My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Selalu salah



Tok...tok..tok [Karin mengetuk pintu ruangan kerja Adnan].


"Masuk!" Pekik Adnan dari dalam, mempersilahkan Karin untuk masuk.


Ceklek [Karin membuka pintu]


"Ada apa Karin?" Tanya Adnan yang merasa heran dengan kedatangan Karin ke ruangannya. Pasalnya sekertaris yang satu ini, jarang sekali memasuki ruangan kerjanya, jika tidak di panggil.


"Ini Pak, bagian produksi minta Bapak menandatangani surat ini agar bagian lapangan bisa langsung mengerjakan." Jawab Karin sembari menyodorkan berkas yang ada di tangannya pada Adnan.


"Letakkan saja di situ? Kemana Zeline? Biasanya dia yang mengantar dan meminta tanda tangan saya." Ucap Adnan sembari menunjuk meja kerjanya, agar Karin meletakkan berkas itu di atas mejanya.


"Ada Pak. Hanya saja dia bilang pada kami. Bapak sedang sensi dengan dia, dan Bapak sedang tak ingin dekat apalagi melihat dia, Pak." Jawab Karin yang sedikit mencubit hati Adnan.


"Owh, rupanya dia sekarang sedang menghindariku? Apa dia tengah tersinggung dengan apa yang aku lakukan padanya tadi pagi?" Gumam Adnan di dalam hatinya.


"Owhh. Baguslah jika dia sadar diri." Cetus Adnan yang kemudian meminta Karin pergi dari ruangannya dengan menggibaskan tangannya.


Tepat pukul 12.00 siang, waktunya para Karyawan maupun karyawati untuk beristirahat, begitu pula dengan Zeline. Lagi-lagi Karin melihat hal yang tak biasa dari diri Zeline. Biasanya ia akan masuk keruangan kerja Adnan untuk menawarkan makanan untuk Adnan, namun hari ini Zeline malah berpamitan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu.


Lebih dari tiga puluh menit Adnan menunggu sekertaris lincah dan lenjehnya itu masuk ke dalam ruangannya. Namun sekertaris yang kini berstatus istrinya itu tak kunjung datang menghampirinya, untuk menanyakan ingin makan apa, sekedar menunjukkan betapa perhatian dirinya terhadap Bos yang sangat ia cintai.


Tak sabar menunggu, Adnan pun keluar dari ruangannya dan melihat Karin tengah memakan bekalnya. Ia melihat meja Zeline terlihat kosong.


"Kemana Zeline? Kenapa dia tak menawari saya makan?" Tanya Adnan pada Karin.


"Dia pergi ke kantin Pak. Makan siang di kantin dengan karyawati lainnya." Jawab Karin apa adanya.


"Apa? Dia pergi tanpa menawarkan saya. Dia itu bisa bekerja apa tidak sih?" Adnan terkejut dan marah-marah tidak jelas.


Dengan rasa emosi ia pun berjalan menuju kantin untuk menyusul keberadaan Zeline, dan saat ia tiba di kantin perusahaan yang ada di baseman. Ia melihat jelas Zeline tengah bersenda gurau dengan Kevin, Indri dan para karyawan lainnya.


Adnan terperangah melihat tawa renyah Zeline yang pernah ia lihat namun selalu ia abaikan.


"Ternyata dia cantik jika sedang tertawa seperti itu," gumam Adnan di dalam hatinya.


Adnan melanjutkan langkahnya mendekati Zeline, dan mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang tepat berada di depan Zeline.


"Kamu bisa kerja atau tidak Zeline?" Tegur Adnan pada Zeline yang seketika memudarkan tawanya saat melihat sosok suami dinginnya berada di hadapannya.


"Bisa Pak, apa ada kesalahan yang saya lakukan lagi Pak?" Tanya Zeline yang sedikit menundukan pandangannya. Ia benar-benar menghindari kontak mata dengan Adnan.


"Ya. Kamu sudah melakukan kesalahan. Setelah selesai jam makan siang nanti. Kamu harus keruangan saya! Dan sekarang tolong pesankan saya makan seperti biasanya!" Jawab Adnan.


Tanpa menjawab Zeline segera beranjak dari kursinya. Ia segera memesan makanan untuk Adnan. Usai memesan Zeline membayar makanan dan makanan Adnan lalu pergi meninggalkan kantin.


Indri dan Kevin yang melihat sikap Zeline pun merasa aneh. Pasalnya mereka tahu betul jika Zeline sangat menyukai Adnan. Kevin dan Indri pun saling melirik satu sama lain. Ingin Adnan berlari mengejar Zeline dan bertanya, mengapa sikapnya berubah secepat ini? Namun sayangnya ia mengurungkan keinginannya itu dan membiarkan Zeline pergi.


Setelah jam istirahat selesai. Adnan tak melihat sosok Zeline ada di meja kerjanya. Ya, Zeline memang tak ada di kursi kerjanya. Ia tengah membuat kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.


"Kemana lagi dia?" Tanya Adnan pada Karin yang tengah melanjutkan pekerjaannya.


"Ke pantry Pak, buat kopi. Dia suka ngantuk kalau habis makan siang." Jawab Karin, yang merasa heran dengan sikap Adnan yang dingin pada Zeline tiba-tiba perduli pada Zeline.


"Kalau dia sudah kembali, suruh dia langsung keruangan saya!" Perintah Adnan pada Kari.


"Baik Pak." Jawab Karin patuh.


Sekembalinya Zeline dengan dua cangkir kopi di tangannya, satu untuk dirinya dan satu untuk Karin. Karin pun menyampaikan pesan Adnan pada rekan kerjanya itu.


"Tadi kamu dipanggil Pak Adnan." Ucap Karin. Saat ia menerima secangkir kopi dari Zeline.


"Iya, biarin dulu. Ngopi dulu-lah biar kuat batin ini di omelin sama dia ya gak Mbak? Hehehe... Dia manggil aku pasti mau ngomel tadi di kantin juga udah ngomel pasti omelannya masih to be continue," balas Zeline yang tertawa pedih dibalik candaannya.


"Hahaha... kamu bisa aja."


"Bisa dong Mbak, Aku udah hapal betul omelannya. Tunggu sebelas bulan lama juga ya?" Keluh Zeline.sembari menyeruput kopi hangat di tangannya dengan mata menatap pintu ruang kerja sang suami dinginnya.


Tiba-tiba tanpa di duga pintu itu terbuka dan Adnan langsung mencerca Zeline hingga ia tersedak kopi panas yang kini ia teguk.


Uhuk...uhuk...uhukk.. [Zeline terbatuk-batuk merasa panas luar biasa di tenggorokannya di tambah lagi kopi yang ada di tangannya tumpah mengenai baju kerjanya].


"Kamu itu bisa becus sedikit tidak sih? " pekik Adnan yang malah makin mengomel melihat penampilan Zeline berantakan dan tak berhenti terbatuk-batuk.


Karin segera memberi minum air putih pada Zeline yang wajahnya serta manik matanya memerah dan air mata yang tak berhenti menetes, karena terus terbatuk-batuk dan merasa terluka hatinya. Atasan yang merupakan suaminya bukannya membantu malah tambah membentaknya.


"Makasih Mbak," ucap Zeline pada Karin dan berlalu pergi ke toilet. Guna membersihkan pakaiannya. Hingga Zeline pergi, Zeline tak berhenti juga batuknya.


Tak butuh lama untuk membersihkan pakaiannya dari kopi yang tumpah di pakaiannya. Zeline segera menghampiri Adnan di ruangannya dengan masih terbatuk-batuk, meski tak sering tadi.


"Bapak panggil saya uhuk..uhuk... Ada apa Pak? Uhuk...uhukk..." Zeline bertanya dengan terbatuk-batuk.


"Kamu baik-baik saja Zeline?" Tanya Adnan yang mulai khawatir dengan batuk yang tak kunjung hilang dari istrinya.


Ia merasa bersalah, bagaimana pun istrinya bisa seperti ini karena dirinya.


"Saya baik-baik saja Pak uhuk... uhuk... Bapak tidak perlu merasa bersalah karena di sini saya yang salah. Uhuk.. Jangan bertanggung jawab lagi, sudah cukup." Jawab Zeline dengan kalimat penuh makna.


Ia seakan tahu apa yang kini Adnan rasakan, menikahinya hanya karena keterpaksaan dan sebuah keharusan untuk bertanggung jawab dengan perbuatannya.


"Kamu bicara apa Zeline?" Tanya Adnan sembari memandangi wajah Zeline yang menunduk.


"Apa saya salah lagi Pak? Uhuk... maaf jika saya salah lagi." Zeline malah balik bertanya pada Adnan. Hal ini memancing emosi Adnan.