My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Drama pagi hari



Hari Senin pun tiba. Untuk pertama kalinya Arumi akan meninggalkan Nathan dalam waktu yang cukup lama. Beberapa kali Barra memastikan, keinginan Arumi untuk kembali bekerja. Dan berapa kali pula Arumi meyakinkan barang akan keinginannya kembali bekerja sebagai sekretaris sang suami.


Pagi ini tepat pukul 05.30 seluruh anggota keluarga Abimanyu, dari anak sampai menantu sedang sarapan bersama di meja makan, dengan pakaian yang berbeda tidak ada lagi yang mengenakan pakaian santai, daster atau pun kaos oblong dan celana pendek. Semuanya menggunakan pakaian kantor, termasuk Anaya.


Entah kesepakatan apa yang telah dilakukan adik Adnan dan Arumi ini terhadap Tuan Antoni. Hingga ia bisa bekerja sebagai sekretaris sang suami yang direkrut sebagai wakil presiden direktur perusahaan milik Tuan Antoni yang baru, yaitu Adnan, kakak iparnya sendiri.


Dari ketiga pria tampan yang tengah duduk di kursi meja makan hanya wajah Adnan yang terlihat sumringah, tidak dengan Barra dan juga Steve yang terlihat lesu dan kusut. Karena ini adalah hari pertama mereka kembali bekerja bersama-sama istri mereka.


Namun dari ketiga wanita yang tengah duduk di kursi meja makan hanya wajah Zeline yang terlihat sedih, tidak seperti Arumi dan Anaya yang terlihat sumringah karena bisa mengikuti kemanapun suaminya pergi, itu artinya mereka tidak akan membiarkan uget-uget yang akan menjadi duri di dalam daging pernikahan mereka.


"Makan sayang, biar cepet jadi dedeknya di dalam sini!" Perintah Adnan kepada Zeline yang tidak bersemangat untuk menikmati sarapan paginya.


"Nggak nafsu,"bisik Zelin di telinga Adnan. Ia tidak berani bicara blak-blakan jika ia tidak nafsu makan pagi ini, karena hal itu akan membuat ibu mertuanya tersinggung.


Namun Adnan tetaplah Adnan. Mulutnya akan tetap lemes tidak pandang itu istrinya sendiri yang bicara dengannya. Ia langsung saja mengadukan apa yang dibisikkan sang istri padanya, jika istrinya itu sedang tidak nafsu makan.


"Bu kata , masakan ibu tidak enak pagi ini, jadi dia tidak nafsu makan." Aduh Adnan yang ia sengaja, supaya Zeline mau tak mau menghabiskan sarapan paginya.


Seperti yang diketahui Arabella tidak menerima penolakan, pembangkangan, dan apapun yang dia masak harus dimakan hingga habis, terkecuali tidak nafsu karena sedang hamil, itu baru mendapat pengecualian.


Zeline membulatkan matanya, tangan kanannya langsung bekerja meremas Junior Adnan dengan cukup kencang hingga Adnan menjerit.


"Aaaaa..... sa-sakit- sakit ampun." Pekik Adnan yang kesakitan hingga suara tangis Nathan pun terdengar.


"Kak Adnan berisik banget sih ah!" Omel Arumi yang segera beranjak meninggalkan meja makan untuk menghampiri sang putra, yang harus ditenangkan dan ditidurkan kembali.


"Kamu hamil Zeline?" Tanya Arabella pada menantunya dengan tatapan yang menyeramkan.


Steve dan Barra yang juga tidak nafsu makan pagi ini, buru-buru melahap makanannya dari pada ikut kena semprot. Anaya dan Abimanyu yang memperhatikan Barra dan Steve hanya bisa tersenyum geli sendiri. Melihat keduanya yang berusaha menelan makanan mereka, padahal mereka sedang tidak nafsu makan.


"Tidak bu. Belum tahu juga, kan nikahnya belum sebulan." Jawab Zeline dengan menundukkan pandangannya, ia tak berani memandang wajah ibu mertuanya yang dalam mode bertanduk.


"Kalau tidak hamil, tidak ada alasan tidak nafsu makan. Kamu kalau sakit bilang. Nanti ibu kerikin sebelum pergi ke dokter. Jangan dikit-dikit dokter, dikit-dikit dokter! Hemat!"


"Iya bu."


"Sekarang makan! Habiskan! Badan udah kaya penggilesan masih gak nafsu makan. Ada angin kencang terbang kamu. Kasian anak ibu jadi Duda lagi kalau kamu hilang tertiup angin." Oceh Arabella layaknya ibu mertua yang kejam.


"Iya bu." Jawab Zeline sedih, namun ia tak menangis.


Ia sudah terbiasa dimarahi oleh Arabella. Marahnya Arabella demi kebaikannya, bukan karena membencinya. Jadi Zeline tak pernah memasukkan hati kata-kata Arabella yang suka ceplas-ceplos kalau sedang mengomel.


"Aku jadi disemprot ibu pagi-pagi gara-gara kamu, Mas." Bisik Zeline di telinga Adnan, dengan tangannya yang terus meremas milik Adnan tapi tak sekeras tadi.


"Kamu kenapa remas rudal aku terus sih? Sakit banget ayang."


"Makasih sayang, kamu udah sebel sama aku. Aku jadi tambah sayang sama kau deh."


"Apa sih kamu tuh? Kok malah seneng sih? Orang aku sebel sama kamu. Jadi kamu seneng ya, kalau aku sebel sama kamu oke fine." Zeline kembali heran dengan sikap asli Adnan akhir-akhir ini, setelah hubungan rumah tangga mereka membaik.


"Ya seneng dong kamu sebel sama aku, kamu tahu gak kepanjangan dari kata sebel itu apa?"


"Memangnya apa? Aku gak tahu."


"Sini biar aku bisikin, biar kamu tahu kepanjangan sebel itu apa!"


Adnan meminta Zeline mendekatkan telinganya ke mulut Adnan. Zeline yang ingin tahu pun menurut. Meski Steve dan Barra sudah memberi kode, jangan mau pada Zeline. Namun karena rasa ingin tahunya begitu tinggi. Akhirnya dia menurut saja.


"Aku kasih tahu ya. Sebal itu kepanjangan dari senang betul hahaha..." Jawab Adnan yang akhirnya tertawa kencang di telinga Zeline hingga gendang telinga Zeline berbunyi "tinggggggggg"


Plakkkkk! [Satu pukulan mendarat di paha Adnan]


"Wadaw...wadidau...aaaaa... Sakit!" Pekik Adnan kembali kesakitan.


"ADNAN!!! ZELINE!!!" Pekik Arabella dengan mata yang sudah membola sempurna.


"Itu bu, Mas Adnan jail banget ketawa gede banget di telinga Zeline. Telinga Zeline sampai ada bunyi tinggggggg gitu." Adu Zeline pada sang ibu mertua. Seperti seorang anak kecil mengadu pada ibunya.


Arabella pun berdiri, menghampiri Adnan yang sudah ketakutan didekati sang ibu.


"Ampun bu. Jangan bu." Ucap Adnan sembari menangkupkan kedua tangannya memohon ampun pada sang ibu.


Arabella tetaplah Arabella yang tidak menerima ampun pada siapapun jika perkataannya tak didengar, apalagi aturannya tak dijalankan.


"Aaaad-duuuuhhhh sa-sakit bu, ampunnnnn!" Rintih Adnan saat satu telinganya di tarik kencang oleh Arabella.


"Ibu bilang apa Adnan, kalalu waktunya makan gak boleh apa?"


"Ngobrol bu.


"Terus kenapa kamu lakukan?"


"Itu Zeline nanya terus, bu."


"Alasan kamu saja nyalahin menantu ibu. Kamu itu udah bangkotan, kelakuan masih kaya anak kecil, kamu balik lagi ke sekolah dasar ya! Ibu anterin, cepat ganti baju sana! Biar ngerti kata-kata kamu itu ibu sekolahin lagi."


"Jangan bu! Kalau Adnan sekolah lagi dan gak pergi ke kantor, nyawa Adnan bisa berakhir di kandang Bapak dan Mamaknya si Gors, Bu." Tolak Adnan dengan jawaban yang begitu menggelikan.


Jujur saja, seluruh orang yang ada meja makan, sedang berusaha menahan tawa mereka yang ingin pecah. Ingin mereka segera pergi dari meja makan dan keluar untuk melepaskan tawa mereka, tapi apalah daya. Peraturan Arabella tak bisa terbatahkan. Mereka hanya senyum-senyum satu sama lain sembari kaki mereka menepak-nepak lantai dan tangan mereka menepuk-nepuk paha mereka, guna menghilangkan rasa ingin menertawakan Adnan.