
Dengan berbekal nomor ponsel suami Ibu penjaga warung yang diketahui namanya adalah Martono. Ketiganya dengan mudah menemukan Arabella dan Abimanyu yang masih berada di ruang unit gawat darurat.
Terlihat Arabella, tengah duduk bersama dengan Pak Martono di ruang tunggu unit gawat darurat. Wajah Arabella terlihat lelah dan juga cemas dengan kondisi suaminya, yang sedikit memburuk karena terlalu banyak mengeluarkan banyak darah.
"Bu," panggil ketiganya kompak saat menemukan sosok Arabella yang telah membuatnya cemas.
Arabella menoleh ke arah ketiga pria tampan bertubuh proporsional yang memanggilnya. Seketika manik mata Arabella menitikan air mata, melihat ketiga pria tampan yang merupakan anak dan menantunya datang sebagai dewa penyelamat baginya.
Barra langsung saja berlari melihat kondisi lutut Arabella yang terlihat diperban karena terluka. Ia duduk tepat dibawah kaki Arabella, ia terus mengamati perban dikaki ibu mertuanya itu.
"Bu apa lukanya dalam hingga di perban seperti ini?" Tanya Barra dengan wajah cemasnya.
"Tidak terlalu dalam hanya di jahit saja karena ternyata lukanya cukup terbuka, tapi anehnya luka ibu tidak mengeluarkan darah sama sekali." Jawab Arabella.
"Mana Ayah, Bu?" Tanya Steve 6ang tak melihat sosok Abimanyu bersamam dengan Arabella.
"Masih di dalam, Nak. Ayah mu pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Ibu dan Pak Martoni diminta menunggu di sini. Nanti kalau dia ada sesuatu yang dibutuhkan kita akan dipanggil." Jawab Arabella.
Barra langsung memainkan matanya pada Steve untuk segera mengurus perawatan Ayah mertua mereka, dan Steve langsung undur diri dari hadapan mereka.
Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan unit gawat darurat. Mencari sosok Ayah mertuanya diantara beberapa bilik dan brangkar yang terjejer di dalam ruang unit gawat darurat.
Sementara itu di ruang tunggu, Barra langsung saja mengucapkan rasa terima kasihnya terhadap Pak Martono yang sudah berbaik hati membantu kedua mertuanya.
Barra pun mengizinkan Pak Martono untuk meninggalkan rumah sakit, karena sudah ada dirinya dan kedua saudara iparnya yang akan mengurus Abimanyu.
Barra mengizinkan Pak Martono untuk meninggalkan rumah sakit, ketika Kevin sudah datang membawa hadiah yang tak disangka dan tak diduga untuk pak Martono yang sudah berbaik hati menolong kedua mertuanya.
Ya. Sebuah mobil pickup baru yang dibawa langsung oleh salah satu karyawan sebuah showroom langsung kerumah sakit, adalah balasan dari kebaikan Pak Martono pada kedua mertua Barra ini. Tak hanya sampai di situ Barra menganti nominal yang telah dikeluarkan Pak Martono dengan jumlah berpuluh-puluh kali lipat.
"Mas Barra, saya ikhlas membantu kedua mertua Mas Barra. Tolong jangan seperti ini, saya jadi tak enak hati. Jujur saya tidak tahu kalau Ibu Arabella dan Pak Abimanyu ini adalah mertuanya Mas Barra. Mungkin jika saya tahu, pasti saya akan segera mendatangi kediaman Mas Barra dengan menanyakan langsung kepada warga sekitar. Di mana alamat kediaman Mas Barra."
Dari kalimat yang diucapkan Pak Martono. Barra menarik kesimpulan, jika Pak Martono berusaha menolak pemberian Barra yang terlalu berlebihan pada dirinya.
Namun, Barra tetap berusaha membuat Pak Martono menerima pemberiannya. Ia tahu betul modal usaha Pak Martono warung kecil-kecilanya telah ia gunakan untuk biaya pengobatan mertuanya.
Hal ini Barra ketahui bukan karena istri dari Pak Martono telah menceritakannya. Tapi karena Barra melihat sendiri, Ibu penjaga warung berhutang pada agen yang mengantarkan barang yang telah ia pesan sebelumnya. Dari situ Barra bisa menebak jika uag yang di minta Pak Martono adalah uang modal usaha mereka.
Dengan bersusah payah, Barra merayu Pak Martono yang akhirnya malah bersujud di kaki Barra dan mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Barra yang begitu besar pada dirinya.
"Ya Tuhan, sesungguhnya hambaMu ini ikhlas menolong, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Hamba benar-benar tidak menyangka atas rezeki yang kau berikan ini. Sungguh tak disangka dan tak diduga. Hambamu ini telah menolong mertua dari pria yang dikenal banyak orang sebagai orang yang kaya dan dermawan." Pak Martono terus berdoa tiada henti di sepanjang perjalanan membawa mobil pick up pemberian Barra.
Kembali lagi ke ruang unit gawat darurat, di mana Steve kini tengah memanggil dokter jaga untuk kembali memeriksa mertuanya.
"Dok tolong observasi ulang mertua saya," pinta Steve yang kini berdiri di meja dokter jaga.
"Mohon maaf nama mertua tuan siapa ya?" Tanya salah seorang Dokter pada Steve.
"Abimanyu," jawab Steve singkat.
"Oh, Tuan Abimanyu. Kami sudah memeriksanya Tuan. Kami hanya tinggal menunggu ruang rawat kelas tiga di rumah sakit ini kosong." Jawab sang dokter jaga, yang berhasil membuat Steve menarik sebelah alis matanya.
"Kelas tiga?" Tanya Steve dengan senyum miringnya.
"Iya Tuan. Apa ada masalah?"
"Tentu saja ada masalah Dok. Dokter mungkin tidak mengenali siapa pasien Anda yang bernama Abimanyu itu. Dia adalah mertua dari pemilik perusahaan Napoleon. Sebaiknya pindahkan mertua saya secepatnya ke ruangan terbaik di rumah sakit ini, sebelum kakak ipar saya, Barra Wicaksono masuk ke dalam ruangan ini dan mengetahui mertua saya diabaikan hanya karena menunggu ruangan kosong." Jawab Steve yang berhasil membuat sang dokter terkejut.
Ia segera memerintahkan para perawat untuk memindahkan Abimanyu ke ruangan rawat terbaik di rumah sakit ini. Kemudian Steve langsung keluar menuju ruangan administrasi rumah sakit. Menyelesaikan administrasi untuk perawatan sang ayah mertua.
Tak sampai lima menit, kini Abimanyu sudah berada di ruang rawat yang super nyaman bersama anak dan menantunya. Ketiga pria ini kini hanya menunggu para istri-istri mereka yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan diantarkan oleh Akri.
Sementara itu di ruang rawat Abimanyu, Steve dan Barra tengah bertemu seseorang yang berniat memberikan laporan mengenai siapa pelaku yang berniat jahat pada kedua mertuanya. Begitu pula dengan orang yang dermawan, yang rela mobilnya digunakan untuk mengantar kedua mertuanya yang terluka ke rumah sakit.
"Ganti mobilnya dengan keluaran terbaru, ucapkan terima kasih karena sudah menolong mertuaku. Dan untuk dia, segera laporkan kejadian ini ke pihak berwajib, jebloskan dia kepenjara. Pastikan dia membusuk di sana." Perintah Barra pada kaki tangan Steve yang berhasil mengusut tuntas siapa pelaku yang berani mencelakai kedua mertuanya.
Saat kaki tangan Steve sudah pergi, dengan hati bahagia karena mendapati bayaran dan hadiah atas kerja kerasnya yang hanya beberapa jam ini. Adnan keluar ruangan dengan wajah penasaran.
"Siapa Bar, yang sudah berniat mencelakai kedua orang tuaku?" Tanya Adnan sembari menyadarkan tubuhnya ke bahu Barra.
Jujur bau rumah sakit, membuatnya mulai terserang mual muntah lagi. Ia mengendus wangi maskulin Barra yang menyegarkan indra penciumannya.
Beberapa suster perawat yang melihat tingkah Adnan memeluk Barra dengan cara tak biasa itu, sedikit memandang geli, jijik dan bahkan curiga dengan hubungan Barra dan Adnan. Alih-alih perduli dengan pandangan mereka. Keduanya malah terlihat sangat cuek dan tak ambil pusing.
"Bu Tati, tetangga mu saat kau masih menjadi suami dari Septi." Jawab Barra sembari memainkan ponselnya. Ia tengah mencoba menghubungi istrinya. Menanyakan sudah sampai dimana mereka sekarang.
Adnan sama sekali tidak terkejut dengan jawaban yang diberikan Barra, karena jauh sebelumnya ia sudah menduga pelakunya adalah Tati.