
"Bar pulang yuk!" Ajak Adnan pada Barra.
Barra melirik kakak iparnya yang terlihat bersandar lemah di bahunya. Ada sedikit rasa empati melihat kondisi Adnan saat ini.
Ia jadi mengingat bagaimana dahulu dimasa ia mengalami Couvade Syndrome, atau kehamilan simpatik. Saat Arumi hamil Nathan, dan meninggalkannya dengan segala penderitaan yang harusnya Arumi rasakan namun jadi ia yang merasakannya.
Barra selalu mengalami gejala berupa sembelit, gas, kembung, mudah marah, mual, muntah, penciuman sensitif dan hanya mau makan tertentu.
Dan pada masa inilah, Adnan dengan segala keusilannya yang memancing emosi, namun tetap setia bersama Arabella membuat keadaannya lebih baik.
"Mami hari ini, Papi ada jadwal apalagi selain meeting?" Tanya Barra pada Arumi yang memeluk dada bidang suaminya.
Seakan tak mau Barra di rebut oleh Adnan. Kalau sudah seperti ini. Keraguan macam apapun yang hinggap di diri Barra pasti lenyap sudah, yang ada hanya kepusingan menghadapi kakak beradik yang terus menempel seperti perangko dengannya.
"Tidak ada jadwal apapun di perusahaan. Tapi ada jadwal temani Mami belanja di mall." Jawab Arumi.
"Ikut," sahut Zeline cepat, meski belum di ajak oleh Arumi dan Barra.
"Kasur mana kasur, ya Tuhan." Ucap Adnan yang berharap di mengerti keadaannya oleh kedua kaum hawa.
"Sebentar aja Kak, kalau keinginan Rumi gak dikabulin anak kedua Rumi bisa ileran." ucap Arumi dengan tatapan memohon.
Barra sedikit mengulum senyumnya. Melihat wajah gemas istrinya sedang memohon pada Adnan.
"Ya, benaran sebentar ya. Aku benar-benar butuh istirahat.
Akhirnya mereka pergi ke Mall yang letaknya tak jauh dari perusahaan Napoleon. Dengan hanya menggunakan satu mobil. Yakni mobil Barra yang di kemudikan Akri.
Dengan posisi duduk, Akri bersama Zeline di kursi depan sedangkan Arumi, Barra dan Adnan berada di kursi belakang. Barra tetap berada diantara kedua kakak beradik itu.
"Mami sayang, nanti Papi dan Kak Adnan tunggu Mami dan Zeline di coffee shop Xxx yang ada di Mall ya." Ucap Barra sembari memberikan dua kartu pada Arumi.
Satu kartu kredit dan satu kartu debit untuk istrinya belanja hari ini. Arumi segera menerimanya dan langsung mendaratkan ciuman di bibir seksi milik suaminya.
"Ok Papi sayang, makasih ya." Jawab Arumi yang langsung turun dari mobil bersama dengan Zeline.
Kedua ibu hamil ini dengan penuh riang gembira, berjalan masuk ke Mall. Keduanya pergi ke sebuah toko sepatu branded terkenal merek dunia.
Mereka mulai memilih-milih sepatu untuk pergi kantor yang cocok untuk mereka gunakan di masa kehamilan mereka. Sembari menunggu adik bungsu mereka Anaya, yang juga sedang meluncur ke Mall yang mereka datangi.
"Kata Kak Indri flatshoes ini enak Line, enteng dan gak licin." Ucap Arumi sembari menunjuk model sepatu yang juga dipakai oleh Indri.
"Mana?" Zeline menghampiri Arumi, dan melihat sepatu yang Arumi tunjukkan.
Mata Zeline terus memperhatikan sepatu yang ditunjukkan oleh Arumi. Zeline langsung saja mencoba model sepatu itu.
"Huem, iya enak, nyaman. Pesan tiga ya Rum, untuk kita berdua dan Anaya." Ucap Zeline pada Arumi.
Dan Arumi segera memanggil pelayan toko sepatu tersebut yang berada tak jauh dari mereka. Pelayanan yang di panggil Arumi pun datang menghampiri Arumi dan juga Zeline.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" Tanya pelayan toko tersebut dengan ramah, saat sudah berada diantara mereka.
"Baik Nyonya, ditunggu." Balas pelayan toko tersebut sebelum ia meninggalkan keduanya.
"Kok pesannya empat sih Rum, satu lagi untuk siapa?" Tanya Zeline yang merasa heran mengapa Arumi memesan empat sepatu, padahal tadi dia mengatakan cukup memesan tiga saja dua untuk mereka dan satu lagi untuk Anaya.
"Satu pasang lagi untuk Mbak Indri, dia tuh punyanya sepatu model ini tapi warnanya beda." Jawab Arumi sembari melihat sepatu lainnya.
Tak lama kemudian Anaya datang bersama dengan suaminya, yang kebetulan tidak ikut meminum kopi di coffee shop xxx bersama dengan Barra, Adnan, dan juga Akri supir pribadi Barra.
"Wah kebetulan ada Kak Steve, jadi ada yang bawain belanjaan dong nih," ucap Zeline dengan senyum penuh artinya.
Tanpa berkeinginan menjawab Steve cukup tersenyum ke aku pada pernyataan Zeline, yang akan menjadikannya sebagai tukang pembawa barang belanjaan.
"Sabar Steve, mereka sedang hamil," batin Steve saat ia tersenyum kaku pada Zeline.
Steve sangat mengenal bagaimana Zeline yang selalu kalap saat belanja. Dan benar saja tak butuh waktu lama, Steve yang selalu duduk bersama dengan Arumi. Karena lelah mengikuti kaki Anaya dan Zeline yang rupanya satu server itu. Sudah melihat keranjang belanjaan kedua wanita itu penuh dengan baju hamil yang selalu sama untuk mereka bertiga.
Mereka baru menghentikan aksi memborong belanjaan, ketika Barra sudah menelpon jika Adnan sudah ingin segera pulang untuk istirahat.
Mereka berempat akhirnya menghampiri keberadaan Adnan bara dan juga Akri di coffee shop xxx.
Saat Adnan dan juga Barra melihat kedatangan ketiga wanita hamil bersama dengan Steve. Keduanya hanya tersenyum geli melihat betapa menderitanya Steve membantu membawa belanjaan ketiga wanita hamil yang diantaranya adalah istri-istri mereka.
"Makan lapar nih," ucap Anaya sembari mengusap perutnya yang masih datar.
"Lapar ya makan, bukan ngopi." Sahut Adnan singit pada adiknya.
Entah mengapa melihat Anaya, hatinya kesal dan dongkol.
"Yeah, siapa yang mau ngopi. Kenapa sih Kak singit banget ngomong sama Nay?" Tanya Anaya yang malah mengecek suhu tubuh Adnan, dengan menempelkan telapak tangannya pada kening Adnan.
"Gak panas, kok singit ya? Kak Zel, belum dikasih jatah ya? Lemes banget kakak tersayang aku nih, kaya orang kurang makan."
"Sembarangan, dia tuh kaya gini tetap minta jatah, kata dia rudalnya gak sakit, yang sakit bagian tubuh yang lain." Sahut Zeline yang tak terima dikatakan belum memberi jatah pada Adnan.
Jawaban dari Zeline itu memancing tawa Barra dan yang lainnya. Kadang kepolosan Zeline ini sangat merugikan suaminya. Jujur saat ini Adnan sedang menahan malu dengan kepolosan Zeline.
Usai puas menertawakan Adnan, Mereka pergi ke sebuah restoran yang ada di mall tersebut, untuk makan siang bersama.
Di sini Adnan terlihat lapar mata, berbagai jenis masakan semua dipesan oleh Adnan, hingga memenuhi meja makan mereka.
"Ini kita mau mukbang?" Tanya Anaya saat melihat meja makan mereka dipenuhi berbagai jenis makanan.
"Ya, bisa dibilang begitu." Jawab Adnan yang sudah mengecap betapa lezatnya semua makanan di atas meja makan mereka.
Saat Barra ingin menyantap makanannya yang sudah diambilkan oleh istrinya, tiba-tiba Adnan meminta Barra untuk melayani dirinya. Seperti Arumi melayani Barra tadi.
"Bar, tolong ambilkan aku nasi dan lauk pauknya. Aku ingin dilayani oleh mu." Pinta Adnan. Seketika membuat seluruh pasang mata memandang dirinya. Padahal Zeline tengah melayani dirinya.