My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Ajakan menikah



"Berapa usia mu Om?" Tanya Anaya pada Steve, saat mereka berada di dalam cabin pesawat.


"Dua puluh tujuh," jawab Steve singkat karena ia begitu terkejut dengan pernyataan Anaya.


"Berapa target usia untuk Om menikah sebelum bertemu dengan ku?" Tanya Anaya sembari menyesap lolipop di mulutnya.


"Tiga puluh tahun, kenapa?" Jawab Steve yang kini menatap serius wajah Anaya yang juga tengah menatapnya.


Deg! [Jantung Anaya berdetak tak menentu saat Steve menatapnya seperti itu.]


Ini pertama kalinya mereka hanya pergi berdua, biasanya mereka selalu pergi bersama anak buah Steve.


"Mari kita menikah tepat di usia Om yang ketiga puluh tahun. Aku tak ingin anakku punya seorang Daddy yang sudah aki-aki sedangkan Mommy-nya masih terlihat muda dan mempesona." Jawab Anaya yang kemudian menunduk kepalanya karena malu.


"Bukannya kamu ingin menjadi Dokter terlebih dahulu? Kok sudah mengajak menikah duluan saja." Tanya Steve yang tak percaya dengan ajakan Anaya untuk menikah sebelum dirinya belum menjadi seorang Dokter.


"Menjadi Dokter bukanlah cita-cita ku sebenarnya, cita-cita ku sebenarnya adalah menikah dan mempunyai anak. Menjadi Dokter hanyalah sebuah kamuflase, dan syarat untuk menikahi Dokter bodoh tak punya hati itu. Sekarang aku harus kuliah meski aku sudah malas menjalaninya. Mau bagaimana lagi, aku tak mau mengecewakan Kak Arumi." Jawab Anaya sembari melihat keluar Jendela.


"Tolong tatap aku Anaya! Kamu mengajak ku menikah, hanya untuk menjadikan ku pelarian mu atau kamu sudah mencintai ku?" Tanya Steve pada Anaya.


"Memangnya Om rasa bagaimana? Pelarian bagaimana maksudnya? Aku selalu melindungi Om dari Kakak ipar breng.sek ku itu karena alasan apa memangnya? Cuma alasan balas budi begitu? Cih, buat apa balas budi hingga membuat tanganku setiap malam terasa pegal dan harus pakai koyo kalau bukan karena menyayangi mu,Om." Jawab Anaya ketus, semata-mata untuk menutupi rasa malunya.


Hahaha [Tiba-tiba tawa Steve pecah, memecahkan keheningan di cabin pesawat.]


"Aku mimpi apa semalam ya? Mendengar mu bicara seperti ini. Hahahaha..."


"Mimpi dicium kebo," jawab Anaya asal.


"Gak mau, maunya di cium kamu." Balas Steve yang begitu senang hatinya.


Steve memeluk erat tubuh Anaya yang duduk di sampingnya. Mencium kening gadis belia itu yang masih saja mengemut lolipop di dalam mulutnya. Tiga bulan adalah waktu yang cukup panjang untuk Steve berjuang meluluhkan hati Anaya, yang akhirnya berbuah manis.


Jika Anaya dan Steve sedang berbahagia, berbeda dengan dua pria tampan yang masih ada di dalam negeri, mereka sama-sama sedang meratapi kebodohannya. Sama-sama menatap langit yang terlihat sedikit mendung seperti hati mereka yang sedang kelabu.


"Aku akan menyusul Anaya ke Singapura, Vin." Ucap Barra pada Kevin yang setia menemani kegundahannya.


"Tidak kapok, kau dihajar habis-habisan dengan adik ipar mu itu?" Sahut Kevin semmbari mengecek berkas-berkas yang akan ditandatangani Barra.


"Jika aku harus mati di tangannya aku siap Vin, aku yakin Anaya tidak akan tinggal sendirian di sana. Pasti Arumi akan menemaninya bersama kedua orang tuaku," balas Barra yang terlihat sudah pasrah dengan nasibnya.


"Aku rasa, adik ipar mu orang yang sangat cerdas, dan aku sangat yakin mereka tidak ada di Singapura. Mereka sedang mengecoh dirimu, bersabarlah aku sedang mencoba mencari tahu dimana keberadaan Daddy mu." Ungkap Kevin pada Barra.


"Terserahlah, aku meminta mu bersabar agar kau tak kecewa saat datang ke sana. Tapi kalau kau memaksa aku haya bisa mengucapkan selamat berjuang mencari istri mu," ucap Kevin yang kemudian menyerahkan sebuah pena pada Barra.


"Tanda tangani berkas-berkas yang ada di meja kerja mu, sudah waktunya untuk mu bekerja." Ucap Kevin lagi. Dengan berat hati Barra mengikuti perintah Kevin untuk kembali bekerja.


Sementara itu Arumi di New York tengah berada di sebuah rumah sakit, ia telah memeriksakan kehamilannya bersama kedua mertuanya.


"Kehamilan mu sudah masuk trismester kedua, kami harus banyak makan makanan yang bergizi dan jangan banyak pikiran ya? Adikmu dan Steve sudah dalam perjalanan ke sini." Ucap Miranda pada menantunya.


"Iya Mommy, bagaimana kabar Pak Barra di sana? Apa dia sudah sehat?" Tanya Arumi yang sudah mengetahui Barra kerap kali keluar masuk rumah sakit karena perbuatan adiknya.


"Jangan pikirkan dia! Suami mu itu memang harus diberi pelajaran. Sekarang pikirkanlah calon anak mu saja." Jawab Miranda yang sama sekali tidak mengkhawatirkan putranya.


Kesabarannya menghadapi putranya ternyata sudah habis, rasa sayangnya oada sang putra kini berubah menjadi rasa sebal yang tak hilang-hilang hingga kini. Berbagai macam cara sudah ia lakukan untuk menyadarkan Barra jika Pinkan bukanlah wanita baik-baik, tapi putranya itu tetap tidak percaya.


Di saat mereka keluar menuju parkiran mobil, tiba-tiba saja mereka bertemu dengan Tuan Marco anak dari Tuan Marcus.


"Selamat pagi Tuan Brandon, senang bertemu dengan Anda di sini." Sapa Tuan Marco dengan ramahnya pada Tuan Brandon.


"Selamat pagi juga Tuan Marco, ada keperluan apa Anda datang kerumah sakit ini?" Balas Tuan Brandon yang menerima uluran tanga Tuan Marco untuk berjabat tangan.


"Daddy ku sedang melakukan operasi jantung di rumah sakit ini, Tuan. Sudah lebih dari sepakan saya berada di rumah sakit ini. Kalau Tuan sendiri bagaimana? Sedang ada keperluan apa di rumah sakit ini jika saya boleh tahu?" Jawab Tuan Marco yang tiba-tiba menatap wajah Arumi yang begitu familiar di matanya.


"Ini istri putraku Barra, kami sedang menemaninya melakukan pemeriksaan kandungannya. Kami akan segera memiliki seorang cucu." Jawab Tuan Brandon dengan bangganya.


"Ah... Selamat kalau begitu Tuan, saya doakan menantu Anda dan calon anak di dalam kandungannya senantiasa sehat ya." Ucap Tuan Marco dengan senyum yang begitu ramah.


"Terima kasih atas doa yang Anda berikan Tuan Marco. Anda memang anak muda yang sangat baik, beruntung sekali Tuan Marcus memiliki putra seperti Anda. " puji Tuan Brandon pada Tuan Marco.


"Hahahaha. Tuan Brandon bisa saja memuji saya, tapi saya sangat berterima kasih, karena berkat Anda saya jadi sadar dengan siapa saya berhubungan dulu, jika saja Anda tidak memberi tahukan saya. Pastinya saya akan mengecewakan kedua orang tua saya." Balas Tuan Marco hingga mencium tangan Tuan Brandon berkali-kali.


"Sama-sama Tuan Marco, mohon maaf atas kekurang ajaran putra saya waktu itu pada Anda."


"Tidak apa, jangan dibahas lagi. Jika tidak karena itu mungkin saya masih di bodohi dengan perempuan beragenda itu. Baiklah Tuan Brandon, jika ada waktu luang mari kita ngobrol santai sambil minum kopi."


"Ide yang bagus, datanglah ke mansion kami di Meadow Lane. Kedatangan Anda sangat kami tunggu, Tuan Marco."


"Meadow Lane? Ok, jika ada waktu kosong saya akan datang ke sana." Ucap Tuan Marco yang menjadi akhir dari percakapan mereka.