Tati menghancurkan pernikahan Anaya dan Steve, karena salah satu wanita di masa lalu asisten Daddyku adalah teman baiknya. Lalu keponakannya, Pinkan akan menghancurkan pernikahan ku dengan Arumi? Hahaha.... Lalu Adnan bagaimana? Apa dia tidak berani memisahkan Adnan dan Zeline. Rencana gila macam apa ini? Benar-benar tak masuk akal." Ucap Barra yang terus tertawa.


"Adnan dan Zeline tetap akan wanita tua itu pisahkan Bar, dia akan menggunakan Riski sebagai duri dalam pernikahan Adnan dan Zeline."


"Tapi Rizki bukanlah anak biologis Adnan. Rizky itu adalah anak biologis dari Alex. Sepertinya rencana wanita tua bangka itu tidak matang untuk menghancurkan keluarga kami." Balas Barra yang terus tertawa. Karena merasa apa yang direncanakan Tati sungguh tidak nyambung.


"Wanita tua bangkai itu wanita yang sangat licik Bar. Kau harus berhati-hati dengannya, apalagi dengan Bowo. Ingatlah kita sedang ada kerja sama bisnis dengan perusahaan yang melibatkan dirinya secara langsung. Pria itu sangat penurut dengan apa kata ibunya. Meski dia masih mencintai Arumi tidak menutup kemungkinan, dia akan berlaku kejam dan tega terhadap istrimu, demi menuruti perintah dan permintaan ibunya." Ucap Kevin yang berusaha mengingatkan Barra untuk tidak lengah.


"Ya, kau tenang saja, Vin. Aku akan menjaga dengan baik keluarga besar ku, terutama keluarga kecilku." Balas Barra.


Malam ini di paviliun miliknya. Barra membuat pertemuan tertutup antara dirinya dan kedua saudara ipar lelakinya ini. Ketika para istri mereka telah tertidur pulas.


"Ada apa sih Bar, tengah malam kaya gini ngajak ngobrol. Enaknya juga tengah malam begini kelonan sama istri. Ya gak Steve?" Ucap Adnan sembari menyeruput wedang jahe buatan Bi Ipah yang kini ikut tinggal bersama Barra di Paviliunnya.


"Hemmm... Hujan rintik-rintik seperti ini enak ngadonin lagi ya Kak Adnan." Sahut Steve yang memulai pembicaraan menjurusnya.


"Pintar sekali jawaban mu, Steve. Hahaha..." Balas Adnan yang memberi empat jempolnya pada Steve, hingga ia hampir terjungkal.


Keduanya tertawa terbahak-bahak di tengah malam yang sunyi senyap, dengan rintikan air hujan yang bergemericik


"Sudahlah kalian berdua, tolong jangan bercanda dulu. Aku ingin menyampaikan informasi penting yang aku dapatkan dari Kevin." Ucap Barra sembari menepuk pundak Adnan untuk berhenti bercanda.


"Informasi penting? Memangnya kita sedang ada masalah?" Tanya Adnan pada adik iparnya itu, yang wajahnya sangat serius kali ini.


"Saat ini memang kita tidak dalam menghadapi masalah. Tapi ke depannya nanti kita akan menghadapi sebuah masalah yang entah besar atau tidak. Aku tidak tahu." Jawab Barra yang kini berhasil membuat kedua saudara iparnya serius menatap dan mendengarkan ucapannya.


"Maksud pembicaraan mu itu, bagaimana ya Bar? Bisa lebih terperinci sedikit dan langsung pada intinya saja. Jujur otakku ini sudah tak sanggup untuk berpikir. Untuk makan pun aku sulit apalagi untuk berpikir. Ya salam." Kembali Adnan mengajukan pertanyaan, agar Barra lebih detail menjelaskan. Sembari menepuk jidatnya. Memancing tawa Steve kembali pecah.


Sungguh tak nyaman bagi seorang Adnan jika mendengarkan terlalu banyak intermezo dari pada inti cerita yang ingin di sampaikan adik iparnya ini padanya.