
Saat Arumi sudah berada di muka pintu dan hendak membuka pintu untuk drinya keluar dari ruangan suaminya. Barra menahan pintu ruangannya itu dengan tangannya, agar pintu itu tak bisa dibuka oleh Arumi.
Arumi menoleh kebelakang dimana ada Barra yang tengah menatap tajam dirinya.
"Kenapa? Bapak mau marah? Mau tampar saya lagi? Silahkan!" Arumi berkata sembari memasang wajahnya yang siap untuk di tampar oleh Barra sembari memejamkan matanya.
Bukannya menampar, Barra malah mencium dengan rakus bibir Arumi, memojokkan tubuh Arumi ke pintu dan melancarkan aksinya yang ingin meminta haknya sebagai seorang suami.
"Mmmmphhh... le-pas!"
Arumi tak membalas serangan Barra, ia malah menolak ciuman itu dan terus berusaha terlepas dari tubuh Barra yang mengunci dirinya. Seolah tak perduli dengan perlawanan Arumi, Barra terus saja menyerang tubuh Arumi, meski sepatu kerja yang ia kenakan sudah diinjak Arumi dengan heelsnya.
"Balas ciuman saya, Arumi!" Pinta Barra dengan suara berkabut gairah. Alih-alih membalas, Arumi malah menggigit bibir Barra.
"Arghhh...." pekik Barra kesakitan, bibirnya di gigit kuat oleh Arumi.
"Arumi!! Tinggal di mansion membuat mu berani melawan saya rupanya."
"Tentu saja, mulai saat ini saya berani melawan Bapak. Kenapa saya harus takut? Alasan apa yang harus membuat saya takut sekarang? Apa karena Bapak adalah atasan saya atau karena Bapak adalah suami saya? Bukankah saya ini hanya sebatas istri di atas ranjang dan di perusahaan ini tak ada yang mengetahui pernikahan kita selain Pak Kevin dan Kak Indri. Tak sepantasnya Bapak meminta hak Bapak di kantor ini. Lagi pula kita sebentar lagi akan bercerai, jangan sentuh saya, jika Bapak tak mau memiliki keturunan dari wanita busuk dan hina seperti saya," Arumi membalas dengan lantang perkataan Barra. Perkataan yang berhasil mencubit hati Barra.
"Saya sudah katakan, saya tidak akan menceraikan kamu." Balas Barra yang menatap dalam bola mata Arumi.
"Jika Bapak tidak mau menceraikan saya, saya yang akan menceraikan Bapak. Hidup di dunia ini semua orang berhak bahagia, termasuk saya. Saya ingin hidup bahagia dengan orang yang mencintai saya, bukan orang yang hanya menganggap saya hanya sebagai alat pemuas nafsu dan obat tidurnya saja. Bapak punya mimpi bersama Pinkan, begitu pula dengan saya,"
"Apa mimpi mu adalah hidup bahagia dengan dokter busuk itu hah?" Tanya Barra dengan tebakannya. Ia kembali terbakar api cemburu dan Arumi menyadari itu.
"Tentu saja, dia mencintai saya dan saya juga pernah mencintai dia saat SMA dulu. Mudah bagi saya untuk mencintai dia kembali, pria yang begitu baik dan perhatian pada saya. Mencurahkan semua waktunya untuk saya dan mau menerima kekurangan saya, yang sudah tak perawan lagi. Asalkan saya membuka hati, semua akan terasa indah nantinya." Jawab Arumi yang sengaja memancing kecemburuan Barra.
"Jangan bermimpi! Sampai kapan pun Dokter busuk itu tak akan pernah menjadi suami mu." Balas Barra.
"Bapak tidak berhak melarang saya untuk bermimpi menjadi istri Dokter Alex, saya saja tidak pernah melarang Bapak terus berusaha menggapai cinta kekasih Bapak. Jadi bukannya kita impas sekarang, Bapak bersama Pinkan dan saya bersama Dokter Alex. Ahhh... saya sudah merancang mimpi indah saya bersama Dokter Alex, memiliki anak yang lucu-lucu bersama dia, pasti hidup saya akan bahagia dan berwarna. Jika saya terus bersama Bapak, sampai mati pun saya tak akan pernah menjadi perempuan yang sempurna, karena Bapak tak ingin dan tak sudi memiliki keturunan dari wanita hina dan busuk seperti saya." Balas Arumi lagi yang kemudian mendorong tubuh Barra sekuat tenaga, hingga Barra menjauh dari tubuhnya.
Arumi membuka pintu ruangan Barra, ia keluar dengan hati yang lega, bisa mematahkan semua perkataan Barra. Ia pun terlihat menghela nafas panjangnya ketika baru keluar dari ruangan Barra, helaan nafas panjang Arumi ternyata memancing perhatian Indri yang sejak tadi menunggunya keluar dari ruangan Barra.
"Kenapa?" Tanya Indri tanpa bersuara.
Arumi membalas dengan senyuman, lalu berjalan ke arah meja kerja mereka yang berada di depan pintu ruang kerja Barra.
"Pegal sekali kaki ku Kak, ughhh..." rintih Arumi sembari melepaskan sepatu pemberian Indri.
"Jangan terlalu lama menggunakannya ketika sedang hamil muda, kata orang sih tidak baik dan berbahaya." Balas Indri yang sudah mengetahui kehamilan Arumi sejak awal.
"Iya Kak, makanya aku pakai flat shoes terus." Sahut Arumi yang tersenyum pada Indri ketika menunjukkan salah satu heels sepatu yang baru diberikan Indri sudah lecet karena menancap di layar ponsel Barra tadi.
"Kok bisa?" Tanya Indri yang sedikit lemas karena harga sepatu yang diberikan pada Arumi, harganya tidak main-main.
"Hah, kok bisa? Apa dia cemburu?" Tanya Indri lagi saat melihat ponsel Arumi sudah tak berbentuk.
"Bisalah Kak, dia itu pria egois yang selalu melakukan sesuatu sesuka hatinya dan aku membalasnya dengan menghancurkan ponselnya dengan sepatu pemberian dari mu."
"Ahh... benarkah? Bagus lawan saja dia, jangan mau ditindas lagi oleh dia, Arumi. Dia itu pria yang tak punya hati, tak apa, aku tak marah sepatu yang kuberikan padamu lecet jika karena membalas perlakuan Bos si4lan itu pada mu." Balas Indri yang tak percaya namun merasa senang, Arumi sudah memiliki keberanian untuk membalas semua perlakuan Barra.
Tepat pukul 12.00 siang, Barra keluar dari ruang kerjanya, ia sudah tak melihat Arumi di meja kerjanya, ia hanya melihat Indri yang masih berada di meja kerjanya sembari menerima panggilan telepon yang pastinya dari suaminya, sekaligus asisten pribadi Barra.
"Dimana Arumi, Indri?" Tanya Barra pada Indri.
"Ia baru saja pergi, katanya ingin ke Mall terdekat, mau membeli ponsel baru sekalian makan siang bersama siapa ya tadi...mmmm lupa nama yang Arumi sebut tadi ex..exs apa ya," jawab Indri sengaja berbohong, ia mencoba makin membuat Barra kesal, dan benar saja, ekspresi Barra langsung berubah.
Barra segera berlari mengejar langkah Arumi yang mungkin belum jauh. Arumi baru saja sampai di lobby, ia sedang menunggu supir pribadinya yang diberikan kedua mertuanya itu, mengambil mobil untuk mengantarkannya ke Mall terdekat untuk membeli ponsel.
Saat mobil yang dikendarai Paijo, supir pribadi Arumi datang, Arumi segera masuk ke dalam mobil, tepatnya di kursi belakang. Belum sempat ia menutup pintu mobilnya sebuah tangan kembali membuat pintu mobil itu terbuka lebar.
"Geser!" Perintah Barra pada Arumi.
"Gak mau!" Tolak Arumi yang tak di indahkan oleh Barra. Ia tetap memaksa masuk dan menggeser tubuh mungil Arumi dengan mudahnya.
"Ishhh..." dengus Arumi kesal. Ia memukul lengan Barra sekuat tenaga.
"Pukulah sesuka hati mu, ini sama sekali tidak sakit." Ujar Barra sembari tersenyum menang bisa masuk ke dalam mobil bersama Arumi.
"Hallo Tuan Brandon, Tuan muda Barra memaksa masuk ke dalam mobil kami." Ucap Caisar, seorang bodyguard yang duduk di kursi samping pengemudi yang tidak di ketahui oleh Barra sebelumnya. Ia memberikan laporan pada Tuan besarnya sebelum Paijo melajukan kendaraannya ini.
"Biarkan dia bersama Arumi, asal kalian tetap membawa Arumi pulang ke mansion." Jawab Tuan Brandon yang tersenyum senang dengan kegigihan Barra mendekati Arumi, yang diminta untuk bersikap jual mahal pada putranya.
"Baik Tuan," jawab Caisar sebelum menutup sambungan teleponnya dengan Tuan Brandon.
Mendengar suara Caisar yang ia ketahui sebagai salah seorang bodyguard yang dimiliki sang Daddy. Barra mendengus kesal.
"Dasar aki-aki tua bangka!" Umpat Barra yang di dengar oleh mereka bertiga.
"Jalankan mobilnya Paijo! Saya tidak akan membawa tawanan Daddy ini kabur." Perintah Barra sembari menyandarkan kepalanya yang mendadak pusing karena kelakuan kejam sang Daddy padanya.
Sedang Arumi yang duduk di samping Barra, memilih pura-pura tak perduli dan membuang pandangannya kearah luar jendela.
"Arumi, saya sakit..." ucap Barra yang mengharapkan Arumi memperhatikan dirinya seperti biasanya.
Alih-alih diperhatikan. Arumi malah diam membisu dan tetap memandangi gedung-gedung tinggi pencakar langit di luar jendela.