My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Malam terakhir



Setelah melihat Arumi direbut para bodyguard sang Daddy. Barra dipusingkan dengan sikap Pinkan yang terus meminta penjelasan padanya. Keributan pun terjadi antara Barra dan Pinkan. Mereka bertengkar di dalam unit apartemen Pinkan selama berjam-jam lamanya.


"Kamu marah aku menikah dengan dia, tapi kamu sadar tidak, kamu ninggalin aku dan selingkuh dengan teman bisnisku. Kamu jauh lebih kejam dari aku Pinkan." Ucap Barra yang tak tahan dituduh Barra sebagai pria yang kejam.


"Aku bisa selingkuh karena kamu, kau yang gak ada waktu buat aku dan keluarga kamu yag gak bisa nerima aku. Kamu gak tau bagaimana sakitnya rasanya di tolak,Bar." Jawab Pinkan yang malah mengingatkan Barra tentang Arumi.


Bagaimana cerita pedihnya hati Arumi selalu mendapatkan penolakan dari orang sekelilingnya. Barra terdiam saat Pinkan menggunakan air mata buayanya, menangis tersedu-sedu mengharapkan iba darinya. Pinkan kira Barra yang terdiam dengan ekspresi bersalah itu, tengah merasa bersalah akan dirinya padahal tidak seperti itu kenyataannya. Barra sedang merasa bersalah pada istrinya sendiri.


"Aku mau kita mulai dari awal lagi Bar, lupakan semuanya. Aku masih sangat mencintai mu, akan aku tinggalkan Marco untukmu, kau pun begitu, tinggalkan istri mu, jika kamu tak mencintainya. Berjuanglah sekali lagi untukku, Bar." Pinta Pinkan yang duduk berlutut di bawah kaki Barra.


Pinkan benar-benar pembohong ulung, dia bukanya akan meninggalkan Tuan Marco untuk Barra, tapi Tuan Marco telah lebih dahulu meninggalkan dirinya. Betapa bodohnya Barra yang selalu terkena bualan Pinkan selama ini.


"Bangunlah Pink, jangan berlutut seperti ini! Aku pun masih sangat mencintai mu. Mari kita mulai dari awal lagi." Jawab Barra yang kemudian membantu Pinkan untuk bangun dan duduk di atas pangkuannya.


"Kena kau Bar, aku tak perlu mencari mangsa selanjutnya atau pun merasakan sakitnya di meja operasi lagi. Karena menjalin kembali hubungan dengan mu sudah bisa menjamin kehidupan ku ke depannya nanti." Gumam Pinkan di dalam hatinya, sembari menggoda Barra untuk melakukan penyatuan bersamanya setelah sekian lama tidak melakukannya.


Barra yang begitu merindukan Pinkan langsung saja menyambar bibir Pinkan, Pinkan pun membalas serangan dahsyat yang diberikan Barra. Namun tiba-tiba Barra berhenti begitu saja. Hampa dan terasa berbeda. Meskipun hasrat di dalam dirinya ingin namun hatinya berkata lain, hatinya merasa seperti tercabik-cabik sendiri, ketika ia menyentuh Pinkan.


Pinkan yang melihat Barra berhenti, segera berbalik menyerang bibir Barra. Pinkan berusaha memimpin permainan, ia melucuti pakaian Barra dan juga dirinya. Betapa tercengangnya Pinkan, setelah semua ia lakukan, junior Barra tak kunjung menegak bahkan terlihat loyo.


"Kamu sakit Bar? Apa kamu sakit Bar?" Tanya Pinkan yang terlihat kesal.


"Iya, aku sakit semenjak ditinggal kamu. Aku menderita insomnia saat kamu tinggalkan aku." Jawab Barra dengan nada yang cukup keras. Ia kesal dengan wajah menyebalkan Pinkan saat melihat juniornya tak berhasil menegang.


"Tidak ada kaitannya insomnia dengan milikmu yang sama sekali tidak berdiri Barra," balas Pinkan yang terlihat masih saja kesal.


"Tentu saja ada, karena dia sudah lama menganggur." Kilah Barra yang tak ingin dipermalukan oleh ketidak puasan Pinkan terhadapnya.


Segara saja Barra memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai dan memakai pakaiannya kembali di depan Pinkan yang terduduk lemas karena hasratnya tak terpuaskan oleh Barra, setelah selesai menggunakan pakaiannya, Barra segera pergi meninggalkan apartemen Pinkan. Tanpa bicara sepatah kata apa pun pada Pinkan.


Ia naik taksi menuju mansion utama, dan mulai masuk ke mansion melalui jalan yang kemarin ia lewati. Mungkin Barra pikir sang daddy tidak mengetahui apa yang putranya lakukan, padahal Tuan Brandon sangat tahu, bagaimana Barra berusaha tak ingin jauh dari istrinya sendiri.


Setelah berada di atas balkon kamarnya, Barra harus menelan pil pahit, karena Arumi mengunci pintu balkon kamarnya yang tak pernah ia kunci selama ini. Ia berusaha mengetuk kaca pintu yang semuanya terbuat dari kaca. Tapi Arumi seakan pura-pura tak mendengarnya.


Tak berhenti sampai di sana Barra berusaha menelepon Arumi, agar membukakan pintu untuknya. Tapi bukannya diangkat panggilan telepon darinya, Arumi malah meletakkan ponselnya dibawah bantal.


Suara pecahan kaca pintu kamar Barra, membuat hampir semua orang bangun dari tidurnya, karena Barra datang tepat pukul dua dini hari. Tuan Brandon yang sejak tadi tak tidur pun menghalau anak buahnya untuk membiarkan putranya bermalam terakhir kalinya bersama istri dan calon buah hatinya itu.


"Dasar bocah tengik, mulut dan perbuatan mu sungguh tak sejalan. Lihatlah betapa menggilanya kau nanti, ketika melihat kami pergi meninggalkan mu membawa istrimu." Gumam Tuan Brandon sembari mengisap cerutu di tangannya.


Di dalam kamarnya, Barra masuk dan menanggalkan seluruh pakaiannya. Ia membaringkan tubuhnya di samping Arumi yang pura-pura tidur.


"Jangan pura-pura tidur! Bangun Arumi! Layani suami mu ini." Pinta Barra sembari merem*s bokong Arumi yang tidur dengan posisi tertelungkup.


"Saya tidak sudi," jawab Arumi yag sudah dapat mengira suaminya pasti habis bersenang-senang dengan kekasihnya.


"Apa kamu bilang, tidak sudi? Kamu berdosa jika menolak permintaan suami mu ini Arumi." Tanya Barra yang masih ingin Arumi melayaninya.


"Biar, saya masih sanggup menanggung dosanya. Daripada menahan sakitnya melayani suami yang habis bersenang-senang dengan kekasihnya, lalu dengan seenaknya meminta haknya pada istrinya yang tak dianggap ini." Sahut Arumi yang membuat Barra tertawa.


"Kamu menuduhku, sayang!" Ucap Barra sembari tertawa.


"Dia hanya menciumku dan menggodaku, tapi entah mengapa juniorku tak ingin menegang, mungkin karena kamu menyumpahinya, ia kan?" Tuduh Barra pada Arumi yang sama sekali tak di tanggapi oleh Arumi. Jujur ada kelegaan di hati Arumi, saat Barra bicara seperti itu, itu artinya suaminya tidak celap-celup dengan kekasih tercintanya itu hari ini.


"Aku mandi dulu ya, habis mandi tolong layani aku, istriku sayang, aku sangat merindukan mu," ucap Barra yang menggoda Arumi dengan kembali menepuk bokong Arumi yang terlihat seksi dimatanya. Pasalnya sudah dua malam ini, ia melihat Arumi mengenakan pakaian miliknya, yang membuat istrinya terlihat begitu seksi dimatanya.


Selesai membersihkan diri, Barra yang masih mengenakan handuk sudah tidak sabar untuk melakukan penyatuan dengan istrinya ini, langsung saja menyerang Arumi. Arumi membiarkan Barra menggagahinya untuk terakhir kalinya. Karena pagi dini hari ini, ia akan pergi bersama mertuanya, bertolak ke negara maju dan menerap di sana. Membawa calon buah hati mereka yang masih sebesar biji kacang hijau saat ini.


Dalam penyatuannya, Barra merasa aneh pada dirinya sendiri, miliknya menegang sempurna saat ia melakukan penyatuan dengan Arumi, dan bahkan sulit untuk ditidurkan kembali. Seakan terus minta dipuaskan oleh istrinya itu. Beberapa ronde mereka lalui hingga ia terkulai lemah. Begitu pula dengan Arumi. Namun bukannya istirahat Arumi malah membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi.


Dengan koper kecil, Arumi hanya membawa surat-surat penting dan beberapa pakaian Barra yang akan ia kenakan saat menemaninya untuk melewati malam tanpa suaminya nanti di sana.


Sebelum pergi ia peluk suaminya untuk terakhir kali dan mencium pipi Barra. "Semoga kamu bahagia dengan kepergian ku, Pak Barra." Ucap Arumi di telinga Barra. Ia mengambil tangan Barra dan menggerakkan tangan itu seakan sedang membelai perutnya.


"Ucapkan selamat tinggal pada Ayah mu, Nak. Hari ini hari terakhir kita melihatnya. Kami pergi ya Pak, semoga kita sama-sama mendapatkan kebahagiaan kita masing-masing." Ucap Arumi yang kembali menitikkan air matanya.


"Arumi, ayo nak!" Ajak Mommy Miranda yang menyusul keberadaan Arumi di kamar sang putra yang tak kunjung turun ke bawah.


Mommy Miranda merangkul tubuh mungil menantunya yang tengah menangis karena harus meninggalkan suami yang berhasil membuatnya jatuh cinta ini.